Terlahir dengan bakat rendah dan tubuh lemah, Ren Tao hanya dianggap sebagai murid sampah di Sekte Awan Hitam. Ia dihina, dimanfaatkan, dan diperas tanpa henti. Di dunia kultivasi yang kejam, orang sepertinya seharusnya mati tanpa meninggalkan nama.
Namun tak ada yang tahu Ren Tao tidak pernah berniat melawan dengan kekuatan semata.
Berbekal kecerdasan dingin, ingatan teknik kuno, dan perhitungan yang jauh melampaui usianya, Ren Tao mulai melangkah pelan dari dasar. Ia menelan hinaan sambil menyusun rencana, membiarkan musuh tertawa… sebelum satu per satu jatuh ke dalam jebakannya.
Di dunia tempat yang kuat memangsa yang lemah, Ren Tao membuktikan satu hal
jika bakat bisa dihancurkan, maka otak adalah senjata paling mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YeJian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 – Gesekan yang Terbuka
Hari ketiga misi dimulai dengan ketegangan yang lebih nyata.
Unit-unit lain sudah mulai mengamati Unit Ketujuh secara jelas. Tidak lagi bisik-bisik di pinggir, tapi tatapan yang terbuka, langkah yang sengaja ditekan, dan strategi yang tampak menahan diri untuk tidak saling menabrak… namun cukup menimbulkan rasa cemas.
Ren Tao berdiri di tepi lapangan latihan, matanya menelusuri pergerakan unit lain. Semua bergerak dengan pola berbeda, namun ada satu hal yang sama—hampir semuanya terlalu agresif. Mereka berusaha memimpin, mempercepat, menandai, dan mengklaim tanpa menyadari bahwa mereka mulai terlihat terlalu jelas.
Li Shen menatapnya. “Mereka mulai bermain terbuka. Ini bisa menjadi jebakan.”
Ren Tao mengangguk pelan. “Dan jebakan itu… bisa kita gunakan.”
Simulasi dimulai.
Unit Ketujuh bergerak lambat, sistematis. Setiap langkah diukur, setiap gerakan dicatat, dan setiap celah diperhatikan. Unit lain bergerak cepat, saling memotong jalur, berebut klaim wilayah.
Di titik tengah lapangan, dua unit bertemu. Kesalahan kecil dari Unit Kedua membuat salah satu muridnya terguncang. Unit Kelima menambahkan tekanan, mencoba mengambil keuntungan. Konflik muncul tidak langsung, tetapi cukup untuk menarik perhatian pengawas dan tetua di balkon aula.
Ren Tao mengamati dari jarak aman, mencatat semua celah yang muncul dari konflik itu. Ia tidak bergerak, tidak campur tangan. Hanya memanfaatkan informasi. Setiap kesalahan unit lain baik karena ketergesaan atau strategi yang salah terekam dalam pikirannya.
Li Shen akhirnya bersuara. “Kau benar. Mereka jatuh ke jebakan sendiri.”
Ren Tao menatap medan latihan. “Bukan jebakan. Ini hanyalah konsekuensi dari pola mereka sendiri.”
Sore hari, medan latihan kembali berubah. Jalur sempit muncul, formasi qi meningkat, dan tekanan udara terasa lebih berat. Murid-murid lain mulai kewalahan. Unit Ketujuh tetap stabil. Satu kegagalan minor tercatat, tapi keseluruhan pola tetap rapi.
Di aula pengamatan, Tetua Lu membuka gulungan catatan. Ia mengamati laporan pergerakan unit satu per satu. Wei Kang berdiri di belakangnya, matanya tidak lepas dari Ren Tao. “Ia bermain dengan papan ini seolah mengetahui setiap langkah sebelum dijalankan,” gumamnya pelan.
Tetua Lu menatap Ren Tao dari jauh. “Murid ini… berbeda.”
Ren Tao sendiri tahu, ia sudah mulai terlihat terlalu jelas. Beberapa unit kini mulai mencoba mengujinya secara langsung, memancing kesalahan, menekan keputusan, bahkan secara halus mengganggu jalur qi.
Namun Ren Tao sudah menyiapkan langkah balasan. Ia menyesuaikan posisi, mengukur jarak, menekan titik qi di tanah untuk membuat aliran tetap stabil bagi dirinya, sementara lawan mulai kehilangan keseimbangan. Tidak ada kontak langsung, tidak ada pertarungan terbuka, hanya pengaruh qi yang tersembunyi, rapi, dan tidak bisa langsung dilihat.
Menjelang malam, simulasi selesai. Unit-unit lain tampak lelah, wajahnya cemas. Unit Ketujuh? Stabil, sedikit goyah karena satu kegagalan minor, tapi tetap rapih.
Ren Tao duduk di batu besar, menutup mata, dan merasakan aliran qi di sekitarnya. Ia tahu sekarang perhatian tetua meningkat, unit lain mulai memancing konflik, dan papan permainan semakin terbuka.
Dan di dunia ini—
semakin terlihat, semakin berbahaya.
Tetapi bagi Ren Tao, itu berarti satu hal.
Semakin banyak mata tertuju padanya, semakin banyak informasi yang bisa dibaca.
Ia membuka mata. Senyum tipis terbentuk di bibirnya.
“Langkah di tengah papan… selalu paling berharga,” gumamnya.
Langit gelap. Aula sunyi. Unit Ketujuh pulang dengan rapi, tapi Ren Tao sudah mulai merencanakan hari berikutnya.
Ini bukan lagi sekadar bertahan.
Ini adalah permainan di medan yang lebih luas.
semangat terus ya...