"Tuan, ayo tidur denganku?" Kalimat gila itu Dea ucapkan pada sang boss di bawah kendali alkohol.
Namun Dea pikir semuanya akan berakhir malam itu juga, namun siapa sangka satu sentuhan membuatnya dikejar selamanya oleh sang boss playboy.
"Dea, kamu harus tanggung jawab padaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim.nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 - Dua Gadis Merah
Saat ini Dea sudah tellanjang bulat dan berdiri tepat di hadapan Alex, namun sungguh kini sedikitpun tak ada niat bagi Alex untuk menyentuh Dea. Mana mungkin bisa dia lakukan jika hatinya begitu terluka.
Untuk pertama kalinya seumur hidup Alex merasakan perasaan yang menyakitkan seperti ini. Jadi bukannya langsung menyentuh Dea, Alex justru lebih dulu meminum kopinya.
"Aku terlalu lelah untuk menyentuh mu," ucap Alex kemudian, setelahnya dia bangkit dari duduknya dan justru pergi meninggalkan dapur tersebut. Meninggalkan Dea begitu saja dengan keadaannya yang nampak hinna.
Di tempatnya berdiri kedua tangan Dea sudah gemetar menahan malu dan sakit hati, namun dia tak ingin menunjukkan semua itu. Dilihatnya Alex yang semakin menjauh, pria itu bukannya menuju ke kamar mereka tapi malah keluar dari apartemen.
Saat samar-samar terdengar suara pintu yang tertutup, akhirnya Dea ambruk juga. Terduduk memeluk kedua kakinya sendiri dan menangis sampai tersedu-sedu.
"Ini semua salahku, aku sangat tahu Alex itu pria yang seperti apa. Lalu kenapa aku tetap jatuh cinta," ucap Dea lirih, bicara diantara tangis yang membuat hatinya makin pilu.
Saat ini keadaannya begitu hinna, namun Dea tak bisa melakukan apapun. Selain menangis diam-diam dan nanti tetap bersikap biasa saja di hadapan Alex.
"Ya Tuhan, aku ingin semuanya ini cepat berakhir,"ucap Dea, dia kemudian memunguti semua baju-bajunya dan kembali dia kenakan. Dea juga berulang kali menghapus air matanya meski sesekali masih menangis juga.
"Aku tidak boleh terlihat kacau seperti ini dihadapan Alex, aku harus terlihat baik-baik saja. Jangan menangis De, jangan menangis bodoh!" maki Dea pada dirinya sendiri, kesal karena air matanya terus berjatuhan begitu saja.
Seolah air mata itu jatuh sendiri tak mau mendengar perintahnya agar berhenti.
"Huh! Tarik nafas buang, tarik nafas buang, tenang, tenang, tenang," ucap Dea. Sangat banyak usaha yang dia lakukan untuk kembali menemukan ketenangan tersebut.
Pokoknya apapun yang terjadi Dea tak akan pernah terlihat hancur di hadapan Alex, sampai mereka berpisah nanti Alex hanya boleh tahu senyumnya, cerianya, bahagianya.
Karena bagaimanapun perpisahan mereka harus dilakukan dengan cara yang baik.
Satu bulan kemudian, rencana pernikahan Alex dan Anita makin menjadi pembicaraan semua orang. Terutama untuk seluruh karyawan di perusahaan Alex.
Dea sendiri tidak tahu kapan pastinya pernikahan itu akan dilaksanakan, karena Alex tak pernah membicarakan masalah itu dengannya. apa yang mereka bahas berdua hanyalah tentang pekerjaan dan juga tentang hubungan mereka sendiri.
Sementara bagi Alex sekarang, hidupnya sudah tak begitu dia pedulikan lagi. Jika memang harus menikah dengan Anita maka akan tetap dia lakukan, toh baginya pun pernikahan bukanlah sesuatu yang penting dan jika di depan nanti dia ingin menceraikan Anita pun akan bisa Alex lakukan dengan mudah.
Gara-gara Dea, Alex seperti membangkitkan kembali jiwa playboy-nya. Tak peduli pada wanita manapun.
"Huwek!" Dea tiba-tiba mual, Millie yang duduk di sampingnya langsung khawatir pada sang sahabat.
"De, kamu kenapa?" tanya Millie, saat ini memang masih jam kerja karena itulah mereka masih bersama.
"Tidak tahu Mil, tiba-tiba kok mual begini ya."
"Mungkin kamu telat makan, pagi tadi sarapan atau tidak?"
Dea tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut karena pagi tadi dia juga sarapan, Dea juga berpikir tak mungkin dia masuk angin karena selama ini Dea memang rasanya tidak pernah masuk angin.
Mual yang dia rasakan sekarang juga rasanya datang dengan tiba-tiba, karena tadi Dea masih merasa semuanya baik-baik saja.
"Entah lah, huwek, duh mualnya," keluh Dea seraya coba mengendalikan perasaan tak nyaman tersebut.
"Ya ampun, ku belikan obat mual dulu ya," tawar Millie yang benar-benar cemas.
"Tidak usah, aku akan pergi sendiri."
"Benar?"
"Iyaa, aku cuma maul Mil, bukan sekarat."
"Tapi wajahmu terlihat agak pucat."
"Aku baik-baik saja, aku pergi sebentar ya?"
"Oke Deh." Millie terpaksa membiarkan Dea pergi seorang diri, karena tidak mungkin mereka berdua sama-sama pergi meninggalkan meja sekretariat.
Di sepanjang jalan keluar kantor suasananya agak sedikit sepi, karena saat ini memang belum masuk jam istirahat.
"Kenapa tiba-tiba mual ya," gumam Dea, masih berusaha untuk menemukan penyebabnya. Semalam Dea tidur cukup, tadi pagi juga sarapan seperti biasanya. Dea juga ingat betul dia tidak sembarangan makan.
Sampai akhirnya sebuah pemikiran membuat langkahnya terhenti. Mungkinkah mual ini karena dia hamil?
Deg! seketika itu bukan hanya langkah kaki Dea yang terhenti, tapi juga jantungnya seolah berhenti berdetak sepersekian detik.
Di tengah-tengah lobby tiba-tiba dia mendadak seperti patung. 'Tidak mungkin, tidak mungkin hal itu terjadi. Alex kan sudah KB,' batin Dea, selalu berusaha menepis pemikiran tersebut.
'Tunggu dulu, Apa mungkin ini terjadi karena Juan? Astaga.' Pikiran Dea makin tidak karuan.
'Tidak mungkin,' batinnya lagi seraya kembali melanjutkan langkahnya yang terjeda. Tapi sekarang hatinya tidak lagi tenang, karena pemikiran tersebut benar-benar mengganggunya.
Sepanjang perjalanan menuju apotek pikiran Dea makin kacau, mungkinkah dia hamil atau tidak? harus kamu beli tespek atau tidak? Jika benar hamil apa yang harus dia lakukan sekarang? menggugurkannya atau tetap mempertahankannya?
banyak sekali pertanyaan yang tiba-tiba memenuhi kepala Dea, sampai tak terasa kini dia sudah berhenti di depan apotek yang dia tuju.
"Mbak, mau beli apa?" tanya penjaga apotek tersebut.
Deg! lagi-lagi jantung Dea berdenyut nyeri. bahkan untuk menentukan apa yang harus dia beli pun rasanya jadi sulit sekali untuk Dea. Apa yang harus dibelinya sekarang? obat mual atau tespek? Atau dua-duanya?
'Ya Tuhan,' batin Dea, belum apa-apa dia sudah merasakan hidupnya yang akan hancur. kehamilan adalah sesuatu yang tak pernah dia rencanakan di dalam hidupnya.
satu-satunya yang Dea rencanakan sekarang hanyalah pergi dari Alex sejauh mungkin, tapi Bagaimana jika dia benar-benar hamil? Tidak, Bagaimana jika Dea tidak hamil anak Alex, tapi Juan. apa yang harus dilakukannya sekarang?
"Mbak, mau beli apa?" tanya penjaga apotek itu lagi karena Dea hanya diam saja.
"Tespek," ucap Dea akhirnya.
"Oke, harganya 40 ribu."
Dea segera membayarnya dan mendapatkan alat pemeriksaan kehamilan tersebut. Tanpa banyak kata lagi dia pun segera pergi dari sana. Tapi bukannya langsung kembali ke kantor, melainkan menuju kamar mandi yang tersedia di apotek tersebut. Dea tidak ingin menunggu terlalu lama untuk mengetahui hasilnya.
Saat menggunakan alat tersebut jantung Dea rasanya ingin meledak, kini tiap detik rasanya lama sekali. hingga Entah Di menit ke berapa akhirnya alat itu menunjukkan hasilnya.
Dua garis merah.
"Ya Tuhan."
udh pergi lah sejauh mungkin de...
yg KB saja bisa kebobolan de , dan Alex juga begitu bisa jadi kbnya bocor dan menghasilkan Alex junior🫰