Queenora kehilangan bayinya sebelum sempat menimangnya, dia difitnah, dan dihancurkan oleh keluarga yang seharusnya melindungi.
Namun di ruang rumah sakit, tangisan bayi yang kehilangan ibunya menjadi panggilan hidup baru.
Saat bayi itu tenang di pelukannya, Queenora tahu, cinta tak selalu lahir dari darah yang sama, tapi dari luka yang memilih untuk mencinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membagi luka
Udara di kamar Elios terasa pekat, sesak oleh kebisuan yang Darian dan Queenora ciptakan sendiri.
Kata-kata Queenora, "Dia tidak pernah ada," menggantung di antara mereka seperti bayangan, dingin dan tak terjangkau.
Darian menatapnya, mencari celah di balik mata kosong itu, mencari kebohongan atau kebenaran yang lebih dalam. Ia tidak menemukan apa-apa selain tembok yang tebal. Kecewa dan frustrasi, Darian membalikkan badan tanpa sepatah kata pun, meninggalkan Queenora sendirian di tengah tumpukan pakaian bayi yang belum terlipat. Pintu kamar tertutup dengan bunyi pelan, namun terasa seperti dentuman di telinga Queenora.
Dua dinding baru telah terbangun di antara mereka, lebih tinggi dan lebih dingin dari sebelumnya. Queenora merasa dirinya kembali ke nol, ke titik di mana Darian melihatnya hanya sebagai "orang asing" yang tak pantas. Dengan napas gemetar, ia menunduk, mengumpulkan kaus kaki-kaus kaki mungil yang tadi jatuh dari pangkuannya. Setiap gerakan terasa berat, setiap hembusan napas terasa kosong.
***
Malam itu, keheningan yang mencekik itu kembali mendominasi rumah. Darian mengurung diri di ruang kerjanya, angka-angka di layar komputernya menjadi kabur, tak mampu mengusir bayangan Queenora yang tersiksa di kepalanya.
Di sisi lain, Queenora mencoba tidur, namun kegelisahan dan rasa bersalah yang menusuk membuatnya terjaga. Ia tahu ia telah berbohong, atau setidaknya menyembunyikan kebenaran yang penting.
Tapi bagaimana ia bisa mengungkapkan kengerian itu kepada Darian, pria yang dunianya, ia yakini, bersinggungan dengan para monsternya?
Baru saja ia berhasil memejamkan mata, tangisan melengking Elios memecah kesunyian.
Tangisan itu berbeda dari biasanya. Ada nada putus asa dan kesakitan di sana. Queenora langsung terduduk, jantungnya berdebar. Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres.
Sebelum Queenora sempat bangkit, pintu kamarnya terbuka. Darian berdiri di ambang pintu, wajahnya tegang.
"Elios," katanya, suaranya serak.
"Dia… dia muntah."
Tanpa perlu diperintah, Queenora bergegas ke kamar bayi. Elios terbaring di ranjangnya, tubuh mungilnya menggeliat tidak nyaman, wajahnya memerah, dan matanya berkaca-kaca. Selimutnya basah dan berbau asam.
Pemandangan itu langsung menghapus semua dinding di antara Darian dan Queenora. Yang ada hanya kekhawatiran murni seorang ibu dan ayah.
"Ya Tuhan," bisik Queenora, segera menyambar Elios ke pelukannya. Tubuh bayi itu terasa panas.
"Dia demam tinggi."
Darian sudah berdiri di samping mereka, tangannya gemetar saat menyentuh dahi Elios.
"Apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita ke rumah sakit?"
"Belum," kata Queenora, mencoba menenangkan Elios yang merengek.
"Kita coba turunkan panasnya dulu. Tolong ambilkan handuk kecil dan air hangat, Tuan. Dan juga termometer."
Darian mengangguk cepat, bergerak seperti robot yang diprogram ulang. Ia kembali dengan semua yang Queenora minta.
Malam itu adalah sebuah tarian canggung yang dipaksakan oleh keadaan. Queenora dengan cekatan mengompres dahi Elios, mengganti pakaiannya, dan menepuk-nepuk punggungnya. Darian, awalnya kaku, mulai membantu dengan memegangi Elios atau membawakan air.
"Suhu badannya 39 derajat," kata Queenora, membaca angka di termometer.
"Kita harus terus pantau."
Elios terus merengek, menolak susu, dan menangis dengan lemah. Mereka berdua duduk di lantai, bersandar di dinding samping ranjang bayi. Darian memegangi tangan Elios yang kecil, sementara Queenora menyenandungkan lagu pengantar tidur dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Kenapa dia tidak mau minum?" tanya Darian cemas.
"Mungkin perutnya tidak enak," jawab Queenora.
"Dia butuh waktu. Yang penting sekarang kita pastikan dia tidak dehidrasi."
Keheningan kembali menyelimuti mereka, namun kali ini berbeda. Bukan keheningan yang memisahkan, melainkan keheningan yang menyatukan mereka dalam kekhawatiran yang sama.
Beberapa kali Elios muntah lagi, dan mereka berdua membersihkannya tanpa protes, tanpa canggung. Hanya ada fokus pada kesejahteraan bayi itu.
Saat Elios akhirnya tertidur sebentar, wajahnya masih memerah, Queenora menghela napas panjang. Ia menatap Elios dengan tatapan penuh kasih sayang, jemarinya membelai rambut halus bayi itu.
"Dia… dia mengingatkanku pada…," Queenora berhenti, ragu. Ini bukan saatnya untuk membuka luka lama.
"Pada siapa?" tanya Darian pelan, suaranya serak karena kelelahan.
Queenora menggigit bibirnya.
"Pada seseorang yang… yang sangat aku inginkan. Aku selalu bermimpi punya bayi. Bayi yang sehat, yang bisa aku peluk, aku ciumi. Aku bahkan sudah menyiapkan nama untuknya. Aku membayangkan suaranya, tawanya… tangisannya." Suaranya menjadi sangat pelan di akhir.
"Terkadang, aku sangat merindukan tangisan itu."
Darian menatapnya. Ada sesuatu dalam suaranya yang membuat hati Darian teremas. Kerinduan yang begitu mendalam, duka yang begitu dalam. Dan apa yang Quuenora ucapkan tidak terdengar seperti suara seorang pembohong. Suaranya bergetar jelas, suara seorang ibu yang terluka.
"Aku… aku tidak pernah membayangkan rasanya seperti ini," Darian akhirnya berbicara, suaranya nyaris berbisik.
"Merawat anak… Luna yang selalu mengurus semuanya. Aku… aku terlalu sibuk. Aku tidak tahu apa-apa tentang bayi." Ia menghela napas berat.
"Aku selalu merasa bersalah karena… karena aku tidak bisa mencintai Elios seperti yang seharusnya."
Queenora menoleh padanya, terkejut dengan pengakuan jujur itu.
"Apa maksud Tuan?"
Darian membuang pandangannya, menatap dinding.
"Elios… dia lahir di hari yang sama Luna meninggal. Setiap kali aku melihatnya, aku… aku melihat Luna. Aku melihat apa yang telah hilang." Sebuah kerutan muncul di dahinya.
"Aku tahu itu tidak adil baginya. Tapi aku tidak bisa menghilangkannya. Perasaan bersalah itu… seperti beban berat di dadaku."
Queenora merasa gelombang empati melandanya. Ia tidak pernah membayangkan Darian juga membawa beban duka yang seberat itu.
Ia selalu melihatnya sebagai pria yang sempurna, tanpa cela, yang hanya mampu menghakimi. Sekarang, ia melihat seorang pria yang hancur, sama sepertinya, hanya saja dengan cara yang berbeda.
"Kadang, duka itu memang butuh waktu, Tuan," kata Queenora, suaranya lembut.
"Untuk bisa… merelakan dan menerima. Elios tidak ingin Tuan merasa bersalah. Dia hanya ingin Tuan mencintainya."
Darian tidak menjawab, hanya menatap Elios yang kini bernapas dengan lebih tenang.
Malam terus merangkak. Mereka berdua terpaksa tetap terjaga, bergantian mengecek suhu Elios, mengompresnya, dan memastikan ia sedikit minum ASI. Setiap jam berlalu terasa seperti satu hari.
Menjelang subuh, Elios akhirnya bisa minum lebih banyak ASI. Demamnya mulai turun perlahan. Kelelahan yang luar biasa melanda Queenora dan Darian. Elios, yang kini terlihat lebih tenang, kembali tertidur pulas.
"Tuan… Tuan bisa tidur sebentar," kata Queenora, melihat mata Darian yang sudah merah dan bengkak.
"Saya akan menjaga Elios."
Darian menggelengkan kepala.
"Tidak. Aku… aku akan di sini." Ia mencoba tetap tegar, namun tubuhnya sudah tidak bisa diajak kompromi. Ia bersandar di kursi goyang di sudut kamar Elios, mencoba melawan kantuk yang begitu kuat. Perlahan, kepalanya terkulai, dan ia tertidur pulas, nafasnya teratur.
Queenora menatap Darian. Pria itu terlihat begitu rentan dalam tidurnya, topeng dinginnya telah runtuh, digantikan oleh ekspresi lelah yang polos.
Ada bekas air mata kering di pipinya, mungkin dari kekhawatiran atas Elios, atau mungkin dari duka yang baru saja ia bagi. Queenora bangkit perlahan, mengambil selimut tipis dari lemari Elios, dan menyelimuti Darian. Gerakannya lembut, hati-hati, seolah takut mengganggu kedamaian tidur pria itu.
Quuenora lalu kembali duduk di samping ranjang Elios, membiarkan keheningan pagi menyelimutinya.
Suara napas teratur Elios dan Darian adalah satu-satunya melodi yang ia dengar. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Queenora merasa… aman.
Tidak ada ancaman, tidak ada penghakiman. Hanya ada mereka bertiga, di sebuah kamar yang sunyi, berbagi beban dan harapan.
Beberapa jam kemudian, Queenora terbangun dari tidurnya yang singkat, lehernya terasa kaku. Matanya mengerjap, menyesuaikan diri dengan cahaya pagi yang samar. Ia hendak bangkit untuk mengambil segelas air, tenggorokannya terasa kering. Namun, saat ia mencoba bergerak, tangannya terasa tertahan.
Ia menoleh ke samping. Darian, yang masih tertidur pulas di kursi goyang, tanpa sadar telah meraih tangan Queenora dalam tidurnya. Genggamannya lembut, namun erat, seolah ia takut melepaskan.
Dan kemudian, Queenora mendengar suaranya, lirih dan penuh kerinduan, menyebut sebuah nama yang bukan miliknya.
"Luna…"