"Menikah denganku."
Risya Wicaksono, berusia 27 tahun.
Atau lebih di kenal dengan panggilan Icha, melotot terkejut, saat kalimat itu terlontar dari mulut lelaki yang sangat tidak ia sangka.
Arnold Adiguna.
Lelaki berusia 33 tahun. Yang juga masih merupakan salah satu kakak sepupunya.
Lelaki itu mengajaknya menikah. Semudah lelaki itu mengajak para sepupunya makan malam.
Icha tidak menyangka, jika lelaki itu akan nekat mendatanginya. Meminta menikah dengannya. Hanya karena permintaan omanya yang sudah berusia senja.
Dan yang lebih gilanya. Ia tidak diberikan kesempatan untuk menolak.
Bagaimanakah Icha menjalani pernikahan mereka yang sama sekali tidak terduga itu?
Mampukah ia bertahan hidup sebagai istri sang Adiguna? Lelaki yang dikenal sebagai CEO sekaligus Billionaire dingin nan kejam itu.
Mampukah mereka mengarungi pernikahan tanpa saling cinta?...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Hasibuan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejahilan sepupu
"Bagaimana malam pertamamu." Rafael bertanya dengan nada mengejek.
Devan yang berada di hadapan Rafael, duduk di sofa hanya bisa geleng kepala.
Sedangkan Arnold yang di tanya hanya menatap Rafael dengan tajam. Ia juga mendudukkan tubuhnya di sofa berseberangan dengan kedua sepupunya itu.
"Ah! Tidak berhasil ya?" Rafael kembali meledek. Merasa puas bisa membalik pertanyaan itu pada Arnold.
"Diam. Sebelum aku ratakan rumah sakitmu ini." Arnold memperingatkan tajam.
"Sebelum itu aku akan membuat perusahaanmu terbakar hangus." Balas Rafael tidak mau kalah.
"Bisakah kalian berdua bersikap dewasa. Ayolah kita semua bukan anak kecil lagi. Malah sekarang sudah sepantasnya kita memiliki anak. Jadi stop bersikap kekanakan." Devan melerai kedua orang itu.
"Katakan itu padanya." Arnold menjawab dan menunjuk Rafael semakin sengit.
"Kesabaranmu terlalu tipis. Aku penasaran bagaimana Icha akan menghadapimu nanti." Rafael sedikit terkekeh membayangkan itu.
"Diamlah El. Bukankah saat menikah dengan Vina, kamu juga tidak mendapatkan apapun saat malam pertama?" Kali ini Devan bersuara.
Arnold tersenyum puas melihat Rafael yang diam dan menatap mereka berdua sengit.
"Jadi jangan saling mengejek. Kalian berdua sama." Devan menyeringai melihat kedua orang itu.
Alhasil Devan mendapat tatapan sengit dari keduanya. Itu membuat Devan merasa puas. Kedua orang itu menatapnya penuh permusuhan.
"Kami berbeda." Arnold langsung meralat.
"El tidak mendapatkan malam pertamanya, karena Vina belum mencintainya saat itu. Sedangkan El sangat mencintai Vina dalam diam. Ia harus menahan diri karena wanita yang ia inginkan, tidak menginginkannya. Kasihan." Arnold terkekeh di ujung kalimatnya.
"Berbeda dengan kasusku." Ia sedikit membusungkan dada dengan angkuh.
"Kalian berdua tidak saling mencintai. Tapi terjebak dengan pernikahan ini. Kamu jauh lebih kasihan Ar." Balas Rafael dengan angkuh.
"Damn it! El. Mulutmu terlalu tajam!" Arnold berseru semakin kesal.
"Tapi aku sependapat dengan El, Ar." Devan ikut menimpali.
Rafael tertawa kencang karena kalimat Devan. Saudara kembar Vina itu memang sangat kejam.
"Kamu dan Icha sudah menikah. Jadi kamu harus bisa mencintainya mulai sekarang. Jangan berpikir untuk menyakitinya. Karena kami bisa berbalik menghajarmu, jika itu terjadi." Devan memperingatkan.
"Aku tahu itu! Tanpa harus kamu bilang. Aku juga tahu jika aku tidak akan menyakitinya." Sedikit tidak suka karena Devan beranggapan ia akan menyakiti Icha.
"Bagus kalau begitu. Jangan karena Icha telah menjadi istrimu. Kami tidak akan mengawasi kalian. Kamu salah Ar." Devan menatap Arnold dengan sorot tegas.
"Kamu sudah menyeret Icha dalam hidupmu. Jadi kamu harus bertanggung jawab sampai akhir." Devan kembali menambahkan.
"Aku tahu itu." Arnold menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Lagian tidak susah untuk menyukai Icha. Ia adalah gadis manis yang cantik. Kamu hanya perlu membuka hati dan mengenalnya lebih dekat. Aku yakin kamu dan Icha bisa saling mencintai." Devan bergumam.
"Aku setuju dengan Devan." Rafael mengangguk.
"Dengan sikapmu yang memiliki emosi tidak terduga. Icha adalah wanita yang tepat untukmu." Rafael juga menambahkan.
"Kamu ingatkan Devan. Saat kita menghajar Tiara yang menculik Vina dulu?" Rafael menoleh pada Devan.
"Setelah berhasil menyelamatkan Vina dan membawanya ke rumah sakit untuk di rawat?" Devan menyambut.
"Iya. Itu!" Rafael mengangguk.
"Setelah Tiara dan mamanya lenyap. Beserta seluruh anak buahnya. Arnold masih di kuasai oleh amarahnya." Rafael mengingatkan.
"Dan hanya ucapan dari Icha mampu membuat Arnold terdiam. Dan amarahnya reda begitu saja." Rafael tersenyum geli mengingat itu.
"Saat itu aku sangat marah El!" Arnold berseru kesal.
"Kamu bisa kecolongan oleh wanita ular yang terobsesi padamu! Hingga mengakibatkan Vina menerima penyerangan." Arnold masih mengingat ia yang sangat emosi saat itu.
"Ya. Tapi Icha berhasil membuatmu terdiam." Rafael tidak membantah.
"Aku penasaran." Ia mendekat dan menatap Arnold penasaran.
"Apa yang di katakan Icha hingga kamu terdiam dan tidak marah lagi saat itu?" Rafael sangat penasaran ingin tahu.
"Benar juga." Devan bergumam.
Arnold adalah tipe lelaki yang jika sudah marah, akan sangat susah di tenangkan. Ia adalah orang yang paling menyeramkan di keluarga besar mereka.
Jika ada yang mengusik atau membuat Arnold marah. Maka orang itu tidak akan selamat. Arnold lebih kejam di banding Rafael dan Devan.
Jika Rafael menyembunyikan sosok iblis di balik wajah tampan dan senyum malaikatnya. Devan yang kejam dan tidak terjangkau oleh sikap dinginnya.
Maka Arnold bak predator yang membabat habis siapapun yang mengusiknya. Tanpa belas kasih sedikitpun.
Yah. Mereka bertiga memang kejam. Tapi itu bukan berarti mereka akan bertindak sesuka hati.
Mereka tidak akan bergerak, jika tidak di usik terlebih dahulu. Dan jika mereka terusik, tidak ada ampun untuk siapapun itu.
"Jadi apa yang di ucapkan Icha saat itu?" Rafael semakin semangat ingin mendengar.
"Tck!'
Arnold berdecak mengingat moment itu. Moment saat Icha baru beberapa bulan menetap di Jakarta.
Ia yang masih duduk di kursi tunggu koridor rumah sakit. Dengan Icha di sebelahnya.
Mengertakkan rahang oleh emosinya yang menggelegak. Tangannya terkepal kuat hingga urat - urat tangannya menonjol.
Icha memperhatikan ia dalam diam. Sedangkan Rafael dan Devan sudah berada di dalam ruangan Vina. Melihat kondisi wanita itu setelah mendapat penanganan.
"Kak Ar. Tidak bisakah kamu mengedipkan matamu yang melotot tajam itu?" Icha yang sejak tadi diam akhirnya bersuara. Tidak tahan dengan keberadaan lelaki itu yang mengusik ketenangan.
"Kamu tahu? Dengan tatapan dan wajahmu yang ingin menelan orang itu. Akan membuat anak kecil ngompol langsung di tempat." Icha memberitahu dengan nada polos. Tidak merasa berdosa sedikitpun.
Mengingat itu selalu membuat Arnold merasa kesal. Ucapan Icha membuatnya melupakan amarahnya saat itu. Tapi ia seketika kesal pada Icha yang tersenyum. Seolah tidak mengatakan apapun.
"Hahahahhahaha."
"Hahhahahaha."
Rafael dan Devan tertawa kencang mendengar cerita Arnold. Menurut mereka itu sangat lucu.
Jika itu orang lain. Mungkin akan habis di tangan Arnold. Paling tidak di hajar hingga babak belur.
Namun Icha?
Wanita itu malah bersikap begitu polos. Seperti menyampaikan berita soal cuaca.
Keduanya tertawa puas melihat Arnold malah menatap mereka dengan penuh permusuhan.
"Sudah aku bilang hanya Icha yang bisa membuat amarahmu hilang begitu saja." Rafael masih terkekeh saat berbicara.
"Bahkan ia tidak perlu melakukan adegan romantis seperti memelukmu. Hanya dengan ucapannya, kamu langsung tidak berkutik." Rafael juga menambahkan.
"Yah. El benar. Jika film menayangkan kisah romantis sang wanita yang memeluk si lelaki untuk meredakan amarah si pria. Tapi Icha hanya perlu mengucapkan hal aneh. Dan kerandomannya langsung membuatmu tidak marah lagi." Devan ikut bersuara.
"Kalian berdua menyebalkan." Arnold mendengus pada kedua lelaki yang sayangnya adalah sepupunya.
"Rayyan langsung pulang ke Semarang ya?" Arnold bertanya saat tidak menemukan keberadaan sepupu sekaligus saudara iparnya itu sekarang.
"Yah, sepertinya ada hal mendesak." Devan menjawab.
"Aku yakin ia sedang patah hati." Rafael bergumam.
"Maksudmu?" Devan mengerutkan kening. Ia dan Arnold menatap Rafael penasaran.
"Rayyan terlihat galau, sama sepertimu saat putus dengan Nina dulu, sebelum bertemu kembali." Rafael menjawab dengan enteng.
"Kurang ajar!"
Devan berseru kesal. Karena diingatkan dengan kisahnya dulu sebelum menikahi Nina.
Arnold dan Rafael terkekeh melihat Devan yang uring - uringan. Sungguh jika mereka berkumpul. Kejahilan di antara mereka masing - masing tidak akan pernah hilang.
.............................
apa yg kamu lakukan ituu .... jahat buat babang Ar...
Sejauh ini ceritanya menarik