Jodoh dicari ✖️
Jodoh dijebak ✔️
Demi membatalkan perjodohan yang diatur Ayahnya, Ivy menjebak laki-laki di sebuah club malam untuk tidur dengannya. Apapun caranya, meski bagi orang lain di luar nalar, tetap ia lakukan karena tak ingin seperti kakaknya, yang menjadi korban perjodohan dan sekarang mengalami KDRT.
Saat acara penentuan tanggal pernikahan, dia letakkan testpack garis dua di atas meja yang langsung membuat semua orang syok. ivy berhasil membatalkan pernikahan tersebut sekaligus membuat Ayahnya malu. Namun rencana yang ia fikir berhasil tersebut, ternyata tak seratus persen berhasil, ia dipaksa menikah dengan ayah janin dalam kandungan yang ternyata anak konglomerat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
"Saya terima nikah dan kawinnya Inara Salsabilla binti Abdul Aziz, dengan mas kawin satu unit apartemen dan satu buah mobil, dibayar tunai," ucap Agung lantang di depan para saksi dan orang tua Inara.
"Bagaimana para saksi?"
"Sah."
"Gak sah," gumam Ivy, mendengus kesal. Dadanya bergemuruh hebat, dongkol. Meski ayahnya yang nyari uang sendiri, tapi uang sebanyak itu, rasanya tak rela jika harus diberikan pada Inara. Jika ditotal, uang mahar Inara hampir 2M. Rasanya wanita sekelas Inara, tak layak mendapatkan mahar sebanyak itu. Ja lang seperti itu, cocoknya dikasih 200 rebu.
Ini baru maharnya, belum nanti bulanannya. Semoga saja Papanya bangkrut setelah setahun nikah dengan Inara. Do'anya memang terkesan seperti anak durhaka, tapi biarlah, biar Papanya melek, biar jadi pelajaran.
Pernikahan yang dilaksanakan di rumah Inara yang ada di Jawa Barat tersebut, dihadiri lumayan banyak orang, dan rata-rata, pada heboh membicarakan maharnya yang luar biasa. Ivy sendiri, sebenarnya ogah ikut, tapi ia dipaksa oleh Papanya. Dari pihak Papanya, sekitar 10 orang yang datang, termasuk ia dan Ivana serta Wahyu.
Resepsi pernikahan digelar lumayan mewah untuk ukuran orang kampung. Entah sejak kapan semua ini direncanakan, tapi pastinya tidak seminggu atau sebulan. Sepertinya sudah lama mereka berencana nikah, cuma baru dibicarakan dengannya seminggu yang lalu.
Setelah ijab kabul, Ivy kembali ke Jakarta bersama Ivana dan Wahyu.
"Lo kapan Vy nikah?" tanya Wahyu saat mereka dalam mobil perjalanan menuju Jakarta. Menatap Ivy yang duduk di bangku belakang dari center mirror.
"Dua minggu lagi," jawab Ivy malas.
"Selamat ya, udah hamil. Gak kayak sebelah ini," melirik Ivana yang duduk di sebelahnya sambil tersenyum miring. "Mandul."
Ivy meremat jok, dadanya bergemuruh hebat. Bukan dia yang dikatai, tapi sakitnya sudah luar biasa, bayangkan seperti apa perasaan kakaknya. Sudahlah tadi dibuat dongkol sepanjang acara pernikahan Papanya, sekarang Wahyu masih nambahin lagi. "Yakin Kakak gue mandul, bukan elo?" balas Ivy sengit.
"Gue sehat kali, udah pernah periksa. Kakak lo aja yang gak mau periksa, takut menerima kenyataan."
"Yakin hasil pemeriksaannya bener? Emang ada ya, selingkuhan lo yang berhasil hamil?"
Senyum Wahyu seketika lenyap, wajahnya tegang, dan terlihat menelan ludah dengan susah payah. Ia menoleh pada Ivana, namun istrinya itu terlihat cuek.
"Gak usah grogi, Kakak gue udah tahu kali, lo hobi selingkuh. Nama-nama selingkuhan lo juga tahu. Nomor telepon, nomor rumah, plat mobil, bahkan nomor braanya juga tahu."
"Vy!" panggil Ivana dengan suara rendahnya, menatap Ivy dari spion tengah.
Namun bukan Ivy jika bisa dibungkam, "Buktiin dulu deh, lo bisa buat perempuan hamil, baru lo bisa ngatain Kakak gue mandul."
Melihat wajah pias Wahyu dan mulutnya yang langsung kicep, Ivy tersenyum puas. Wahyu tak lagi mengajaknya ngobrol, bahkan hingga sampai di depan rumah. Malam itu, Wahyu dan Ivana menginap di rumah Agung.
Tiga hari setelah ijab kabul dan resepsi di kampung, Agung dan Inara kembali ke Jakarta. Merasa sekarang punya kuasa, hari demi hari, Inara semakin ngelunjak. Sedikit demi sedikit, mengubah tatanan rumah, dan gong yang membuat Ivy marah besar, adalah diturunkannya foto keluarga Ivy, diganti dengan foto pernikahannya dengan Agung.
"Turunin!" bentak Ivy, menunjuk foto pernikahan Papanya dan Inara yang baru jadi. "Turunin sekarang juga atau gue bakar foto itu!"
Bukannya takut, Inara malah melenggang pergi begitu saja meninggalkan ruang makan.
"Ja lang!" Ivy menarik lengan Inara. "Berhenti lo!"
"Apaan sih?" Inara menarik lengannya lepas dari cengkeraman Ivy.
"Turunin foto lo, atau gue yang turunin dan bakar!" ancam Ivy dengan nafas naik turun dan mata menyala-nyala.
"Silakan aja kalau berani? Gue nyonya di rumah ini, dan bokap lo, udah ngasih kekuasaan penuh ke gue untuk melakukan apapun di rumah ini, termasuk memecat dan merekrut pembantu," ia lalu menyeringai tipis. "Atau... elo mau, pembantu kesayangan lo, gue pecat?"
Ivy mengepalkan kedua telapak tangannya. Bi Surti sudah lama kerja disini, selain menyayanginya, ia juga sudah menganggap wanita itu seperti ibunya. "Jangan pernah lo nyentuh Bi Surti!" menatap Inara tajam.
"Gampang aja kalau lo gak mau gue pecat tuh babu," Inara mengusap bahu Ivy, gayanya seperti sedang mengenyahkan kotoran. "Lo hanya perlu ikut aturan gue, karena gue yang berkuasa disini sekarang," tersenyum jumawa, lalu pergi.
"Aarrrhhhgg!" teriak Ivy. Belum pernah ia semarah ini, kalau tak ingat sedang hamil, sudah ia ajak berkelahi si Inara.
Merasa semakin tak betah di rumah, Ivy memilih ke Isya beauty. Sampai tengah malam, bahkan semua orang sudah pulang dan live berakhir, hanya ia yang ada disana. Tiba-tiba, ia teringat Yasa, sejak penandatanganan prenup, mereka tak pernah bertemu, namun sesekali, Yasa masih mengirim pesan, menanyakan kesehatannya. Ia mengambil ponsel, menghubungi calon suaminya tersebut.
"Assalamu'alaikum," terdengar suara serak Yasa, suara khas bangun tidur.
"Waalaikumsalam."
"Ada apa, Vy? Kenapa telepon tengah malah, ada masalah sama kandungan lo?"
Mata Ivy berkaca-kaca, tak menyangka jika Yasa sepeduli itu pada calon anak mereka.
"Vy, kenapa lo diem? Ada masalah?" suara Yasa terdengar khawatir.
"Yas... "
"Vy, ada apa?" Yasa yang awalnya rebahan sampai bangun, khawatir dengan kondisi Ivy.
"Yas, bisa kesini gak, gue ada di kantor Isya beauty."
Yasa melihat jam di ponselnya. "Ini sudah hampir jam 1 dini hari Vy, lo masih disana?"
"Iya, baru selesai live."
"Astaga! Lo itu lagi hamil, Vy! Bisa gak sih, tanggung jawab sedikit, minimal tahu waktu pas kerja," Yasa yang awalnya khawatir, jadi kesel. "Lo gak sendiri, ada nyawa lain di dalam tubuh lo, jangan egois. Pikirin kesehatannya kalau lo gak peduli dengan kesehatan lo sendiri."
"Yas... lo bisa kesini gak?"
"Gue gak boleh keluar tengah malam, ada aturan di rumah ini. Mending lo pulang sekarang, tidur. Atau kalau enggak mau pulang, tidur aja disana!" Yasa mengakhiri panggilan sepihak. Kesal pada Ivy yang ia rasa tak peduli dengen kesehatannya. Kerja boleh, tapi gak harus segila ini, sampai tengah malam, mengabaikan kesehatan padahal sedang hamil. Ia sendiri yang bilang pengen hamil, tapi tak bisa tanggung jawab dengan kehamilannya.
Ivy meletakkan ponsel ke atas meja, berjalan menuju jendela, menyingkap tirai yang beberapa saat yang lalu telah ia tutup rapat. Jalanan di depan kantor sudah terlihat sepi, meski masih ada beberapa kendaraan yang melintas. Air matanya mengalir, sebelah tangannya mengusap perut. Lama berdiri disana, ia kembali duduk di kursi kerjanya, merebahkan kepala di atas meja. Ia tak ingin pulang, benar-benar tak ingin. Rumah, bukan lagi tempat yang nyaman baginya.
Saat matanya hampir terpejam, Ivy merasakan getaran ponsel yang ada di atas meja. Getaran ponsel yang beradu dengan meja tersebut menimbulkan suara yang mengganggu.
"Yasa," gumamnya pelan, melihat nama yang tertera di ponselnya.
mereka yg g tau diri mau memanfaatkan anaknya malah ngatain yasa harus tau diri....kasian bgt yasa klo sampe denger dikatain mokondo