Ding! [Terdeteksi host dalam bahaya. Mengaktifkan skill utama memori Materialization. Memanggil Item]
Dibuang dan difitnah hanya karena alur sebuah game VR? Itu bukan gaya Aruna. Terbangun di tubuh Auristela Vanya von Vance, seorang putri terbuang dengan Mana besar yang tersegel, Aruna memutuskan untuk mengacaukan skenario dunia ini.
Bermodalkan Project: Fate Breaker—sebuah sistem aneh yang hobi error di saat kritis—ia justru asyik menciptakan kekacauan versinya sendiri. Namun, satu masalah muncul: Asher de Volland, sang Ksatria Agung sedingin es, kini terpaksa menjadi pelindungnya.
Akankah petualangan ini mengungkap rahasia besar yang sengaja dikubur, atau justru membuat benua Xyloseria semakin kacau?
Ding! [Terdeteksi kedekatan dengan Asher de Volland: 1%. Kesan ML: "Putri ini... sangat aneh."]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lil Miyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Arena Tulang
Vargos, sang tetua suku, masih berusaha keras menjaga wibawanya meski tangannya kini memegang potongan roti madu terakhir. Di sekelilingnya, para prajurit Suku Taring Hitam masih sibuk mengunyah dengan beringas, sejenak melupakan niat membunuh yang tadi terpancar kuat. Suasana di dalam fosil Cangkang Dewa mendadak penuh dengan kepulan uap makanan dan suara derak tulang yang digigit.
Aruna berdiri bersandar pada dinding fosil yang lembap, melipat tangan di dada sambil memperhatikan gerombolan doggy itu dengan tatapan datar. Di sampingnya, Asher tetap siaga. Tangannya tidak pernah menjauh dari gagang Solis-Aeterna, meski ketegangan sedikit mencair akibat aroma gurih masakan yang Aruna panggil lewat sistem.
"Kau benar-benar melakukan 'Diplomasi Perut' itu dengan sangat baik, Putri," bisik Asher rendah. Ada nada kekaguman yang tersembunyi di balik kekakuan wajahnya.
"Sstt... Simpan pujianmu. Kita belum benar-benar aman," jawab Aruna tanpa menoleh. Matanya terus mengawasi setiap pergerakan serigala di depannya.
Tiba-tiba, suasana yang tadinya ramai dengan suara kunyahan mendadak sunyi senyap. Hutan di sekeliling mereka seolah menahan napas. Angin kencang bertiup entah dari mana, membawa aroma pinus dan bunga hutan yang sangat segar—sebuah keanehan di tengah Primal Abyss yang biasanya hanya berbau pembusukan dan d4rah.
"Aroma ini... Elf?" gumam Dranco. Matanya memicing tajam ke arah dahan pohon hitam raksasa di atas mereka. Naga merah itu mendengus, seolah mencium sesuatu yang terlalu "menusuk" untuk seleranya.
Sret!
Sesosok pria melompat turun dengan gerakan seringan bulu, mendarat dengan anggun tepat di tengah lingkaran para serigala. Rambut biru-peraknya berkilau elegan. Mata emasnya yang tajam namun penuh pesona langsung menyapu ruangan sebelum berhenti tepat pada Aruna.
"Wah, wah... aroma apa ini? Aku sedang dalam misi membosankan menyelidiki anomali Mana, dan malah menemukan pemandangan unik di sarang serigala," ujar pria itu dengan suara halus yang memuakkan bagi telinga Asher. "Humm... Putri Auristela? Jadi benar kamulah sumber anomali yang membuat para roh hutan gemetar ketakutan?"
"Aerlisto Valerius," desis Asher. Aura di sekitar Asher mendadak turun beberapa derajat, menjadi sangat dingin. Ia melangkah maju, memasang badan untuk menghalangi pandangan Aerlisto ke arah Aruna. "Apa yang dilakukan seorang High Elf di tempat kotor seperti ini? Bukankah kau seharusnya sedang minum teh di menara pohonmu?"
Aerlisto tertawa kecil, suara tawa yang santai namun penuh ejekan. "Nn... Tentu saja mencari hiburan. Dan sepertinya Ksatria Agung Kerajaan Vance... Cih... sangat menyedihkan begitu berantakan, penuh debu, dan berlindung di balik rok Putri Auristela? Ck.. ck... Ck... Sungguh pemandangan langka."
"Jaga mulutmu, Elf," geram Asher. Tangannya mencengkeram gagang pedangnya hingga buku jarinya memutih.
"Sudah, cukup dramanya! Aku sudah kenyang, tapi harga diriku masih lapar!" sela Vargos sambil berdiri dan menyeka lemak di mulutnya. Ia menatap Asher dengan mata merahnya yang kembali tajam. "Manusia, makanan ini memang luar biasa. Tapi suku kami tidak bisa membiarkan kalian lewat hanya karena suap ini. Kami butuh bukti bahwa kau bukan sekadar 'peliharaan' Putri ini."
Vargos menunjuk ke arah seorang prajurit serigala muda bertubuh raksasa di sudut. "Ini Zane. Petarung terkuat kami. Jika kau bisa mengalahkannya dalam duel satu lawan satu di atas Arena Tulang ini, kami akan mengawal kalian sampai ke perbatasan. Jika tidak, kalian semua akan tetap di sini sebagai tawanan!"
Aruna mengangkat sebelah alisnya, ia menoleh ke arah Asher yang tampak sangat siap untuk melampiaskan kekesalannya—terutama setelah dihina oleh Aerlisto. "Bagaimana, Asher? Kamu bisa? Atau perlu aku panggilkan bantuan?"
Asher menatap Aruna sejenak, kilat tekad di matanya sangat jelas. "Aku tidak butuh bantuan apa pun sekarang, Putri. Biarkan aku membungkam mulut sombong mereka."
Mereka pun pindah ke area lapang di depan fosil yang disebut Arena Tulang—sebidang tanah keras yang dipenuhi fosil-fosil kecil yang menyembul seperti duri. Aerlisto dengan santainya duduk di sebuah akar pohon besar tepat di samping Aruna.
"Sungguh menarik," bisik Aerlisto sambil melirik Aruna dengan tatapan menggoda. "Jika ksatria kaku itu kalah, Putri Auristela, kamu bisa ikut denganku ke wilayah Elf. Kami punya tempat tidur dari sutra roh yang jauh lebih empuk daripada fosil kura-kura bau ini."
"Humph... Diamlah dan tonton saja."
Di tengah arena, Asher dan Zane berdiri berhadapan. Zane menggeram rendah, tubuhnya mulai diselimuti aura merah gelap—sihir penguat tubuh Wolfkin. Tanpa aba-aba, Zane melesat maju!
Clang!
Cakar Zane beradu dengan pedang emas Asher, menciptakan percikan api dan gelombang kejut yang menerbangkan debu arena. Zane menyerang bertubi-tubi seperti badai. Asher hanya bertahan, menepis setiap serangan dengan presisi yang sangat akurat.
"Ck... Ck... ck... Lihatlah, dia hanya bisa berlari, Putri Auristela" ejek Aerlisto lagi. "humn, terlihat seperti kelinci yang sedang dikejar serigala."
Aruna tidak menjawab, tapi tangannya mengepal erat. Ia tahu Asher sedang membaca pola serangan Zane. Saat Zane melancarkan lompatan besar dengan cakar terbuka, Asher merendahkan tubuhnya secara tiba-tiba.
"Lenyaplah. Solar Bind!"
BOOM!
Ledakan cahaya keemasan menghantam telak dada Zane, melempar tubuh raksasa itu hingga menghantam dinding batu. Suasana menjadi hening. Zane berusaha bangkit, namun seluruh tubuhnya telah terlilit rantai cahaya padat yang membakar kulitnya dan mengunci pergerakan ototnya. Asher berdiri tegak, ujung pedangnya yang bersinar terang mengarah tepat ke jakun Zane.
"Duel selesai," ujar Asher dingin. Tatapannya kemudian beralih ke Aerlisto, seolah berkata: Kau berikutnya.
Vargos terdiam lama sebelum akhirnya mengangguk. "Luar biasa. Manusia yang punya taring nyata. Suku Taring Hitam akan menepati janji."
Ding!
[Terdeteksi kedekatan dengan Asher de Volland: 70%
Catatan: Target merasa sangat lega bisa pamer kekuatan di depan host. Dia benar-benar tidak suka saat Aerlisto menggodamu.
Kesan ML: "Aku membuktikan aku bukan beban. Dan Elf s1alan itu... dia harus tahu siapa yang benar-benar punya hak berdiri di samping Putri."]
Aruna menyeringai kemenangan. Ia menoleh ke arah Aerlisto yang tampak kecewa namun tetap tersenyum tipis. "Sepertinya aku tidak butuh sutra rohmu, Aerlisto. Aku sudah punya pengawal."
Aerlisto mengangkat bahunya santai. "Mungkin lain kali. Tapi ingat, ada sesuatu yang dikirim oleh Viper’s Fang yang jauh lebih gelap sedang menunggu kalian di depan sana."
Aruna mengabaikan peringatan itu. Ia melangkah ke arah Asher dan memberikan botol air minum yang dipanggil lewat sistem. "Kerja bagus, Asher. Kamu tidak membuatku malu."
Asher menerima botol itu, ujung bibirnya sedikit terangkat—hampir menyerupai senyuman. "Tentu saja, Putri. Aku tidak akan membiarkanmu kecewa."
Batin Aruna: 'Eh? Es batu ternyata bisa cemburu juga? Lucu sekali.'
Namun, di balik bayangan pepohonan yang gelap, sebuah mata merah yang berbeda sedang mengawasi mereka dengan penuh kebencian. Sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari sekadar serigala lapar.