andi dikejar waktu mengungkapkan siapa pelaku teror yang menyebabkan kematian di berbgai tempat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3
Aku dipanggil ke ruang kepala sekolah. Di dalam ruangan itu, Pak Ramlan sudah duduk dengan wajah kusut. Di sampingnya, seorang wanita paruh baya dengan penampilan khas guru tampak tenang, seolah situasi ini hanyalah urusan administrasi biasa.
“Pak Andi,” ucap wanita itu dengan suara datar, “sesuai arahan dari Pak Ramlan, mohon kejadian ini tidak disebarluaskan. Kita sudah sepakat untuk menyebutnya sebagai kecelakaan.”
Aku mengangguk pelan. Dalam hati, aku tersenyum getir. Beginilah ketika kekuasaan bekerja. Segalanya bisa diatur, diluruskan, bahkan diputar balik. Padahal jika penyelidikan dilanjutkan lebih dalam, mungkin motif sesungguhnya bisa ditemukan. Secara psikologis, anak itu tidak menunjukkan kecenderungan kuat untuk bunuh diri.
“Baik,” jawabku singkat. Aku terlalu lelah untuk berdebat.
“Pak Andi,” kata Pak Ramlan dengan nada yang kini terdengar lebih sopan, “kirimkan saja nomor rekening Anda.”
Aku menatapnya. Aku paling tidak suka tawaran semacam ini.
“Perintah Pak Haris saja sudah cukup, Pak. Ini sudah menjadi bagian dari tugas saya,” jawabku tegas.
Semiskin apa pun aku, ada batas yang tidak akan kulanggar. Aku tidak akan menerima uang yang asal-usulnya tidak jelas.
Raut wajah Pak Ramlan berubah. Ada ketidaksenangan yang tak sempat ia sembunyikan.
“Bu Winda,” katanya kemudian, “untuk urusan sekolah, siswa, dan guru, saya serahkan kepada Anda.”
“Tenang saja, Pak. Semua bisa diatur,” jawab wanita itu tanpa ragu.
Aku menunduk sesaat. Kalimat itu terdengar menjijikkan di telingaku. Namun aku tahu, inilah kenyataan yang sering terjadi. Ketika uang dan kekuasaan bersatu, kebenaran sering kali tidak lagi menjadi prioritas.
Aku keluar dari ruang kepala sekolah. Rina, Rani, Lukman, dan Joni sudah menungguku di lorong.
“Pak, saya ikut Anda ya,” ucap Rina.
Aku menganggukkan kepala.
“Pak, kami duluan,” kata Lukman. Ia dan Rina segera menaiki mobil patroli. Aku dan Rani menuju mobil bututku yang terparkir tak jauh dari sana.
Rani duduk di sampingku. Aku fokus menyetir, tetapi pikiranku justru melayang pada kode 1721200. Entah kenapa angka itu terus berputar di kepala.
Apa ini sebenarnya? Kode judi togel? Nomor rekening? Atau sesuatu yang lain?
“Pak Andi, halo.”
Aku menoleh sekilas ke arah Rani. “Kenapa kamu?” tanyaku, lalu kembali fokus ke jalan.
“Pak, korban bernama Doni, kelas dua belas, usia enam belas tahun,” ujar Rani.
“Kasus ini sudah ditutup. Kenapa kamu bahas lagi?” ucapku ketus.
“Pak, dengar dulu. Barangkali Bapak tertarik.”
Aku menghela napas. “Ya, lanjutkan,” kataku, sambil bergumam dalam hati agar ia terus bicara supaya aku tidak mengantuk.
“Doni adalah anak Pak Ramlan dan Bu Linda. Pak Ramlan anggota dewan, sedangkan Bu Linda seorang pengusaha. Dari beberapa orang yang saya tanyai, Doni dikenal sebagai siswa yang ditakuti. Ia sering melakukan perundungan terhadap siswa lain. Beberapa kali terlibat tindakan kriminal, tapi selalu dibebaskan karena orang tuanya,” jelas Rani.
“Lalu?” tanyaku. Nada suaraku masih terdengar malas, meski perlahan muncul rasa penasaran.
“Dari segi psikologis, tidak ada indikasi kuat dia berniat bunuh diri,” lanjut Rani.
“Iya. Anak orang kaya, dimanja, keinginannya selalu dipenuhi, tukang bully, lalu bunuh diri. Memang agak aneh,” sahutku.
Rani menghela napas berat. “Saya justru curiga dia mengonsumsi narkoba. Sekarang ada jenis baru yang bisa membuat penggunanya berhalusinasi dan melakukan hal-hal ekstrem. Di Brasil pernah ada kasus siswa SMA menabrakkan diri ke kendaraan. Setelah diotopsi, ternyata di bawah pengaruh narkoba.”
Aku terdiam sejenak. “Andaikan korban diotopsi, mungkin ada petunjuk,” kataku pelan. “Tapi biarlah. Itu sudah menjadi keputusan mereka.”
Ponselku berdering. Nama Pak Haris muncul di layar.
“Siap, ndan,” ucapku.
“Tolong kirim gambar-gambar korban,” perintahnya singkat.
Aku mengerenyitkan dahi. Bukankah kasus ini sudah ditutup? Untuk apa lagi ia meminta foto-foto itu. Karena sedang menyetir, aku meminta bantuan Rani.
“Tolong kirim gambar-gambar korban ke Pak Haris,” kataku.
Rani meraih ponselnya dan jarinya bergerak lincah di layar. Aku melirik jam tangan. Jarumnya sudah menunjukkan pukul 11.00.
Tak lama kemudian kami tiba di Polsek Pasar Selasa, tempat aku bertugas. Aku memarkir mobil dengan rapi lalu masuk ke ruang Unit Reserse Kriminal. Rina dan Lukman tampak sibuk di depan komputer, menyusun laporan.
“Ya, padahal bapak lagi lepas, ya, Pak,” ujar Lukman sambil tersenyum tipis.
Aku duduk di sofa, melepas sepatu, lalu menghela napas panjang. “Padahal aku lagi santai,” jawabku kesal.
Belum sempat aku menenangkan diri, ponselku kembali berdering. Kali ini Dika yang menelepon.
“Ada apa, Nak?” tanyaku.
“Yah, ini ada hubungannya dengan kode 172, yah.”
Kepalaku terasa penuh. Masalah rumah tangga dengan keluarga ibu Dika yang terus menuntut cerai, kasus yang ditutup secara sepihak, ditambah sikap Pak Ramlan yang merendahkan, semuanya membuat suasana hatiku buruk.
“Dika, sudah. Kamu jangan ikut campur urusan ini,” jawabku ketus.
Namun seketika aku mengerenyit. Tunggu dulu, dari mana Dika tahu soal kode itu?
Aku melirik ponsel Rani yang masih berada di tangannya. Dadaku mendadak sesak. Astaga, Rani salah kirim. Foto-foto korban terkirim ke nomor Dika. Aku cek lagi. Foto itu juga terkirim ke Pak Haris.
“Yah, harus serius menangani ini,” ucap Dika dari seberang.
“Kamu hapus foto-foto itu sekarang. Itu arsip negara, tidak boleh disebarkan ke siapa pun,” kataku tegas.
“Yah, lihat lehernya. Ada kode 1721200.”
“Itu cuma tulisan,” sahutku, mulai kehilangan kesabaran.
“Bukan tulisan biasa, Yah. Itu ancaman sekaligus petunjuk,” jelasnya.
“Dika, hentikan pembicaraan ini,” kataku keras.
“Dika,” terdengar suara Ratna memanggil dari kejauhan. “Jam dua belas akan ada hal yang aneh.”
Sambungan terputus. Aku menghela napas dan tersenyum tipis. Anak itu lebih takut pada ibunya daripada padaku. Padahal aku polisi. Dalam hati aku berpikir, untung masih ada Ratna. Kalau tidak, aku mungkin sudah kewalahan menghadapi rasa ingin tahu Dika yang terlalu tajam untuk seusianya.
Aku menghela napas berat sambil membuka satu kancing baju.
“172, 12.00,” gumamku pelan. “Apa maksudnya?”
Aku menggelengkan kepala. Pikiranku jelas sudah melayang terlalu jauh. Bukti yang ada menunjukkan satu kesimpulan sederhana. Anak itu bunuh diri. Tidak ada tanda penganiayaan, tidak ada jejak perlawanan, tidak ada teror. Aku memaksa diriku kembali rasional, berpegang pada fakta-fakta yang sudah kudapat sejak olah tempat kejadian perkara.
Pandangan mataku tertuju pada jam dinding. Tepat pukul 12.00.
Aku menarik napas dalam-dalam. “Anakku terlalu terobsesi jadi detektif,” gumamku, mencoba menertawakan kegelisahan sendiri.
“Pak, silakan tanda tangan,” suara Lukman membuyarkan lamunanku.
Ia menyerahkan beberapa berkas laporan. Dengan gerakan malas, aku menandatanganinya satu per satu tanpa banyak membaca. Kepalaku terasa berat. Saat kulirik kembali jam dinding, jarumnya sudah menunjukkan pukul 12.10.
“Kau lihat, Nak. Tidak terjadi apa-apa,” gumamku dalam hati, seolah berbicara pada Dika.
Rasa kantuk datang perlahan, lalu menenggelamkanku. Aku tertidur di sofa ruang reskrim.
Entah berapa lama, aku merasakan tubuhku digoyang-goyang cukup keras. Aku terbangun dengan napas tersentak.
“Pak, ada korban gantung diri lagi, Pak,” ucap Lukman dengan wajah tegang.
Aku menoleh ke jam dinding. Jarumnya tepat menunjuk pukul 13.00.