NovelToon NovelToon
TAWANAN CINTA TUAN SAGA

TAWANAN CINTA TUAN SAGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Barat / CEO / Penyesalan Suami / Cinta setelah menikah / Dark Romance / Mafia
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: An_cin

Real cerita asli
No Jiplak!!!!
Yang jiplak gue gaplak

Ivana, wanita berusia 26 tahun harus merasakan pahit yang lebih dalam setelah kakaknya meninggal. Ia di haruskan menggantikan sang kakak untuk menikahi Saga, calon kakak iparnya setelah Olivia meninggal. Namun rupanya, Saga pun tak melepaskan Ivana, karena tahu bahwa jantung yang ada di dalam dirinya adalah milik Olivia.

"Tolong, izinkan aku pergi!" Rintihan itu terus Ivana ucapkan dari balik pintu kamar berinterior mewah.

Di depan kamar itu, terdapat beberapa orang yang mengawasinya.

"Kau mau kemana Ivana? Kau harus tetap di sini, Olivia tidak akan pernah membangkang padaku. Kau harus menurut, atau aku akan mengambil jantungmu dan memberikannya pada wanita lain sebagai Olivia" ucap Saga dari balik pintu kamar Ivana.

"Kau sudah gila Saga, lepaskan aku! Aku tidak ingin di sini! Aku ingin pergi! "

Ivana, apakah kamu benar-benar akan bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

“Brukkkkkkk”

“Brukkkkkk” Suaranya tak sekeras saat tadi Danuel dan Martin mendengar, suara itu berasal dari dalam kamar Ivana.

Danuel yang mendengar hal itu pun di buat geram. “Nona wingston, bisakah kau hentikan ini. Percuma kau lakukan semua ini, itu adalah hal yang mustahil.”

Ivana hanya terdiam, ia tidak menjawab dan tetap tenang. Ia tahu apa yang ia lakukan.

1 menit sebelumnya......

“Ivana, aku butuh bantuanmu.”

Mendengar itu Ivana pun langsung mendekati pintu, “ya, aku pasti menolongmu.”

“Dengarkan aku baik-baik Ivana, mau kau seletih apa pun, tolong dobrak pintu ini sisa  tenaga yang kau punya. Setidaknya kau hanya perlu menghadang, agar mereka tak curiga denganku, dan saat itu akan kembali bersembunyi dan kembali memikirkan cara agar kita bisa kabur dengan cepat.”

“Baiklah, aku paham maksudmu.”

Jane menatap ke arah lorong itu, prediksinya benar-benar sangat tepat. Ia pun dengan cepat langsung lari dari sana, bersembunyi dari Danuel dan juga Martin.

*****

“Sudah ku bilang bukan, itu semua hanya percuma.” Tanpa Danuel sadari, itu hanyalah pengalihan kecil yang Ivana buat, bersama dengan Jane.

Danuel kemudian pergi, ia kembali mencari kucing itu. “Jane, keluarlah. Aku tahu kau masih di sini. Jangan sampai peluru ini melesat tepat di kepalamu. Kemarilah Jane, selagi aku masih baik padamu.”

Jane membungkam mulutnya, ia bersembunyi di balik pintu sebelah kamar Ivana. Langkah kaki Danuel semakin mendekat, ia mulai membuka pintu kamar itu. “Jane, jangan bersuara, jangan lakukan gerakan apa pun, dan tetaplah tenang.” Ujar Jane dalam hati.

Danuel membuka pintu kamar itu, dan ia tak menemukan siapa pun di sana, Danuel keembali menutup pintu kamar itu.

“Bagaimana?” tanya Martin.

“Kosong.”

Danuel mulai membuka pintu kamar itu satu persatu, lagi. “Kau mengecek kamar itu lagi? Bukankah tadi sudah.”

“Lebih baik kita berjaga-jaga, siapa tahu kucing kecil itu bersembunyi di sini.”

Setelah cukup lama Jane berdiri di sana, ia kemudian keluar. Menatap kanan kiri dan tak ada orang-orang di situ.

“Ivana, kau baik-baik saja.” Ucap Jane, kepada Ivana yang berada di balik pintu.

“Jane, kau jangan mendobrak pintu ini lagi. Percuma, itu hanya akan membuat kita semakin rumit.”

Jane tak bodoh, ia belajar dari kesalahan, ia bahkan kini sudah berhasil membuka kunci itu dengan menggunakan sebuah kawat. “Ivana, ayo keluar.”

Ivana yang melihat hal itu pun sontak memberikan acungan jempolnya untuk Jane. “Kau keren.” Ujar Ivana dengan raut wajah yang datar dan pucat.

Setelah mengatakan itu Ivana pun ambruk, wajahnya benar-benar putih pucat seperti orang anemia. “Ivana kau kenapa.” Jane langsung menghampirinya, ia kemudian memapah Ivana karena gadis itu tak bisa berjalan sendiri.

“Maaf telah merepotkanmu Jane, namun aku benar-benar tak kuat lagi untuk berdiri.”

“Kau makan?” Pertanyaan Jane itu di balas gelengan kepala oleh Ivana. Jane pun kian menatap meja di samping ranjangnya, hanya ada sepotong roti coklat, dan dia tahu. Ivana tak bisa memakan itu.

“Kau juga tidak minum.” Lagi-lagi Ivana mengangguk, lantas bagaimana ia bisa minum, jika susu yang sempat Saga berikan malah di minum kembali olehnya. Benar-benar pria resek.

Tanpa mereka sadari, sebuah CCTV tengah menyala di sudut kamar, CCTV  itu tersambung ke layar komputer milik Saga, dan dia sedang mengamati mereka semua. “Ini benar-benar menyenangkan, jadi sekarang mereka bahkan main kucing-kucingan ya. Danuel-Danuel, apa kau bahkan tak terpikir untuk mengecek CCTV rumah. Benar-benar kebiasaan, selalu harus aku yang bertindak.”

Saga kini mengambil ponselnya, ia kini mencoba menghubungi Danuel. “Drttttttt, drttttt” Bunyi suara terdengar di ponsel milik Danuel, pria itu pun mengangkat telepon dari Saga.

“Ada apa Saga?” Tanya Danuel, kepada Saga melalui telepon ponsel.

“Kau kehilangan gadis mu? Dia keluar dari kamar bukan.”

“Saga, apa kau sekarang juga memasang CCTV di kamarku?”

“Hahaha, tentu saja tidak. Untuk apa aku memasang CCTV di kamarmu. Aku hanya memasangnya pada kamar Ivana agar aku bisa mengawasinya 24 jam.”

Danuel yang mendengar itu langsung begidik merinding, “Jadi kau benar-benar kehilangan dia.”

“Ya, aku rasa kau sudah tahu soal itu.” Jawab Danuel, dengan rasa bersalahnya pada Saga.

“Lantas, mengapa kau tak cek saja CCTV Villa.”

“Benar juga, mengapa tak terpikir olehku sejak tadi.”

“Tunggu, kau melihat CCTV itu, mengapa tidak kau saja yang menunjukkan arah mereka padaku.”

“Tidak, kau lebih baik melihat mereka dari ruang CCTV, biarkan saja dulu mereka lepas. Saat, mereka sudah benar-benar berkumpul. Kalian tangkap mereka, buat mereka jerah dan berpikir bahwa percuma kalian lari dari sini.”

“Ya, baiklah, jika itu memang maumu.”

Saga kemudian mematikan ponsel miliknya, ia kini mengambil jas miliknya dan beranjak dari kursi. Saga kini tengah memakai jasnya, mengancing jas itu sebari menatap ke arah halaman luar. Sebuah mobil sedan, kini memasuki pekarangan rumahnya, mobil itu berhenti dan seseorang turun dari mobil. Dan orang yang turun itu adalah Emalia Wingston.

“Tumben bibi Ema datang ke sini. Bukankah biasanya mama yang akan datang, apakah dia sudah tidak mengamuk lagi.” Ujar Saga pada dirinya sendiri, sebari mengancingkan lengan kemejanya.

Emalia kini memasuki rumah Howard, ia tak seperti biasanya, yang tampak tegas dan juga elegan, ia kini hanya tampak penuh amarah murka.

Di sana, para pelayan langsung menyambutnya, namun wanita itu enggan di sambut, ia justru mengamuk. “SAGA, KELUAR KAU, KAU BAWA LARI KEMANA IVANA. KEMBALIKAN DIA PADAKU. KELUAR KAU PECUNDANG PAYAH.” Teriakan Ema membuat Aretha langsung keluar dari halaman samping, tak jauh dari tempat Emalia berdiri. Aretha pun berlari dan pergi menemui Emalia dengan tergesa-gesa. Biasanya, jika Ema tak seperti itu, ia tak akan mau berteriak seperti itu, apalagi pada keluarga Howard. Karena Ema, benar-benar sangat menghormati keluarga itu, terutama pada nyonya mereka, Aretha.

“Ema, kau kenapa, ada apa kau kemari.”

Grace yang barus saja datang langsung berusaha membawa bosnya pergi, namun ia terus memberontak. Memberikan perlawanan dan tak ingin pulang. “Lepaskan aku Garce, jangan tahan aku untuk mengambil kembali putriku.”

Mendengar hal itu membuat banyak pertanyaan terlintas di pikiran Aretha. “Maksudnya......” Aretha benar-benar mengharapkan jawaban dari mereka.

Emalia kini mendekati sahabatnya, “kau tahu Aretha, putramu yang kau banggakan itu membawa kabur putriku. SEKARANG DI MANA DIA, JAWAB AKU!” Emalia tak kuasa menahan tangisannya. Ia benar-benar luruh di lantai, tangannya gemetar hebat, ia mengacak-acak rambutnya sendiri.

“AAAAA, IVANAAAAA, JANGAN TINGGALKAN MAMA......”

Melihat Emalia yang seperti itu membuat Aretha benar-benar merasa kasihan padanya. Ia kemudian menyuruh seorang pelayan untuk memanggil putranya kemari.

Seorang pelayan kini berlari menuju kamar Saga, ia tak mengetuk pintu, langsung masuk begitu saja ke dalam kamar itu. “Tidak bisakah kau mengetuk pintu sebelum masuk hah?” Saga terlihat sangat marah pada pelayan itu, namun pelayan itu benar-benar tak lagi bisa mundur sekarang. Apalagi, keadaan di ruang tengah kini sedang kacau balau.

“Tuan, nyonya Ema datang, dia terus berteriak dan mencari Anda. Nyonya Howard meminta Tuan Saga untuk segera turun ke bawah menemui mereka.”

“Ada apa mereka mencariku.”

Hal itu menimbulkan tanda tanya besar di benak Saga, untuk apa di cari, tak biasanya nyonya Wingston akan seperti ini. Setidaknya, itulah pemikiran Saga saat ini.

Saga kemudian turun ke bawah, menghampiri mereka. Emalia yang melihat Saga pun langsung menghampirinya, melayangkan tamparan keras pada pria itu. “Plakkkkkk” Suaranya terdengar ngilu, Saga kini memegang pipinya yang di tampar oleh Ema, ia menatap wanita itu dengan tatapan tajam.

Hal yang sama pun terjadi, Emalia pun kini menatap Saga dengan tatapan mengintimidasi, keduanya benar-benar sedang, tak baik-baik saja.

Kini suasana benar-benar menjadi canggung untuk Grace dan juga Aretha, mereka benar-benar tak menyangka, kematian Olivia benar-benar berdampak untuk mental keduanya. Dan Ivana, dia bahkan tak tahu, jika Ema benar-benar menangis untuknya.

Happy reading guys, semoga kalian suka ya........

See you

1
Mar lina
aku mampir
Thor
An_cin: Terima kasih kak😍
total 1 replies
Homerun
Alurnya bagus dan terkonsep. Aku suka. Lanjut thor🤗
An_cin
Yang suka akal-akalan barat, ayo sini
Homerun
aw aw, sempat suuzon sama Jane. Tapi ternyata baik juga tu anak 🤭btw semangat cintaku
An_cin: makasih sayangku🤭👍
total 1 replies
christian Defit Karamoy
mantap thor
An_cin: Terima kasih kak, sudah mampir 🤭👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!