Penasaran dengan ceritanya langsung aja yuk kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: SISA YANG TIDAK TERHAPUS
BAB 26: SISA YANG TIDAK TERHAPUS
Arga menatap paket kecil di teras rumahnya dengan napas tertahan. Dunia seharusnya sudah kembali normal. Meja Manifest sudah hancur, Dewan sudah musnah, dan ibunya sudah tidak ingat lagi tentang teror yang mereka alami. Namun, paket di depannya adalah bukti otentik bahwa Sistem tidak bisa benar-benar mati selama masih ada manusia di bumi.
Ia mengambil catatan kecil di samping paket itu. Sampai jumpa di Babak Selanjutnya.
"Arga? Siapa di depan, Nak?" suara ibunya terdengar dari dalam rumah, mendekat ke arah pintu.
"Bukan siapa-siapa, Bu! Cuma salah kirim!" jawab Arga cepat. Ia segera menyambar paket itu dan menyembunyikannya di dalam jaketnya. Ia tidak boleh membiarkan ibunya terlibat lagi.
Arga tidak pergi ke kantor. Ia memacu motornya menuju sebuah bangunan tua yang terbakar—bekas lokasi Gudang Sektor 4 yang dulu pernah ia datangi. Ia butuh tempat sepi untuk memeriksa benda ini.
Di tengah reruntuhan yang masih berbau hangus, Arga duduk bersila. Ia mengeluarkan paket itu. Meskipun simbol di tangannya sudah memudar menjadi bekas luka, ia masih bisa merasakan "getaran" dari dalam bungkus kertas cokelat tersebut.
"Jika aku membukanya, aku masuk kembali ke permainan mereka," bisik Arga. "Tapi jika aku tidak membukanya, aku tidak akan pernah tahu siapa yang mengirimkan ini."
Arga memutuskan untuk tidak merobek bungkusnya. Ia menggunakan teknik yang ia pelajari dari catatan ayahnya: Melihat melalui bayangan. Ia meletakkan paket itu di atas tanah dan melihat bayangannya di bawah sinar matahari.
Di dalam bayangan paket itu, Arga melihat sesuatu yang mustahil. Bukan benda, melainkan sebuah Lubang Kunci yang bergerak-gerak.
Tiba-tiba, dari balik tiang beton yang hancur, muncul seorang pria paruh baya yang mengenakan pakaian compang-camping. Wajahnya penuh bekas luka bakar, namun matanya bersinar dengan kecerdasan yang tajam.
"Jangan gunakan matamu, Arga. Gunakan bekas lukamu," ucap pria itu.
Arga waspada. "Siapa kau? Sisa-sisa dari Dewan?"
Pria itu tertawa parau. "Aku adalah Kurir Nomor 0. Orang yang seharusnya berada di posisimu sebelum kau lahir. Namaku Damar. Aku adalah orang yang membantu ayahmu menyembunyikan Segel Terakhir di dalam koin emas itu."
Damar mendekat, matanya tertuju pada paket di tangan Arga. "Itu bukan paket kiriman. Itu adalah Kotak Memori. Gudang itu pintar, Arga. Sebelum meledak, ia membuang seluruh 'kesalahan sistem' ke dalam satu wadah. Dan wadah itu dikirimkan kepadamu karena kau adalah satu-satunya 'hard drive' yang tersisa."
"Apa isinya?"
"Semua nyawa yang gagal kau selamatkan. Mereka terjebak di sana. Jika kau membukanya, kau melepaskan ribuan jiwa yang tersiksa. Jika kau membuangnya, mereka akan menjadi hantu kelaparan yang akan menghancurkan kota ini dalam tiga hari."
Arga mengepalkan tangannya. "Selalu saja ada jebakan. Lalu apa yang harus kulakukan?"
Damar menunjuk ke arah bekas luka melingkar di telapak tangan Arga. "Kau harus menjadi Gudang Berjalan. Kau tidak perlu mengirimkan mereka. Kau harus menyerap mereka ke dalam dirimu dan memurnikan mereka satu per satu melalui perbuatanmu di dunia nyata."
Tiba-tiba, paket itu bergetar hebat. Suara ribuan bisikan mulai terdengar dari dalamnya. Tolong... panas... Arga... jangan tinggalkan kami...
Di saat yang sama, langit yang tadinya cerah mendadak berubah menjadi abu-abu gelap. Di kejauhan, Arga melihat sosok-sosok hitam baru mulai muncul dari aspal jalanan. Mereka bukan Pengawas jangkung, tapi sesuatu yang lebih kecil, lebih cepat, dan jumlahnya ribuan.
"Mereka adalah Pembersih Parasit," ucap Damar panik. "Mereka datang untuk mengambil kembali Kotak Memori itu. Jika mereka mendapatkannya, Gudang akan bangkit kembali di tempat lain!"
Arga berdiri. Bekas luka di tangannya mulai mengeluarkan cahaya putih lagi, namun kali ini terasa lebih panas, seolah-olah kulitnya sedang disetrika.
"Aku tidak akan membiarkan mereka mengambil apa pun lagi," geram Arga.
Arga menempelkan telapak tangannya ke paket tersebut. Bukannya membuka, ia justru meremas paket itu hingga hancur. Cahaya putih dari tangannya menyedot seluruh asap hitam dari dalam paket masuk ke dalam aliran darahnya.
Arga berteriak kesakitan. Pembuluh darah di lehernya menghitam. Di telapak tangannya, di tengah bekas luka melingkar, muncul angka baru. Bukan 1, bukan 30.
Angka itu adalah: -1 (Minus Satu).
Apa arti dari angka "Minus Satu" tersebut? Dan mampukah Arga menanggung beban ribuan jiwa di dalam tubuhnya sambil dikejar oleh ribuan Pembersih Parasit?