"Aku butuh istri untuk mendapatkan warisan Kakek, dan kamu butuh uang untuk pengobatan ibumu. Adil, kan?" — Aksara Danendra.
Bagi Aylin, pernikahan ini hanyalah transaksi pahit. Ia rela membuang harga dirinya dan menjadi 'Istri Bayaran' demi pengobatan sang ibu. Ia berjanji tidak akan melibatkan hati, apalagi pada pria dingin dan penuh rahasia seperti Aksara. Bagi Aylin, semua lelaki sama saja brengsek.
Namun, bagaimana jika di atas kertas kontrak yang dingin itu, benih cinta justru tumbuh secara perlahan? Dan bagaimana jika saat cinta itu mulai mekar, Aylin menyadari bahwa dirinya hanyalah tameng untuk rahasia gelap suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.26 -Kirana Bertemu Emilia
Malam semakin larut di apartemen, namun mata Aksara enggan terpejam. Ia melangkah pelan menuju balkon kamar lalu menatap pekatnya malam. Ucapan Arvano tentang Emilia yang mencari Aylin, sungguh mengusik pikirannya.
"Astaga." Desah Aksara, lalu kembali ke kamar dan duduk disisi Aylin.
Di bawah temaram lampu tidur, Aksara menatap wajah Aylin yang terlelap. Ada kedamaian yang asing di sana. Tanpa sadar, sebuah kalimat dari lubuk hatinya yang terdalam muncul begitu saja.
'Di saat aku memandang wajahmu, entah kenapa hatiku tersenyum,' batin Aksara. Ia merasa aneh pada dirinya sendiri.
Dulu, ia adalah pria yang hanya percaya pada logika dan kontrak dan tak menyukai perempuan, tapi sekarang, melihat Aylin, ia seolah merasakan ada ketulusan yang hanya diperuntukkan baginya. Juga, selalu ada keinginan untuk melindungi Aylin.
Aksara menghela napas, segera membuang jauh-jauh pikiran itu. Ia harus fokus. Dengan berbagai macam kemungkinan yang terjadi.
*
*
Keesokan paginya, suasana dapur sudah riuh rendah. Aylin, dengan celemek motif bunganya, tampak asyik membantu Bi Rita. Tangannya cekatan mengiris bumbu sambil terus berceloteh, membagikan resep rahasia agar masakan terasa jauh lebih lezat.
Bi Rita dan Dila yang sesekali mencuri dengar pembicaraan mereka tak bisa menahan tawa. Bagi mereka, Aylin adalah sosok majikan yang sangat menyenangkan dan jauh dari kesan angkuh.
Di meja makan, Aksara menyesap kopinya perlahan. Matanya tak lepas dari sosok Aylin di dapur. Ia tersenyum tipis, teringat bagaimana tadi pagi ia terbangun dan merasa kehilangan saat menyadari sisi tempat tidur di sebelahnya sudah kosong. Kehadiran Aylin ternyata mulai mengisi ruang-ruang hampa di hatinya tanpa ia sadari.
Sementara itu, di kediaman Danendra lainnya, Kirana tampak sibuk merapikan penampilannya di depan cermin. Hari ini, ia sudah memiliki janji untuk bertemu dengan Emilia di sebuah kafe.
Kirana menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam gemuruh gugup di dadanya. Namun, sebuah suara mengagetkannya.
"Mami mau ke mana? Sudah cantik sekali pagi-pagi begini," celetuk Abian yang baru saja masuk ke kamar.
Kirana tersentak kecil, lalu buru-buru memulas lipstiknya. "Biasa, Pi. Ibu-ibu arisan mendadak mengajak bertemu. Paling hanya kumpul-kumpul sebentar," balas Kirana, mencoba berbohong sesantai mungkin.
Abian mengangguk pelan, namun tatapannya tetap tajam menyelidik. Ayah Aksara itu kembali merapikan jam tangannya sebelum bersiap berangkat.
"Mi, jangan macam-macam ya," kata Abian tiba-tiba, suaranya terdengar berat dan penuh penekanan.
Tangan Kirana yang sedang merapikan tas terhenti.
"Papi tahu Emilia sudah kembali ke Jakarta. Dan Papi minta, jangan pernah meminta wanita itu kembali pada Aksara. Aksara sudah punya Aylin. Jika dipikir-pikir, Aylin jauh lebih cocok bersama putra kita," lanjut Abian tegas.
Kirana menelan ludah dengan susah payah.
"Coba Mami pikirkan baik-baik... semenjak menikah dengan Aylin, Aksara jadi jarang bertemu dengan Arvano. Papi lebih suka melihat Aksara yang sekarang," pungkas Abian.
"E-enggak, kok, Pi. Mami benar-benar hanya mau bertemu teman-teman arisan," balas Kirana dengan nada bicara yang sedikit bergetar karena gugup.
Abian menatap istrinya beberapa saat, lalu menghela napas. "Baiklah, anggap saja Papi percaya."
Setelah Abian melangkah keluar kamar, Kirana langsung meremas lipstik di tangannya. Ia tahu tindakannya berisiko, tapi egonya untuk mengembalikan Emilia ke sisi Aksara jauh lebih besar daripada rasa takutnya pada sang suami.
Setelah memastikan mobil Abian menjauh dari halaman, Kirana langsung bergegas menuju kafe yang dijanjikan. Ia merasa sangat beruntung hari ini; bukan hanya suaminya yang sedang sibuk, tapi Harsa—mertuanya yang tegas—juga sedang tidak di rumah karena harus mengecek cabang perusahaan di luar kota. Jika Harsa ada, ia pasti sudah diinterogasi habis-habisan.
Berpuluh menit kemudian, Kirana tiba di sebuah kafe yang terletak di sudut strategis kota. Karena waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi, suasana kafe belum terlalu ramai. Kafe ini memang menjadi langganan para pebisnis untuk sarapan sembari mengadakan pertemuan singkat.
Tak lama kemudian, sosok yang ditunggu muncul. Emilia melangkah masuk dengan aura berkelas. Dari ujung kepala hingga kaki, barang-barang bermerek dunia menempel di tubuhnya, mempertegas statusnya sebagai model internasional.
"Tante," sapa Emilia lembut dengan senyum yang dipaksakan sopan.
"Duduk," titah Kirana singkat tanpa basa-basi. Tatapannya tertuju pada wanita yang dulu hampir menjadi menantunya itu.
Emilia duduk dengan anggun, meletakkan tas mewahnya di meja.
"Maaf membuat Tante menunggu lama."
"Tidak masalah, langsung saja," sahut Kirana dingin. Ia tidak butuh basa-basi.
"Emilia, kenapa kamu meninggalkan pernikahan itu dulu? Kamu tahu betapa sibuknya Tante membuat klarifikasi agar nama baik keluarga tidak hancur berantakan?"
Wajah Emilia seketika menegang. Namun, dengan cepat ia mengubah ekspresinya menjadi sendu, lengkap dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Maafkan aku, Tante," lirihnya pelan. "Bukannya aku tidak mau menikah dengan Aksara. Tapi... menjadi model papan atas adalah cita-citaku sejak dulu. Aku tidak mau jika nanti setelah menikah dan punya anak, ambisiku justru mengganggu rumah tanggaku. Jadi, aku memilih fokus pada karier lebih dulu agar saat kembali, aku sudah menjadi wanita yang mapan untuk Aksara."
Emilia menunduk, menyembunyikan tatapan aslinya. 'Semoga saja wanita tua ini percaya dengan bualanku,' gumamnya licik dalam hati.
Kirana menghela napas panjang, tatapannya beralih menatap jalanan di luar jendela kafe yang mulai padat. Ia seolah menimbang-nimbang kejujuran Emilia.
"Sebenarnya..." Kirana menggantung kalimatnya sejenak, membuat jantung Emilia berdegup kencang.
"Pernikahan Aksara yang sekarang itu... hanya sebuah kontrak."
Emilia tersentak. Ia mendongak dengan mata membelalak, menatap tak percaya pada ibu dari pria yang masih ia cintai itu.
"Kontrak? Maksud Tante... mereka tidak benar-benar saling mencintai?"
Kirana mengangguk tipis, sebuah senyuman penuh arti muncul di wajahnya. Dia menatap Emilia dengan dalam tanpa bicara satu patah pun.
Walau dia belum punya bukti fisik yang jelas, tapi dia tak sengaja sempat mendengar Jo dan Aksara berbicara tentang Aylin dan pembayaran.
"Tentu saja yang mengetahui ini semua adalah Ayah mertua." Gumam Kirana dengan sangat pelan.
Hening. Tak ada lagi obrolan. Hanya ada tatapan penuh ambisi dari Emilia yang kini merasa telah mendapatkan kunci untuk menghancurkan rumah tangga Aksara.
"Jangan salahkan aku, Tante. Karena aku diberi lampu hijau olehmu," ucap Emilia dalam hati dengan senyum kemenangan yang tertahan.
Bersambung ....
Waduh, Tante Kirana malah kasih 'lampu hijau' ke Emilia! Gimana perasaan kalian kalau punya mertua kayak Kirana? Kasih tahu di kolom komentar ya! Jangan lupa tinggalkan jejak like, dan vote-nya, biar author makin semangat update Bab 27! Jangan lupa ⭐ limanya guys!!
😄😄
🤣
berarti muka'mu tetap datar ya Aks...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣