NovelToon NovelToon
Ambisi & Dendam : Ikatan Yang Tak Diinginkan

Ambisi & Dendam : Ikatan Yang Tak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Dark Romance
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dira Lee

PERINGATAN : Harap bijak dalam memilih bacaan.!!! Area khusus dewasa ⚠️⚠️

Jihan dari keluarga konglomerat Alvarezh, yang terpaksa menjadi korban konspirasi intrik dan ambisi kekuasaan keluarganya.

Meski sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya bernama Zeiran Jihan dipaksa menikah dengan William Marculles, CEO dingin dan penguasa korporasi paling ditakuti di dunia.

Pernikahan ini hanyalah alat bagi kakak Jihan, yaitu Rahez, untuk mengamankan ambisi besarnya. sementara bagi William, Jihan hanyalah alat untuk melahirkan pewaris nya demi kelangsungan dinasti Marculles.

Jihan terjebak dalam situasi tragis di mana ia harus memilih antara masa lalu yang penuh cinta bersama Zeiran namun mustahil untuk kembali, atau masa depan yang penuh tekanan di samping William.

Lalu, bagaimana Jihan menghadapi pernikahannya yang tanpa cinta ?

Akankah bayang-bayang Zeiran terus menghantuinya?

Akan kah Jihan membalas dendam kepada kakaknya rahez atas hidupnya yang dirampas?

Ikuti kisah selengkapnya dalam perjalanan penuh air mata dan ambisi ini!

Halo semuanya! 😊
Ini adalah karya pertama yang saya buat. Saya baru belajar menulis novel, jadi mohon maaf jika masih ada kekurangan dalam pemilihan kata atau penulisan.😇

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dira Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 - Flashback

Pengawal teriak “Nona Jihan? Kau ada di dalam? Tuan Rahez melarangmu lama-lama sendirian, Segera keluar.”

Jihan otaknya berpacu cepat, Jika ia keluar dengan wajah panik, pengawal itu akan langsung memeriksa dirinya, Jika ia menolak keluar, ia akan semakin curiga.

Jihan berusaha setenang mungkin, lalu membuka pintu bilik. “Ada apa? Aku hanya ke kamar mandi, tidak lebih.” Jihan senyum tipis.

Penjaga itu meneliti wajah Jihan, lalu matanya bergerak turun, mencoba memeriksa tubuh Jihan, apakah ada sesuatu yang disembunyikan.

“Kau terlihat gugup, Nona.” Ucap pengawal

Jihan menatap lurus dan tajam, dengan nada dingin

“Atau mungkin kau yang gugup karena masuk ke kamar mandi wanita? kau ingin aku teriak dan membuat heboh?” Suara Jihan rendah tapi penuh ancaman.

Beberapa mahasiswi lain menoleh, wajah-wajah mereka tegang, Penjaga itu terdiam beberapa detik, lalu mendengus kasar.

“Hati-hati, Nona, Semua gerak-gerikmu ada dalam pengawasan, Jangan coba macam-macam.” Ucap pengawal

Jihan keluar dari kamar mandi dengan wajah kesal.

—-

Halaman luar Aula Utama Aestrasia global University.

Jihan berjalan melintasi halaman kampus menuju mobil mewahnya yang menunggu.

Melangkah pelan melihat di sekitarnya. bangku-bangku taman, pepohonan rindang, dan gerbang utama. Bayanganya menyebu pikiranya, Ia mengingat Jinan, saudara kembarnya yang tengil, tertawa lepas saat mereka berdua berlari menuju mobil, merasa bebas seperti mahasiswa normal.

Jinan, sang selebriti, seringkali dikejar oleh kerumunan kecil penggemar, dan Jihan selalu menggerutu sambil tersenyihr karena harus masuk ke mobil sport mewahnya dengan terburu-buru, meninggalkan mobil Jinan sendiri.

Ia mengingat Zeiran, kekasihnya, mengenakan seragam militernya yang gagah, tersenyum hangat sambil memegang buket bunga kecil. Zeiran selalu sabar menunggu Jihan selesai kuliah dan memberikan semangat yang menenangkan sebelum kencan mereka setelah dari kampus.

Tepat saat Jihan mencapai mobilnya.


“Jihan!” alkhan berteriak kencang dan menghampiri Jihan.

Jihan berhenti sejenak, Detak jantungnya melonjak, Ia menoleh pelan, melihat Alkhan yang berlari kecil menghampiri, wajahnya penuh khawatir.

Namun sebelum Alkhan tidak bisa mendekat, salah satu pengawal Rahez segera melangkah maju, mengangkat tangannya memberi isyarat. “Berhenti. Jangan mendekat.”

Alkhan mengerutkan kening, menatap tajam pada pengawal itu. “Ada apa , aku tidak melakukan apa apa, Aku hanya ingin bicara sebentar dengannya, Itu tidak melanggar apa pun.”

Pengawal lain ikut maju, tubuhnya tegap menghalangi jalan. “Tuan Rahez tidak mengizinkan siapa pun mendekati Nona Jihan tanpa perintahnya.”

Mata Jihan memanas, Ia ingin berteriak, ingin melawan, tapi setiap gerakannya diawasi.

Jihan menggelengkan kepalanya menatap Alkhan dengan penuh arti tatapan yang mengatakan untuk berhenti melawanya.

Alkhan mengepalkan tangannya, jelas tak rela, Namun tatapan pengawal begitu tegas, seakan siap menggunakan kekerasan jika ia memaksa.

Beberapa mahasiswa dan orang tua yang masih ada di area itu mulai memperhatikan, sehingga Alkhan menahan diri.


“Jihan… aku akan menunggu mu.” Dengan suara rendah

Jihan menunduk, menyembunyikan ekspresi emosinya,

Pengawal dengan tegas mengarahkan Jihan  membawanya masuk ke mobil “ Silahkan nona”

Jihan berjalan kearah mobil nya dan masuk,  Pintu mobil ditutup keras, memutus kontak pandangan mereka.

Dari balik kaca gelap, Jihan menatap Alkhan yang masih berdiri di sana, wajahnya keras Jihan menggenggam lipatan bajunya, merasakan ponsel kecil tersembunyi di dalamnya satu-satunya penghubungnya pada dunia luar.

Mobil pun melaju, meninggalkan Alkhan yang berdiri kaku menatap kepergian Jihan.

di perjalanan, Jihan diam memandang keluar jendela. Perlahan, kenangan hangat tentang masa lalunya bersama Alkhan muncul.

FLASHBACK ON.

Sebuah Taman kediaman alfarezh. Bertahun-tahun yang lalu.

Jihan, saat itu masih 14 tahun, berjalan jalan ditaman. Ia bertemu dengan seorang anak laki-laki tampan sepupu jauh sekaligus anak kerabat ayahnya di sana.

alkhan muda “Hai. Kenapa kau sendirian?”

jihan muda jahil, mengerjai “Aku sedang menunggu ayahku. Ayah bekerja sebagai supir disini.”

“ Anak supir? “ alkhan muda sempat tak percaya “Tapi kau berpakaian sangat rapi.” Sambil melihat dari ujung kepala hingga kaki

jihan muda “Aku suka saja berpakaian bagus.”

Setelah perkenalan singkat itu, Jihan segera pergi. Alkhan muda merasa penasaran soal wanita yang baru ia temui . Alkhan mengagumi kecantikannya. Dan ia jatuh cinta pada pandangan pertama.

Beberapa bulan kemudian. Pesta Alvarezh group.

Alkhan, yang hadir bersama ayahnya arven. bertemu Jihan di pesta formal. Jihan mengenakan gaun mewah, didekat ayahnya Khaizar dan ibunya Sereena. Alkhan menatapnya lama, kagum, dan mengetahui jika jihan putri Alfarezh.

Alkhan muda dalam hati . dia bukan anak supir. Dia adalah Putri Alvarezh.

Karena Alkhan adalah anak kerabat keluarganya, mereka sering ketemu di berbagai acara sosial dan secara diam-diam suka bertemu di luar pengawasan ketat.

Mereka saling jatuh cinta dalam kehangatan yang polos.

Kediaman Alfarezh. Jihan yang selama ini home schooling oleh professor professional, kekeh ingin disekolahkan di sekolah internasional di Aestrasia. terus berusaha keras meyakinkan ayah dan ibunya, Sereena sempat ragu, khawatir Jihan belum siap. Namun Jihan berkeras, berjanji akan belajar sungguh-sungguh.

“Aku ingin membanggakan Ayah dan Ibu,” katanya dengan mata berbinar. Padahal di dalam hatinya, ia tahu alasan terbesarnya adalah Alkhan.


Jihan berhasil masuk ke sekolah eksklusif, tempat anak-anak konglomerat dan pejabat besar menimba ilmu.


Di sana, Jihan dan Alkhan kembali bersama.

Alkhan dikenal sebagai murid jenius, tenang, dan karismatik. Ia sering meluangkan waktu untuk mengajari Jihan belajar, menjelaskan pelajaran dengan sabar seperti seorang guru pribadi.


Mereka duduk berdua di perpustakaan, di bawah cahaya sore, saling tertawa kecil di sela pelajaran.

“Kalau kamu terus belajar seperti ini, kamu bisa jadi juara kelas,” kata Alkhan sambil tersenyum.


“Asal gurunya kamu, aku mau belajar tiap hari,” balas Jihan, membuat Alkhan tertawa kecil dan wajahnya memerah.

Namun, kebersamaan mereka tak selalu manis. Popularitas Alkhan membuat banyak gadis lain iri  apalagi setelah tahu ia berpacaran dengan Jihan.


Bisik-bisik dan ejekan mulai bermunculan.

Suatu hari di aula sekolah, beberapa gadis menyinggung Jihan secara terang-terangan.

“Pantas saja nilainya naik, pasti karena Alkhan.”


“Dia cuma numpang nama.” Ujar murid lain

Jihan yang tidak terima membalas dengan kata-kata tajam. Suasana memanas, hingga nyaris berujung pada pertengkaran fisik sebelum guru datang melerai.

Kabar itu sampai ke rumah. Malamnya, Sereena memanggil Jihan ke ruang kerja. Suasana ruangan dingin dan tegang.

“Kau membuat keributan di sekolah,” suara ibunya tajam. “Dan yang lebih parah, kau berhubungan dengan laki-laki?”

Jihan menatap ibunya dengan mata berkaca.

“Mereka menyerangku terlebih dahulu ibu , dan dia aku mencintainya,  Apa salah mencintai seseorang?”

Sereena menarik napas panjang, lalu menatap tajam. “Mulai besok, kau kembali belajar di rumah. Para profesor akan datang ke sini. Aku tidak ingin mendengar hal seperti ini lagi.”

“Ibu, jangan! Aku janji tidak akan membuat masalah lagi!” seru Jihan, suaranya pecah oleh tangis.

Namun keputusan sudah bulat. Sereena meninggalkan ruangan tanpa menoleh.

Malam itu,

Jihan menangis diam-diam di kamarnya.
Hari-hari berikutnya, ia kembali menjalani pelajaran privat di rumah.


Setiap kali ibunya datang memeriksa, Jihan hanya diam, menatap buku tanpa semangat.

Sesekali, ia nekat bolos pergi diam-diam untuk bertemu Alkhan di taman luar kediaman. Guru privatnya melapor bahwa Jihan sering tak hadir di jam pelajaran.

kepala pelayan yang setia pada keluarga mencoba menegurnya, “ Nona Jihan, kelas sudah dimulai.”


“Aku hanya ingin menghirup udara segar, nanti aku masuk,” jawab Jihan sambil melangkah ke arah koridor luar.

Dari lantai dua, Sereena melihat semuanya. Ia menatap putrinya yang berjalan menuju keluar pintu dan di luar pagar Alkhan menunggu dengan senyum yang hanya membuat amarah Sereena semakin membara.

Malamnya, meja makan keluarga terasa sunyi. Jihan hanya menatap piringnya tanpa menyentuh apa pun.

“Kau tidak makan, sayang?” tanya Khaizar lembut.


“Aku sudah kenyang Ayah, aku ingin istirahat. permisi. “ jawabnya pelan,

lalu Jihan berdiri. Khaizar menatap punggung Jihan yang menjauh dan bertanya pada istrinya. “Apakah Jihan punya masalah?”

Sereena tetap tenang, menaruh sendok di piring.

“Kalau dia punya masalah, aku pasti sudah tahu,” jawabnya Sereena lalu melanjutkan makannya lagi, meski dalam hati ia dilanda kecemasan.

Setelah tragedi meninggalnya orang tua jihan, Jihan tinggal bersama kakaknya alvaren dan adiknya jinan di mansion Alvaren. Saat itu usia jihan tujuh belas tahun telah cukup untuk masuk universitas bergengsi, yang hanya dimasuki oleh orang-orang pintar dan kaya.

Jihan dan Jinan berhasil masuk universitas yang sama. Jihan satu kelas dengan Alkhan. Sejak saat itu, mereka hampir tak terpisahkan.


Belajar bersama Hubungan itu semakin dalam cinta yang dulu remaja kini tumbuh menjadi lebih dewasa.

waktunya banyak dihabiskan bersama. Mereka juga mulai masuk ke industri dan politik untuk belajar dan bekerja bareng di sela-sela jika tidak ada jam perkuliahan.

“Kau tahu, Jihan?” ujar Alkhan suatu sore di tepi balkon kampus.


“Suatu hari aku ingin memimpin perusahaan sendiri. Tapi aku ingin kau di sana, bersamaku.”

Jihan tertawa kecil. “Dan aku ingin punya kehidupan sederhana, jauh dari semua intrik keluarga.”


“Tidak mungkin,” balas Alkhan, setengah menggoda. “Kau terlahir di keluarga besar Alvarezh. Bahkan kalau kau kabur pun, dunia masih akan mengingatmu.”

“Kalau begitu,” Jihan tersenyum lembut, “aku hanya ingin diingat olehmu.”

Jihan merasa bebas dan Alkhan menjadi pusat dunianya. Saat itu alvaren juga fokus pada tugas militernya dan pengawasan dari alvaren yang dikelabui Jihan.

Di tengah hubungan mereka yang manis, ada zeiran, sahabat alvaren, yang berusaha mendekati Jihan. Yang sering datang ke mansion untuk urusan kerja sama militer dan perusahaan.

Namun perhatian itu menimbulkan salah paham. Zeiran secara halus menunjukkan ketertarikannya pada Jihan, namun gadis itu menolaknya dengan sopan.

“Maaf, Zeiran,” katanya waktu itu, “aku sudah punya seseorang.”


“Aku tahu,” jawab Zeiran singkat, “tapi kadang… waktu bisa mengubah segalanya.” Zeiran mengerti dan mundur, namun ia tidak pernah berhenti mengawasi Jihan dari jauh.

Di semester agak terakhir, Jihan dan Alkhan menghabiskan waktu bersama dari pagi hingga malam karena proyek, pekerjaan dan perkuliahan.

Suatu malam, terjadi suatu kejadian yang tak mengenakkan antara Jihan dan Alkhan yang tidak pantas Hubungan Jihan dan Alkhan makin dalam.  karena emosi dan cinta yang terlalu dalam dan entah bagaimana, rumor itu tersebar luas.

Foto dan cerita yang dipelintir oleh orang-orang iri menyebar cepat di lingkunganya.
Nama Jihan dan alkhan yang dikenal baik menjadi bahan gunjingan, sementara Alkhan tak banyak bicara untuk melindunginya.

Jihan malu, marah, dan takut menghadapi kakaknya. Beberapa hari ia tidak keluar kamar, hanya menangis diam-diam di balik pintu. sampai akhirnya Alvaren pulang.


Ia mengetuk pintu kamar Jihan, masuk perlahan, dan duduk di tepi ranjang. wajahnya lembut, tapi sorot matanya tajam.

“Jihan…” suaranya pelan tapi berat. “Aku tahu semuanya.”

Jihan menunduk, tak berani menatap.
“Aku tidak bermaksud membuat keluarga malu, Kak…”

“Aku tahu kau tidak bermaksud. Tapi hubungan kalian sudah berlebihan.”

Alvaren menarik napas panjang. “Aku tidak akan melarangmu sepenuhnya, tapi jika ini terulang lagi, aku akan menarikmu dari universitas. Kau akan belajar di rumah, mengerti?”

Air mata Jihan jatuh. “Iya, Kak… maaf.”

Beberapa bulan kemudian, ketika keadaan mulai tenang, kabar mengejutkan datang. Rumor baru menyebar bahwa Alkhan menjalin hubungan dengan sahabat dekat Jihan sendiri.


Tidak hanya itu dikabarkan Alkhan telah lama menafkahi gadis itu, memberinya rumah, mobil mewah, dan fasilitas yang sulit dipercaya.

Jihan tidak percaya, namun bukti dan cerita yang datang dari teman-temannya membuatnya terdiam lama.


Rasanya seperti ditikam dari dua arah, oleh orang yang ia cintai, dan oleh sahabat yang ia percaya.

Tubuhnya melemah. Ia jatuh sakit cukup lama, demam tinggi dan stres berat. Selama berminggu-minggu, ia hanya terbaring di kamar, ditemani pelayan dan dokter pribadi.

Ketika akhirnya pulih, Jihan memutuskan untuk mengakhiri semuanya.

“Aku ingin fokus pada diriku sendiri, Alkhan,” katanya dengan suara tegas di bawah langit sore kampus.

“Jihan, tolong, dengar aku… semua itu salah paham.”

“Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan.”

“Aku mencintaimu…”

“Dan aku sudah tidak percaya lagi.”

Ia meninggalkannya, tanpa menoleh.
Keputusan itu bulat.

Jihan menutup semua komunikasi, memfokuskan diri pada studinya. Ia belajar dengan keras, mengikuti kelas tambahan dengan professor prefesional yang disarankan Alvaren.


Prestasinya melonjak tajam  ia lulus dengan nilai sempurna, bahkan melanjutkan pendidikan strata dua di usia sangat muda.

Namun takdir mempermainkannya lagi. Alkhan mendaftar di program yang sama.kini mereka satu kampus lagi, satu kelas lagi. setiap kali mereka bertemu, Alkhan hanya diam menatap Jihan dari jauh. Sementara Jihan bersikap profesional, seolah tak pernah ada masa lalu di antara mereka.

Di masa itu, Zeiran mulai sering muncul. Zeiran yang berusaha dekat dan  bekerja dalam satu proyek penelitian insitusi.


Zeiran yang dulu hanya sekadar sahabat kakaknya, kini menjadi seseorang yang selalu ada di saat Jihan membutuhkan dan membimbing perkuliahanya.

Keduanya semakin dekat diam-diam, tanpa sepengetahuan siapa pun, termasuk Alvaren.
Mereka mulai sering bertemu di publik, berbagi percakapan, bahkan saling memahami tanpa perlu banyak kata.

Namun suatu hari, saat keduanya sedang berbicara di  Food Curt dekat mall, Alkhan datang.


Wajahnya tegang, matanya menyala.

“Kau tahu dia milikku!” bentak Alkhan sambil mendorong Zeiran.

“Kau kehilangan dia karena kesalahanmu sendiri,” balas Zeiran dengan nada datar.

“Beraninya kau—!”

Pertengkaran pecah. Keduanya saling dorong dan hampir berkelahi hingga beberapa orang menahan mereka.

Jihan melihat dua pria yang pernah mengisi hidupnya saling memukul di tengah tatapan banyak orang.


Matanya memanas, dadanya sesak cinta, kenangan, dan luka masa lalu seolah menabrak dirinya sekaligus.

Jihan pun menyadari bahwa meskipun Alkhan adalah cinta pertamanya, Zeiran adalah pelabuhan yang lebih tenang dan ia mulai mencintai Zeiran.

FLASHBACK OFF

Mobil terus melaju menembus jalan utama di sore hari. dari balik jendela, Jihan menatap keluar, pohon-pohon tinggi di sisi jalan berganti perlahan, seolah waktu pun berjalan lambat.


Pikirannya masih melayang jauh, tersisa bayangan masa lalu bersama Alkhan yang baru saja ia temui. Kini mereka berdua memilih untuk berteman baik. Meskipun sebenarnya alkhan belum bisa melupakan nya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!