Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.
Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.
Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.
"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis yang Merepotkan
Di sebuah klub malam eksklusif yang diselimuti kepulan asap cerutu dan dentuman musik techno yang rendah, Enzo Valenti duduk di kursi kebesaran berlapis kulit buaya. Matanya yang merah karena kurang tidur menatap nyalang ke arah pintu ruang kerjanya yang terbuka lebar.
Dua anak buahnya masuk dengan langkah gemetar, menyeret tubuh satu teman mereka yang sudah hancur. Wajah pria itu—si pemimpin berandalan di gang tadi—sudah tidak berbentuk lagi. Rahangnya miring, dan hidungnya hancur rata dengan pipi.
"Apa yang terjadi?" suara Enzo dingin, sebilah pisau kecil ia putar-putar di sela jemarinya.
"Max ... Maximilian, Bos," bisik salah satu dari mereka, suaranya bergetar hebat. "Dia ikut campur. Dia menghajar kami sendirian saat kami hampir mendapatkan gadis Sinclair itu."
BRAK!
Enzo menghantamkan tinjunya ke meja kayu jati hingga gelas wiskinya terguling. Cairan amber itu tumpah, meresap ke dalam dokumen-dokumen penting miliknya.
"Maximilian?" Enzo tertawa, namun tawa itu terdengar seperti geraman binatang buas. "Si brengsek itu selalu bilang dia tidak peduli pada siapa pun. Dia bilang dia adalah pengusaha netral. Dan sekarang dia menyerang orang-orangku demi seorang pelacur kecil?"
Kedua anak buahnya terdiam kaku dengan kepala menunduk, melihat kemarahan pria yang mereka panggil 'Bos' di hadapannya yang terlihat menyeramkan di saat tertentu.
"Apa yang dia lakukan setelah selesai menghajar kalian?" tanya Enzo dingin.
"Dia ... dia mengambil gadis itu, Bos. Dia membawanya pergi dengan mobilnya," tambah si anak buah, semakin menundukkan kepala.
Enzo berdiri, berjalan perlahan menuju jendela besar yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota yang kotor. Di sana, di puncak menara gedung di seberang distrik, ia tahu Maximilian sedang duduk tenang, mungkin sambil menyesap cerutu mahalnya.
"Dia pikir dia pahlawan? Tidak. Maximilian tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan," gumam Enzo. "Jika dia mengambil Rebecca Sinclair, itu artinya gadis itu memiliki nilai yang lebih besar dari yang kita duga. Atau mungkin ..."
Enzo berbalik, matanya berkilat penuh dendam.
"Mungkin Maximilian baru saja memberikan aku alasan yang bagus untuk menghancurkan kerajaannya. Dia melanggar batas wilayah, dia menumpahkan darah orang-orangku. Beritahu semua unit di pelabuhan. Mulai malam ini, setiap truk milik Maximilian yang lewat adalah target. Dan jika kalian melihat gadis itu ..."
Enzo berhenti sejenak, seringai kejam muncul di wajahnya.
"Bawa dia padaku hidup-hidup. Aku ingin melihat wajah Maximilian saat aku merobek apa yang dia coba lindungi."
Sementara itu, lampu kota yang berkelap-kelip dari balik kaca mobil Bentley hitam itu seolah menjadi latar belakang yang sunyi bagi ketegangan di dalam kabin. Maximilian duduk diam di kursi belakang, sementara Rebecca Sinclair meringkuk di sudut terjauh, terbungkus jas hitam besar milik Max yang masih menyisakan aroma tembakau dan kekuasaan.
Wajah Rebecca pucat pasi. Tatapannya kosong, menatap aspal yang melaju cepat di bawah mereka. Napasnya pendek-pendek, tanda bahwa syok sedang perlahan mengambil alih kesadarannya.
"Bernapaslah, Gadis Sinclair. Kau sudah aman bersamaku. Tidak ada lagi pria berandal yang akan menyentuhmu," suara Maximilian rendah, hampir menyerupai geraman. Ia tidak menoleh, matanya tetap menatap lurus ke depan, namun tangannya yang terkepal di atas lutut menunjukkan bahwa ia pun tidak sedamai kelihatannya.
"Maafkan aku, Tuan. Aku sudah merepotkanmu dengan hal ini. Aku janji akan membayarnya," ucap Rebecca mencoba menjawab, namun hanya isak kecil yang keluar.
"Jangan panggil aku Tuan. Aku bukan Tuan-mu," bantah Max dengan dingin membuat tubuh Rebecca gemetar semakin hebat.
"M-maafkan aku, Tuan ... maksudku Om," ucap Rebecca gemetar.
Max mengerutkan dahinya. "Om? Panggilan apa lagi itu? Kedengarannya aku sudah tua sekali ketika kau panggil seperti itu."
"Lalu, aku harus memanggilmu apa?" Rebecca merasa serba salah, namun Max yang sudah tidak mood merasa panggilan apa pun tidak penting lagi baginya.
"Terserah kau saja, bocah."
Saat mobil memasuki area parkir pribadi sebuah gedung penthouse mewah di pusat kota, tubuh Rebecca mulai limbung.
Mobil berhenti dengan mulus. Supir Maximilian bergegas membuka pintu, namun Max mengangkat tangannya, memberi isyarat agar supir itu mundur. Max keluar, mengitari mobil, dan membuka pintu di sisi Rebecca.
"Ayo. Turun," perintahnya.
Rebecca mencoba menggerakkan kakinya, namun dunia di matanya mulai berputar. "Tuan ... kepala saya ..." Suaranya menghilang. Sebelum kakinya menyentuh lantai marmer lobi pribadi itu, lututnya lemas. Tubuhnya merosot jatuh.
Dengan gerakan cepat yang mengejutkan untuk pria sebesar dia, Maximilian menangkap tubuh Rebecca sebelum menyentuh lantai. Kepala Rebecca terkulai lemas di dada Max. Gadis itu pingsan. Tubuhnya terasa ringan, terlalu ringan untuk seseorang yang baru saja mengalami neraka.
Maximilian menghela napas kasar. "Bodoh," gumamnya, meski tangannya justru mempererat dekapan pada tubuh mungil itu.
Ia menggendong Rebecca ala bridal style, melewati lobi pribadi menuju lift cepat yang langsung menuju lantai teratas gedung tersebut. Di dalam lift yang berdinding cermin, Maximilian melihat pantulan dirinya. Jasnya hilang, kemeja putihnya robek di bagian lengan dan bercak darah kering menghiasi rahangnya. Di lengannya, seorang gadis yang seharusnya tidak pernah ia kenal kini malah bersandar pasrah di dalam dekapannya.
Ting.
Pintu lift terbuka menuju penthouse minimalis yang didominasi warna abu-abu dan hitam. Maximilian berjalan melewati ruang tengah yang luas, menuju kamar tidur utama—satu-satunya tempat yang paling terjaga di gedung itu.
Ia meletakkan Rebecca di atas tempat tidur king size dengan sprei sutra hitam. Kontras kulit pucat Rebecca dengan kain gelap itu membuat Maximilian tertegun sejenak. Gadis ini terlihat sangat rapuh, seperti porselen yang retak.
"Ini merepotkan, tapi entah mengapa gadis ini terlihat sangat menyedihkan jika tidak aku tolong," gumam Max.
Max melangkah ke kamar mandi, mengambil baskom berisi air hangat dan handuk kecil. Ia duduk di pinggir ranjang, menatap wajah Rebecca yang masih dihiasi sisa air mata dan noda tanah dari gang tadi.
Tangan besar Max yang biasanya digunakan untuk menandatangani kontrak jutaan dolar atau menghantam wajah musuh, kini bergerak kaku membasahi handuk. Dengan sangat hati-hati, seolah takut Rebecca akan hancur jika ia menekannya terlalu keras, Max mulai menyeka noda darah di sudut bibir gadis itu.
"Kau benar-benar pembawa sial, Sinclair," bisiknya pada keheningan kamar. "Gara-gara kau, aku harus menyiapkan pemakaman untuk keluarga Valenti besok pagi."
Tepat saat handuk hangat itu menyentuh leher Rebecca, gadis itu melenguh kecil dalam pingsannya, alisnya bertaut seolah sedang mengalami mimpi buruk. Tanpa sadar, tangan kecil Rebecca mencengkeram lengan kemeja Maximilian yang masih tersisa, mencari pegangan dalam kegelapan traumanya.
Maximilian membeku. Ia menatap tangannya yang dicengkeram, lalu menatap wajah tidur Rebecca. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, sang "Mafia" merasakan getaran aneh di dadanya—sebuah insting yang lebih berbahaya daripada peluru musuh: keinginan untuk memiliki dan melindungi.
𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐬𝐝𝐡 𝐬𝐥𝐡 𝐩𝐡𝐦 𝐢𝐧𝐢 🤣🤣🤣