“Orang bilang, masakan Bara bisa bikin orang menangis, jatuh cinta, atau mati. Tergantung niat pemesannya.”
Bara Mahendra, koki pelit yang terjebak masa lalu, hanya ingin hidup tenang dan cuan. Namun, di *Bara's Kitchen*, ketenangan adalah mitos. Bersama Lintang, admin Gen Z gila konten, dan Mang Ojak dengan mobil bututnya, Bara harus menghadapi pesanan-pesanan tak masuk akal.
Siapkan nyali sebelum mencicipi. Karena di dapur ini, kenyang saja tidak cukup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W. Prata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BRIDGE - CH 17 : LIBUUR
Pukul 19.00 WIB. Langit Kota X sudah gelap, tapi di dalam Bara's Kitchen, suasananya lebih terang benderang dari pasar malam.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah berdirinya ruko ini, meja stainless yang biasanya dipakai untuk menguleni adonan dan memotong fondant, kini dialihfungsikan menjadi meja prasmanan mewah.
Ada tiga loyang Pizza Meat Lover ukuran large, lima porsi Sate Taichan Senayan, dua porsi Seafood Tumpah Saus Padang, dan tiga gelas Boba Brown Sugar ukuran paling besar. Semuanya dibeli pakai uang tunai tanpa mikir pakai promo gratis ongkir. Keajaiban saldo lima puluh juta.
"Gila, Mas... gue nggak nyangka lidah gue yang biasanya makan warteg lauk usus ini, akhirnya ngerasain lobster saus padang," Lintang menyeka sudut bibirnya yang belepotan bumbu merah. Tangan kanannya memegang capit lobster, tangan kirinya asyik men-scroll aplikasi e-commerce. "Keranjang skincare gue udah kosong, Mas! Udah gue checkout semua! Healing jalur kapitalis emang paling the best!"
Bara yang sedang mengunyah slice pizza ketiganya hanya mendengus. Wajahnya sudah jauh lebih segar setelah hibernasi panjang siang tadi. Kemeja flanel kotornya sudah masuk keranjang cucian, diganti dengan kaos oblong hitam yang bersih.
"Jangan foya-foya lebay lu, Tang. Besok-besok kita makan Promag lagi kalau sepi orderan," tegur Bara, meskipun nada suaranya tidak sejutek biasanya.
Mang Ojak yang duduk di kursi bakso ikut tertawa pelan. "Alhamdulillah, Den. Kalo begini ceritanya mah, Abah rela dah disuruh nganter kue ke kandang macan sekalian. Asal pulangnya bisa beliin istri daster sutra."
Bara meletakkan sisa pizzanya, lalu mengelap tangannya dengan tisu. Dia menatap kedua karyawannya itu lekat-lekat. Sejujurnya, meskipun Bara sering terlihat pelit dan perhitungan, dia tahu betul ruko ini nggak akan jalan tanpa dua manusia absurd di depannya ini.
"Tang. Mang Ojak," Bara berdehem, memasang tampang bos serius. "Mengingat kita udah ngelewatin dua hari yang rasanya kayak simulasi kiamat, dan mengingat duit di brankas kita sekarang cukup buat beli mobil second... gue putusin Bara's Kitchen libur dua hari."
Lintang langsung berhenti mengunyah boba. "Hah? Serius, Mas? Dua hari?!"
"Iya. Lo berdua pulang gih ke rumah masing-masing. Udah seminggu lebih kan lo pada nginep di ruko tidur di karpet sama sofa? Pulang sana. Cuci baju, peluk guling lo sendiri, ketemu emak lo," Bara mengibaskan tangannya mengusir. "Ruko biar gue yang jaga."
"Ya Allah, Den Bara! Makasih banyak, Den!" Mang Ojak nyaris sujud syukur lagi. "Abah emang udah kangen pisan masakan Si Ibu di rumah."
"Aaaaa Mas Bara! You're the best toxic boss ever!" Lintang kegirangan, buru-buru menelan bobanya. "Gue mau marathon drakor di kasur gue yang empuk! Nggak ada lagi bau ragi sama tepung buat 48 jam ke depan!"
Tidak butuh waktu lama bagi keduanya untuk berkemas. Pukul delapan malam tepat, Lintang dan Mang Ojak sudah berdiri di depan pintu rolling door.
"Mas, lo beneran berani sendirian di ruko?" tanya Lintang sambil menggendong tas ranselnya. "Ini ruko gede lho, Mas. Mana bekas oven Frankenstein kemaren belom diberesin."
"Tang, di dunia ini nggak ada yang lebih menakutkan daripada kemiskinan dan tagihan pinjol. Selama brankas gue penuh, gue berani tidur di kuburan sekalipun," jawab Bara sombong. "Udah sana balik. Ati-ati di jalan."
Bara menarik turun rolling door, lalu memasang dua gembok raksasa dari dalam. KLIK. KLIK.
Ruko lantai satu itu mendadak hening. Hanya terdengar suara dengungan dari chiller penyimpan mentega di sudut ruangan.
Bara meregangkan otot-ototnya. Senyum puas mengembang di wajahnya. Waktunya untuk ritual favoritnya: Mengabdi pada brankas.
Dia berjalan ke area kasir, berjongkok, dan menarik karpet murah yang menutupi sebuah brankas baja kecil yang ditanam ke lantai. Bara memasukkan kode kombinasi enam angka. Pintu baja setebal lima sentimeter itu terbuka.
Di dalamnya, tumpukan uang pecahan seratus dan lima puluh ribu tertata rapi. Dan di atasnya, koin emas bergambar naga dari Haji Muhidin berkilau menggoda.
"Ah... pemandangan yang lebih indah dari lukisan Monalisa," gumam Bara, membelai gepokan uang itu dengan penuh kasih sayang. Nyawanya memang nyaris melayang di Pelabuhan Utara tadi, tapi melihat tumpukan kertas bergambar Soekarno-Hatta ini, semua trauma itu rasanya sepadan.
Bara mengunci kembali brankas itu, lalu naik ke mezzanine di atas lorong. Dia mematikan lampu utama lantai satu dan lantai dua, menyisakan lampu tidur kecil berwarna kuning redup di dekat kasurnya.
Bara merebahkan diri di atas kasur. Sepi. Tenang. Damai. Hanya ada dia, bantal kapuknya, dan brankas baja di bawah sana.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Sekitar pukul 23.15 WIB. Bara yang baru saja terlelap masuk ke fase Deep Sleep, perlahan-lahan terbangun. Bukan karena suara berisik, melainkan karena suhu udara di mezzanine yang mendadak anjlok drastis. Kipas angin kecilnya tidak menyala, tapi ada hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang keringnya.
Bara membuka mata lalu dia menarik selimut tipisnya sebatas dada, kemudian hidungnya mengendus sesuatu.
Aroma ragi dan vanila yang biasa memenuhi rukonya... hilang. Tergantikan oleh bau yang sangat asing dan sangat menyengat.
Bau garam. Bau amis ikan busuk. Dan... wangi bunga melati yang sangat pekat.
Bara mengerutkan kening. Otak logisnya mencoba mencari alasan. “Ada tetangga yang lagi bakar menyan? Atau bau got depan ruko yang mampet?”
Tapi bau amis laut ini terlalu pekat. Persis seperti aroma angin di Gudang Tiga Pelabuhan Utara tadi siang.
TES. Sebuah suara tetesan air terdengar. Sangat pelan, tapi menggema di ruko yang hening.
Bara menahan napas. Telinganya langsung awas.
TES... TES... TES... Suara air menetes itu berasal dari lantai satu. Tepatnya, dari arah pintu rolling door yang terkunci rapat.
Dengan gerakan sangat pelan, Bara menyibakkan selimutnya. Dia merangkak ke ujung pinggiran mezzanine yang terbuat dari susunan kayu palet. Dari atas sana, dia bisa melihat langsung ke arah lantai satu dan tangga yang menuju kamarnya.
Lampu redup dari jalanan menembus celah ventilasi di atas rolling door, memberikan sedikit pencahayaan di lantai bawah.
Mata Bara terbelalak. Jantungnya yang tadi berdetak santai kini dipacu layaknya mesin Formula 1.
Di lantai keramik putih lantai satu... ada jejak air. Bukan sembarang genangan. Itu adalah jejak kaki basah. Bentuk telapak kaki manusia berukuran besar, yang melangkah dari arah rolling door, berjalan perlahan melewati meja kasir.
Melewati brankasnya.
TES... TES...
Suara tetesan itu makin jelas. Dan jejak kaki basah itu tidak berhenti di meja kasir. Jejak itu terus tercetak di keramik, satu demi satu, menuju ke arah tangga kayu yang mengarah langsung ke tempat Bara berada.
Kriet... Anak tangga pertama berbunyi, menahan beban sesuatu yang sangat berat dan basah.
Aroma amis laut dan melati itu kini menguar begitu kuat, membuat Bara nyaris tersedak. Ada sesuatu yang ikut pulang bersamanya dari pelabuhan siang tadi. Sesuatu yang basah, kedinginan, dan sekarang sedang menaiki tangganya.
Di bawah bantalnya, tangan Bara perlahan meraba gagang pisau cake bergerigi.
Bara menelan ludah. Wajahnya pucat pasi, namun matanya menatap tajam ke arah tangga.
“Lu mau ambil nyawa gue silakan... tapi kalau lu berani sentuh brankas gue di bawah... gue bikin lu mati dua kali, Setan.”