Brakkk..!
"Apa yang kakak lakukan?" teriak Laura terkejut,pasalnya kakak iparnya,Lexi menerobos kamarnya lalu mengunci pintu dari dalam.
"Apa yang kulakukan? tentu saja menemui wanita yang berhasil membuatku berhasrat!" kekehnya tidak tahu malu.
"keluar kak!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
Laura terbangun dari tidur keduanya setelah mendengar suara ketukan halus di pintu kamar.
"Nona Laura? Saya sudah siapkan sarapan. Apa mau saya antar ke kamar saja?" Itu suara Mbok Nah, pelayan harian yang sudah tua dan sangat terpercaya.
Laura melirik jam dinding, pukul sepuluh pagi. Ia mendesah lega karena tidur ekstra itu sedikit mengurangi kekacauan emosinya.
"Tidak usah, Mbok. Saya turun sebentar lagi," jawab Laura, suaranya sedikit serak.
Ia bangkit, merasakan kekosongan di perutnya. Rasa lapar mengalahkan rasa kesal.
Saat menuruni tangga menuju ruang makan, Laura melihat dapur sudah bersih berkilauan, dan sarapan sudah tersedia rapi di meja: nasi goreng udang kesukaannya, dengan telur mata sapi. Ia duduk sendirian di meja makan besar itu, merasakan sunyi yang mencekam.
Ia harus segera mencari pekerjaan. Bukan hanya untuk menabung, tapi untuk mengalihkan pikiran dari Lexi.
Setelah selesai sarapan, Laura kembali ke meja kerjanya yang kini didominasi oleh laptop Alex. Ia membuka beberapa situs lowongan kerja freelance, mencari yang benar-benar bisa memberinya kebebasan jam kerja dan gaji yang layak untuk cepat-cepat pindah.
Tepat saat ia hendak mengklik formulir pendaftaran untuk menjadi copywriter lepas, ponselnya berdering lagi.
Nomor tak dikenal.
Laura menarik napas dalam-dalam. Ia tahu siapa itu.
Nomor kakak iparnya yang sengaja tidak dia simpan.
"Apa lagi?" tanyanya datar, tanpa basa-basi.
"Wah, sambutan yang dingin. Kamu lupa siapa yang memberimu tumpangan di rumah ini, Laura?" Suara Lexi terdengar lebih serius kali ini, tidak ada tawa ejekan yang tadi.
"Aku sedang bekerja, Lexi. Jangan ganggu aku," desis Laura, sambil meremas mouse laptop.
"Bekerja? Menarik. Kamu mencari pekerjaan paruh waktu, bukan?"
Darah Laura serasa berhenti mengalir.
bagaimana bisa kakak iparnya itu tahu pergerakannya,,
"Bagaimana... kakak tahu?"
Ada keheningan singkat di seberang sana, lalu tawa Lexi yang dalam dan sinis terdengar. "Sayangku, ini rumahku. Laptop yang kamu pakai itu, aku yang memberikannya pada Alex. Aku yang bayar provider internet-nya. Tentu saja aku tahu. Alex bahkan tidak secerdas itu untuk menghapus riwayat pencariannya."
Seketika, rasa takut Laura berubah menjadi kemarahan yang membakar. Lexi benar-benar mengendalikan setiap aspek kehidupan mereka.
"Kamu keterlaluan kak!"
"Berbicara yang sopan pada kakak iparmu ini," Tegur Lexi tertawa sinis diujung sana.
Laura mendesis menanggapi.
"Aku hanya bersikap realistis, Sayang. Kamu ingin mandiri? Bagus. Aku suka wanita ambisius. Tapi kamu tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan untuk alasan mu meninggalkan rumah ini,aku tidak suka kamu pindah dari sini, dan kamu tahu itu," ujar Lexi santai.
"Aku tidak akan menyerah."
"Tentu saja tidak. Dan aku juga tidak akan menyerah padamu," Lexi menghela napas, nadanya tiba-tiba melunak, membuatnya terdengar tulus, "Dengarkan aku. Aku sedang dalam perjalanan menuju kantor sekarang. Tapi ada berkas di laci mejaku yang sangat penting. Berkas berlogo emas. Aku lupa membawanya. Bisakah kamu membantuku mencarikannya sekarang juga?"
Laura mengepalkan tangan. "Suruh saja Mbok Nah!"
"Mbok Nah tidak tahu di mana laci rahasiaku. sementara kamu tahu, di bawah tumpukan majalah bisnis. Hanya kamu yang bisa kupercaya untuk hal sensitif ini, Laura.
Aku akan segera menelepon sopirku, dia akan mengambilnya lima belas menit lagi," Lexi berbicara dengan otoritas yang tak terbantahkan.
"Cepatlah. Ini tentang bisnis jutaan dolar."
Lexi memutus panggilan itu tanpa menunggu jawaban Laura, meninggalkan wanita itu dengan perintah yang harus dipatuhi.
Laura menatap ponselnya. Ia tahu Lexi tidak akan main-main jika itu menyangkut urusan kantor. Jika ia menolak dan Lexi benar-benar rugi, Alex yang akan terkena imbasnya.
Ia berjalan cepat menuju kamar Lexi.
Kamar itu gelap, tirai masih tertutup. Aroma maskulin Lexi yang tajam masih melekat kuat di udara. Laura bergidik, ia benci berada di ruangan ini sendirian.
Ia menemukan laci rahasia itu—sebuah kompartemen tersembunyi di bawah tumpukan majalah. Di dalamnya, ada amplop besar berlogo emas.
Tepat saat tangan Laura menyentuh amplop itu, pintu kamar yang terbuka sedikit tiba-tiba tertutup dengan hentakan keras.
Di ambang pintu, Lexi berdiri. Ia tidak mengenakan kemeja kantor. Ia hanya memakai bathrobe sutra hitam yang sedikit terbuka di bagian dada, memperlihatkan otot-ototnya.
Laura terlonjak, menjatuhkan amplop itu. "Kakak bilang... kamu di kantor!"
Lexi menyeringai licik. Ia tidak menjawab, tetapi melangkah masuk perlahan, seperti predator yang mengunci mangsanya.
"Kantor mana, Sayang? Aku sudah kembali. Aku hanya keluar sebentar, pura-pura pergi agar kamu merasa aman untuk mencari pekerjaan. Dan aku perlu memastikan kamu datang ke kamarku sendirian," bisik Lexi.
Lexi mengunci pintu dengan kunci di belakangnya. Klik.
Suara kunci itu bagaikan bunyi peluru yang ditembakkan.
"Kakak berbohong! Aku akan teriak!" Laura mundur, punggungnya menabrak meja samping tempat tidur.
"Teruslah berteriak, Sayang. Suara bergetarmu itu hanya akan membuatku semakin tertarik," Lexi menahan Laura di antara tubuhnya dan meja.
Lexi menunduk, bibirnya hampir menyentuh telinga Laura. "Aku tahu kamu membenciku. Tapi aku juga tahu, lima menit kepuasan yang sinis itu, kamu hanya bisa mendapatkannya dariku. Kamu mencarinya, dan aku memberikannya."
Air mata Laura menggenang, campur aduk antara kebencian, ketakutan, dan rasa bersalah yang menggerogoti. Ia tahu, ia kalah dalam permainan ini, karena ia tidak punya tempat lari.
"Aku membencimu," rintih Laura.
Lexi tersenyum puas. Ia tidak menjawab, tetapi tangannya meraih dagu Laura, mengangkatnya perlahan. Matanya yang tajam menatap mata Laura, memancarkan janji dosa dan dominasi total.
"Kamu tahu di mana aku bekerja. Tapi kamu lupa, akulah yang memegang kunci dari semua yang kamu nikmati. Termasuk... kuncimu," Lexi berbisik, sebelum ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat.
Tepat sebelum bibir Lexi mencapai bibir Laura, terdengar suara langkah tergesa-gesa di lantai bawah, diikuti suara denting kecil.
Lexi tertegun. Ia menarik tubuhnya mundur sedikit, menatap tajam ke arah pintu.
"Sial," desisnya, suaranya kembali serak namun kali ini mengandung frustrasi. "Mbok Nah kembali terlalu cepat."
Mbok Nah memang memiliki indra pendengaran yang tajam dan tidak akan ragu menyelonong masuk jika ada hal aneh di rumah, apalagi di kamar tuan muda.
Lexi melonggarkan cengkeramannya, tetapi tidak melepaskan Laura sepenuhnya. Ia menyentuh pipi Laura dengan ibu jarinya, gerakannya kini lebih cepat dan mengandung peringatan.
"Kamu beruntung kali ini," bisik Lexi, matanya berkobar penuh janji yang tertunda. "Tapi jangan pernah lari dariku lagi."
Dengan gerakan cepat, Lexi mundur. Ia mengambil amplop emas yang terjatuh tadi dan membenahi letak bathrobe-nya.
Dalam sekejap, aura dominasi yang mencekik itu kembali tertutup rapi oleh topeng tuan rumah yang santai.
"Ambil ini," Lexi menyodorkan amplop itu ke tangan Laura. "Cepatlah turun. Kirimkan ini pada sopirku yang menunggu di gerbang. Setelah itu, lupakan apa yang baru saja terjadi. Kamu hanya membantuku mengambil dokumen. Mengerti?"
Laura tidak bisa berkata-kata. Ia hanya mengangguk, napasnya tersengal. Rasa takut dan gairah yang bergejolak membuat tubuhnya lemas.
Lexi membuka kunci pintu dengan bunyi klik yang memekakkan. "Pergi."
Laura bergegas keluar, hampir berlari menuruni tangga. Ia menemukan Mbok Nah sedang menata beberapa barang belanjaan di dapur.
"Nona Laura, sudah sarapan? Mau saya buatkan teh?" tanya Mbok Nah ramah.
"Ti-tidak perlu, Mbok. Aku hanya mau keluar sebentar. Ada berkas penting untuk sopir kak Lexi," jawab Laura, berusaha menjaga suaranya tetap normal.
Ia menyerahkan amplop itu kepada sopir di gerbang dengan tangan gemetar. Setelah sopir pergi, Laura berdiri sejenak di halaman, menghirup udara segar yang terasa seperti kebebasan yang dirampas.
Laura kembali ke kamar tidur, mengunci dirinya lagi. Ia bersandar di pintu, amplop yang baru saja ia sentuh terasa panas di tangannya. Ia melihat bayangan dirinya di cermin: wajah pucat, mata memerah, dan bibir yang sedikit bergetar karena tekanan tadi.
Bagaimana jika Lexi benar?
Pertanyaan itu kembali menghantamnya. Kenyamanan yang ditawarkan Alex adalah kandang emas.
Gairah yang ditawarkan Lexi adalah racun yang mematikan. Dan yang paling menakutkan, ia mulai membutuhkan racun itu.
Kata-kata Lexi berputar-putar di kepalanya
'Kamu tidak akan menemukan kepuasan dari suamimu seperti yang kuberikan padamu, tidak akan pernah.'
Ia harus berjuang. Bukan hanya untuk Alex, tetapi untuk dirinya sendiri. Untuk martabatnya.
Ia mulai mencari lowongan pekerjaan paruh waktu dengan tekad yang diperbarui, mencoba mengabaikan bunyi klakson mobil di luar yang mengingatkannya bahwa Lexi benar-benar sudah pergi. Untuk saat ini.
***
Sore harinya, Alex menelpon Laura saat ia sedang menyiapkan diri untuk makan malam.
"Sayang, maafkan aku. Sepertinya aku harus lembur lagi. Ada masalah mendadak dengan dokumen yang kak Lexi perlukan tadi pagi," suara Alex terdengar lelah dan penuh tekanan.
Jantung Laura mencelos. "Dokumen apa, Mas?"
"Dokumen penting tentang properti. Lexi bilang dia nyaris kehilangan kesepakatan itu karena berkasnya tidak ada. Untung kamu cepat, Sayang. Lexi memujimu. Katanya, dia lega setidaknya ada kamu di rumah yang bisa diandalkan," kata Alex, nadanya lega.
Laura merasa mual. Lexi memanfaatkannya, dan Alex justru berterima kasih. Ia adalah pion dalam permainan kotor ini.
"Oh... baguslah kalau begitu, Mas," jawab Laura, suaranya terdengar hampa.
"Aku akan pulang sangat larut, Sayang. Kamu makan malam saja dengan Lexi, ya. Dia pasti sudah pulang. Aku sudah titip pesan padanya untuk menjagamu," tambah Alex.
Setelah menutup telepon, Laura hanya berdiri di tengah ruang tamu yang mewah itu. Langit sudah gelap, dan lampu-lampu di rumah menyala, menyoroti kekosongan dan keheningan yang mencekik.
'Makan malam dengan Lexi.'
Kata-kata Alex itu terdengar seperti hukuman mati. Malam itu, ia tidak punya tempat berlindung.
Saat Laura berjalan gontai ke dapur, ia melihat sesuatu di meja makan. Sebuah kotak kecil terbungkus pita merah marun, ditemani kartu kecil. Kotak itu tidak ada di sana sebelumnya.
Secepat inikah Lexi kembali?
Laura meraih kartu itu dengan tangan gemetar. Tulisan tangan yang tajam dan dominan milik Lexi.
(Aku tidak suka kamu menunda-nunda pekerjaan. Tapi karena kamu menuruti perintahku dengan cepat, ini adalah hadiah. Hadiah kecil untuk adik ipar yang penurut.)
PS: Aku akan pulang sebentar lagi. Dan jangan khawatir, kita akan makan malam berdua.
Laura membuka kotak itu. Di dalamnya, tergeletak seuntai kalung emas putih yang halus, tetapi bandulnya berbentuk kunci kecil.
Kunci. Simbol dominasi Lexi.
Air mata Laura kembali menetes. Kalung itu terasa dingin dan berat, seperti rantai yang baru saja dipasangkan ke lehernya. Ia tahu, ia tidak boleh menerima ini. Ia harus melawan.
Namun, saat ia mendengar suara gerbang terbuka dan mobil Lexi memasuki halaman, Laura cepat-cepat menyembunyikan kalung itu di sakunya. Ia terlanjur lemas, tekadnya terkikis habis oleh rasa takut dan rasa bersalah yang tak berkesudahan.
Ia harus menghadapi Lexi, sendirian.
Bersambung...