"Saya mohon menikah lah dengan putri saya! Putri saya sangat mencintai nak Tomi. Waktu saya tidak lama lagi, dan saya akan pergi dengan tenang jika sonia telah menikah." Tangis Sonia semakin pecah mendengar permintaan Daddy-nya sedang kritis di rumah sakit, kepada pria yang sudah setahun terakhir dicintainya secara diam-diam. Ya, diam-diam, sebab Sonia tidak pernah mengutarakan perasaannya terhadap pria itu kepada siapapun, termasuk pada Daddy-nya.
Sonia memang sangat mencintai pria yang merupakan bosnya tersebut, akan tetapi Sonia juga tidak ingin menikah dengan cara seperti itu. Ia ingin berusaha menaklukkan hati Pria bernama Tomi tersebut tanpa permintaan atau paksaan dari pihak manapun. Namun kondisi Daddy-nya yang sedang sekarat membuat Sonia tak tega untuk banyak berkata-kata, apalagi untuk menolak.
Akankah pernikahan Sonia berjalan layaknya pernikahan bahagia pada umumnya, atau justru kandas ditengah jalan, mengingat Tomi tidak memiliki perasaan apapun terhadap Sonia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26.
Di saat Tomi sedang berjuang mendapatkan izin dari Abil untuk membawa kembali sang istri tercinta, penyebab semua kekacauan itu justru belum kapok dan masih berusaha mencari cara untuk merebut hati pria yang dahulu dicampakkannya begitu saja.
"Bagaimanapun caranya, aku harus bisa mendapatkan hati Tomi kembali." Cili bergumam di balkon kamarnya dengan ditemani segelas anggur merah. Ya, satu hal yang tidak pernah diketahui oleh Tomi, sejak dulu diam-diam Cili gemar mengkonsumsi minuman beralkohol. Bahkan, alasan sampai ia kabur dihari pernikahan mereka lima tahun lalu, ada hubungannya dengan barang haram tersebut. Sebulan sebelum pernikahannya dengan Tomi, Cili serta beberapa orang temannya mengadakan pesta miras dan saat itu Cili mabuk berat. Saat sedang mabuk tersebut lah seseorang mengambil kesempatan hingga Cili tak dapat berkutik hingga berujung meninggalkan Tomi dihari pernikahan mereka.
"Apa kau yakin akan berhasil?." Awalnya Linda begitu yakin jika Tomi masih mencintai Cili, tapi setelah melihat pengorbanan Tomi demi sang istri, Linda tak lagi sepenuhnya yakin dengan persepsinya tentang perasaan Tomi terhadap sahabat sekaligus bosnya itu.
"Of course. Jika tidak bisa dengan cara baik-baik, bukankah masih ada cara lainnya." Cili tersenyum licik hingga membuat Linda bergidik ngeri dibuatnya. Bukan ngeri dengan apa yang akan dilakukan oleh Cili nantinya, melainkan ngeri membayangkan apa yang bisa terjadi pada sahabatnya itu jika berani menyinggung anggota keluarga dari seorang Syabil Fahreza. Ya, Linda menyesali kebodohannya, mengapa ia baru mengetahui jika sebenarnya wanita yang dinikahi oleh Tomi merupakan saudari sepupu dari seorang Syabil Fahreza, pria yang dikenal kejam jika ada orang yang berani menyinggung Apalagi sampai mengusik keluarganya.
"Cili, apa kau tidak berniat melupakan masa lalumu?."
"Apa maksudmu?." Kedua alis mata Cili bertaut dengan sempurna. Tak suka dengan perkataan Linda.
"Bukan apa-apa, aku hanya mencemaskan dirimu, Cili. Aku takut tindakanmu nantinya malah merugikan dirimu sendiri. Ingat Cili, Tora masih sangat membutuhkan ibunya, dia masih kecil." Linda sengaja menggunakan nama balita tersebut agar Cili bisa mempertimbangkan rencananya.
"Kau tidak perlu takut, justru aku melakukan semua ini demi putraku. Aku ingin Tora mendapatkan sosok ayah yang bertanggung jawab dan bisa memberikan apa yang semestinya diberikan oleh seorang ayah kepada putranya." Dengan tidak tahu malunya Cili mengatakan hal itu padahal jelas-jelas Tomi bukanlah ayah kandung putranya.
"Terserah kau saja, Cili!." Linda tak dapat lagi berbuat banyak. Sejak dulu Cili memang keras kepala, sulit untuk menerima masukan dari siapapun, termasuk dari Linda.
*
Keesokan Paginya.
Abil masih melihat keberadaan tenda kemah Tomi di taman depan.
Abil menyungging senyum. "Terima kasih sudah meyakinkan aku atas perasaanmu pada saudari sepupuku, Kawan." Gumam Abil yang kini tengah berdiri di tepi jendela kamarnya, memandang ke bawah, di mana saat ini Tomi terlihat keluar dari tenda.
"Bagaimana, apa mas sudah yakin kalau mas Tomi mencintai Sonia?." Pertanyaan sang istri berhasil mengalihkan perhatian Tomi pada kesayangannya itu.
"Tidak ada salahnya memastikan sesuatu yang masih abu-abu, sayang."
"Rupanya tuan Syabil Fahreza bukan hanya seorang suami dan ayah posesif ya, tetapi juga seorang Abang yang posesif." Balas Yuli dengan senyum manis dibibirnya.
Abil tak lagi merespon, pria itu hanya membawa sang istri ke dalam pelukannya.
Beberapa saat kemudian, Abil dan Yuli beranjak ke lantai bawah, hendak sarapan bersama.
"Tuan Abil memangil anda untuk sarapan bersama, tuan." Seorang art menghampiri tenda Tomi.
Tomi tersenyum dalam hati. Sepertinya perjuangannya kali ini akan membuahkan hasil.
"Baik, bi."
Sebelum masuk ke dalam rumah, Tomi mempersilahkan asisten Azam untuk pulang. Untuk urusan selanjutnya, akan ia lakoni sendiri. Sudah cukup pengorbanan asisten pribadinya tersebut menemaninya semalaman di tenda. Bukan hanya sekedar menemani sebenarnya, karena asisten Azam sibuk mengipasi Tomi agar tuannya itu bisa tidur dengan nyaman tanpa tersentuh gigitan nyamuk.
"Duduklah, kita sarapan bersama!." Kata Abil saat menyadari kedatangan Tomi di ruang makan.
"Terima kasih, tapi sepertinya aku tidak bisa ikut sarapan bersama, belum mandi soalnya."
"Bilang saja kau ingin masuk ke kamar Sonia, iya kan?." Tebakan Abil membuat Tomi sontak menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali. Pria itu pun terlihat mengulum senyum.
Abil melirik pada Sonia. "Temani suamimu!."
"Baik, mas." Tidak menunggu dua kali Abil memintanya, Sonia langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Ayo mas!." Ajak Sonia pada Tomi. Tomi berjalan beberapa langkah di belakang tubuh istrinya.
"Ingat, Sonia sedang hamil!." Tutur Abil setengah berteriak agar dapat didengar oleh Tomi yang kini sudah tiba dilantai atas.
Tomi lantas menoleh ke bawah dan berkata. "Bagaimana jika istriku yang menginginkannya?."
Abil sontak melebarkan pupil matanya, tak menyangka sahabatnya itu membalasnya dengan kalimat tengil.
"Tenanglah....! Aku hanya bercanda, kawan." Tomi melebarkan senyum melihat ekspresi Abil. Setelahnya, Tomi melanjutkan langkah menyusul Sonia.
Setibanya di kamar Tomi menutup pintu kamar, dan memeluk Sonia dari belakang.
"Mas kangen, Sayang." Sonia tersenyum berbunga-bunga mendengar ungkapan kerinduan sang suami. Puas melepas rindu dengan memeluk sang istri, Tomi membalikkan tubuh Sonia menghadap ke arahnya, mengusap lembut perut Sonia yang masih terlihat rata, pandangannya pun turun pada bagian perut sang istri.
"Bagaimana kabar anak papa pagi ini, hm?."
"Kabar baik, pah." Balas Sonia dengan menyerupai suara anak kecil.
Tomi kembali menatap sang istri. "Apa Kamu tidak merasakan mual dan muntah di pagi hari, sayang?." Tomi pernah mendengar jika ibu hamil pada trimester pertama akan mengalami mual dan muntah dipagi hari, maka dari itu Ia memastikan apakah istrinya merasakan hal yang sama atau tidak.
Sonia menggelengkan kepala. Karena kenyataannya ia tidak mengalami hal demikian.
"Sepertinya anak papah sangat mengerti dengan situasi yang ada makanya tidak sampai merepotkan mamahnya." Tutur Tomi sambil mengusap perut Sonia.
Setelahnya, Tomi pun beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket, tak nyaman. Ya, ia yang biasanya tidur di tempat tidur yang nyaman, kini demi memperjuangkan sang istri rela tidur di tenda semalaman. Ternyata cinta memang mengalahkan logika, Tomi yang baru menyadari hal itu lantas menarik sudut bibirnya ke samping hingga menciptakan sebuah senyuman tipis di sana.
Sungguh, Tomi tidak pernah menyangka ia akan jatuh cinta dan bahkan tergila-gila pada gadis yang dinikahinya karena alasan wasiat tersebut.
Yuli yang cukup peka, membawakan pakaian baru milik suaminya untuk digunakan oleh Tomi. karena tak mungkin Tomi kembali menggunakan pakaian lamanya setelah mandi nanti.
Selesai mengenakan pakaian lengkap, Tomi yang ditemani oleh sang istri langsung menuju ruang makan untuk sarapan. Tomi tersentuh, rupanya Abil belum menyentuh sarapan miliknya, ia sengaja menunggu Tomi untuk sarapan bersama.
Di ruang kerja Abil, di sinilah Tomi dan Abil berada seusai sarapan.
"Terima kasih untuk kesempatan yang kau berikan, kawan. Aku Janji tidak akan menyia-nyiakannya, aku akan menjaga Sonia dengan sepenuh hati." Tutur Tomi dihadapan Abil.
"Memang sudah seharusnya begitu. Sebagai seorang suami kau berkewajiban menjaga dan melindungi istrimu. Terlebih, aku tidak yakin Cili akan menyerah begitu saja setelah kau memutuskan kontrak kerjasama secara sepihak dengannya."
Tomi mengangguk paham, rupanya ia sepemikiran dengan sahabatnya itu. Apalagi Cili tidak merealisasikan ancamannya, bisa jadi wanita itu punya rencana lain, begitu dugaan Tomi.
Jangan lupa dukungan nya sayang-sayangku....! Biar aku semangat up nya. Oh iya, kalau aku boleh tahu, kalian berasal dari kota mana saja sayang-sayangku? Barangkali ada yang berdomisili di kota yang sama dengan KK autor. 😘😘🥰🥰🥰🙏🙏🙏