NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Dokter Buangan

Kebangkitan Sang Dokter Buangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Mafia
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Velyqor

Kayra Ardeane mengasingkan diri ke desa sunyi bernama Elara demi mengubur trauma masa lalunya sebagai ahli bedah. Namun, ketenangannya hancur saat seorang pria bersimbah darah menerjang masuk dengan peluru di dada. Demi sumpah medis, Kayra melakukan tindakan gila: merogoh rongga dada pria itu dan memijat jantungnya agar tetap berdenyut.

Nyawa yang ia selamatkan ternyata milik Harry, seorang predator yang tidak mengenal rasa terima kasih, melainkan kepemilikan. Di bawah kepungan musuh dan kobaran api, Harry memberikan ultimatum yang mengunci takdir Kayra.

"Pilihannya sederhana, Dokter. Mereka selamat dan kau ikut denganku, atau kita semua tetap di sini sampai musuh mengepung. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat di mana aku tidak bisa melihatmu."

Terjebak dalam pelarian maut, Kayra menyadari satu hal yang terlambat, ia memang berhasil menyelamatkan jantung Harry, namun kini pria itu datang untuk mengincar jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Rumah dalam Pelukan

Keheningan perpustakaan bawah tanah itu terasa semakin pekat, namun tidak lagi dingin. Wangi kertas tua dan kayu gaharu seolah memudar, kalah oleh aroma maskulin kayu cendana dari tubuh Harry yang kini mendekap Kayra dengan sangat erat.

Kalimat terakhir Harry, tentang rumah yang bukan lagi berbentuk bangunan, masih menggantung di udara, menciptakan getaran halus di ulu hati Kayra.

Kayra sedikit melonggarkan pelukannya, mendongak untuk menatap mata pria itu. Cahaya lampu temaram di perpustakaan memantul di iris mata Harry yang obsidian, memperlihatkan kerentanan yang belum pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.

"Apa maksudmu, Harry?" bisik Kayra, suaranya hampir menyerupai hembusan angin. "Kau bilang ... rumah itu ada di mana pun aku berada?"

Harry tidak segera menjawab. Tangannya yang besar berpindah dari bahu Kayra, perlahan merayap naik untuk membingkai wajah wanita itu. Ibu jarinya mengusap lembut tulang pipi Kayra, sebuah sentuhan yang begitu hati-hati seolah Kayra adalah porselen yang bisa hancur kapan saja.

"Maksudku," suara Harry terdengar lebih dalam, sedikit serak karena emosi yang tertahan selama bertahun-tahun. "Selama ini aku memiliki lusinan rumah, ratusan tempat bersembunyi. Tapi di setiap tempat itu, aku selalu merasa asing. Aku selalu merasa harus waspada, harus memegang senjata, harus menjadi monster agar bisa bertahan."

Harry menarik napas panjang, tatapannya mengunci mata Kayra dengan intensitas yang membuat Kayra lupa bagaimana cara bernapas.

"Tapi sejak di Elara, sejak kau memaksaku untuk hidup kembali ... tempat ini, atau mana pun kita pergi nanti, tidak akan berarti apa-apa jika kau tidak ada di sana. Karena hanya saat bersamamu, monster dalam diriku bisa beristirahat. Hanya bersamamu, aku merasa pulang."

Jantung Kayra berdentum keras, suaranya memenuhi telinganya sendiri. Kata-kata Harry bukanlah rayuan murahan, itu adalah pengakuan seorang pria yang telah lama tersesat di kegelapan dan akhirnya menemukan setitik cahaya. Perasaan haru yang luar biasa menyerang Kayra, membuat matanya kembali berkaca-kaca.

"Harry—"

"Jangan bicara," potong Harry lembut.

Wajah Harry merunduk perlahan. Kayra bisa merasakan hangat napas Harry di permukaan kulitnya. Ia tidak menghindar. Sebaliknya, ia membiarkan matanya terpejam, memberikan ijin yang tidak terucapkan.

Saat bibir mereka akhirnya bertemu, dunia di luar Villa de Nebbia seolah lenyap. Tidak ada lagi ancaman Luca, tidak ada lagi pengkhianatan Aris, dan tidak ada lagi bayang-bayang Proyek Genesis. Hanya ada mereka berdua.

Ciuman itu dimulai dengan sangat lembut, penuh keraguan dan rasa hormat yang mendalam. Harry menciumnya seolah-olah ia sedang meminta maaf atas semua rasa sakit yang telah Kayra alami.

Namun, seiring detak jantung mereka yang mulai berirama sama, ciuman itu berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam dan mendesak.

Kayra melingkarkan tangannya di leher Harry, jari-jarinya menyusup ke rambut hitam pria itu yang halus. Ia menarik Harry lebih dekat, seolah mencoba menyatukan jiwa mereka yang sama-sama telah hancur oleh tragedi masa lalu.

Harry mengeluarkan erangan rendah di tengah ciuman itu, tangannya yang berada di pinggang Kayra menarik wanita itu hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka.

Ciuman itu terasa manis sekaligus menyakitkan, manis karena rasa memiliki yang akhirnya terpenuhi, dan menyakitkan karena mereka tahu betapa rapuhnya kedamaian yang mereka miliki saat ini.

Harry menciumnya dengan segenap jiwa, memberikan semua perlindungan dan janji yang tidak bisa ia ungkapkan lewat kata-kata. Dalam sentuhan itu, Kayra merasakan kepedihan Harry atas kehilangan ayahnya, dan Harry merasakan amarah Kayra atas pengkhianatan Aris.

Mereka saling memberikan kekuatan melalui ciuman yang meluluhkan logika tersebut. Bagi Kayra, Harry adalah jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam badai dendam. Bagi Harry, Kayra adalah rumah yang ia cari sepanjang hidupnya.

Lama mereka tetap dalam posisi itu, terhanyut dalam bahasa kalbu yang hanya dipahami oleh mereka berdua. Saat akhirnya Harry menarik diri, ia tidak menjauh. Ia menyandarkan keningnya pada kening Kayra, napas mereka memburu dan bersahutan.

"Jangan pernah pergi, Kayra," bisik Harry, suaranya sangat lirih, hampir seperti permohonan. "Aku bisa menghadapi seluruh dunia jika kau ada di sampingku. Tapi aku tidak akan bisa menghadapi satu hari pun tanpa bayanganmu."

Kayra membuka matanya, menatap pria yang kini tampak begitu manusiawi di hadapannya. Ia mengusap bibir Harry dengan ibu jarinya, sebuah gerakan yang penuh kasih sayang.

"Aku tidak akan ke mana-mana, Harry," jawab Kayra dengan nada yang sangat stabil dan yakin. "Kita adalah dua kepingan yang sudah telanjur menyatu. Apa pun yang terjadi di masa depan, kita akan menghadapinya bersama. Aku berjanji."

Harry memejamkan matanya, menikmati ketenangan yang baru saja ia temukan. Ia mengecup kening Kayra dengan sangat lama, sebuah ciuman suci yang melambangkan janji setia seorang Marcello.

Harry tidak melepaskan tatapannya, seolah ia ingin memastikan bahwa momen ini bukanlah fatamorgana yang akan hilang saat ia berkedip. Setelah kecupan di kening itu, ia merunduk perlahan. Kali ini bukan ciuman yang mendalam, melainkan kecupan-kecupan kecil di bibir Kayra, berkali-kali, lembut, dan penuh pemujaan. Setiap sentuhan bibir mereka mengirimkan desiran yang membuat Kayra merasa seluruh tulang-tulangnya melunak.

Ketika Harry menjauhkan wajahnya hanya beberapa milimeter, mata mereka kembali bertemu. Sorot mata Harry yang tadinya penuh ketenangan kini telah berganti. Ada api gairah yang tertahan di sana, sebuah kerinduan yang dalam yang selama ini ia kunci di balik jubah kekuasaannya sebagai pemimpin mafia.

"Kayra …," Harry berbisik, suaranya kini lebih berat dan serak. Ia menatap Kayra dengan penuh permohonan yang tak terucap, jemarinya mengusap tengkuk wanita itu. "Apakah boleh ...?"

Kayra merasakan jantungnya berdegup kencang, memukul dadanya dengan irama yang tak beraturan. Kegugupan menyelimutinya, namun ada rasa percaya yang jauh lebih besar. Ia menelan ludah, lalu mengangguk pelan, hampir tak kentara namun cukup bagi Harry.

Tanpa membuang waktu, Harry menyusupkan lengannya ke bawah lutut dan punggung Kayra, menggendongnya dengan mudah seolah wanita itu tidak memiliki beban.

Kayra secara insting melingkarkan tangannya di leher Harry, menyembunyikan wajahnya yang merona di ceruk leher pria itu, menghirup aroma cendana yang kini menjadi candunya.

Langkah Harry mantap menaiki tangga menuju kamar utama di lantai atas. Begitu pintu terbuka, ia perlahan membaringkan Kayra di atas ranjang sutra yang luas. Cahaya bulan yang masuk dari jendela besar menerangi sosok Kayra, membuatnya tampak seperti dewi di mata Harry.

Harry merangkak naik ke atas ranjang, memposisikan dirinya di atas Kayra tanpa memberi tekanan pada luka di perutnya. Ia kembali mencium Kayra, kali ini lebih intens dan penuh kepastian. Di bawah perlindungan dinding Villa de Nebbia yang kokoh, di tengah badai salju yang mengamuk di luar, mereka akhirnya membiarkan dinding pertahanan mereka sendiri runtuh, menyatu dalam kehangatan yang melampaui segala logika medis dan dendam duniawi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!