Entah bagaimana caranya Seorang pujangga mampu mendeskripsikan cinta seketika menjadi indah hanya dengan pembendaharaan diksi yang mereka punya. Padahal cinta tidak semudah mengubah suku kata menjadi barisan rima.
Begitu juga cinta yang dirasakan seorang Adha Abhimana, pelatih renang yang lisensinya tidak bisa digunakan ketika menyelami dalamnya tatapan mata seorang Aruna Nureda. Sales promotion girl yang tak sengaja ditemuinya di kota Batam. Abhi memanggilnya Red, tak hanya bibirnya, nama itu juga semerah lukanya yang basah.
Semacam karma yang dibayar tunai, Abhi jatuh hati kepada Red yang statusnya bukan gadis biasa.Cinta,harapan dan impian Runa masih untuk Rangga yang hampir tak mungkin dimilikinya.Berhasilkah perjuanan Abhi? atau harus rela Runa kembali dengan mimpinya?
Ini kisah tentang pengkhianatan sekaligus kesetiaan, luka sekaligus antiseptiknya.
WARNING : SIAPKAN ASPIRIN KARENA MUNGKIN MENGIKUTI KISAH INI AKAN MENIMBULKAN EFEK PUSING.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nela Kurniaty Idris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ADA YANG GERAM
Melihat wajah kakaknya yang sembab, Reza tidak berani menanyakan apapun. Satu yang Reza tau, Runa selalu menyembunyikan masalahnya jika itu terkait Rangga, dia tidak pernah memeperlihatkan raut wajah memprihatinkan seberat apapun masalah rumah tangganya.
Terus kalau bukan gara-gara si serangga itu, gara-gara siapa dong?
Reza meraih kunci mobil sedan Abah.
“Pakai motor aja, Ja. Biar cepat. Lama kalau pakai mobil, Mba gak mau kesorean nyampe rumah.”
“Gitu? Oke deh.”
Sebelum berangkat, Runa menyempatkan diri menghubungi Rangga untuk berbicara dengan Razqa. Rangga mengatakan dia sedang di rumah, sedangkan Razqa diajak Oma Suri pergi ke klinik bersalin. Runa tak bertanya lagi, dia tau, pasti Mama Suri membawa Razqa untuk memeriksa kandungan Achy.
Runa bahkan tidak menjawab setiap pertanyaan Reza. Sepanjang jalan dia tidak berhenti memeriksa ponselnya, berharap Abhi menghubunginya kembali setelah panggilan tadi dia matikan begitu saja. Tinggal satu lampu merah lagi, tapi tidak ada tanda-tanda Abhi menyesal telah ingkar janji.
Langit siang itu tampak lebam, seperti hatinya yang sedang menahan geram, Sepanjang jalan hatinya terasa sakit. Merasa begitu bodohnya dia mempercayai Abhi begitu saja. Merasa betapa naifnya Runa mempersilakan Abhi memasuki hidupnya tanpa syarat apa-apa sehingga lelaki itu tidak ada beda dengan para fakboy lainnya.
Datang, menitipkan rasa nyaman dan pergi begitu saja. Runa mengutuk kebodohannya. Kalau hanya numpang berteduh, kenapa gak ke halte bus saja? Begitu pikir Runa.
Lampu lalu lintas berubah merah, Reza memperlambat laju motornya dan berhenti tepat di sebelah klinik bersalin yang kebetulan terletak di pinggir jalan yang berdekatan dengan simpang lampu lalu lintas itu.
Runa tak sengaja memindai pandangan ke arah klinik yang tidak terlalu besar, semesta seolah ingin memberikannya sebuah petunjuk untuk kerisauan hatinya.
Bisa dilihatnya dengan jelas, laki-laki dengan pakaian yang bahkan belum sempat diganti sejak tadi malam mengantarnya pulang, Abhi keluar dari pintu dengan menggendong tubuh seorang perempuan hamil yang juga Runa kenal benar. Sekilas tampak darah mengalir disela-sela betis wanita yang hanya mengenakan minidress putih.
Semakin luruhlah pertahanan Runa, dua laki-laki yang berhasil masuk ke hatinya, diambil oleh satu perempuan yang sama. Achy. Kesalahan apa yang pernah Runa perbuat pada perempuan ini. Kenapa harus Achy? Bukankah masih banyak perempuan lain?
Lampu telah berubah hijau, masih bisa Runa tangkap dengan jelas pemandangan menyakitkan baginya, perempuan itu mengalungkan lemah tangannya ke leher Abhi, Abhi kemudian membawanya masuk ke dalam mobil berwarna biru, setelahnya Reza kembali memacu laju motornya hingga masuk ke gerbang pelabuhan.
***
Menatap wajah kakaknya yang sembab, Reza jadi khawatir.
“Aku anterin Mba Runa sampai dalam!” tuturnya spontan.
“Gak usah, Ja. Sana pulang!” tolak Runa.
“Apasih, Mba? Aku takut ah.”
“Yasudah terserah kamu aja.”
Reza turun mengekori langkah Runa dari belakang, Runa masih terdiam tidak menanggapi apapun yang Reza ucapkan untuk menghiburnya.
“Mba Runa, dengerin aku ngomong gak sih? Jangan gitu dong ngeliat lautnya, aku beneran takut, Mba.”
“Santai aja, Ja. Aku gak bakalan sampe bunuh diri kok.”
“AllahuAkbar! Ya, jangan, Mba. Bunuh diri tidak baik untuk kesehatan. Ada masalah apa sih? Digigit serangga lagi?” tebak Reza.
“Kali ini kayaknya buaya!”
“Wohoooo, reptil? Yaudahlah Mba, kayak ga biasa patah hati aja. Perempuan yang udah biasa menerjang badai, masa basah hanya karena gerimis doang?”
“Aku gak suka main hujan, Ja. Hahaha, yaudah Mba berangkat ya, nanti kalau Razqa udah diantar pulang, langsung telpon Mba loh.”
“Iya, Mba Runa hati-hati.”
Kapal meniupkan peluitnya, Reza melepas kakaknya walau belum sepenuhnya lega. Sepertinya, dia tau siapa laki-laki yang tadi Runa anggap buaya.
***
Mobil Abhi berhenti di depan pintu IGD, beberapa petugas tampak sigap membawa brankar, Abhi sendiri yang turun menggendong adiknya untuk segera mendapatkan pertolongan pertama, baru kemudian Mama Santi, ibu mereka menyusul dengan wajah yang tak kalah panik.
Setelah Achy dibawa masuk ke ruang tindakan, Abhi menyerahkan surat rujukan dari dokter kandungan kepada dokter jaga IGD, baru kemudian Achy diberi tindakan pertama sesuai yang tertera pada surat itu. Abhi yang tak sanggup melihat Achy merintih kesakitan, memilih menunggu di depan, Mama santi yang mendampingi Achy di dalam.
Baru saja Abhi mendudukan diri pada kursi panjang berwarna hitam, seorang wanita paruh baya menghampirinya bersama seorang balita. Abhi sedikit terkejut dan berdiri untuk menyapa mertua dari adiknya.
“Coach Abhi ada disini?” ucap balita itu sedikit terkejut tapi sangat senang karena bertemu kembali dengan Coach kesayangannya.
“Razqa?” Abhi juga tak kalah terkejut melihat Razqa ada disana bersama Ibu Suri.
“Abhi, bagaimana keadaan Achy? Tadi Kami ke Klinik dan perawat bilang Achy dirujuk kesini.”
“Achy sudah dapat penanganan. Maaf Bu, Kenapa Rangga gak ikut? Apa dia gak tau istrinya sedang pendarahan hebat?”
Ibu Suri tertunduk malu, Rangga sudah tau, tapi dia keras hati dan sedikitpun tidak peduli dengan keadaan Achy. Ibu Suri sampai malu untuk menjelaskannya pada Abhi.
“Sebentar lagi mungkin Mama keluar, Ibu Suri silakan tunggu disini saja. Razqa, Coach harus pergi sebentar, nanti kita ngobrol ya,” pamit Abhi.
“Baik, Coach!”
Abhi meninggalkan Ibu Suri dan Razqa di kursi panjang itu, darahnya mendidih setelah tau Rangga tidak seujung kukupun peduli dengan keadaan Achy. Walau semua murni kesalahan Achy, setidaknya sekarang Rangga terikat kewajiban menjaga adiknya itu secara resmi.
Panggilan itu tersambung, Rangga menerima panggilan dari Abhi.
“Rangga, gue tau ya Lo gak peduli sama Achy. Gue juga tau Lo gak anggap anak itu anak Lo.”
Suara Abhi menahan geram dan sakit hati.
“Kamu gak perlu ya ikut campur urusan rumah tangga saya!” tegas Rangga.
“Gue gak bakalan ikut campur kalau gak menyangkut nyawa adik gue!” bentak Abhi.
“Achy seperti itu karena dirinya sendiri, dia yang udah bikin hidupnya hancur dengan lebih dulu menghancurkan kehidupan orang lain!”
“Kalau lo gak bisa pake otak lo yang cerdas itu, tolong gunain hati lo sebagai manusia, sebagai seorang laki-laki. Lo itu bertanggungjawab penuh atas Achy secara resmi, tolong sedikit aja pakai hati nurani lo, paling tidak sampai masa perjanjian kalian nanti! Lo pikir kalau keadaan Achy seperti ini, gimana caranya dia mau bantuin lo balik sama istri dan anak lo nanti?”
Rangga terdiam merenungkan kalimat Abhi.
“Achy salah, gue tau, Nyokap gue salah, gue juga tau. Tapi Lo gak bisa tutup mata, kalau Nyokap lo yang terhormat itu juga ada andil besar dalam masalah ini!”
Rangga masih diam.
“Gue Abhi, sebagai kakak nya Achy. Gue mohon sama Lo buat peduli sedikit aja sama nyawa Achy dan anaknya yang sekarang antara hidup dan mati!”
“Saya gak bisa kesana.” Rangga masih keras hati.
“Gue sendiri yang bakal bantuin Achy buat pergi dari hidup lo dan lo bisa kembali ke Istri dan anak lo, tapi seenggaknya lo bantu adik gue melewati masa-masa sulit ini.”
“Penawaran yang bagus. Oke saya kesana sekarang, dan percakapan kita ini akan saya teruskan menjadi sebuah surat perjanjian!”
"Woi, hidup gak cuma tentang hitam putih di atas materai!" umpat Abhi keras, tapi sayangnya Rangga sudah terlebih dahulu memutuskan sambungan panggilan sebelum dapat mendengar umpatan yang indah dari kakak iparnya.