NovelToon NovelToon
Gadis Di Rumah Itu

Gadis Di Rumah Itu

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Thriller / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Hantu / Misteri / Tamat
Popularitas:255.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Dela Tan

Sulit mencari pekerjaan, dengan terpaksa Dara bekerja kepada kenalan ibunya, seorang eksportir belut. Bosnya baik, bahkan ingin mengangkatnya sebagai anak.

Namun, istri muda bosnya tidak sepakat. Telah menatapnya dengan sinis sejak ia tiba. Para pekerja yang lain juga tidak menerimanya. Ada Siti yang terang-terangan memusuhinya karena merasa pekerjaannya direbut. Ada Pak WIra yang terus berusaha mengusirnya.

Apalagi, ternyata yang diekspor bukan hanya belut, melainkan juga ular.
Dara hampir pingsan ketika melihat ular-ular itu dibantai. Ia merasa ada di dalam film horor. Pekerjaan macam apa ini? Penuh permusuhan, lendir dan darah. Ia tidak betah, ia ingin pulang.

Lalu ia melihat lelaki itu, lelaki misterius yang membuatnya tergila-gila, dan ia tak lagi ingin pulang.

Suatu pagi, ia berakhir terbaring tanpa nyawa di bak penuh belut.
Siapa yang menghabisi nyawanya?
Dan siapa lelaki misterius yang dilihat Dara, dan membuatnya memutuskan untuk bertahan itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dela Tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Awan Murni Yang Bersih

Wiratama telah terpincut sejak pertama kali melabuhkan pandangan, di wajah mungil menggemaskan malaikat kecil yang diberi nama Qing Yun, yang bermakna awan murni yang bersih.

Ketika Qing Yun memberinya senyum pertama setelah mengamatinya, Wiratama semakin terpikat.

Namun, ketika rungunya menegaskan niat sebenarnya mengapa Miranti mengadopsinya, hati Wiratama benar-benar meleleh, seperti mentega di atas panggangan.

Bayi tak berdosa itu dibuang orang tua aslinya dengan kejam. Sekarang jatuh ke tangan orang tua angkat yang dengan keji hanya menganggapnya alat.

Betapa ingin Wiratama merebut bayi itu dari pelukan Miranti dan membawanya kembali.

Kembali? Ke mana? Ke panti asuhan itu?

Wiratama tidak yakin kondisi Qing Qing akan lebih baik di sana.

Harus berbagi segala hal dengan banyak bayi-bayi yang tidak diinginkan lainnya. Belum tentu ada keluarga lain yang berminat mengadopsinya.

Wiratama menghela napas. Mungkin yang terbaik memang membiarkan Qing Qing di sini. Jika Tuhan sudah membuatnya menarik perhatian Tuan dan Nyonya, barangkali itu yang terbaik untuknya.

Satu hal yang ia tahu. Ia telah bertekad melindungi bayi itu.

Miranti telah meminta agar ia membantu mengasuhnya. Wiratama tidak keberatan. Ia punya tiga adik di kampung, yang ia bantu emak mengasuhnya dulu, sebelum merantau ke Jakarta.

Apalagi, di usia menjelang dua puluh sembilan, naluri keayahannya sudah terbit. Sementara ia sadar, dengan keadaannya, ia tak mungkin memiliki anak kandung darah dagingnya sendiri.

Semoga Tuan sungguh-sungguh menyayangi Qing Qing, tidak seperti Miranti yang memiliki motif. Wiratama menghela napas.

Sejak hari itu, Wiratama mondok di rumah Bernard. Padahal biasanya ia hanya datang beberapa hari sekali, ketika perlu bebenah gudang, dan terutama ketika ada kiriman belut, atau ketika dipanggil Tuan untuk mengerjakan sesuatu.

Terkadang ada permintaan dari Cina atau Taiwan, di luar belut. Misalnya, ular. Pernah juga tiba-tiba Tuan minta dicarikan buah manggis, atau kluwek. Meskipun agak acak dari ekspor reguler, Bernard selalu berusaha memenuhinya. Dan Wiratama lah yang selalu ditugaskan untuk mencari.

Wiratama rela tidur menggelar tikar di kamar bayi. Ia yang mengganti popok ketika Qing Qing mengompol. Ia yang menepuk-nepuk Qing Qing sampai anak itu kembali tertidur setelah terbangun sambil menangis di tengah malam.

Sebagai ibu, Miranti bahkan merasa jijik untuk mengurus Qing Qing ketika mencret. Dia bahkan sering menghangatkan kembali susu formula yang tidak habis, sebagaimana makanan yang tidak habis selalu dia bungkus dan dibekukan untuk dimakan kembali.

Miranti hanya menggendong Qing Qing jika Bernard sedang di Indonesia. Jika Tuan sedang menengok keluarganya yang lain di Taiwan atau Cina, Miranti bahkan tidak pernah menjenguk bayinya.

Karena itu, Wiratama telah mendaulat dirinya sendiri sebagai 'ayah' Qing Qing.

Ketika tubuh anak itu panas, Wiratama yang dengan sabar mengompres dahinya tanpa tidur sepanjang malam. Ketika kulit Qing Qing bentol-bentol kemerahan karena cacar air, Wiratama yang dengan panik melarikannya ke rumah sakit.

Ketika Qing Qing menangis kesakitan karena jarum suntik, Wiratama ikut menitikkan air mata. Ketika Qing Qing tergelak-gelak geli karena ia menggesekkan janggut halus di dagunya ke pipi montoknya, senyum Wiratama ikut terkembang lebar.

Seiring waktu, Qing Qing tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas.

Wiratama yang mengajarinya berjalan. Wiratama yang mengantarkannya di hari pertama anak itu sekolah. Wiratama bertepuk tangan paling keras ketika Qing Qing tampil menari di panggung sebagai peri.

Wiratama juga mengajari Qing Qing naik sepeda, menggunakan sepatu roda, dan menemaninya mengerjakan PR setiap hari.

Wiratama berperan sebagai 'ayah' yang bangga.

Di hari pembagian rapor, sebelum menunjukkan pada Miranti dan Bernard, Qing Qing akan membuka halaman yang hanya dipenuhi warna biru dengan nilai minimal delapan itu kepada Wiratama, dengan mata berbinar-binar.

Binar yang menular, pada Wiratama yang memeluknya penuh haru.

"Anak pintar. Pak Wira banggaaa... banget sama Qing Qing," Wiratama mengelus rambut halusnya yang dikepang dua.

Suatu hari, ketika Qing Qing duduk di kelas empat, entah bagaimana sebuah mobil hampir menabraknya ketika menyeberang.

Ketika mendengar suara decitan ban bergesekan dengan aspal, tanda rem yang diinjak dalam, diikuti teriakan-teriakan ngeri.

"Awaaaaaasss."

"Awwwww..."

"Ya Tuhannn..."

Wiratama tersentak menoleh, langsung melesat berlari sekencang-kencangnya, jantungnya seolah telah putus, bahkan ia lupa bernapas.

Tiba di tepi jalan dimana orang-orang berkerumun, ia menyibakkan mereka bagai kesetanan.

Melihat Qing Qing terduduk bengong, nyaris dihantam, hanya berjarak sepuluh senti dari bemper mobil. Wiratama menangis meraung-raung memeluknya, nyaris gila mengira ia telah kehilangan Qing Qing.

Sejak hari itu, ia tak pernah membiarkan Qing Qing pergi sendiri.

Waktu benar-benar tidak menunggu. Tanpa terasa, Qing Qing telah beranjak remaja. Mengetahui ia mendapat tamu bulanan pertama, Wiratama mengajaknya duduk untuk bicara serius.

"Anak pintar, sini duduk." Wiratama melambai pada Qing Qing yang baru keluar dari kamar mandi, menepuk tempat di sampingnya.

Qing Qing menurut, meletakkan bokongnya di kursi di sebelah Wiratama.

Wiratama mengamati gadis yang baru masuk SMP itu sejenak. Dadanya telah tumbuh, tidak terlalu membusung tapi penuh.

Kakinya panjang, jelas ia akan tinggi.

Tubuhnya langsing, dengan perut yang rata. Dia tidak berbakat gemuk. Mungkin mengikuti gen orang tua aslinya.

Rambutnya panjang lurus, hitam dan halus. Hidungnya yang kecil bangir dihiasi bintik-bintik keringat. Bibirnya berwarna merah muda. Sangat jelas, gadis ini sedang ranum-ranumnya.

Wiratama menghela napas. Ia bangga, sekaligus khawatir. Bunga yang cantik selalu mengundang kumbang dan kupu-kupu. Apakah ia bisa terus menjaganya?

Qing Qing terlalu sempurna. Wajah cantik, perawakan indah, dan otak encer. Wiratama tidak rela jika dia tidak mendapatkan lelaki pendamping yang setara kualitasnya.

"Pak Wira mau bicara serius."

Qing Qing terkikik.

"Bukannya Pak Wira memang selalu serius?"

"Sekarang lebih serius, karena ini sangat penting."

"Oke dehhh..." suara Qing Qing ceria. Lalu dia duduk melipat tangan dengan sikap sempurna.

Mau tidak mau, Wiratama tersenyum tipis melihatnya. "Umur berapa Qing Qing sekarang?"

"Dua belas," jawab Qing Qing.

"Hari ini, Qing Qing baru menjadi wanita. Karena itu, Pak Wira mau kasih wejangan..."

"Aduh... Pak Wira jangan pakai kata wejangan dong, jadi berasa lagi di kantor kepala sekolah." Qing Qing memanyunkan bibir.

Wiratama mengembuskan napas. "Baiklah, nasihat, kalau begitu."

Qing Qing mengacungkan kedua jempol tangannya dan Wiratama menjawil ujung hidungnya.

"Karena Qing Qing sudah menjadi wanita, Qing Qing harus bisa menjaga diri. Pasti banyak yang akan jatuh cinta sama Qing Qing. Begitu juga sebaliknya, akan ada laki-laki yang membuat Qing Qing mabuk kepayang, tergila-gila."

Wiratama menjeda kalimatnya, mengamati air muka Qing Qing. Melihat gadis itu menyimak dan tidak lagi main-main, Wiratama melanjutkan.

"Qing Qing cantik, pintar, kebanggaan Papa Mama, kebanggaan Pak Wira juga. Jangan sampai salah pilih. Cinta mungkin datang tak terduga, tapi nalar harus selalu dijaga. Dan yang paling penting untuk dijaga adalah kesucian kamu. Qing Qing mengerti kan maksudnya?"

Qing Qing menoleh padanya.

"Pakaian berfungsi menutupi yang harus ditutupi. Karena itu jangan dengan mudah membuka yang seharusnya ditutup. Secinta dan setergila-gila apa pun, sebelum sah di hadapan Tuhan, biarkan itu menutupi auratmu."

"Ingat itu baik-baik."

1
adi_nata
novel yang luar biasa dan sarat makna. bagaimana kita bisa terjerumus jika tidak bisa memandang cinta secara bijaksana.

terima kasih banyak untuk karyanya 👍
adi_nata
lalu asal usul Damar ?
adi_nata
seharusnya usia Surya dua tahun lebih muda dari Arwina. Arwina kan adik dari Arnita, Arwina tiga tahun lebih muda dari Arnita, sedangkan Surya lima tahun lebih muda dari Arnita.
adi_nata
kelihatannya Arnita memang melakukan hal itu dengan Bisma.
adi_nata
mamanya kejam sekali ngejedotin kepala anaknya sampai begitu.
adi_nata
dari siapa Arnita mewarisi rambut bergelombang ? mengingat kedua orang tuanya berdarah Cina murni ?
adi_nata: ooo begitu ternyata 😁
total 2 replies
adi_nata
jangan jangan .. Qing Qing adalah anak Arnita ? jadi masuk akal kalau Dara sangat mirip dengan Qing Qing. karena mereka masih ada pertalian darah walau sudah saudara jauh.
adi_nata
bukankah letak rumah itu jauh terpencil dari pemukiman lain ?
adi_nata
kalau sudah meninggal baru terpikirkan untuk mengembalikan ke keluarganya.
adi_nata
lah malah menyalahkan Tuhan, padahal dianya yang goblok 😂
adi_nata
aku ga ngerti kenapa Damar ga ngekos aja dekat tempat kerjanya. kalau aku harus ninggal istri yang lagi hamil sendirian tanpa tetangga, udah ga akan fokus kerja sama sekali.
adi_nata
rangka alumunium ? atau baja ringan ?
adi_nata
Ya Allah .. ninggalin bumil tanpa ada tetangga. 😥
adi_nata
bukan istri muda, tapi istri remaja
adi_nata
sebenarnya Damar adalah cowok yang bertanggung jawab, tapi karena masih di usia belasan, jadi sering berpikiran pendek. mengambil keputusan berdasarkan ego.
adi_nata
gimana kalau nantii hamiiil ? kamu nyeret anakmu ke dalam kesengsaraan. Dasar bocah. hahaha.
adi_nata
tapi kamu enak enakan sama Damar pakai duit tabungan dari Papa Bernard lho, Qin .. ga malu ? 😂
adi_nata
terlihat sekali bahwa Damar bukan pertama kalinya menyentuh perempuan.
adi_nata
Damar sudah pro. berarti Qin Qin bukan perempuan pertama di hidup Damar.
adi_nata
kalau tau begini harusnya dipulangkan ke Papanya. sampai kapan bisa nahan hasrat ? ini malah menawarkan jalan jalan sebulan penuh lalu tinggal bersama di gubug Damar. 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!