Dewangga adalah seorang pangeran yang sebentar lagi akan dinobatkan menjadi seorang raja di zaman kuno. Dengan bantuan dari sistem, dia terlempar ke zaman modern ketika dia hampir saja terbunuh dari serangan musuh.
Tiba-tiba dia berada di dalam sebuah mobil dengan keadaan tanpa busana. Ternyata di dalam mobil tersebut terdapat seorang wanita cantik, membuat mereka dikira telah berbuat tak senonoh dan nikahkan oleh masyarakat secara paksa.
Dari sanalah perjalanan kehidupannya sebagai seorang manusia biasa dimulai. Dia yang awalnya hidup selalu dihormati dan disegani oleh semua orang di zaman kuno, kini di zaman modern dia hidup dengan penuh banyak rintangan.
Rupanya cincin warisan dari leluhur mengaktifkan sebuah sistem, untuk membantunya bisa kembali ke zaman kuno, dengan syarat dia harus melakukan misi-misi yang telah ditentukan oleh sistem, untuk memburu orang-orang yang melakukan kejahatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DF_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Sandra membulatkan kedua bola matanya ketika merasakan ada yang keras dibawah sana, dia tidak diberikan kesempatan untuk menolak, pria itu tiba-tiba saja meraih tengkuknya, menyatukan bibir mereka berdua.
Keduanya masih merasakan kaku, mungkin karena ini adalah ciuman pertama untuk mereka berdua. Namun, Dewangga mengikuti nalurinya sebagai seorang pria dewasa yang sangat berhasrat, dia mulai melu-mat bibir Sandra, walaupun dia belum mendapatkan balasan dari Sandra, wanita itu nampak kebingungan, tidak tahu harus berbuat apa.
Tak ada penolakan di diri Sandra, mungkin karena wanita itu sudah membulatkan tekadnya untuk segera memiliki anak dari Dewangga. Dewangga dengan hati-hati memasukkan lidahnya ke dalam bibir Sandra, memainkan lidahnya menyentuh disetiap inci di dalam rongga mulut wanita itu.
Ciuman Dewangga semakin terasa panas dan bergairah, membuat Sandra terangsang, tanpa sadar dia membalas ciuman pria itu, begitu sangat memabukkan.
Ciuman Dewangga turun ke leher jenjangnya Sandra, memberikan gigitan-gigitan kecil disana sampai meninggal sebuah tanda kepemilikan berwarna merah disana. Sandra mendes-ah dengan sangat pelan.
Dewangga meraup kembali bibir Sandra, dia begitu ganas mencium bibir wanita itu, mungkin karena bibir Sandra terasa sangat manis dan membuatnya candu. Sandra pun mencoba membalas ciuman Dewangga kembali, namun dia tidak bisa mengimbangi ciuman panas pria itu, dia hampir saja kehilangan keseimbangannya.
Dewangga menahan punggung Sandra yang kewalahan tidak bisa mengimbangi ciumannya, hampir membuat wanita itu terjatuh.
Sandra memukul-mukul dada Dewangga ketika merasakan dia hampir saja kehabisan nafas, sehingga Dewangga melepaskan ciumannya, memberikan kesempatan kepada Sandra untuk mengambil nafas, mereka saling menatap satu sama lain.
Tanpa di duga, tiba-tiba Dewangga menggendong tubuh Sandra ala bridal style, membawanya menuju ranjang pengantin. Sandra terkesiap, dia mengalungkan kedua tangannya pada leher Dewangga. Wanita itu sangat gugup sekali, sampai jantungnya berirama begitu cepat.
Dewangga membaringkan tubuh Sandra diatas ranjang, dia memposisikan dirinya diatas tubuh wanita itu, memandangi wajah Sandra yang nampak merah merona, "Apa kamu gugup?"
Sandra berpura-pura bersikap baik-baik saja. "U-untuk apa aku gugup? Aku baik-baik saja kok."
Walaupun sebenarnya dia sangat gugup, karena harus menyerahkan sesuatu yang paling berharga untuknya demi mendapatkan seluruh harta kekayaan ayahnya, dia harus bisa segera memiliki seorang anak.
"Kamu masih memiliki kesempatan untuk berpikir kembali, aku tidak akan melakukannya jika kamu menolak. Namun, jika kamu memilih untuk melanjutkannya, jangan berpikir mencoba untuk berhenti." Dewangga menyuruh Sandra untuk berpikir kembali, seandainya dia bisa berkata jujur kepada Sandra bahwa dia mungkin suatu saat nanti akan menghilang di dunia ini, apakah Sandra sanggup membesarkan anak itu sendirian tanpa ada dia disisinya.
Sandra menelan saliva memandangi wajah Dewangga, kemudian dia melingkarkan tangannya ke leher pria itu, membuat bibir mereka menempel, sebuah pertanda bahwa Sandra memilih untuk melanjutkannya.
Dewangga mencium bibir Sandra dengan sangat rakus, melu-mat dan menyesapnya dengan begitu menggebu. Karena ini adalah keinginan Sandra, dia tidak perlu merasa bersalah kepada wanita itu jika suatu hari dia pergi menghilang ke dunia asalnya, karena memang tempat dia bukanlah disini.
Kemudian Dewangga membuka lingerie yang dikenakan oleh Sandra, wanita itu kini hanya memakai bra dan celana da-lam saja. Dewangga menciumi leher Sandra, sementara tangannya bergerak membuka pengait bra.
Kini bra itu telah terlepas dari tubuh Sandra. Sandra sangat gugup ketika melihat wajah Dewangga sangat dekat sekali dengan buah dadanya yang ranum dan sangat menggoda itu.
"Mmhhh!" Sandra terbelalak ketika merasakan lidah Dewangga menyentuh pu-ti-ngnya, bergerilya disana, lalu mengu-lumnya diiringi dengan hisapan yang kuat.
Tangan kirinya Dewangga mulai berkelana mere-mas-re-mas buah dada yang satu lagi. Memi-linnya dan memberikan rangsangan untuk membuat Sandra semakin bergairah.
Dewangga menjilati bulatan kenyal yang sangat menggoda itu, memutarkan lidahnya disekitar area puncak yang berwarna merah jambu. Kemudian dia menyesapnya kembali dengan kuat dan rakus, membuat Sandra melenguh kecil.