Blurb:
Dua belas tahun yang lalu, Jaxon Thorne memberikan segalanya, hatinya, janjinya, masa depannya pada wanita dengan sepasang mata hijau yang indah, Scarlett Reed yang merubah namanya menjadi Scarlett Quinn.
Lalu, dia terbangun di dunia yang hancur, hanya disisakan secarik surat perpisahan yang melukai hatimya.
Sejak saat itu, sang pewaris tunggal kerajaan bisnis Thorne itu membangun benteng kokoh di sekeliling hatinya, dingin, berkuasa, dan tak tersentuh.
Kekayaannya melimpah, tetapi kebenciannya pada pengkhianatan lebih membara dari apapun hingga dia tak percaya lagi akan cinta sejati dan suka mempermainkan wanita.
Namun, takdir berkata lain.
Semuanya berubah saat Jaxon bertemu dengan Dash Quinn, seorang bocah jenius berusia dua belas tahun pemenang olimpiade sains yang mendapat beasiswa dari perusahaannya.
Ada sesuatu pada senyum dan sorot mata anak itu yang membuat dunia Jaxon berguncang, sebuah pengingat yang tak tertahankan akan masa lalu yang dikuburnya dalam-dalam.
Semakin dekat Jaxon dengan Dash, semakin banyak fakta yang terungkap. Rahasia gelap itu akhirnya terbuka.
Penghianatan terbesar bukan berasal dari gadis sederhana yang dulu dicintainya, melainkan dari lingkaran terdekatnya sendiri, yaitu keluarganya.
Sekarang, dihadapkan pada kebenaran yang pahit, Jaxon harus memilih, tetap menjadi pewaris yang terluka seperti yang diharapkan keluarganya, atau menjadi pejuang yang mengambil kembali segala sesuatu yang telah dicuri darinya.
Sebuah perjalanan untuk menuntut balas, memperbaiki kesalahan, dan meraih keluarga yang tak pernah dia sangka bisa dimilikinya, sebelum segalanya benar-benar terlambat.
Mana yang akan dipilih Jaxon? Keluarganya yang licik atau keluarga barunya yang baru dia temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemberian
Namun yang membuat Scarlett benar-benar terpana adalah apa yang ada di sebelah kiri. Sebuah ruang terbuka yang luas, dengan dinding-dinding bermotif estetik dan beberapa layar backdrop putih yang terpasang di rel.
Di satu sisi, ada sebuah meja dengan monitor besar dan peralatan editing. Di sisi lain, sebuah rak menyimpan berbagai lensa kamera, peralatan cahaya fotografi profesional, dan aksesori fotografi.
Sebuah kamera mewah tergeletak di atas sebuah tripod, seolah menunggu untuk digunakan.
Ini adalah studio foto. Seperti studionya dulu. Dia berjalan pelan.
Tangannya meraba permukaan counter bar yang halus, lalu beralih ke kamera yang dingin. Dia memandang ke lantai atas, di mana ada sebuah tangga besi hitam. Jaxon mengangguk, mengizinkannya naik.
Lantai atas lebih pribadi. Ada sebuah ruang kerja kecil dengan buku-buku desain dan fotografi di rak, sebuah sofa panjang yang nyaman di dekat balkon, dan bahkan sebuah darkroom kecil untuk fotografi manual.
Semuanya dirancang dengan selera yang sempurna, selera nya. Minimalis, fungsional, namun tetap artistik dan hangat.
Scarlett berdiri di tengah ruangan, tidak bisa berkata-kata. Hatinya berdebar kencang.
"Sebuah studio dan kafe. Tak terlalu besar karena kau suka yang kecil dan hangat," kata Jaxon akhirnya, suaranya terdengar hati-hati dari bawah tangga. Dia naik dan berdiri di ambang ruangan.
“Tempat yang sepenuhnya milikmu."
Scarlett berbalik, matanya melebae. "Kau … kau menyiapkan ini? Untukku?"
"Kau bilang kau butuh kebebasan. Kau butuh sesuatu yang menjadi milikmu," ujar Jaxon, tangannya masuk ke dalam saku jaketnya. "Aku tidak mau mengembalikan apartemenmu karena aku ingin kau tetap bersamaku. Tapi aku bisa memberimu ini. Sepenuhnya atas namamu. Surat-suratnya sudah selesai. Ini adalah milik Scarlett Thorne, bukan bagian dari asetku atau yayasanku. Kau bisa melakukan apa saja yang kau mau di sini. Buka, tutup, ubah, jual, terserah kau."
Scarlett memandang sekeliling lagi, lalu menatap Jaxon. “Kenapa? Apa ini cara lain untuk mengontrolku? Memberiku kandang yang lebih cantik?"
Ekspresi Jaxon menyeringai, seperti terkena pukulan. Tapi dia tidak marah. "Aku tahu kau akan berpikir begitu. Tapi tidak. Aku ingin kau tetap punya kehidupan di luar menjadi istriku atau ibu Dash.”
Dia melangkah lebih dekat. "Aku tidak meminta imbalan apa pun, Baby. Ini hadiah. Atau lebih tepatnya … pengembalian. Aku telah mengambil banyak hal darimu. Biarkan aku mengembalikan setidaknya satu hal kecil ini."
Scarlett membalikkan badan tak ingin Jaxon melihat ekspresinya yang tersentuh. Scarlett berjalan ke balkon kecil.
Udara pagi yang lembap menerpanya. Di bawah, jalanan mulai ramai. Kehidupan berjalan. Dan di sini, ada sebuah ruang yang menunggu untuk dihidupkan oleh Scarlett.
Butuh waktu lama sebelum Scarlett bisa berbicara. Dia menahan air matanya tidak keluar, menarik napas dalam-dalam, dan kembali masuk ke ruangan.
Jaxon masih berdiri di sana, menunggunya dengan setia, selalu.
"Terima kasih," ucap Scarlett akhirnya, suaranya serak namun jelas. "Ini … ini luar biasa."
Wajah Jaxon berubah lega. Dia mengira akan ada penolakan dan kecurigaan dari Scarlett.
"Aku menerimanya," lanjut Scarlett. Dia tidak melompat kegirangan, tidak berlari memeluknya. “Terima kasih.”
Jaxon mengangguk, mencoba menyembunyikan betapa dalamnya pengaruh kata-kata sederhana itu padanya. "Bagus. Semua peralatannya sudah lengkap. Hanya tinggal menghubungkan listrik dan air. Stok untuk kafe bisa kau atur sendiri. Aku sudah mempekerjakan seorang manajer untuk membantu di awal jika kau mau, tapi dia akan sepenuhnya bertanggung jawab padamu."
Scarlett mengangguk, kembali memandangi sekeliling ruangan. "Aku ingin melihat dokumen kepemilikannya nanti."
"Tentu. Semua ada di meja kerjaku di rumah." Jaxon berhenti sejenak. "Kau bisa datang dan pergi sesukamu kemari. Tapi, aku tetap akan mengawasimu.”
"Aku akan mulai besok," ucapnya, memutuskan. "Ada banyak yang harus dilakukan."
"Kalau butuh bantuan apa saja, katakan padaku," tawaran Jaxon.
Scarlett hampir menolak, tapi dia berhenti. "Mungkin … nanti kau kubutuhkan.”
Jaxon tersenyum, senyum kecil. "Siap. Tak menciumku sebagai ucapan terima kasih pada suamimu?”
Scarlett menyipit dan kemudian menuju tangga—turun ke lantai satu.
“Apa nama kafe dan studionya?” tanya Jaxon sambil mengikuti Scarlett dari belakang.
Scarlett memandang keluar jendela, lalu ke peralatan fotonya. “Captured Light,” ucapnya.
“Apakah sama dengan kafemu yang dulu?”
“Tidak. Aku ingin nama baru,” jawab Scarlett.
Jaxon mengangguk pelan. "Sempurna."