Xeline pergi hanya meninggalkan sebuah pesan di WA
Bhima
Terimalah perjodohan dari orang tuamu.
Benar kata ibuku
aku tidak se worth it itu untuk dimiliki oleh seseorang
Semoga selalu bahagia bersama seseorang yang mencintaimu.
by Xeline NH
Trauma masa lalu Xeline membuat ia begitu yakin hal itu akan menarik Bhima pada kehidupan yang begitu gelap dan berantakan. Xeline memutuskan menjauh dari Bhima sejauh mungkin dari segala kenangan yang pernah membuatnya merasa hidup sekaligus hancur.
Bhima tetap disana. Menunggu dalam diam. Bertahun-tahun. Ia mencintai Xeline bukan dalam waktu sebentar. Ia juga tidak memberikan setengah. Cintanya utuh, meski ia ditinggalkan karena keinsecuran Xeline.
"Aku butuh kamu Xeline. Bukan kamu yang sempurna. Tapi kamu yang beserta pecahanmu yang berantakan. Aku hanya ingin kamu tetap disisiku. Selamanya bersamamu. Itulah janjiku padamu."
Akankah takdir bisa menyatukan kembali cinta mereka?
Happy Reading
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DUOELFA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Sepulang sekolah, saat Bhima dan Xeline berjalan beriringan.
"Bhim," sapa Xeline
"Iya."
"Apa kita perlu mencari tempat untuk ngobrol berdua?"
"Nggak perlu. Aku takut kamu malah dimarahi ibumu bila terlambat sampai rumah."
"Terus kita mau ngobrol apa?"
Bhima berhenti sejenak dan memandang Xeline.
"Aku cuma mau bilang. Cek pesanku di inbox mesengger. Tolong nanti on agak lama. Aku ingin ngomong sesuatu sama kamu. Itu saja. Sudah cepatlah pulang. Ibumu pasti khawatir bila kamu tidak segera sampai rumah. Bye," jelas Bhima.
Mereka berdua berpisah di koridor. Bhima menuju gerbang sekolah bagian depan, sementara Xeline ke arah parkiran dan keluar menuju gerbang di samping gerbang utama.
Sesampainya di rumah, Bhima bergegas ke kamarnya di lantai dua. Ia menyalakan laptop dan menunggu loading barang sebentar. Setelah selesai, ia melakukan klik di aplikasi biru dan mengirim messanger ke akun Xeline.
Bhima mengirim sebuah pesan.
Xel
Xeline membalas
Iyaa
Bhima mengirim pesan
Kamu memilih kita pacaran atau temenan?
jawablah dengan jujur tanpa paksaan apapun.
Aku memilih kita tetap sebagai pacar.
Di sisi lain
Xeline menatap layar notebook dengan seksama
Pacaran atau temenan? Bhima menanyakan hal ini pada Xeline? Kalimat itu terasa seperti pisau yang dibungkus kata-kata sederhana. Ternyata Xeline hanya dijadikan sebagai pilihan. Bukan tujuan.
Dadanya terasa sesak. Ia tidak marah. Tidak benar-benar. Hanya ada rasa kecil yang retak di dalam.
"Ternyata selama ini aku salah. Aku mengira dia mencintaiku. Aku hanya dijadikan sebagai pilihan. Bukan tujuan," batin Xeline.
Tangan Xeline bergerak ke keyboard. Ia mengetik satu kata yang terasa seperti menjatuhkan dirinya sendiri dari sesuatu yang sebenarnya masih ingin ia pertahankan.
Xeline mengetik kata
Berteman
Di rumah Bhima
Bhima menatap layar laptop dan fokus pada chat Xeline disana.
Berteman
Hati Bhima luruh seketika. Xeline hanya menganggapnya hanya seorang teman
Bhima membalas pesan
Okeyy Xel. Kita berteman
Bhima mengetik kalimat itu dengan perasaan sakit.
Bhima membalas lagi
Afinitas kita di ML yang sebelumnya lover, akan kucopot dan kuganti dengan pertemanan
Di sisi lain, Xeline menatap balasan dari Bhima dengan perasaan sakit juga.
Xeline membalas chat dari Bhima.
Iya nggak apa-apa
Bhima menatap balasan dari Xeline.
"Mengapa perempuan ini begitu pasrah? Emosi kek Xel?"Batin Bhima
Bhima membalas chat dari Xeline
Bila kamu tidak mau afinitas lovers kucopot, nggak akan kuganti. meski kita hanya berteman, nggak apa-apa kok status kita tetap lovers di ML. Kamu ingin apa?
Xeline membalas
Aku ingin menunggu sampai bunganya mekar. Setelah itu, kamu copot nggak pa pa
Bhima membalas
Kenapa?
"Jawablah. Kamu menunggu bunga mekar karena kamu mencintaiku, Xeline. Please," batin Bhima.
Xeline membalas
Aku ingin skin baru
Bhima menatap layar laptopnya.
"Tak adakah sedikit rasa cintamu untukku Xel?" batin Bhima.
Bhima membalas
okeyy. Afinitasnya tidak akan kucopot.
Xeline membalas
Makasih Bhim
Bhima membalas
Okeyy. Tetaplah menjadi temanku. Bila butuh apa, kabari. Aku akan dengan senang hati membantumu.
Xeline membalas
Iya
Bhima membalas
Makasih temanku
Bhima mengetik kalimat itu dengan lemah.
"Berteman dengan perempuan yang kusukai sekian lama? Mana bisa aku berteman dengan perempuan seperti Xeline?"Batin Bhima.
Ada pesan masuk di ponsel Bhima. Dari Mara, ibu Xeline.
Terima kasih mas Bhima
Bhima membalas
Iya udah Bu. Nggak apa-apa
Mara membalas untuk memastikan.
Nggak apa-apa kan kamu berteman dulu sama Xeline?
Bhima membalas
Yups. Nggak apa Ibu. Temen deket aja nggak apa.
Mara membalas
Malah enak temen deket ya. Nggak canggung kalau mau ngobrol sesuatu dan malah lebih bebas.
Bhima termenung membaca balasan Mara.
"Teman dekat? Apa ibu memikirkan ketakutanku,"batin bhima
Bhima membalas
Terserah Ibu. Aku ngikut aja. Jujurly sebenarnya aku takut kehilangan orang yang kusukai
Mara membalas
Takut kehilangan? Memang ada yang suka sama Xeline setelah terjadi bullying seperti ini? Seakan semua trauma Xeline terbuka
Bhima membalas dengan rasa tidak suka.
sudahlah Bu. Masalah kemarin nggak usah dibahas lagi.Toh aku dan Xeline juga akan berpisah. Sebenarnya kalau teman dekat itu sama saja dengan pacaran. Aku akan susah untuk melupakan Xeline.
Mara memandang chat Bhima. Ada rasa bersalah menyelinap di hati perempuan itu karena ia meminta Bhima putus dari Xeline, putri sulungnya. Mara mengirim pesan pada Bhima
Kamu masih suka sama Xeline?
Bhima membaca chat pertanyaan dari Mara. Ini seakan bukan pertanyaan. Tapi memastikan apakah ia suka sama Xeline ataukah tidak?
"Aku yang confess ke Xeline. Aku yang menginginkan kami menjalin sebuah hubungan lebih dari sekedar teman. Tapi mengapa cintaku masih dipertanyakan oleh ibu Xeline? Apakah rasa cinta begitu besar ini tidak terlihat di hadapan semua orang?" Batin Bhima.
Ia membalas pesan dari ibu Xeline
Suka ya suka sih
Mara mengirim pesan
Tapi?
Bhima membalas
Tapi apa?
Mara membalas
Masih suka?
Bhima membalas
Iya. Aku masih suka sama Xeline. Terus?
Mara membalas
Xeline mau jadi teman dekat kamu?
Bhima membalas
Iya
Mara membalas pesan
Saya minta maaf karena meminta kamu untuk memutuskan hubungan dengan Xeline. Biar dia selesai dulu dengan semua traumanya
Bhima membalas
Tenang saja Bu. Xeline maunya juga berteman denganku kok
Mara membalas
Benarkah ia mau berteman denganmu? Tapi saat ini sedang menangis
Bhima terperanjat menatap chat dari Mara. Ia sungguh tak menyangka orang yang dicintainya saat ini sedang menangis. Bhima terlihat menyugar rambutnya karena ia begitu bingung saat ini
Bhima mengirim chat ke Mara.
Loh-loh? Mengapa Xeline kok menangis?
Mara membalas
Katanya karena status afinitas dirubah
Bhima mengirim chat pada Mara untuk menjelaskan apa yang telah terjadi
Tadi sebenarnya aku mau merubah status afinitas. Bila kondisi Xeline menangis seperti ini, lebih baik afinitas nggak usah dirubah nggak apa-apa kok
Mara membalas
Sebenarnya afinitas itu apa?
Balasan dari Bhima
Itu tentang mobile Legends Bu
Mara membalas
Status apa gitu?
Bhima menjelaskan
Ibu pengen tahu? Sebenarnya itu tentang status lovers kami aplikasi game
Mara membalas
Itu menunjukkan apa? Pacar gitu?
Bhima membalas
Itu menunjukkan status kedekatan antar pemain di Mobile Legends. Status kedekatan paling intim ya status lovers. Itu hanya bisa digunakan oleh satu orang pemain
Mara membalas
Oh begitu. Sebenarnya Xeline tadi aku tanya. Kamu masih mau pacaran atau temenan sama Bhima? Kalau kamu pilih pacaran, tolong rubah lah sikapmu yang slow respon itu. Tapi Xeline malah menangis
Bhima menanggapi
Loh. Aku nggak pernah ngelarang Xeline untuk slow respon denganku. Toh ibu yang meminta agar aku temenan dengan Xeline.Jadi aku hanya mengikuti saja saran dari ibu. Bila Ibu meminta kami tetap pacaran, aku akan bertanya lagi sama Xeline tentang hal ini
Mara membalas
Tapi Xeline bilangnya aku nggak janji bisa fast respon sama Bhima. Maaf mas Bhima, itu berarti anakku masih memiliki trauma dalam dirinya. Dia masih asik dengan dunianya sendiri
Bhima membalas
Aku nggak apa-apa kok Bu. Aku juga sudah meminta Xeline untuk mengikuti kata hati. Tapi bila dia menangis, aku siap menerima bila dia ingin balikan denganku. Toh aku juga nggak bakal mencari perempuan lain
Mara mengirim balasan pesan
Ya udah kalian balikan aja
Kalimat Ibu Xeline seperti setetes embun di pagi hari yang begitu menyejukkan hati.
Bhima mengirim pesan dengan cepat pada Mara
Xeline ibu bilangin saja. Dari tadi kuInbox, nggak dibalas sama Xeline.