Dunia ini bukanlah tempat bagi mereka yang lemah si kaya terbang membelah awan layaknya naga, sementara si miskin terinjak sebagai debu di bawah kaki sang penguasa. Di tengah kejamnya takdir, hiduplah Zhou Yu, bocah laki-laki yang jiwanya jauh lebih dewasa dibanding usianya yang baru delapan tahun. Sejak kecil, ia adalah pelita bagi orang tuanya, sosok anak berbakti yang rela menghabiskan masa bermainnya di pasar demi menyambung hidup keluarga.
Namun, langit seolah runtuh saat Zhou Yu pulang membawa harapan kecil di tangannya. Aroma darah dan keputusasaan menyambutnya di ambang pintu. Ia menemukan sang ayah pria yang selama tiga bulan terakhir berjuang melawan sakit tergeletak mengenaskan dalam napas terakhirnya. Di sudut lain, ibunya terkulai lemas, tak berdaya, bersimbah darah dan dengan kondisi yang mengenas. Di detik itulah, kepolosan Zhou Yu mati. Dalam tangis yang tertahan, sebuah dendam dan ambisi membara ia tidak akan lagi mengubah nya menjadi sosok yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua jiwa dalam satu janji
Dua tahun telah berlalu sejak pilar cahaya biru membentengi Desa Harapan. Lembah yang dulunya sunyi kini telah berubah menjadi sebuah pemukiman yang hidup, hijau, dan penuh dengan aura kekuatan yang tenang namun tajam. Berkat latihan keras di bawah bimbingan Zhou Yu, warga desa bukan lagi sekadar pelarian tambang yang lemah. Mereka adalah petani, pengrajin, dan ibu rumah tangga yang mampu mengalirkan Qi ke dalam alat-alat kerja mereka, menciptakan pertahanan yang tak tertembus oleh bandit manapun yang berani mendekat.
Namun, kedamaian itu memiliki batas. Seiring kekuatannya yang meningkat, Zhou Yu mulai merasakan getaran yang tidak tenang dari pedang Han Shui. Kekaisaran sedang bergerak, dan ancaman yang akan datang bukan lagi sekadar perompak kecil, melainkan para jenderal kultivator yang mampu meruntuhkan gunung.
"Han Shui benar," ucap Zhou Yu suatu sore, menatap pantulan dirinya di permukaan air terjun yang jernih. "Perisai ini tidak akan bertahan selamanya jika pengetahuanku hanya sebatas ini."
Di sampingnya, Da Ge yang kini bertubuh semakin kekar dengan bekas luka yang menghiasi lengan besarnya, mengangguk pelan. "Aku merasakannya juga, Yu. Setiap kali aku mengalirkan energi ke paluku, aku merasa ada dinding yang tidak bisa kutembus. Kita butuh ilmu yang lebih tinggi."
Ling'er mendekat, membawa nampan berisi teh herbal. Wajahnya kini tampak lebih dewasa dan anggun, namun sorot matanya tetap selembut embun pagi. "Jika itu demi keselamatan mereka," ia menoleh ke arah desa yang damai di bawah sana, "maka tidak ada jalan lain. Kita harus belajar untuk menjadi perisai yang sesungguhnya."
Keputusan telah bulat. Mereka bertiga akan merantau menuju ibu kota kekaisaran, tempat akademi kultivasi tertinggi berada. Namun, meninggalkan tempat yang telah menjadi jiwa mereka bukanlah perkara mudah.
Malam sebelum keberangkatan, suasana desa terasa berbeda. Tidak ada kesedihan yang mencekam, justru obor-obor dinyalakan lebih terang dari biasanya. Meja-meja panjang disusun di lapangan tengah, dipenuhi dengan hasil panen terbaik.
Nyonya Liu, yang kini rambutnya telah memutih seluruhnya namun tetap tampak bugar, mendekati Zhou Yu yang sedang duduk bersama Ling'er dan Da Ge.
"Malam ini bukan hanya perpisahan untuk perjalanan kalian," ucap Nyonya Liu dengan senyum penuh misteri. "Malam ini adalah malam di mana kami, seluruh warga desa, ingin membalas hutang nyawa dan harapan yang kau berikan."
Tiba-tiba, Da Ge ditarik oleh beberapa pria dewasa untuk bergabung dengan mereka, menyisakan Zhou Yu dan Ling'er yang berdiri bingung di tengah lingkaran warga. Suasana mendadak menjadi sangat dramatis saat musik kecapi tradisional mulai dimainkan dengan nada yang dalam dan menyentuh hati.
"Zhou Yu, anakku," suara Nyonya Liu menggelegar lembut. "Selama bertahun-tahun,kau telah mengorbankan setiap tetes keringatmu untuk kami. Kau adalah pemimpin kami, pelindung kami. Namun, kami tahu ada satu hal yang belum kau selesaikan untuk dirimu sendiri."
Para wanita desa maju membawa untaian bunga melati putih yang sangat harum, sementara para pria membawa kain sutra merah yang ditenun secara tradisional selama berbulan-bulan tanpa sepengetahuan Zhou Yu.
"Kami tahu kau akan pergi ke tempat yang berbahaya," lanjut Nyonya Liu. "Dan kami tidak ingin kau pergi tanpa sebuah ikatan yang sah. Kami ingin kau pergi dengan kekuatan cinta yang sudah direstui oleh bumi dan langit tempat ini."
Zhou Yu tertegun. Ia menoleh ke arah Ling'er yang wajahnya kini memerah secerah warna sutra yang dibawa warga. Mata Ling'er berkaca-kaca, ia sama terkejutnya dengan Zhou Yu. Ternyata, selama ini seluruh warga desa telah bersekongkol untuk menjodohkan dan menikahkan mereka secara adat desa sebelum mereka melangkah keluar dari lembah itu.
"Apakah ada yang keberatan jika malam ini, di bawah perlindungan Perisai Arus Langit, kita menyatukan Zhou Yu dan Ling'er sebagai pasangan sejati?" tanya Nyonya Liu kepada warga.
"TIDAK!" teriak warga serempak dengan nada yang penuh kegembiraan.
"Kau pasti bisa menjaga Ling'er, Zhou Yu! Kami mempercayaimu!" seru salah satu warga dari kejauhan.
Da Ge kembali ke sisi mereka, wajahnya yang garang kini basah oleh air mata haru. Ia meletakkan tangannya di bahu Zhou Yu dan Ling'er. "Yu, kau sudah menjadi saudara bagiku. Tidak ada orang lain yang pantas menggandeng tangan Ling'er selain kau."
Suasana menjadi sangat dramatis saat Zhou Yu perlahan berlutut di depan Ling'er, di hadapan seluruh warga yang telah menjadi keluarganya. Di bawah pendar biru perisai kuno yang ia bangkitkan dengan darah dan air matanya sendiri, Zhou Yu mengambil tangan Ling'er.
"Ling'er," suara Zhou Yu bergetar karena emosi yang meluap. "Dulu aku berjanji akan menjagamu di tambang yang gelap. Sekarang, di depan semua orang yang kita sayangi, aku berjanji akan membawamu melihat dunia, melindungimu dengan pedangku, dan kembali ke tempat ini bersamamu untuk menua bersama. Maukah kau menjadi teman hidupku dalam perjalanan yang panjang ini?"
Ling'er tidak bisa lagi menahan air matanya. Ia mengangguk pelan namun pasti. "Ke mana pun kau melangkah, itulah rumahku, Kak Yu."
Nyonya Liu kemudian melilitkan kain sutra merah di tangan mereka yang bertautan, sebuah simbol ikatan yang tidak akan pernah putus oleh jarak maupun maut. Warga desa bersorak, namun sorakan itu segera berubah menjadi doa-doa yang dilantunkan secara merdu, menciptakan getaran energi yang hangat di seluruh lembah.
Momen itu begitu hangat dan dramatis. Zhou Yu menyadari bahwa cinta warga desa kepadanya sama besarnya dengan cintanya kepada mereka. Perjodohan ini bukan sekadar adat, melainkan cara warga memberikan "kekuatan batin" bagi pemimpin mereka agar ia selalu memiliki alasan untuk pulang dalam keadaan selamat.
Setelah upacara singkat namun penuh makna itu, mereka merayakan malam terakhir dengan penuh suka cita. Da Ge tertawa lepas bersama warga, sementara Zhou Yu dan Ling'er duduk berdampingan, menatap bintang-bintang melalui celah perisai transparan.
"Besok semuanya akan berubah, Ling'er," bisik Zhou Yu.
"Besok perjalanan kita akan sangat panjang, Kak Yu," jawab Ling'er, kini dengan status baru sebagai istri dari sang pelindung lembah.
Fajar menyingsing dengan warna kemerahan yang megah. Di gerbang desa, seluruh warga berdiri melepas kepergian tiga pahlawan mereka. Zhou Yu mengenakan pakaian perjalanan yang ringkas dengan pedang Han Shui yang terikat di punggungnya. Ling'er membawa tas berisi perbekalan dan obat-obatan, sementara Da Ge memanggul palu raksasanya dengan bangga.
Saat mereka melangkah keluar dari batas perisai, Zhou Yu berhenti sejenak. Ia melihat kembali ke arah desa yang kini tampak begitu kecil namun sangat berharga. Ia mengalirkan Qi terakhirnya ke perisai tersebut, memastikan pondasinya akan tetap kuat selama beberapa tahun ke depan tanpa kehadirannya.
"Ayo," ajak Zhou Yu.
Mereka bertiga berjalan meninggalkan lembah, menuju jalanan berdebu yang akan membawa mereka ke pusat kekaisaran yang megah namun penuh intrik. Perjalanan 1000 mil dimulai dengan satu langkah, namun kali ini, langkah Zhou Yu terasa sangat ringan. Ia membawa harapan seluruh desa di pundaknya, keberanian Da Ge di sampingnya, dan cinta abadi Ling'er di genggaman tangannya.
Dunia mungkin sangat luas dan penuh dengan kultivator iblis maupun pasukan yang kejam, namun bagi Zhou Yu, ia telah memenangkan pertempuran terpenting dalam hidupnya ia telah menemukan alasan mengapa ia harus terus menjadi lebih kuat. Bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk menjaga cahaya yang ia tinggalkan di Desa Harapan.