Hidup yang sangat berkecukupan membuat seorang Anya Febiola Anggara sangat terlena dengan kemewahan yang ia miliki.
Sampai suatu hari keadaan berbalik sangat drastis, membuat kedua orang tua Anya terpaksa menjodohkan anak mereka kepada rekan bisnis yang akan membantu membangkitkan kembali keadaannya yang saat itu tengah terpuruk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penurut
"Anya! Ayo jalan-jalan!" rengek Arga dengan nada manjanya sambil mengguncang-guncang lengan Anya yang tengah asyik membaca buku di kursi taman halaman belakang rumah.
Sedari tadi, Arga terus saja merengek meminta untuk diajak jalan-jalan, namun Anya tetap tidak bergeming. Ia lebih memilih untuk fokus pada bukunya daripada meladeni Arga yang hanya akan membuatnya pusing.
"Anya, jangan diam saja! Arga mau jalan-jalan!" Arga terus merengek dan mengganggu Anya dengan nada yang semakin meninggi.
Dengan kesal, Anya menutup bukunya dan menatap Arga dengan tatapan tajam. "Kau mau pergi ke mana, hah?! Aku sedang tidak mood untuk keluar rumah," ucapnya dengan nada ketus dan wajah masam.
Mendengar ucapan Anya, Arga langsung tersenyum cerah. "Mau ke mall! Kita belanja macam-macam! Arga mau beli mainan baru yang keren sama cokelat kesukaan Arga," jelasnya dengan nada riang.
"Oh iya, susu Arga juga mau habis! Kalau nanti malam tidak minum susu, Arga pasti tidak bisa tidur nyenyak," ucapnya lagi, mengingat persediaan susu kesukaannya yang hampir kosong.
Mendengar tentang susu Arga yang hampir habis, Anya yang tadinya dilanda kemalasan mendadak merasa bersemangat. Ia teringat betul, jika sampai Arga kekurangan susu, anak itu akan menangis meraung-raung di tengah malam dan tidak akan berhenti sampai pagi menjelang, membuat dirinya merasa seperti ingin gila.
Dengan berat hati, ia menghela napas panjang dan menyetujui permintaan Arga. "Baiklah, baiklah, tapi dengar baik-baik! Di mall nanti jangan macam-macam. Kalau kau tidak nurut, akan kutinggal di sana!" ucapnya dengan nada mengancam, lalu berbalik dan berjalan meninggalkan Arga yang sudah melompat-lompat kegirangan.
Sambil menunggu Anya yang sedang berdandan, Arga duduk di teras depan rumah dan memainkan jari-jarinya dengan tidak sabar.
"Hai, Arga," sapa Rina, sambil sibuk menyiram tanaman di halaman rumahnya.
Arga menoleh ke arah sumber suara, yaitu rumah Rina yang berada di sebelah kiri rumahnya. Ia menyapa Rina dengan senyum lebar yang menampakkan giginya yang putih. "Hai, Rina!"
Rina memindai penampilan Arga dari atas hingga bawah dengan tatapan menyelidik. "Wah, rapi banget. Mau pergi ke mana, Arga?" tanyanya dengan nada penasaran.
Dengan senyum polosnya, Arga menjawab dengan riang. "Arga mau pergi jalan-jalan ke mall, Rina!"
Rina langsung berhenti menyiram tanaman dan langsung menghampiri Arga dengan langkah cepat. "Benarkah? Kau pergi dengan siapa saja?" tanya Rina dengan nada ingin tahu yang terkesan berlebihan.
"Anya," jawab Arga singkat, tanpa menyadari maksud terselubung Rina.
Mendengar jawaban itu, Rina tersenyum lebar dengan ekspresi yang sulit diartikan. "Wah, seru sekali. Kalau begitu, bolehkah aku ikut jalan-jalan dengan kalian?" tanyanya dengan nada yang dibuat semanis mungkin.
Arga hendak menjawab, namun Anya tiba-tiba muncul dan menyela pembicaraan mereka. "Tidak!" ucapnya dengan nada ketus sambil menghampiri keduanya.
Dengan tatapan polos yang kebingungan, Arga menatap Anya. "Kenapa Rina tidak boleh ikut dengan kita, Anya?" tanyanya dengan nada ingin tahu.
"Tidak bisa, Arga," jawab Anya dengan nada lembut sambil membelai pipi Arga, sama sekali tidak mempedulikan kehadiran Rina. "Aku hanya ingin bersenang-senang denganmu saja. Aku tidak membutuhkan orang lain untuk menemani kita." Ia menggenggam erat tangan Arga, seolah ingin melindungi Arga dari pengaruh Rina.
Arga menatap Rina dengan raut wajah bersalah. "Maaf ya, Rina, Anya tidak mengizinkanmu untuk ikut," ucapnya dengan nada menyesal.
"Ah, sayang sekali. Padahal kalau aku ikut, pasti akan lebih menyenangkan!" ucap Rina dengan nada kecewa yang dibuat-buat, berusaha membuat Arga merasa bersalah.
Mendengar nada kecewa Rina, Arga merasa tidak enak hati. "Anya, bagaimana kalau Rina ikut saja dengan kita?" tanyanya dengan nada memohon.
Anya mendengus kesal dan memutar bola matanya. "Kalau kau lebih suka pergi dengan Rina, sana pergi saja! Aku tidak mau ikut!" ucapnya dengan nada ketus.
Dengan panik, Arga menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan memegang erat lengan Anya, takut Anya benar-benar meninggalkannya.
"Arga, apa kamu yakin tidak mau jalan-jalan denganku saja? Nanti aku traktir semua yang kamu mau," tanya Rina dengan nada memelas dan senyum manis, berusaha memenangkan hati Arga. "Di mall pasti banyak mainan baru yang keren. Aku bisa membelikanmu apa saja yang kamu inginkan."
Anya menatap Rina dengan tatapan menusuk yang penuh amarah. "Jangan coba-coba merayu Arga dengan iming-iming murahan! Kau tidak dengar tadi, Arga sudah menolakmu secara halus!" bentaknya dengan nada geram.
Dengan nada tegas dan penuh keyakinan, Arga berseru, "Tidak! Arga maunya sama Anya!" ucap Arga dengan nada tegas, mengeratkan pegangannya pada lengan Anya seolah tak ingin melepaskannya. Ia menatap Rina dengan tatapan menyesal, namun keputusannya sudah bulat. "Maaf, Rina. Mungkin lain waktu saja, ya?"
Dengan nada dingin dan menusuk hati, Anya berkata kepada Rina, "Rina, daripada kamu terus memaksa, lebih baik kamu pulang saja." Senyum sinis tersungging di bibirnya, menunjukkan rasa puasnya. "Kamu tidak lihat, Arga sudah terang-terangan menolakmu? Jangan membuat dirimu semakin malu."
"Ayo, Arga, lebih baik kita segera pergi sebelum matahari semakin terik," ajak Anya sambil menggandeng tangan Arga, berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Rina yang berdiri mematung dengan wajah merah padam menahan amarah.
Saat mereka sudah berada di dalam mobil, Arga bertanya kepada Anya dengan nada penasaran, "Kenapa Anya tidak suka sama Rina, sih?"
Anya mengangkat bibirnya tinggi-tinggi lalu mendecih dengan jijik. "Apa kau tidak bisa merasakan, aura dari wajahnya saja sudah menunjukkan niat jahat? Dia itu jelek sekali, Arga. Aku kan lebih cantik darinya, jadi aku merasa risih kalau melihat orang jelek seperti dia," ujar Anya dengan nada angkuh.
Dengan polosnya, Arga mengangguk-angguk mengerti. "Tapi, Rina kan baik sama Arga," ucapnya dengan nada polos.
Anya langsung melirik Arga dengan tatapan tajam yang memperingatkan. "Oh, jadi kau lebih suka sama Rina? Ya sudah, sana saja sama Rina! Aku tidak mau menemani orang yang lebih suka sama orang lain," ancamnya dengan nada sinis, membuat Arga langsung ketakutan.
"Tidak, tidak, Anya! Arga minta maaf. Arga lebih sayang Anya," ucapnya dengan nada memohon dan wajah memelas.
Senyum licik menghiasi wajah Anya, merasa menang karena berhasil mengendalikan Arga. Dengan lembut, ia mengusap kepala Arga. "Bagus, Arga. Kamu akan semakin tampan dan manis kalau selalu menuruti perkataanku," ucapnya dengan nada manis yang dibuat-buat.
Dengan patuh, Arga hanya mengangguk dan menyenderkan kepalanya di bahu Anya. "Arga mengantuk, Anya. Nanti kalau sudah sampai, bangunin Arga ya, Anya?" ucapnya dengan nada lirih.
"Iya, lebih baik kamu tidur saja daripada memikirkan Rina yang tidak penting itu," sahut Anya dengan nada sinis dan tatapan meremehkan.