Aru dan Kenan adalah cerita tentang luka yang tak sengaja saling bersentuhan.
Aru, perempuan lembut dengan keteguhan hati yang sunyi, dipertemukan dengan Kenan—seorang ayah tunggal yang keras, protektif, dan menyimpan ketakutan terdalam akan kehilangan.
Sebuah pertemuan yang seharusnya biasa justru berujung luka, membuka tabir emosi yang selama ini terkunci rapat. Di tengah kesalahpahaman, tangisan seorang anak, dan perasaan bersalah, tumbuh kehangatan yang tak direncanakan.
Ketulusan Aru yang menenangkan dan naluri keibuannya perlahan meruntuhkan dinding pertahanan Kenan. Sementara Kenan, tanpa sadar, kembali belajar mempercayai cinta—meski hatinya terus mengingatkan untuk menjauh.
Ini bukan kisah cinta yang terburu-buru, melainkan perjalanan perlahan tentang luka, tanggung jawab, dan keberanian untuk membuka hati sekali lagi.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Pagi merambat perlahan ke dalam ruang rawat. Cahaya matahari yang hangat menyelinap lewat celah tirai tipis, memantul lembut di lantai putih dan dinding yang beraroma antiseptik. Suasana rumah sakit masih tenang—hanya sesekali terdengar langkah perawat di lorong dan bunyi alat monitor yang berdetak pelan, setia menemani detak hidup di ruangan itu.
Kenan mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya benar-benar sadar. Kepalanya terasa berat, namun lebih ringan dibanding semalam. Saat ia mencoba menggerakkan tubuhnya, rasa nyeri tajam di punggung langsung menyergap, membuat dahi pria itu berkerut dan napasnya tertahan sesaat.
“Pelan-pelan, Mas,” suara Aru terdengar sigap dari sisi ranjang. Tangan Aru reflek menahan bahu Kenan agar tidak bergerak terlalu banyak. “Jangan dipaksa.”
Kenan mengangguk kecil, rahangnya mengeras menahan rasa sakit. “Kayak ditusuk-tusuk,” gumamnya lirih, sedikit berusaha bercanda meski wajahnya jelas menahan perih.
Aru mendengus pelan, ada senyum tipis di sudut bibirnya. “Ya iyalah,” sahutnya lembut tapi tegas. “Kamu dijahit, Mas. Bukan lecet jatuh dari motor.”
Kenan terkekeh kecil, lalu menghela napas pelan. “Pantes.”
Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka. Bisma dan Alvaro masuk bersama seorang perawat. Keduanya tampak profesional seperti biasa—jas putih rapi, ekspresi fokus. Perawat mulai memeriksa tekanan darah dan suhu tubuh Kenan, sementara Alvaro membuka catatan medis di tablet.
Bisma mendekat, menatap luka Kenan dengan seksama sebelum akhirnya menoleh ke arah wajah pria itu. “Gimana rasanya sekarang?”
“Masih sakit,” jawab Kenan jujur. “Tapi nggak separah semalam.”
“Itu wajar,” ujar Bisma. “Kalau kondisi lo stabil sampai sore nanti, besok lo bisa pindah ke ruang rawat biasa.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang lebih serius, “Tapi ingat, nggak boleh kerja dulu.”
Kenan langsung menghela napas panjang, ekspresi pasrah terpampang jelas. “Itu yang paling berat, Bis.”
Bisma terkekeh ringan. “Ya mau nggak mau lo harus tahan dulu.”
Kenan mendengus kecil, seperti anak kecil yang diperingatkan. “Luka lo tergolong berat,” lanjut Bisma. “Jadi harap patuh.”
Alvaro ikut menyahut sambil melipat tangannya di depan dada. “Seharusnya sebagai mantan dokter aktif, lo tau banget konsekuensi dari tiap gerakan yang lo lakuin.”
“Iya, iya, gue paham,” rungut Kenan. Nada suaranya datar, tapi jelas menunjukkan ketidakrelaan. Aru yang berdiri di samping hanya tersenyum tipis sambil menggeleng
Belum sempat suasana kembali tenang, pintu kamar kembali terbuka. Kali ini Mami Amara masuk lebih dulu, diikuti Nathan, Joe, Papi Bas, dan Kai yang masih berada dalam gendongan Joe. Kehadiran mereka langsung menghangatkan ruangan yang tadinya terasa dingin dan steril.
“Assalamu’alaikum,” sapa mereka hampir bersamaan.
“Waalaikumsalam,” jawab Kenan dan Aru.
“Eh, lagi rame,” ucap Mami Amara sambil menatap Bisma dan Alvaro. Nada suaranya hangat, wajahnya terlihat lega melihat Kenan sudah sadar.
“Kami baru aja selesai periksa pasien khusus ini, Tan,” jawab Bisma sambil tersenyum kecil.
“Makasih, Bisma, Varo,” ujar Mami Amara tulus. “Kalian udah bantu Kenan.”
“Udah seharusnya, Tan,” sahut Alvaro. “Lagian Bang Kenan juga pasien rumah sakit kami.”
Di sudut ruangan, Kai mulai menggeliat di dalam gendongan Joe. Matanya yang besar menatap ke arah ranjang, lalu wajah kecil itu langsung berseri.
"Daddy… Daddy,” panggil Kai dengan suara lantang.
Joe langsung menghela napas. “Sabar, Kai. Bapakmu nggak bisa gendong kamu. Sama uncle aja dulu.”
Kai langsung manyun, wajah polosnya berubah cemberut. “Enggak. Uncle bau,” katanya jujur tanpa dosa.
Ruangan seketika dipenuhi tawa kecil. Joe mendecak kesal. “Ck. Perasaan dari rumah tadi kamu nggak mau lepas dari gendongan uncle ya, Kai,” protes Joe sambil tersenyum miring.
“Biar Kai nya sama aku aja, Joe,” ujar Aru, lalu mengulurkan tangan.
“Ni, ambil anak lo ini,” kata Joe setengah kesal setengah lega sambil menyerahkan Kai ke Aru.
Begitu berada di pelukan Aru, Kai langsung tenang. Ia menoleh ke arah Kenan di ranjang, matanya berbinar.
“Bunda,” panggilnya.
“Iya, sayang,” jawab Aru lembut.
Kai yang berada di pelukan Aru tiba-tiba mengangkat tangannya. Jari kecilnya menunjuk lurus ke arah Kenan yang terbaring di ranjang. Wajahnya tampak serius, seolah baru saja menyimpulkan sesuatu yang sangat penting.
“Daddy sakit,” ucapnya lantang. Lalu dengan nada penuh keyakinan ia menambahkan, “Daddy ditusuk sama Om Athan.”
Beberapa detik ruangan itu hening—lalu pecah oleh reaksi spontan Nathan.
“Loh, kok jadi om sih Kai?” Nathan menunjuk dadanya sendiri, ekspresinya antara kaget dan geli. “Mana ada om tusuk papa kamu. Itu tuh—” ia mengarahkan dagunya ke arah dua pria berjas putih di sudut ruangan, “—salahin dua om yang pakai jas putih itu.”
Kai langsung memutar kepala. Matanya yang bulat menatap Bisma dan Alvaro bergantian, penuh rasa ingin tahu. Kedua pria itu refleks tersenyum, aura profesional mereka mendadak mencair.
“Hai, Kai,” sapa Bisma lembut.
“Hai, Om,” jawab Kai polos, suaranya kecil tapi jelas.
Bisma sedikit merunduk agar sejajar dengan pandangan Kai. “Kai mau ikut om nggak?” tanyanya hati-hati, seperti sedang bernegosiasi dengan klien paling penting.
Alvaro ikut menimpali, suaranya dibuat ceria. “Kita beli jajan sama mainan.”
Begitu kata mainan terdengar, mata Kai langsung berbinar. Wajahnya yang semula serius berubah cerah seketika, bibirnya melengkung membentuk senyum lebar. Tubuh kecilnya bergerak-gerak gelisah, jelas tergoda.
“Kai ikut om…” ucapnya antusias, lalu terdiam sejenak. Alisnya berkerut kecil, tampak kebingungan. Ia menoleh sebentar ke Aru, lalu kembali ke dua om asing itu, seolah mencari petunjuk. “…ikut om siapa?”
Bisma terkekeh kecil. “Om Bisma.”
“Om Varo,” sambung Alvaro sambil melambaikan tangan kecil ke arah Kai.
“Oh!” Kai mengangguk mantap, seolah nama itu sangat penting untuk diingat. “Iya! Kai ikut Om Bis sama Om Aro!”
Tanpa ragu lagi, Kai langsung merentangkan tangan. Aru tersenyum pasrah saat tubuh kecil itu berpindah dari pelukannya ke gendongan Bisma. Kai bahkan sudah melambai-lambai kegirangan, seakan lupa bahwa tadi ia bersikeras ingin bersama papanya.
“Denger kata mainan doang langsung mau dibawa pergi,” sindir Joe sambil menggeleng pelan, nada suaranya setengah kesal setengah geli.
Kenan meliriknya sambil tersenyum tipis. “Jangan kayak anak kecil, Joe.”
“Ck,” Joe mendengus. Ia langsung berjalan ke sofa dan menjatuhkan diri di sana dengan wajah masam, meski sudut bibirnya tetap berusaha menahan senyum.
Bisma kemudian menoleh ke arah Kenan, ekspresinya kembali profesional tapi tetap hangat. “Boleh gue sama Varo bawa Kai keluar sebentar?”
Kenan mengangguk tanpa ragu. Tatapannya lembut menatap anaknya. “Tolong balikin anak gue dalam keadaan nggak kurang satu pun,” katanya pelan, lalu menambahkan dengan nada bercanda yang halus, “termasuk senyumnya.”
“Oke,” jawab Bisma mantap.
Ia lalu menoleh ke arah yang lain. “Tante, Om, Nat… kami izin bawa Kai keluar dulu.”
Mami Amara tersenyum lebar. “Iya, hati-hati.”
Papi Bas mengangguk kecil. Nathan mengacungkan jempol. Aru tersenyum sambil mengusap punggung Kai pelan.
“Jangan nakal ya, cucu Nekna,” pesan Mami Amara lembut.
“Iya, Nekna,” jawab Kai patuh, meski matanya sudah tak sabar menatap pintu.
“Kami pergi dulu, Dek,” ujar Alvaro sambil tersenyum ke arah Aru.
“Iya, Bang. Hati-hati,” balas Aru.
“Dadada,” Kai melambaikan tangannya dengan semangat.
Pintu kamar pun tertutup perlahan. Suasana ruangan kembali tenang, tapi kehangatan itu masih tertinggal—seperti gema tawa kecil yang baru saja lewat, meninggalkan senyum di wajah semua orang yang tersisa di dalam ruangan.
Mami Amara melangkah mendekat sambil membawa beberapa kotak makanan. “Ini Mami ada bawa sarapan untuk kalian,” ucapnya lembut.
“Makasih, Tante,” jawab Aru sambil tersenyum.
Mami Amara menatap Aru dengan sorot mata penuh rasa sayang. “Seharusnya Tante yang berterima kasih. Kamu sudah mau jagain Kenan di sini.”
Aru menggeleng pelan. “Udah seharusnya, Tante. Kalau waktu itu Mas Kenan nggak sigap… mungkin Aru yang ada di atas ranjang ini sekarang.”
Kenan menoleh. Tatapannya tertuju penuh pada Aru, suaranya pelan namun tegas, “Udah seharusnya, Ru.”
Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat pipi Aru merona. Ia menunduk sedikit, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Tatapan Kenan tak juga berpaling—dalam, hangat, dan terlalu jujur untuk dihindari.
Melihat momen itu, jiwa jahil Jo langsung memberontak.
“Ekhm… ekhm…” Jo berdeham keras. “Udah kali tatap-tatapannya. Hargai yang jomblo dong.”
Aru tersentak kecil, langsung gugup. Tangannya refleks merapikan kerah bajunya. Sementara Kenan justru tersenyum kecil, jelas menikmati reaksi Aru.
Mami Amara dan Papi Bas saling pandang lalu tersenyum tipis—senyum orang tua yang melihat sesuatu tumbuh dengan sendirinya.
“Ck. Ganggu aja,” gerutu Kenan, pura-pura kesal.
Untuk menutupi kegugupannya, Aru cepat-cepat mengalihkan topik. “Mas, lebih baik sarapan dulu. Habis itu baru minum obat.”
“Iya,” jawab Kenan patuh.
Aru mengambil bubur yang dibawakan Mami Amara. Aromanya hangat, menenangkan. Ia duduk di kursi samping ranjang, mangkuk di tangan.
“Mau Aru bantu suapin?” tanyanya ragu.
“Boleh banget,” jawab Kenan cepat—terlalu cepat.
“Yang sakit punggung lo, bukan tangan.”ucap Joe menatap malas Leo.
“Tapi semua badan gue sakit, Joe,” keluh Kenan dengan nada manja yang sama sekali tidak terdengar meyakinkan.
“Alasan,” sergah Joe tanpa dosa.
Kenan menoleh ke Aru. “Aku mau duduk, Ru.”
Aru langsung berdiri. “Joe, Nat, tolong bantu Mas Kenan duduk ya.”
Joe dan Nathan segera menghampiri. Mereka mengatur sandaran ranjang dengan hati-hati, memastikan Kenan tidak terlalu banyak bergerak.
“Makasih, saudara-saudaraku,” ucap Kenan sambil tersenyum puas.
“Ck. Geli gue dengernya,” balas Joe.
Aru kembali duduk, menyendokkan bubur perlahan. “Pelan-pelan ya, Mas.”
Kenan membuka mulut dengan patuh. Setiap suapan terasa lebih hangat dari bubur itu sendiri. Sesekali Aru membersihkan sudut bibir Kenan dengan tisu, gerakannya telaten tanpa sadar.
Nathan yang melihat dari samping tersenyum kecil. “Mas Kenan kelihatan cocok dimanjain.”
“Kelihatan?” Joe nyelutuk. “Itu mah keterlaluan.”
Kenan hanya tersenyum, matanya tak lepas dari Aru.
“Yang sakit cuma kaki, tapi manjanya minta ampun,” sindir Joe. Ia duduk bersama Papi Bas dan Mami Amara, jelas malas melihat Kenan yang sedang berada dalam mode manjanya.
“Diam lah, Joe. Jangan mengganggu hari bahagia gue,” sahut Kenan santai.
“Iya, iya,” Joe mengangkat tangan menyerah.
“Gue nggak bakal ganggu hari bahagia pahlawan yang sudah menyelamatkan nyawa gue. Terima kasih ya, Pak Bos.”
Kenan tersenyum miring. “Iya, sama-sama. Tapi semua itu nggak gratis, Joe.”
“Terserah lo lah,” balas Joe malas.
Papi Bas, Mami Amara, Aru, Nathan hanya bisa saling pandang lalu menggeleng-geleng kecil, senyum tipis terukir melihat perdebatan kecil yang terasa akrab dan penuh kehangatan itu.
Sementara itu, Kenan tersenyum lebar di dalam dadanya, ada rasa hangat yang tak bisa ia jelaskan. Nyeri di punggung masih ada, tubuhnya masih lemah—tapi hatinya terasa penuh.
"Ada untungnya juga gue terbaring di sini,Kalau dengan begini aku bisa lihat kamu sedekat ini, Aku rela Ru. Aku nggak akan pernah lepasin kamu, Ru. Dalam keadaan apa pun." batinnya.
Bersambung.................