Ia pernah menjadi Monarch—penguasa yang berdiri di puncak segalanya. Namun pengkhianatan merenggut tahtanya, menghancurkan kerajaannya, dan memaksanya mati berulang kali dalam siklus reinkarnasi yang panjang. Selama ratusan kehidupan, ia menunggu. Menunggu para bawahannya yang tersebar, tertidur, atau tersesat di berbagai dunia. Di kehidupan terakhirnya, saat tubuhnya menua dan kematian kembali mendekat, sebuah system akhirnya terbangun—bukan ciptaan dewa, melainkan jelmaan dari salah satu rekan lamanya. Dengan kematian itu, sang raja kembali terlahir, kali ini di dunia yang sama… namun telah berubah drastis dalam beberapa ratus tahun.
Dunia yang ia kenal telah runtuh, kekaisaran bangkit dan jatuh, gereja menguasai kebenaran, dan para dewa mengawasi dari kejauhan. Dengan system yang setia di sisinya dan ingatan dari kehidupan-kehidupan sebelumnya, sang Monarch memulai perjalanannya sekali lagi: membangkitkan bawahan yang tersisa, membangun kekuatan dari bayang-bayang, dan menuntut balas atas pengkhianatan lama yang belum lunas. Ini bukan kisah pahlawan yang diselamatkan takdir—ini adalah kisah seorang raja yang menolak mati sebelum dunia membayar hutangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sughz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.12. First Blood Drawn
Jalanan sepi dan langit yang gelap, Theo ditemani oleh lima orang yang mengelilinginya dengan senjata yang di arahkan padanya.
Senyum di wajah mereka tak bisa menyembunyikan niat mereka.
Theo mendengus pelan.
“Hei bocah, hebat juga kau bisa menyadari keberadaan kami,” ucap pria berwajah seram, mengacungkan pedang kecil.
“Wajah kalian terlalu jelek untuk disembunyikan,” balas Theo.
Urat kelima orang itu keluar, marah karena ejekan Theo.
“Hei anak kecil, kurasa mulutmu itu harus diberi pelajaran,” ucap pria yang membawa kapak besar di tangannya.
“Serahkan saja cincin itu, lalu kau akan mati tanpa rasa sakit,” ucap pria satu lagi di depan Theo.
“Apa kalian pernah mati?” tanya Theo.
‘Hei Lily apa yang harus kulakukan?’ ucap Theo dalam pikirannya. ‘Aku sangat bosan dengan kejadian seperti ini’ Theo mengeluh.
[TING]
“Apa tuan sudah gila?”
Mendengar ucapan Theo, mereka memasang wajah mengejek.
Satu orang di depan Theo melangkah maju.
“Saat kalian maju, kuharap kalian semua tak akan menyesal,” ucap Theo.
Lima orang itu tertawa keras.
“Apa-apaan bocah sialan ini,”
“Apa dia sudah gila karena akan mati.”
Semua orang mengejek dan menertawakan Theo.
Theo menghilang dari tempatnya, lalu sedetik kemudian satu kepala terlepas dari tubuhnya. Membuat empat pria lainnya berhenti tertawa dan mematung.
“Waaah segarnya... Sudah lama aku tak membunuh serangga seperti kalian.” ucap Theo, membuka tudung dari jubahnya. Posisi Theo sekarang sudah perpindah di belakang dua orang di depannya—sekarang satu. Pedang di tangannya berlumuran darah segar.
Semua orang terkejut, memasang posisi waspada.
“Dasar bocah sialan, ap....”
Sebelum pria itu menyelesaikan kalimatnya, Theo mengayungkan pedangnya tapi masih bisa di halaunya.
“Oh kau bisa menahannya?” ucap Theo datar.
Pria itu menahannya pedang Theo dengan susah payah.
Sedetik kemudian ada serangan dari sisi kanan Theo, kapak besar akan menghantamnya. Theo langsung menarik pedangnya, melangkah mundur, membuat kapak besar itu tertancap di tanah. Dengan cepat Theo menebas kedua tangan pria itu, dan dilanjutkan dengan kepalanya--darah menyembur.
Semua orang menelan ludahnya melihat kesadisan dari Theo, berpikir bagaimana bisa anak kecil bisa sesadis itu. Mereka merasakan takut, tapi harga diri mereka tak memperbolehkan mereka untuk mundur.
“Dia cuma sendiri, serang dia bersamaan!!!” ucap pria dengan pedang kecilnya berlari maju, di ikut dua orang sisanya.
“Serangga seperti kalian memang tak pernah berubah ya,”
Ayunan pedang kecil hampir mengenai lehernya, Theo menghindar dengan cepat, mundur satu langkah. Tapi lesatan anak panah menggores pipinya, lalu ada tebasan pedang dari sisi kirinya, Theo bisa menghindarinya dengan mudah.
Theo hanya menghindar terus, membuat kesal semua orang. Pemanah sudah hampir kehabisan anak panahnya. Napas semua orang tak beraturan.
“BOCAH SIALAN, BERHENTI MENGHIDAR!!!” teriak pria dengan pedang kecil, menerjang Theo dengan kesal. Tapi dengan cepat Theo mendaratkan kakinya di perut pria itu, membuatnya terlempar. Semua orang berhenti.
‘Lily, selain ayahku. Apa di dunia ini semua orang selemah mereka?’ tanya Theo.
[TING]
“Tentu saja tidak.”
'Baguslah'
Theo menatap tiga orang di depannya. Mereka semua tidak ingin menyerang sekarang.
“Apa sudah selesai?” tanya Theo. “Kalau begitu aku yang maju,”
Theo bergerak cepat, membunuh dua orang dari mereka tanpa kesusahan.
Lalu saat ingin membunuh pria yang membawa panah, pria itu sudah bersujud meminta ampun.
“To-tolong ampuni saya tuan muda, sa-saya gagal mengenali tuan muda” ucap pria itu.
Theo manatapnya datar.
“Kau ingin hidup?” tanya Theo.
Pria itu mengangkat kepalanya dan mengangguk dengan cepat.
“Kumpulkan semua perlengkapan dari teman-temanmu lalu bawakan padaku,” perintah Theo, dengan cepat pria itu menurutinya.
Dan tak butuh waktu lama pria itu sudah mengumpulkan semua barang dari mayat teman-tamannya dan menaruhnya di hadapan Theo. Ada beberap koin perak dan perunggu, belati kecil—barang yang tak berguna.
“Serahkan punyamu juga,” ucap Theo.
Pria itu dengan enggan menyerahkan barangnya, koin perak dan—sebuah belati kecil yang tampak cukup bagus.
Theo melihat belati kecil itu langsung mengambilnya, melihatnya dengan teliti.
Melihatnya, pria itu merasa senang.
“Bi-bisakah saya per...” belum selesai pria itu bicara, Theo menebasnya tanpa peringatan.
“Ini belati yang lumayan,” ucap Theo mengamati belati, lalu memasukkannya pada cincin di jarinya, beserta barang-barang lain.
Theo melangkah pergi, meninggalkan lima mayat itu.
[TING]
“Bukankah anda akan mengampuni pria tadi tuan?”
“Aku tak pernah bilang akan mengampuninya,” jawab Theo.
[TING]
“Tapi bukankah dia sudah menyerah?”
“Apa kau masih naif seperti dulu, Lily?” Theo bertanya bali.
Lily hanya diam.
“Tapi aku selalu penasaran, apa kau benar Lily yang kukenal?” tanya Theo.
[TING]
Theo masih melanjutkan langkahnya, menyusuri jalan yang sepi dan gelap.
.
.