Ada duka ada cinta begitulah, yang dirasakan pria bernama Raihan Bachtiar. Berkali-kali dia dipatahkan oleh seorang wanita, yang selama ini dia sebut cinta. Ada cita-cita serta cinta dalam perjalanan hidupnya. Dia adalah pria yang optimis hanya saja sedikit skeptis. Dia meninggalkan segala karirnya, hanya untuk wanita yang pada akhirnya menyia-nyiakan cintanya. Patah hati membuatnya berubah menjadi seorang pria yang dingin dan menutup hatinya rapat-rapat. Akankah dia menemukan wanita yang mampu mengembalikan perasaannya yang telah lama hilang? Ayo, simak ceritanya ... dan selamat melupakan.
follow ig: @rohidbee07
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rohid Been, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semua Dengan Mimpinya Masing-masing
Sekarang aku paham dan mengerti hidup ini adalah kegiatan menikmati perjalanan. Ada beberapa temanku, yang pada akhirnya sampai di tujuannya masing-masing. Ada beberapa temanku memilih menikah lebih cepat, mungkin memang sudah waktunya juga. Kemudian, mereka memiliki anak dan menempuh hidup baru serta keluarga baru juga. Aku mencoba memahami ini semua adalah jalan terbaik yang telah kita tempuh masing-masing. Ada sebagian lagi memilih kerja dengan rajin, meniti karir dan sangat menikmati atas pilihan yang mereka ambil. Sedikit juga, melanjutkan pendidikan dan mengejar beasiswa ke luar negeri. Mereka semua menemukan dunia baru, yang pada kenyataannya tidak pernah bisa didapatkan orang lain. Sampai di titik ini, aku hanya banyak mensyukuri, agar lebih menghargai kesempatan dan waktuku sendiri.
Aku juga berusaha berpikir positif setiap harinya, walau permasalahan hidup datang silih berganti. Sangat krusial menentukan pilihanku untuk ke depan, di umurku sekarang aku merasakan betapa rumitnya kehidupan menjadi orang dewasa. Saat di fase ini aku mengalami karir yang menurun drastis serta soal asmara yang tidak terlalu baik. Bahkan aku menjadi tak habis pikir dengan kehidupanku sendiri. Setelah hari itu, aku terus merasa kehidupan tak pernah berpihak lagi padaku. Entah sedari pekerjaan, kehidupanku sebelumnya. Aku berusaha tidak keras pada diriku serta selalu lembut pada diri sendiri dan aku selalu keras pada tuntutan orang lain.
***
"Han ... yaelah malah bengong. Jangan bilang masih mikirin, Andira? Han, ingat! Lu tuh udah disakitin berkali-kali," ucap Rohid menepuk bahuku.
"Apaan sih, Hid. Kagak gua kagak mikirin dia apalagi ingat kejadian itu malah jadi penyakit hati."
"Bagus kalau begitu, Han. Gua ngajak lu nongkrong di sini biar lu terhibur dengan semua masalah hidup lu. Oh, ya ngomong-ngomong lu sibuk apaan? Berapa bulan ini enggak mau ketemu, karena gua tahu lu butuh sendiri. Setelah lu mutusin drop—out dari kuliah, gua ngerasa sepi kalau di kampus. Terus Bang Pendi tanyain lu, terus pacar gua Ami juga ikut jengkel atas perbuatan sahabatnya ke lu, Han.”
"Enggaklah gila aja, Hid. Gua cuma mikirin masa-masa kita sekolah dulu. Sebelumnya, makasih udah ajak gua ke sini, gua baru tahu di sini ada warkop, Hid. Salamin aja buat mereka, kapan-kapan gua ke kampus lagi! Lah 'kan lu bisa main sama si Raka."
"Males gua, Han. Bentuk solidaritas gua ke lu, masak gua berteman sama penghianat macam dia. Enggak etis banget, Han. Gua walaupun begini, kalau sama teman setia kawan."
"Gua sih salut sama lu, Hid. Tapi, si Raka cuma bermasalahnya sama gua. Gua harap lu jangan ikut benci dia, walau bagaimanapun dia juga sahabat kecil kita, gua cuma benci sifat dia bukan ke personanya. Jauh di lubuk hati gua paling dalam gua masih anggap dia sahabat, walaupun secara di mulut benci banget."
"Gua tahu lu orangnya gimana, Han. Terkadang orang terdekat itu adalah orang yang berpotensial menyakiti kita. Gua merasa simpati aja sama masalah yang lu hadapi sekarang. Semoga ada jalan keluarnya dan lu bisa keluar dari zona lu ini, Han."
"Semoga aja, Hid. Mau gimana lagi? Hidup memang penuh risiko, gua sih kaya pasrah aja ikuti alur Tuhan. Oh, ya lu ingat teman-teman sekolah kita?"
"Lupa-lupa ingat sih, Han. Lah emang kenapa?"
"Mereka apa kabar, ya. Gua denger-denger ada yang udah nikah dan kuliah di luar negeri?"
"Iya, gua sih cuma pantau aja di grup alumni. Banyak yang sukses, sedangkan kita stuck di sini-sini aja he he."
"Mungkin, belum waktunya aja, Hid. Sabar aja kita mah! Tuhan bersama orang yang mau berjuang he he."
"Benar juga sih, Han. Ngomong-ngomong lu sibuk apa sekarang? Setelah berapa bulan, kita jarang ketemu dan jarang komunikasi."
"Oh, gua jualan, Hid. Jualan gorengan di alun-alun kota, sambil nyicil naskah buku kedua gua."
"Syukurlah, Han. Gua kira lu masih free, soalnya saudara gua nyari orang buat kerja warung makan di tempatnya."
"Hmmm ... sebelumnya makasih, Hid. Cuma gua lagi pengen buka usaha sendiri. Lagian lu tahu gua orangnya idealis, enggak suka terikat dengan pekerjaan yang akhirnya gua enggak mampu gua kerjain. Gua lebih suka kerjaan yang di mana gua bisa atur sendiri jadwalnya, Hid."
"Santai aja, Han. Kalem aja, gua udah paham karakter lu dan gua tahu lu enggak suka hal yang bersifat monoton. Semoga usaha lu lancar dan berkah, Han. Oh, ya, ini gua ada rezeki, enggak banyak cuma mungkin bisa bantu buat modal dagangan lu."
"Janganlah, Hid! Gua enggak enak ngerepotin lu. Lu sejauh ini sudah bantu gua banyak, Hid. Gua aja bingung mau balas gimana atas kebaikan lu selama ini," balasku berusaha menolak pemberian uang darinya.
"Santai aja, Bro. Ambil aja! Gua ikhlas bantu lu kok dan enggak ada niat tertentu. Lu butuh juga ‘kan uang ini, supaya usaha lu makin berkembang?"
"I—iya butuh sih, Hid. Tapi ...."
"Ambil aja, Han! Jangan tolak rezeki, buktikan lu bisa sukses dan Andira menyesal udah ninggalin lu pas lagi susah-susahnya."
"Ma—makasih banyak, Hid. Semoga Tuhan membalas kebaikan lu," ucapku sambil memeluknya dengan erat.
"Aamiin ... semoga berguna, Han."
"Iya, aamiin, Hid. Makasih banyak, lu emang kawan sejati gua."
"Sama-sama, Han. Udah ah jangan drama, gua geli ha-ha."
"Suek banget Lu, Hid. Lagi suasana sedih juga ha-ha."
"Ha-ha, maaf, Bro."
***
Banyak babak dalam hidup ini yang ujungnya masih samar-samar untuk dilihat perihal maut, jodoh, karir serta rezeki sekalipun. Everybody has same happiness. Aku tidak pernah tahu bahkan sedetik kemudian, apa yang akan terjadi satu langkah berikutnya di hidupku. Aku menjalani sebagian besar hidupku menjadi orang yang melebih-lebihkan dirinya, serta selalu ada untuk orang lain—bahkan jika itu dengan pengorbananku sendiri. Bahkan itu untuk waktu yang lama aku tidak menyadari, bahwa aku melakukan ini sebagai cara untuk mengisi kekosongan dan membangun rasa berhargaku saat ini. Dalam benakku jika aku dibutuhkan, tentu aku pasti berharga dalam hidup seseorang. Justru ini membawaku ke jalan yang licin dan dimanfaatkan menjadi sangat normal, sampai-sampai aku mendapati diriku membuat alasan untuk semua orang bahkan ketika apa yang mereka lakukan jelas-jelas salah.
Sekarang aku telah membagikan apa yang ingin aku bagikan, menahan apa yang ingin kutahan. Tidak ada buku aturan untuk hidup—tidak ada satu ukuran yang muat untuk semua. Jika aku lebih suka hidup pribadi tidak ada yang salah dengan itu. Jika aku lebih suka berbagi kepingan jiwaku dari waktu ke waktu, tidak ada yang salah dengan itu. Tapi, pilihanku dan hidupku tidak untuk berdebat. Aku yang duduk di kursi pengemudi, jangan biarkan orang lain memegang kemudiku. Lebih baik lagi, jangan biarkan siapa pun berada di kursi penumpangku, jika mereka menuntunku lebih jauh dari siapa dan di mana aku ingin berada.
"Oh, ya, gimana hubungan lu sama Ami, Hid?" ucapku memecah keheningan tongkrongan kita.
"Baik kok, Han. Kayanya gua mau serius sama dia."
"Baguslah, Hid. Gua ikut senang dan semoga berjodoh."
"Semoga aja, Han. Walaupun, gua kadang takut juga, kisahnya sama kaya lu."
"Berpikir positif aja, Hid. Enggak semua sama takdirnya, mungkin jadi pelajaran aja hubungan gua dan ambil hikmahnya buat lu. Gua sekarang mau lebih hati-hati aja menaruh hati. Soalnya kalau salah letak bisa retak. Waduh repot lagi gua harus galau-galauan enggak jelas dan harus move on. Entahlah, kita pasti berkutat dengan itu dan enggak ada habisnya soal asmara mah.
"Bener juga sih, Han. Emang lu udah sepenuhnya melupakan Andira?"
"Melupakan seseorang yang pernah hadir itu enggak akan bisa sampai kita mati, Hid. Mungkin, yang bisa gua lakuin adalah mengganti dia dengan orang baru. Supaya, masa lalu gua tertindis dan terlupakan dengan sendirinya."
"Cakep puitis banget lu, Han. Ngomong-ngomong lu udah dekat dengan orang baru?"
"Belum sih sampai detik ini. Nanti, kalau waktunya juga ketemu, Hid."
"Sabar, Han. Semoga kali ini dapat yang terbaik."
"Semoga aja, Hid. Karena yang kita butuhkan selamanya itu adalah kepala selembut hati, untuk melunakkan hati kita yang sekeras kepala."
"Emang beda kalau punya kawan puitis ha-ha. Kata-katanya selalu ngena di hati. Semoga sukses jadi penulis juga, Han!"
"Makasih banyak, Hid. Mau gimana lagi? Cuma bakat ini yang gua punya dan kalau gua enggak improv, sampai kapanpun stuck di situ-situ aja. Semua ini juga berkat kopi dan rokok jadi encer otak gua."
"Bener itu, pokoknya harus cari bakat yang ada dalam diri kita. Memang kopi itu media bagus untuk melahirkan imajinasi yang liar di kepala, Han."
"Betul dan semua pelaku seni, kebanyakan menghasilkan karya indah dari segelas kopi dan perenungan panjang, Hid."
"Bijak keren lu, Han."
"Bisa aja lu, Hid. Gua cuma asal berucap aja dan bisa aja gua salah."
"Tapi, apa yang lu ucapkan ada benernya, Han."
"Bisa jadi, Hid. Mungkin, ini jalan gua, Hid. Jalan gua berbeda, jalan gua berkarya”.
"Bagus konsisten terus, Han."
***
Asumsi bisa menjadi salah satu pembunuh terbesar dari hubungan jujur. Ketika aku dikondisikan untuk ragu dalam hubunganku, aku akan cenderung melakukan apa pun untuk terus memvalidasi cara berpikir. Karena itu sudah menjadi standar untuk begitu lama, ini akrab dan keakraban inilah yang membuatku terjebak dalam pola itu. Sebagai manusia biasa, aku lebih mirip dari yang aku kira dan aku masing-masing terperangkap dalam pikiranku sendiri. Sehingga, aku tidak memikirkan orang lain, bahkan aku tidak merasa layak memiliki hubungan yang baik. Sebab, aku belum mampu menyentuh ruanganku di masa lalu. Aku mulai bersikap terbuka terhadap kemungkinan bahwa orang tersebut, mungkin berurusan dengan sesuatu yang sama sekali tidak aku ketahui. Selayaknya aku berhak mendapatkan semua kebaikan yang datang kepadaku. Aku pun menginginkan perasaan yang tulus dari seseorang yang memberikan sebagian hidupnya untukku.
"Sebelumnya aku sudah sampai lebih dahulu, mencari keberuntungan pernah memilikimu. Hingga pada akhirnya akulah yang lebih dulu diberi kenyataan pahit itu. Sungguh, perpisahan ini sangatlah biasa untuk kuterima."
-Rohid Bachtiar
hm, dibagian ini ada satu pertanyaan apa aku melewatkan sesuatu thor? rehan kuliah jurusan apa? apa tidak ada hubungannya sama sekali dengan "penulis" ?