Dunia runtuh bukan karena virus itu sendiri—melainkan karena vaksin yang dijanjikan sebagai penyelamat. Saat wabah menyebar dan ketakutan menguasai setiap sudut kota, pemerintah memerintahkan seluruh rakyat untuk menerima vaksin demi mencegah penularan. Mereka percaya itu adalah harapan terakhir umat manusia. Namun harapan itu berubah menjadi bencana.
Vaksin yang seharusnya melindungi justru memicu mutasi tak terduga. Tubuh manusia berubah, naluri mereka terdistorsi, dan kemanusiaan perlahan terkikis. Dalam hitungan waktu, peradaban yang dibangun selama ratusan tahun runtuh—bukan oleh penyakit, tetapi oleh “obat” yang diciptakan untuk menghentikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua — Tujuan Mencari Adik Arsya
Selamat membaca cerita baru aku!!
Semoga kalian suka!
Hari ini, mereka memutuskan untuk beristirahat di lantai dua. Lampu hanya dinyalakan samar-samar, cukup untuk melihat sekitar tanpa menarik perhatian KANIHU yang mungkin masih berkeliaran di bawah.
Semua jendela kaca ditutup dengan kain gelap yang mereka temukan di lemari. Setiap celah cahaya ditutup rapat, memastikan tak ada bayangan atau gerakan kecil yang terlihat dari luar.
Ruangan itu tenggelam dalam temaram.
Hanya suara nafas pelan dan sesekali derit kayu bangunan yang terdengar. Di luar, angin malam berhembus pelan, membawa aroma debu dan sesuatu yang lebih amis. Arsya duduk bersandar di dinding, lututnya ditekuk ke dada. Matanya belum benar-benar bisa terpejam. Setiap suara kecil terasa seperti ancaman.
Niki mulai mengambil beberapa wadah bekal yang ada di ruang istirahat. Ia menuangkan makanan ringan ke dalamnya, memindahkan isi dari plastik kemasan agar tidak menimbulkan suara berisik saat dibuka nanti.
“Kita nggak bisa ambil risiko cuma gara-gara suara kresek,” gumamnya pelan.
Setiap gerakannya hati-hati, bahkan saat menutup wadah bekal itu ia melakukannya perlahan agar tidak terdengar hingga ke bawah.
Arsya pun teringat isi tasnya masih terisi penuh dengan barang lain, ia pun membuka tasnya perlahan. Lalu gadis itu mengeluarkan beberapa barang yang kini terasa tidak berguna — buku pelajaran, alat tulis, dan beberapa kertas catatan yang tadinya penting untuk sekolah.
Semua itu kini terasa seperti bagian dari kehidupan lama yang sudah runtuh.
Ia menggantinya dengan barang-barang yang menurutnya jauh lebih berarti untuk bertahan hidup: sebuah senter kecil, beberapa baterai cadangan, baju hangat, tali yang cukup kuat, serta beberapa camilan yang sudah dipindahkan ke wadah agar tidak berisik.
Tangannya bergerak lebih mantap dibanding beberapa jam lalu.
Sementara itu, Jay berdiri di dekat jendela, sedikit menyingkap kain gelap yang menutupinya. Ia mengamati keadaan luar dengan saksama, matanya tajam membaca setiap bayangan dan gerakan.
Jay memang lebih pendiam dibanding Niki. Namun justru dialah yang tanpa sadar memimpin. Cara bicaranya tenang, keputusannya cepat, dan sikapnya membuat Niki maupun Arsya perlahan mengikuti arahannya.
“Aku yakin,” ucapnya pelan tanpa mengalihkan pandangan dari luar, “di luar sana masih banyak yang selamat. Mereka hanya memilih bersembunyi… seperti kita.”
“Aku juga merasa begitu… tapi bagaimana ya kabar adikku?” Suara Arsya melemah. Raut khawatirnya begitu jelas hingga Niki dan Jay bisa melihatnya meski ruangan hanya diterangi cahaya redup.
Jay tetap diam.
Namun pikirannya melayang jauh—ke kota asalnya, ke rumah kecil tempat keluarganya tinggal. Jarak yang dulu terasa biasa saja kini berubah menjadi jurang yang menyesakkan. Ia merantau untuk kuliah… dan sekarang bahkan tak tahu apakah keluarganya masih aman.
Niki menyadari tatapan kosong sahabatnya.
“Tenang saja, Jay,” ujarnya pelan mencoba menguatkan. “Aku yakin kota asalmu masih jauh dari kekacauan. Tidak seperti kota kelahiranku…” Ia berhenti sejenak, menelan pahit. “Di sana sudah habis. Dipenuhi sosok KANIHU.”
Keheningan kembali menyelimuti ruangan.
Masing-masing dari mereka menyimpan ketakutan yang sama—tentang keluarga, tentang rumah, tentang kemungkinan terburuk yang tak berani mereka ucapkan.
“Loh, jadi kalian anak rantauan?” tanya Arsya, sengaja mengalihkan pembicaraan agar suasana tidak semakin tenggelam dalam kesedihan.
“Iya,” jawab Niki sambil tersenyum tipis. “Aku dari Kota Angin, sedangkan Jay dari Kota Sejuk.” Ia menunjuk dirinya sendiri, lalu ke arah Jay yang masih berdiri dekat jendela. “Dan disinilah kami bertemu—di Kota Agung.”
Arsya mengangguk pelan. “Berarti kalian sudah jauh dari keluarga sejak awal…”
“Iya,” sahut Niki ringan, meski ada nada yang tak sepenuhnya santai. “Harusnya ini cuma perjalanan buat kuliah. Bukan… bertahan hidup.”
Jay akhirnya menoleh dari jendela. “Kita masih bertahan,” ucapnya singkat, namun tegas.
Kalimat itu sederhana.
Arsya dan yang lain hanya akhirnya memilih untuk memejamkan mata, mengisi kembali energi yang terkuras sejak sore tadi. Tidak ada yang benar-benar bisa tidur nyenyak, namun mereka memaksa tubuh untuk beristirahat.
Besok, mereka harus kembali melangkah. Menuju tempat yang entah benar-benar aman atau hanya terlihat lebih jauh dari bahaya.
Di tengah temaram lampu dan sunyi yang menekan, tiga jiwa itu terbaring dengan pikiran masing-masing—menyimpan ketakutan, harapan, dan tekad yang perlahan mulai tumbuh.
Malam itu menjadi jeda singkat. Sebelum perjalanan panjang mereka benar-benar dimulai.
Pagi hari, matahari sudah tinggi di langit, namun sekarang tanda kehidupan berbeda. Bukan suara knalpot mobil maupun suara sapaan manusia, melainkan suara teriakan, pekikan serta suara tulang patah dari arah bawah.
Saat ini tiga pemuda sudah siap untuk melakukan perjalanan panjang, Arsya dengan jaket hitam miliknya serta baju putih yang ia temukan di dalam lemari. Begitupun dengan Jay dan Niki yang sudah berganti kemejanya menjadi kaos tipis.
“Kita akan berjalan melalui lantai dua rumah ke rumah. Jika jalanan di bawah aman kita akan turun, tapi jika tidak kita tetap stay diatas.” ujar Jay pelan yang langsung dipahami oleh keduanya, Niki dan Arsya.
“Kita mulai dari satu tujuan,” ujar Jay pelan namun mantap. “Mencari adikmu, Arsya. Ke mana pun kita melangkah, itu prioritas pertama.”
Arsya mengangkat wajahnya, ada secercah harapan yang kembali menyala di matanya.
Namun Jay melanjutkan, suaranya kali ini lebih berat.
“Tapi ingat, Arsya… kalau adikmu sudah terkena…” Ia berhenti sejenak, seolah memilih kata yang tidak terlalu melukai. “Kita tidak bisa membawanya bersama kita.”
Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.
Niki menunduk, tak berani menatap langsung ke arah Arsya. Itu bukan kalimat yang kejam. Itu adalah kenyataan di dunia yang telah berubah.
Arsya menatap Jay dan Niki dengan ragu. Tatapannya bergetar, namun perlahan ia menganggukkan kepala.
Ia sudah mencoba menguatkan dirinya—mempersiapkan hati untuk kemungkinan terburuk. Jika adiknya tidak selamat… ia tahu ia harus merelakan.
“Tapi aku yakin,” ucapnya pelan, suaranya kali ini lebih tegas meski masih lembut, “adik aku masih sehat. Dia pasti bersembunyi di suatu tempat.”
Jay memperhatikan sorot matanya. Itu bukan sekadar harapan kosong.
Itu keyakinan.
“Kami juga berharap adikmu tetap selamat dari kekacauan ini,” ujar Niki tulus.
Arsya membalas dengan anggukan kecil.
Tanpa membuang waktu, mereka bergerak menuju jendela samping yang mengarah ke deretan atap rumah. Jay membuka penutup kayu dan mendorong jendela perlahan, menyesuaikan celahnya agar cukup untuk dilewati satu per satu.
Udara pagi yang dingin langsung menyusup masuk.
Jay naik lebih dulu. Ia memeriksa pijakan di atap, memastikan cukup kuat untuk menahan beban. Setelah yakin aman, ia memberi isyarat.
Arsya menyusul sebagai yang kedua. Dengan hati-hati ia melangkah keluar, tangannya meraih lengan Jay untuk menjaga keseimbangan saat kakinya berpijak di genteng yang licin.
Terakhir, Niki keluar sambil membawa tas berisi bekal.
Arsya menjadi orang yang paling mereka jaga. Bukan karena ia lemah, tetapi karena ia membawa persediaan utama mereka.
Tas di punggung gadis itu terisi penuh—pakaian ringan, makanan ringan, senter, baterai cadangan, dan beberapa perlengkapan penting lainnya. Bebannya tidak ringan, namun Arsya tidak mengeluh.
Sementara itu, Jay dan Niki membagi sisanya. Di dalam tas mereka terdapat beberapa botol air mineral yang membuat tas tampak menggembung dan berat. Setiap langkah di atas atap harus diperhitungkan, karena beban sekecil apapun bisa mempengaruhi keseimbangan.
“Kita jalan pelan-pelan. Jangan injak bagian genteng yang retak,” bisik Jay, tetap memimpin di depan. Niki berada di belakang, memastikan Arsya aman di tengah.
Formasi itu terbentuk tanpa perlu disepakati.
*Terima kasih sudah membaca, Jangan lupa Like dan Vote ya**Babay! Bersambung ya...*