DISARANKAN SUDAH CUKUP UMUR UNTUK MEMBACA CERITA INI. HARAP BIJAK MEMILIH BACAAN!!!
"Jangan terluka, karena aku bukan orang yang pantas untuk membuatmu terluka"
~ Shakti Ing Djagat
Shakti, dokter muda yang berniat menolong seorang gadis yang hendak dilecehkan oleh pacarnya, justru berakhir dengan menjadi tersangka pelecehan. Dan harus bertanggung jawab menikahi Zia, si gadis manja yang berstatus pelajar SMA.
Awalnya, Shakti menolak pernikahan itu. Karena merasa tidak bersalah. Dan yang lebih utama, karena dia memiliki janji terhadap kekasihnya. Namun, demi menyenangkan mamanya disetujuinya juga pernikahan tanpa cinta itu.
Apakah Zia mampu membantu Shakti untuk jatuh cinta padanya dalam ikatan pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps.26 Kentut
"Far, lo udah denger belum kalau anak-anak pada gosipin lo?" tanya Caca saat di toilet.
"Memang mereka gosipin apa soal gue?" tanya Farah balik, dengan santai sambil menata rambutnya di depan cermin yang ada di atas wastafel toilet.
"Katanya, kemaren ada yang lihat lo ngejegal kaki Zia. Dan lebih parahnya, mereka gosipin lo, kalau lo ngelakuin itu karena lo dendam sama Zia soal kejadian di ruang ganti kemarin."
Farah seketika menoleh menatap Caca.
"So What! biarin aja mereka koar-koar sesuka mereka. Lagian, kan, mereka nggak punya bukti buat nuduh gue."
"Sesantai itu lo? Nggak takut nama lo tercemar?"
"Ca, gosip itu layaknya kentut. Kalau dia keluar terus bunyi, orang-orang akan ribut mencari sumbernya sambil menikmati baunya, setelah baunya hilang terbawa angin mereka akan diam dan lupa tentang apa yang mereka ributkan sebelumnya." Farah tersenyum menyeringai.
Caca terbengong-bengong mendengar jawaban yang aneh dari sahabatnya, tapi kalau dipikir-pikir benar juga Farah mengibaratkannya. Akhirnya dia pun tertawa puas sampai suaranya menggema di seluruh ruangan di toilet.
'Brak'
Dara membuka pintu toilet dengan tidak sabar, hingga terdengar bunyi pintu yang di banting. "Oh, jadi bener, lo yang bikin Zia celaka!"
Farah dan Caca saling tatap, kenapa mereka tidak menyadari ada orang lain di toilet ini selain mereka. Saat itu juga Zia pun keluar dari salah satu bilik toilet.
"Siapa yang bilang? jangan asal tuduh lo kalau nggak punya bukti!" jawab Farah santai malah terkesan menantang.
"Gue nggak budek ya, gue denger semua pembicaraan lo sama temen lo ini," tunjuk Dara ke Caca.
"Terus lo mau apa, laporin gue gitu ke guru?" tantang Farah.
"Gue cuma bales apa yang sudah temen lo ini lakuin sama gue! Bukankah sebelumnya, dia juga ngedorong gue. Bahkan dia membuat gue ditertawakan sama anak-anak," lanjut Farah yang menunjukan kemarahannya pada Zia.
"Zia kemaren kan, nggak sengaja nabrak lo, dan lo nggak cidera kan kayak Zia?" bela Dara.
"Gue juga nggak sengaja ngejegal dia, jadi kita impas, kan?" jawab Farah tersenyum licik.
"Udah deh Dar, nggak usah diperpanjang. Males gue berurusan sama dia!" putus Zia yang langsung menarik sahabatnya itu keluar dari toilet.
Farah dan Caca kembali tertawa puas melihat kepergian Zia dan Dara. Mereka bertos ria seolah mendapatkan kemenangan.
.
.
.
.
.
"Lo bener nggak mau nebeng gue?"
Dara menawarkan dirinya untuk mengantar Zia pulang. Hari ini suami sahabatnya ini tidak bisa menjemput karena akan pulang terlambat.
Shakti menghubungi Zia tadi, mengatakan kalau dia ada meeting dengan Direktur rumah sakit. Dan kepulangannya belum bisa dipastikan. Karena nya dia meminta Zia pulang sendiri dengan taksi.
"Nggak usah, gue mau mampir ke rumah sakit dulu kok."
"Ya nggak apa-apa, entar gue anterin deh ke rumah sakit," Dara masih berusaha membujuk Zia.
"Nggak usah, bikin lo ribet kalau harus anter gue ke rumah sakit. Putar arahnya kejauhan. Gue pulang sendiri aja," tolak Zia.
Zia sengaja tidak ingin diantar oleh sahabatnya itu, karena Zia tidak ingin pergi ke rumah sakit tempat Shakti bekerja. Melainkan ke rumah sakit jiwa tempat Andien dirawat. Tiba-tiba saja dia ingin menemui Andien sendirian tanpa Shakti.
"Ya udah kalau gitu gue duluan ya," pamit Dara dari dalam mobilnya.
Zia langsung menghentikan taksi yang lewat setelah kepergian Dara.
"Ke jalan XXX ya, pak," katanya saat masuk ke dalam taksi.
Sopir yang mengangguk langsung membawa Zia ke alamat yang Zia sebutkan tadi.
"Terima kasih," kata Zia sambil mengulurkan uang pada sopir taksi saat sampai di depan rumah sakit jiwa.
Zia berjalan menyusuri lorong rumah sakit, tempat kekasih suaminya itu dirawat. Seketika dia berhenti, memikirkan apa benar yang ia lakukan sekarang. Apa Shakti tidak akan marah padanya kalau ia menemui Andien tanpa ijin suaminya itu. Pikiran-pikiran itu membuatnya ragu untuk melangkah.
Tapi dia sudah sampai di sini, setidaknya dia hanya akan menyapa Andien dan pulang.
Dilanjutkannya langkahnya menuju kamar Andien dirawat. Saat dia mengetuk pintu, tidak ada sahutan dari dalam dan pintunya pun tidak terkunci.
Zia memberanikan diri membuka pintu itu, tapi tak ada seorangpun di dalamnya. Zia teringat sesuatu, bukankan suster selalu membawa Andien pergi ke taman ketika sore hari untuk menikmati senja sambil menyuapinya.
Dibawanya langkahnya menuju taman rumah sakit, tempat biasa Andien menghabiskan sorenya.
Tepat seperti dugaannya. Andien yang duduk di kursi roda, sedang disuapi oleh suster, di bawah pohon tanjung yang rindang. Zia mendekat menghampiri Andien dan susternya.
"Selamat sore, sus," sapa Zia pada suster Indah.
Suster Indah yang menoleh, langsung mengenali Zia sebagai gadis yang dibawa oleh Dokter Shakti tempo hari menemui Andien.
"Selamat sore, Mbak. Mbak ... Zia, kan?" tanya suster Indah terbata takut salah menyebut nama orang.
"Iya, sus," jawab Zia tersenyum.
"Sendiri saja atau sama Dokter Shakti?"
"Sendiri kok sus, Shaktinya masih di Rumah Sakit."
Suster Indah mengangguk mengerti.
"Ada apa ya Mbak, ke sini. Apa ada pesan dari Dokter Shakti?"
"Eng-enggak kok, sus. Saya cuma mau ketemu Andien saja, mau melihat kondisinya."
"Oh ... kondisi mbak Andien sehat kok, Mbak. Malahan ada perubahan dari hari ke hari sejak Mbak Zia sama Dokter Shakti ke sini tempo hari."
"Syukurlah, Sus. Saya senang mendengarnya." Zia pun tersenyum tulus menanggapi suster Indah.
"Apa Mbak Zia mau ngobrol dengan mbak Andien, mungkin mbak Andien akan senang."
"Apa boleh, sus?" tanya Zia takut-takut.
Zia hanya tidak ingin kedatangannya ini menganggu atau malah memperburuk kondisi Andien.
"Tentu saja boleh. Mbak Zia juga boleh mengajak ngobrol mbak Andien, seperti yang sering Dokter Shakti lakukan."
Zia mengingat kembali bagaimana tempo hari Shakti mengajaknya bertemu Andien untuk pertama kalinya. Dia melihat bagaimana Shakti berinteraksi dengan Andien dengan mengajaknya mengobrol, seolah Andien bisa menanggapi apa yang Shakti bicarakan.
Zia mengangguk mengiyakan.
"Kalau begitu, saya akan tinggalkan mbak Andien di sini, sementara saya akan membereskan kamar mbak Andien."
"Saya titip sebentar, ya," lanjut suster Indah sebelum meninggalkan Zia dan Andien berdua di taman.
Rasa canggung langsung tercipta setelah kepergian suster Indah. Zia ragu apa yang harus ia lakukan di taman ini, berdua dengan Andien. Ini baru kali kedua dia bertemu Andien. Sedangkan di pertemuan pertamanya tak banyak yang ia lakukan, apalagi bicarakan dengan kekasih suaminya itu.
Tadi suster Indah mengijinkannya untuk mengobrol dengan Andien, lantas apa yang harus ia obrolkan. Sementara ia tak begitu mengenal gadis di depannya ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
tengkyu❤❤❤sayang hee
pasti ad sesuatunya tuh di susunya🙈
apalagi Zia
pass banget
keren Thor 👍👍
jadi mau ngakak....boleh doong Thor...?