Ijab qabul yang diucapkan calon suaminya, seketika terhenti saat dirinya pingsan. Pernikahan yang diimpikan, musnah saat dirinya dinyatakan hamil. Terusir, sedih, sepi, merana dan sendirian. Itulah yang dirasakan oleh Safira saat ini.
Dalam keputusasaan yang hampir merenggut nyawanya, Safira dipertemukan dengan sosok malaikat dalam wujud seorang pria paruh baya. Kelahiran anak yang tidak diharapkan, justru membuat kehidupan Safira berubah drastis. Setelah menghilang hampir 6 tahun, Safira beserta sepasang anak kembarnya kembali untuk membalas orang-orang yang telah membuatnya menderita.
Satu per satu, misteri di balik kehamilan dan penderitaan Safira mulai terkuak. Lalu, siapakah ayah dari si kembar jenius buah hati Safira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restviani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Terakhir
"Abi!" panggil Adam begitu tiba di depan ruang tindakan.
Pak Sanusi menoleh. Seulas senyum tipis terukir di kedua sudut bibirnya. "Syukurlah kamu sudah pulang, Dam," ucapnya.
"Bagaimana dengan keadaan Umi, Bi?" tanya Adam.
"Sekarang umi kamu sedang ditangani oleh dokter, Dam," jawab Pak Sanusi.
"Sebenarnya, apa terjadi sama umi, Bi? Tadi siang waktu Adam tinggal, Adam lihat, umi baik-baik saja." Adam kembali bertanya.
"Abi sendiri tidak tahu, Dam. Setelah menerima telepon dari Safina, umi kamu hanya melamun saja. Beberapa jam kemudian, dia mengeluh jika dadanya kembali sakit. Abi sudah memberinya obat, tapi tak lama berselang, umi kejang dan tak sadarkan diri," papar Pak Sanusi.
"Astaghfirullahaladzim!" gumam Adam. "Untuk apa Safina menelepon umi, Bi?" tanya Adam lagi.
"Entahlah, Dam. Abi sudah tanyakan hal itu kepada umi. Akan tetapi, umi kamu diam seribu bahasa. Sedikit pun, dia tidak memberi tahu Abi tentang pembicaraannya bersama Safina," jawab Pak Sanusi.
"Ya Tuhan ... apa ini ada kaitannya dengan pembicaraan Adam bersama Oma Halimah tadi siang?" gumam Adam menduga-duga.
Pak Sanusi yang masih bisa mendengar gumaman anaknya, seketika mengernyit.
"Memangnya, ada apa dengan pembicaraan kamu dan nyonya Halimah? Apa yang kalian bicarakan?" tanya Pak Sanusi, penasaran.
Adam menghela napas. Dia sendiri bingung bagaimana cara menyampaikan pembicaraannya dengan Oma Halimah tadi kepada ayahnya. Namun, Adam yakin jika ayahnya adalah orang yang cukup bijak. Beliau bisa melihat sebuah permasalahan dari berbagai macam sudut pandang.
"Sebenarnya ... tadi Oma Halimah memberikan Adam sebuah pilihan. Dia merasa Adam terlalu lama mengikat cucunya dalam sebuah pertunangan. Dia meminta Adam untuk memilih," tutur Adam, pelan.
"Memilih?" ulang Pak Sanusi seraya mengerutkan keningnya.
"Iya, Bi. Adam harus memilih antara meneruskan, atau menghentikan," lanjut Adam.
"Apa maksud kamu, Dam? Apa yang harus diteruskan ataupun dihentikan? Apa itu pertunangan kalian?" terka Pak Sanusi.
Adam mengangguk pelan.
"Tapi kenapa?" Pak Sanusi kembali bertanya. Pria yang usianya lebih dari setengah abad itu merasa heran dengan permintaan aneh calon besannya.
"Mungkin, Oma hanya ingin sebuah kepastian untuk safina, Abi," jawab Adam.
"Hhh ..." Pak Sanusi menghela napasnya. "Apa yang dilakukan nyonya Halimah memang tidak salah, Dam. Itu hanya satu bentuk kecemasan seorang nenek terhadap masa depan cucunya. Memang benar, Nak. Kamu terlalu lama mengikat Safina dengan pertunangan ini. Usia Safina sudah tidak muda lagi. Ada banyak hal yang menjadi pertimbangan kenapa seorang perempuan terlihat buruk jika belum menikah di usia yang melebihi dari seperempat abad," tutur Pak Sanusi.
"Dengan keluarga ibu Zahra!"
Tiba-tiba perbincangan Adam dan Pak Sanusi terputus saat seorang perawat keluar dari ruang tindakan.
"Saya anaknya, Sus. Bagaimana keadaan ibu saya?" tanya Adam yang sudah berdiri di depan perawat.
"Alhamdulillah, masa kritisnya sudah terlewati. Namun, saat ini Ibu masih belum sadar. Untuk itu, kami akan memindahkannya ke ruang ICU. Supaya bisa terus dipantau perkembangan jantungnya," tutur perawat.
"Apa ini artinya, ibu saya terkena serangan jantung lagi?" Duga Adam.
"Tepat, Pak. Ibu Anda terkena serangan jantung lagi, dan kali ini cukup serius. Jadi saya sarankan, Anda harus bisa menjaga kondisi kestabilan jantung ibu Anda. Jangan berikan dia kabar-kabar mengejutkan yang bisa membuat jantungnya kembali shock," lanjut perawat.
"Baik, Sus."
🌷🌷🌷
Sepanjang perjalanan, Kenzo hanya bisa duduk termenung. Entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini. Namun, Kenzo terlihat begitu gelisah.
Ya, hati Kenzo merasa gundah setelah melihat nota pembelian atas lukisan milik gadis kecil itu.
"Rahadi Alfarizi," gumam Kenzo pelan.
Entah kenapa, rasanya nama itu seperti tidak asing baginya. Kenzo mengingat nama itu sebagai nama seseorang yang dekat dengannya dulu. Namun, Kenzo lupa siapa pemilik nama itu.
Alfarizi! Hmm, bukankah mommy bilang jika Alfarizi merupakan nama keturunannya. Lantas, siapa orang yang memiliki nama Alfarizi sebagai walinya Lara. Apa orang tersebut ada sangkut pautnya dengan nama Alfarizi yang dia sandang?
"Apa kamu Bertemu dengan pria itu, Tom?" tanya Kenzo.
Tomi yang sedang memejamkan matanya, sontak mengerjap. Dia mengalihkan pandangan terhadap tuannya seraya mengernyit.
"Maksud, Tuan" tanya Tomi.
"Apa kamu bertemu dengan walinya Lara?" tanya Kenzo lagi.
"Ya, saya bertemu dengan beliau. Kebetulan, beliau juga yang menandatangani nota pembayaran lukisan tersebut," jawab Tomi.
"Bagaimana rupanya, Tom?" tanya Kenzo lagi.
"Maaf, Tuan. Saya tidak mengerti maksud Anda?" tukas Tomi.
"Maksud saya, bagaimana ciri-ciri fisik walinya Lara. Apa dia pendek seperti kakek-kakek pada umumnya?" lanjut Kenzo.
"Tidak, Tuan. Opa Hadi itu, meskipun sudah berumur. Namun, beliau masih terlihat gagah dan rupawan. Ketampanannya masih membekas jelas. Bahkan, jika saja beliau bergaya pakaian seperti Anda, saya pikir beliau adalah gambaran Anda di masa depan," celetuk Tomi.
"Kau meledekku?" geram Kenzo.
"Hehehe ... maaf, Tuan!" sahut Tomi seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Saya hanya merasa, guratan wajahnya hampir memiliki kesamaan dengan Anda. Tapi sudahlah, mungkin karena saya terbiasa mendampingi Anda ke mana pun Anda pergi, jadi saya hampir menyamaratakan semua pria yang saya temui," ungkap Tomi.
"Ish, kau meledekku lagi, Tom. Fix, tiba di Amrik, aku akan memotong setengah gaji kamu!" tegas Kenzo.
"Eh, Tuan ...."
🌷🌷🌷
Bu Zahra berhasil melewati masa kritisnya. Dia bahkan sudah dipindahkan ke ruang rawat. Sepanjang malam, Pak Sanusi dan Adam bergantian menjaga Bu Zahra yang tertidur pulas karena pengaruh obat. Hingga setelah shalat subuh, Adam berpamitan pulang untuk berganti pakaian.
"Di-di ma-na A-adam, Bi? U-umi harus bicara dengannya?" Bu Zahra menanyakan keberadaan putra tunggalnya.
"Sudah, Umi. Kita bicara nanti saja. Saat ini, kesehatan Umi jauh lebih penting," sahut Pak Sanusi.
"Ti-tidak, A-abi. U-mi tidak a-kan te-nang sebelum ber-bicara sama A-adam," lanjut Bu Zahra.
"Tapi, Umi."
"To-tolong panggil A-dam kemari. U-umi pu-nya permintaan te-terakhir ke-pada Adam."
Masih dengan terbata-bata, Bu Zahra mengungkapkan keinginannya untuk bertemu sang anak. Entah kenapa, dia merasa jika hidupnya sudah tidak lama lagi. Karena itu Bu Zahra ingin meminta Adam untuk segera menikahi tunangannya.
"Iya, Umi tenanglah dulu. Dokter bilang, Umi harus banyak beristirahat," kata Pak Sanusi.
"U-umi ti-tidak bisa te-tenang se-belum bertemu Adam, Bi," lanjut Bu Zahra.
"Baiklah, Abi akan telepon Adam dan memintanya kemari, tapi Umi istirahat dulu ya. Dokter bilang, Umi tidak boleh terlalu banyak bicara," balas Pak Sanusi.
Bu Zahra mengangguk menanggapi perkataan suaminya. Dia percaya suaminya tidak akan mengingkari janji. Bu Zahra pun memejamkan kedua matanya untuk beristirahat.