Saat ajalnya tiba di tengah kobaran api dan puing Suku Serigala, Yana diberi kesempatan kedua oleh Dewa Binatang.
Ia terbangun di usianya yang ke-16—tepat dua bulan sebelum tragedi berdarah itu merenggut nyawa ayahnya dan meratakan tanah kelahirannya.
Namun, ancaman terbesar bukanlah monster, melainkan seorang gadis dari dunia lain yang mengaku sebagai "Wanita Suci". Berkedok kemajuan modern, ide-idenya justru merusak keseimbangan alam dan memicu perang antarsuku.
Siapakah sebenarnya sang Wanita Suci pilihan Dewa Binatang yang sesungguhnya? Mampukah Yana menyembunyikan identitasnya demi menyelamatkan sukunya tepat waktu?
Ikuti perjuangan Yana menembus batas takdir dan selamatkan dunia binatang sebelum semuanya terlambat! Baca selengkapnya sekarang di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 — Perjanjian Besi dan Darah
Udara di dalam Balai Utama Suku Elang tak lagi mencekam seperti sebelumnya, melainkan dipenuhi rasa takjub dan segan.
Keberhasilan Yana menyembuhkan Ezra secara instan di hadapan semua orang telah mematahkan kecurigaan para tetua dan pengawal Suku Elang.
Tetua Kael kembali duduk di kursi kebesarannya. Meski tubuh tuanya masih lemah, tatapan matanya kini memancarkan rasa hormat yang mendalam kepada Aron dan Yana.
"Aron..." panggil Tetua Kael dengan suara yang jauh lebih ramah. "Putri kecilmu telah melakukan keajaiban. Nyawa putra Vargas telah terselamatkan, dan itu artinya utang darah Suku Elang padamu sangat besar hari ini."
Aron melangkah maju, menundukkan kepala secara sopan. "Kami datang bukan untuk membuat Suku Elang merasa berutang, Tetua Kael. Kami datang untuk mengulurkan tangan. Musim dingin kali ini akan menjadi musim dingin terberat bagi kita semua."
"Benar," sela Vargas yang kini berdiri di samping kursi Tetua Kael, tatapannya pada Yana tidak lagi diwarnai kebencian, melainkan rasa hormat. "Wabah racun dingin ini hampir memusnahkan setengah pemburu terbaik kami. Tanpa bantuan ramuan putrimu, kami hanya menunggu waktu sampai suku kami punah."
Yana menyilangkan tangan di dada, menatap lurus ke arah Tetua Kael. "Obat yang kami bawa hari ini baru cukup untuk puluhan orang. Kami masih memiliki stok Akar Api dan Daun Darah yang melimpah di wilayah kami."
Mendengar hal itu, mata para tetua Suku Elang seketika berbinar terang.
"Apa syaratmu, Yana?" tanya Tetua Kael langsung pada intinya. "Aku tahu Suku Serigala tidak akan menyerahkan obat secantik ini tanpa imbalan yang setimpal. Katakan, apa yang kalian inginkan dari Suku Elang?"
Luka, yang berdiri di barisan belakang bersama Paman Bimo, mendadak memajukan tubuhnya. Ia berbisik setengah panik ke arah Paman Bimo, "Paman! Kenapa Yana yang mengambil alih pembicaraan? Bukankah Paman Aron yang harus menentukan tuntutan ganti rugi daging atau kulit binatang?"
"Diamlah, Luka!" tegur Paman Bimo tajam tanpa menoleh. "Dengarkan saja! Jangan memotong saat para pemimpin sedang bicara!"
Sebelum Aron sempat bersuara, Yana sudah melangkah maju satu langkah. Suaranya bergema nyaring di seluruh ruangan batu itu.
"Kami tidak menginginkan daging, dan kami tidak membutuhkan kulit binatang kalian," ucap Yana tegas.
Tetua Kael mengerutkan dahi. "Lalu apa yang kalian inginkan?"
"Kami menginginkan teknik peleburan dan pasokan Senjata Besi milik Suku Elang," jawab Yana tanpa ragu sedikit pun.
Mendengar hal itu,
Suasana di dalam balai mendadak riuh.
Para tetua Suku Elang saling pandang dengan raut wajah terkejut dan keberatan. Senjata besi—seperti belati, mata tombak, dan kapak besi—adalah rahasia terbesar dan sumber kekuatan utama Suku Elang yang membuat suku-suku lain disegani di wilayah pegunungan.
"Tunggu dulu!" potong salah satu tetua Suku Elang yang bertubuh gempal. "Senjata besi adalah warisan luhur Suku Elang! Kami tidak pernah membagikan rahasia menempa besi kepada suku luar! Tuntutan ini terlalu berlebihan!"
"Berlebihan?" Yana tersenyum sinis, menatap tetua gempal itu dengan pandangan dingin. "Apakah rahasia menempa besi kalian lebih berharga daripada nyawa ratusan warga Suku Elang yang sedang membusuk akibat racun dingin di luar sana?"
"Kamu—" Tetua gempal itu tertahan, wajahnya memerah karena tak mampu membalas.
Aron ikut melangkah ke samping Yana, menambah wibawa dalam perundingan tersebut. "Tetua Kael, dengarkan putriku. Kami tidak meminta kalian menyerahkan seluruh tungku tempa kalian. Kami hanya meminta aliansi pertahanan. Berikan prajurit kami mata tombak besi dan pelindung dada besi, lalu kami akan menjamin pasokan obat-obatan dan bahan makanan dari Lembah Bintang selama musim dingin ini."
Luka yang mendengar tuntutan senjata besi itu kembali membuka mulutnya dengan nada tak percaya. Ia melangkah mendekati Aron dan berbisik keras, "Paman Aron! Ini gila! Suku Elang tidak akan pernah mau memberikan senjata besi mereka! Tuntutan Yana ini bisa merusak perundingan!"
Yana memutar tubuhnya, menatap Luka dengan tatapan muak yang tak disembunyikan.
"Luka, sampai kapan kamu akan berpikiran kerdil?" tegur Yana tajam di hadapan semua orang. "Kamu pikir perisai kayu dan anak panah tulangmu bisa menahan serangan musuh di masa depan? Senjata besi inilah yang akan menentukan hidup dan matinya suku kita!"
"Tapi mereka musuh kita tahun lalu, Yana!" balas Luka membela diri, matanya melotot. "Bagaimana kalau setelah kita memberi mereka obat, mereka justru menggunakan senjata besi itu untuk menyerang suku kita?!"
"Itulah gunanya Perjanjian Besi dan Darah, Anak Muda!"
Suara berat Vargas memotong perdebatan Yana dan Luka. Vargas melangkah ke tengah ruangan, menarik belatinya, lalu menggores telapak tangannya sendiri hingga darah segar mengalir.
Vargas menatap Aron dan Yana. "Kami Suku Elang menjunjung tinggi kehormatan. Jika kalian menyelamatkan nyawa anak-anak kami, darah kami adalah darah kalian. Kami menerima tawaran aliansi ini!"
Tetua Kael mengangguk setuju, mengetukkan tongkat batunya ke lantai. "Vargas benar. Tanpa obat dari Suku Serigala, tidak ada prajurit kami yang tersisa untuk memegang senjata besi itu. Aku menyetujui Perjanjian Besi dan Darah ini!"
Tetua Kael menatap Yana dengan takjub. "Mulai hari ini, Suku Elang dan Suku Serigala adalah sekutu terikat. Kami akan menyediakan lima puluh mata tombak besi dan dua puluh pelindung dada besi untuk prajuritmu, Aron. Sebagai gantinya, kirimkan pasokan obat-obatan itu pekan depan."
Aron tersenyum lebar, rasa lega yang amat besar terpancar dari wajahnya. Pria tegap itu melangkah maju, mencabut pisau berburunya, lalu menyayat telapak tangannya sendiri dan menjabat tangan Vargas yang berdarah.
"Perjanjian ini sah demi Dewa Binatang!" seru Aron lantang.
"Demi Dewa Binatang!" sahut Vargas dan seluruh tetua Suku Elang di dalam ruangan.
Yana memperhatikan pertukaran janji darah itu dengan napas lega. Di kehidupan pertamanya, Suku Elang menyembunyikan senjata besi ini dan kemudian dipengaruhi oleh gadis transmigrator untuk membantai Suku Serigala.
Sekarang, aliansi itu telah dibalikkan sepenuhnya. Yana telah merebut senjata utama yang seharusnya menjadi alat pemusnah sukunya!
Di sudut ruangan, Luka berdiri mematung dengan wajah pucat dan seraut kekalahan yang sangat kelam. Setiap perkataan yang diucapkannya sejak awal perjalanan terbukti salah. Setiap keraguannya dihancurkan secara telak oleh keberanian dan kecerdasan Yana.
Yana melangkah mendekati Luka yang menunduk kaku.
"Lihat, Luka?" bisik Yana dengan suara yang hanya bisa didengar oleh pemuda itu. "Suku Elang yang kamu takuti sekarang menjadi perisai besi kita. Sementara kamu... kamu masih terjebak dalam ketakutan dan gengsimu sendiri."
Luka menggerakkan rahangnya, mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga kukunya memutih. "Yana... kenapa kamu memandangku seperti itu? Seolah-olah aku ini musuhmu?!"
Yana menatap Luka tanpa ada sedikit pun rasa hangat yang dulu pernah ada di matanya.
"Karena orang yang tidak bisa melihat bahaya dan selalu meragukan keluarganya sendiri..." pangkas Yana dingin, "...pada akhirnya akan menjadi orang pertama yang berkhianat saat bahaya itu benar-benar datang."
Luka tersentak, dadanya terasa nyeri seperti dihantam batu besar. "Aku tidak akan pernah mengkhianati Suku Serigala!"
"Buktikan dengan tindakanmu, bukan dengan mulutmu," balas Yana kaku, lalu berbalik meninggalkan Luka tanpa sudi melihat ke belakang lagi.
Malam itu, rombongan Suku Serigala dijamu dengan pesta ucapan terima kasih di pemukiman Suku Elang. Untuk pertama kalinya dalam sejarah kedua suku, mereka minum dan makan bersama di balik benteng batu.
Yana berdiri di tepi tebing pemukiman Suku Elang, memandangi hamparan pegunungan utara yang mulai ditutupi salju malam.
Rencana besarnya berjalan lancar.
Senjata besi sudah di tangan, aliansi dengan suku terkuat di pegunungan telah terbentuk.
Namun, Yana memegang dadanya yang berdetak kencang.
Di balik kemenangan diplomasi ini, ingatan tentang peringatan Dewa Binatang dan kilasan penglihatan masa depan masih terus membayanginya.
Waktu satu bulan dua pekan yang tersisa sebelum kedatangan gadis transmigrator itu akan menjadi ajang pertarungan yang sesungguhnya. Dan Yana tahu, perubahan aliansi besar-besaran ini pasti akan memicu reaksi rantai baru yang lebih berbahaya.
Aron melangkah mendekati putrinya, menyelimutkan mantel kulit tambahan di bahu Yana.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, Yana?" tanya Aron lembut.
Yana menoleh pada ayahnya, tersenyum tipis di bawah sinar bulan perak. "Aku sedang memikirkan benteng suku kita, Ayah. Ketika kita pulang besok... kita harus segera melatih prajurit kita menggunakan senjata besi ini."
Aron menepuk bahu Yana dengan bangga. "Serahkan latihan para prajurit pada Ayah dan Bimo. Kamu telah melakukan lebih dari cukup untuk suku ini, Nak."
Yana menatap ke arah garis cakrawala utara yang gelap.
'Ini baru awal, Ayah,' batin Yana. 'Aku akan memastikan ketika gadis transmigrator itu melangkah ke dunia ini... dia tidak akan menemukan suku yang lemah untuk dihancurkan, melainkan sebuah benteng besi yang siap memusnahkannya!'