NovelToon NovelToon
Mama yang Terlupakan

Mama yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Anak Genius
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Genki Harto, pewaris tunggal konglomerat terkaya se-Asia, baru berusia tiga tahun. Tapi setiap malam, dia mengemas baju-baju kecilnya ke dalam buntalan kain usang dan berjalan keluar gerbang mansion.
"Genki mau cari Mama."
Tidak ada yang bisa menghentikannya — bukan pengawal, bukan pengasuh, bukan ayahnya sendiri, Rayhan Harto, CEO yang membuat seluruh dunia bisnis tunduk. Satu-satunya hal yang bisa membuat Genki berhenti menangis... adalah seorang perempuan biasa bernama Keira.
Keira Yanto. Anak angkat yang selalu dianggap rendah oleh keluarganya sendiri. Desainer muda yang terbiasa menelan kepahitan dalam diam. Perempuan yang tidak ingat apa yang terjadi padanya empat tahun lalu — satu tahun penuh yang lenyap dari ingatannya.
Tapi Genki tahu. Entah bagaimana, anak kecil itu tahu.
Dia menolak semua orang, kecuali Keira. Dia memeluk Keira seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dan saat Rayhan mulai menyelidiki masa lalu Keira yang hilang, kebenaran yang muncul jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan:
Keira bukan siapa yang ia kira.
Genki bukan anak siapa yang semua orang sangka.
Dan orang-orang yang selama ini tersenyum di hadapan Keira... adalah dalang di balik segalanya.
"Kamu bilang aku cuma anak angkat? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu."
Saat identitas asli Keira terungkap, dunia mereka semua akan terbalik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15: Laporan yang Tidak Rapi

Kirim semuanya ke ruang kerjaku.

Rayhan mengirim pesan itu dari dalam mobil, lalu menatap layar ponselnya sampai lampu kota di luar kaca berubah menjadi garis-garis panjang. Beberapa jam lalu, ia masih menggenggam tangan Keira di depan tempat tinggalnya. Masih mengingat cara perempuan itu memanggilnya Ray dengan suara pelan.

Sekarang, satu pesan dari Gio membuat seluruh kehangatan itu berubah menjadi kewaspadaan.

Masa lalu Keira Yanto tidak sesuai catatan resmi.

Kalimat itu bukan hal kecil.

Di dunia Rayhan, dokumen yang tidak rapi hampir selalu berarti ada orang yang sengaja membuatnya begitu.

Ketika ia tiba di Vila Biru, rumah sudah sunyi. Genki tidur di kamarnya. Pengasuh memberi laporan pelan di koridor, lalu mundur setelah Rayhan mengangguk. Ia tidak naik ke kamar, melainkan langsung masuk ke ruang kerja.

Gio sudah menunggu di sana.

Di atas meja kayu gelap, beberapa map tertata rapi. Tidak banyak, tetapi cukup untuk membuat wajah Gio lebih tegang daripada biasanya.

"Mulai," kata Rayhan.

Gio membuka map pertama. "Data dasar Keira Yanto sesuai KTP: usia dua puluh empat, alamat Rumah Yanto, status belum menikah, pekerjaan desainer di D.N. Tidak ada catatan kriminal. Pendidikan bersih."

"Lalu yang tidak sesuai?"

"Ada jarak satu tahun yang tidak tercatat jelas." Gio menggeser selembar kertas. "Sekitar empat tahun lalu, Keira tiba-tiba berhenti kuliah sementara. Alasan resmi yang diberikan keluarga Yanto adalah pemulihan kesehatan dan studi mandiri di luar kota."

Rayhan menatap tanggal di kertas itu.

Empat tahun lalu.

Ujung jarinya berhenti di atas meja.

"Catatan identitasnya juga terlalu bersih," lanjut Gio. "Tanggal lahir di KTP sama dengan tanggal penetapan adopsi lama. Secara hukum masih bisa terjadi jika data awal tidak lengkap, tapi panti biasanya menyimpan catatan bayi masuk. Untuk Keira, salinannya hilang."

"Hilang atau dihilangkan?"

"Saya belum bisa memastikan."

"Anggap dihilangkan sampai terbukti sebaliknya."

"Lanjut."

"Tidak ada data perjalanan luar negeri pada periode itu. Tidak ada catatan kampus yang menunjukkan program studi mandiri. Nomor ponselnya juga berganti setelah periode itu. Teman kuliah lama mengira dia pulang kampung, tapi tidak ada yang benar-benar bertemu."

"Rumah sakit?"

Gio ragu sepersekian detik.

Itu cukup untuk membuat mata Rayhan mengeras.

"Ada indikasi dia pernah dirawat di fasilitas kesehatan swasta, tapi datanya ditutup. Saya belum bisa memastikan jenis fasilitasnya."

"Siapa yang menutup?"

"Belum jelas. Tapi pembayaran awal berkaitan dengan rekening perusahaan keluarga Yanto."

Ruang kerja terasa lebih dingin.

Rayhan mengambil lembar berikutnya. Ada salinan jadwal lama, beberapa foto buram, dan catatan lokasi. Matanya berhenti pada satu nama tempat.

Puncak.

Empat tahun lalu, Puncak bukan sekadar nama daerah bagi Rayhan.

Itu adalah malam paling tidak rapi dalam hidupnya.

Ia masih ingat bau hujan di Villa di Puncak. Ingat gelas minuman yang seharusnya tidak ia sentuh. Ingat tubuhnya mendadak panas, pandangan yang pecah, dan suara seseorang menangis tertahan di ruangan yang tidak sepenuhnya terang.

Rayhan tidak pernah menyebut malam itu sebagai kenangan.

Itu adalah kejahatan.

Terhadap dirinya.

Dan mungkin terhadap perempuan yang bersamanya malam itu.

"Tanggal ini," katanya rendah. "Keira berada di Puncak?"

Gio membuka catatan lain. "Ada bukti tidak langsung. Mobil keluarga Yanto tercatat melewati tol menuju Bogor pada hari yang sama. Nama Keira tidak masuk daftar tamu villa mana pun, tapi ada saksi yang mengingat seorang perempuan muda mirip dia di minimarket dekat jalur Puncak sehari sebelumnya."

Rayhan menutup mata sebentar.

Di kepalanya, wajah Keira malam tadi muncul. Dress hijau sage. Jari yang gemetar saat ia mengangguk. Bibir yang ia cium setelah bertanya.

Lalu wajah itu tertimpa bayangan perempuan yang menangis di malam hujan empat tahun lalu.

Tidak.

Ia tidak boleh mengambil kesimpulan terlalu cepat.

Keira berhak atas kebenaran, bukan dugaan.

"Genki lahir beberapa bulan setelah itu," kata Rayhan.

Gio mengangguk. "Jika tanggal Puncak benar, waktunya masuk akal."

Kalimat itu jatuh berat.

Rayhan berdiri, berjalan ke jendela. Di luar, taman Vila Biru gelap dan tenang. Kamar Genki berada di sisi lain rumah. Anak itu tidur tanpa tahu bahwa hidupnya mungkin sedang ditarik kembali ke malam yang selama ini Rayhan kubur.

"Siapa yang membawa Genki ke panti?" tanya Rayhan.

"Belum ditemukan. Catatan Panti Asuhan Harapan Baru menyebut bayi laki-laki ditinggalkan dengan data lahir cukup lengkap. Ada nama depan Genki di kain kecil, tapi tidak ada nama orang tua."

"Orang yang meninggalkan dia tahu tanggal lahirnya."

"Ya, Pak."

"Cari orang itu."

"Baik."

Rayhan berbalik. "Dan cari fasilitas kesehatan swasta yang menutup data Keira. Jangan pakai jalur kasar dulu. Kalau Yanto terlibat, mereka bisa panik."

"Saya mengerti."

Gio menutup map pertama, lalu mengeluarkan satu amplop cokelat. "Ada satu hal lagi, Pak."

Rayhan menatapnya.

"Saya menemukan nama keluarga Liem muncul di latar belakang adopsi lama. Bukan sebagai pihak resmi, hanya dalam catatan lama panti, sangat samar. Kemungkinan hanya kebetulan, tapi..."

Sebelum Gio menyelesaikan kalimat, ponsel Rayhan bergetar.

Nama di layar membuatnya diam.

Kevin Liem.

Rayhan mengangkat telepon. "Kev."

Suara di seberang terdengar tenang, hangat, tetapi lelah dengan cara yang hanya dimiliki orang yang terlalu lama mencari sesuatu. "Kamu masih di ruang kerja?"

"Ya."

"Bagus. Aku baru mendarat di Jakarta."

Rayhan melirik map di meja. "Ada urusan?"

"Ada." Kevin berhenti sebentar. "Aku dapat petunjuk baru tentang Sayang."

Gio mengangkat wajah.

Rayhan tidak bergerak.

Sayang.

Nama panggilan itu sudah ia dengar dari Kevin bertahun-tahun. Adik perempuan keluarga Liem yang hilang saat bayi. Satu luka besar yang membuat keluarga itu tidak pernah benar-benar utuh.

"Datang ke Vila Biru," kata Rayhan.

"Sekarang?"

"Sekarang."

Kevin tertawa pelan, tetapi tidak terdengar ringan. "Kamu terdengar seperti punya sesuatu."

Rayhan menatap nama Keira Yanto di dokumen.

"Mungkin."

Tiga puluh menit kemudian, mobil Kevin berhenti di depan Vila Biru. Pria itu masuk dengan kemeja linen gelap, rambut sedikit berantakan karena perjalanan, dan mata yang tetap tenang meski jelas kurang tidur.

Begitu melihat map di meja, senyumnya hilang.

"Kamu menyelidiki seseorang?"

Rayhan tidak menjawab langsung. Ia mengambil satu lembar data, lalu mendorongnya ke arah Kevin.

"Aku ingin kamu melihat nama ini."

Kevin menunduk.

Keira Yanto.

Awalnya, wajah Kevin tidak berubah. Lalu matanya berhenti pada tanggal lahir, catatan adopsi, dan nama panti yang tertulis kecil di bagian bawah.

Jari Kevin menegang di atas kertas.

"Ray," suaranya turun, "kenapa nama panti ini ada di sini?"

Rayhan menatap sahabatnya.

"Itu yang ingin kutanyakan padamu."

Di luar ruang kerja, Vila Biru tetap sunyi.

Tetapi di atas meja, satu nama mulai menghubungkan dua rahasia yang seharusnya tidak pernah bertemu.

1
Diana Silaen
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!