NovelToon NovelToon
Sang Konglomerat Berlutut di Hadapannya

Sang Konglomerat Berlutut di Hadapannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Enam bulan menjadi "burung kenari" konglomerat paling berkuasa di Jakarta, Keira Salim menyelesaikan misinya -- membalas dendam untuk kakaknya yang koma akibat perundungan -- lalu pergi tanpa jejak.
Rayhan Hartono terbangun di apartemen kosong. Cincin berlian merah yang dipesan khusus dari Jerman masih di sakunya. Surat perpisahan Keira hanya berisi satu kalimat: *"Terima kasih. Kita impas."*
Baru saat kehilangan, sang pewaris Hartono Group menyadari -- dia bukan yang menyelamatkan Keira malam itu. Keira-lah yang merancang segalanya sejak awal.
Dan sekarang, pria yang tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun... bersedia merangkak ke ujung dunia demi membawanya pulang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20: Rumor dan Racun

Di luar, laut Bali bergerak gelap. Untuk malam itu, jarak di antara mereka tidak hilang. Tetapi setidaknya, Rayhan akhirnya berhenti memanjatnya.

Pagi berikutnya, Keira bangun dan menemukan Rayhan benar-benar masih di sofa.

Pria itu tidur dengan posisi kaku, satu tangan jatuh dari tepi sofa, jasnya dijadikan selimut yang gagal. Ia tidak mendekat ke tempat tidur. Tidak menyentuh apa pun. Bahkan sepatunya masih rapi di dekat balkon seperti bukti bahwa ia semalam masuk sebagai tamu, bukan pemilik.

Keira berdiri beberapa detik di ambang kamar mandi.

Rayhan membuka mata hampir seketika. "Pagi."

"Kamu tidur?"

"Sedikit."

"Sofa terlalu kecil untuk egomu."

"Ego-ku sedang dihukum."

Keira tidak tersenyum, tetapi udara di kamar tidak setajam malam sebelumnya.

Beberapa hari terakhir di Bali berjalan seperti benang yang ditarik hati-hati. Keira menghadiri seminar, bertemu pemasok bahan aromatik lokal, dan menguji beberapa sampel frangipani serta cendana. Rayhan mengikuti dari jarak yang ia janjikan. Jika Keira rapat, ia menunggu di lobby. Jika Keira pergi dengan Tari, ia tidak menyusul kecuali Keira mengizinkan.

Namun internet tidak pernah mengenal jarak aman.

Pertunjukan drone delapan titik viral dalam semalam. Potongan video dari Jimbaran menyebar ke TikTok, Instagram, dan akun gosip. Wajah Keira tertangkap dalam salah satu video turis, hanya dari samping, tetapi tahi lalat merah di ujung matanya terlalu mudah dikenali oleh netizen yang sudah pernah menyebutnya si cantik misterius.

Komentar terbelah.

Romantis banget, siapa pun pria ini niat sekali.

Ini perempuan yang di acara HEALER itu kan?

Kenapa mirip orang dekat Hartono Group?

Lalu fans Vanessa masuk seperti air kotor.

Jangan-jangan ini yang ganggu hubungan Vanessa?

Kok bangga jadi orang ketiga?

Vanessa lebih pantas jadi Nyonya Hartono.

Tari membaca komentar dengan wajah makin panas. "Ci, mereka keterlaluan."

Keira menyeruput kopi tanpa gula. "Jangan dibalas."

"Aku tidak membalas. Aku hanya ingin mereka jatuh dari sinyal internet."

"Itu juga bentuk membalas."

Tari menutup ponsel, lalu ragu. "Ci, ada gosip lain. Fans Vanessa bilang Vanessa punya kekasih misterius yang sangat berkuasa. Katanya mereka akan segera bertunangan."

"Rayhan?"

Tari tidak menjawab.

Itu sudah jawaban.

Video muncul siang itu. Rayhan dan Vanessa terlihat keluar dari restoran privat di Jakarta beberapa minggu sebelumnya. Sudut video dipotong cerdik. Vanessa tampak berjalan setengah langkah di belakang Rayhan, senyumnya lembut, sementara Rayhan memakai kemeja hitam dan wajah dingin yang biasa membuat orang merasa ia tidak perlu menjelaskan apa pun.

Caption akun gosip itu sederhana.

Makan malam privat sebelum kabar pertunangan?

Keira menatap video itu lama.

Malam yang sama, Rayhan pernah berkata ia makan dengan Engkong.

Saat Rayhan kembali dari urusan singkat di Denpasar, ia mendekat seperti biasa, menunduk hendak mencium kening Keira. Keira bergeser.

Rayhan berhenti. "Kenapa lagi?"

Kalimat itu keluar terlalu cepat. Ia langsung menyesal saat melihat mata Keira berubah.

"Maksudku..." Ia menarik napas. "Apa yang terjadi?"

Keira menunjukkan video.

Rayhan melihatnya sekali, lalu wajahnya gelap. "Itu pertemuan keluarga besar. Engkong ada. Mama ada. Keluarga Tanujaya datang tanpa aku minta."

"Kamu bilang makan dengan Engkong."

"Karena memang aku datang untuk Engkong."

"Vanessa ada."

"Aku tidak datang untuk Vanessa."

Rayhan membuka galeri ponselnya, menunjukkan foto meja makan dari sudut lebih lebar. Engkong duduk di tengah. Lilian di sisi lain. Beberapa kerabat tua, termasuk keluarga Tanujaya, terlihat jelas. Vanessa duduk jauh dari Rayhan, tetapi potongan video membuat seolah mereka hanya berdua.

"Aku seharusnya bilang," kata Rayhan.

"Ya."

"Aku tidak mau kamu marah karena nama Vanessa."

"Menyembunyikan orang agar aku tidak marah biasanya membuatku lebih marah."

"Aku tahu." Rayhan menatap layar ponsel Keira yang masih penuh komentar. "Aku urus ini."

"Rayhan."

"Bukan dengan pelacak. Bukan dengan memaksa kamu pulang." Ia mengangkat mata. "Dengan membersihkan serangan yang tidak seharusnya kamu terima."

Dalam dua jam, tagar yang dibuat fans Vanessa tenggelam. Akun-akun penyebar fitnah menerima peringatan hukum dari tim Hartono Group. Komentar yang menyerang Keira menghilang dari postingan besar. Portal gosip mengganti caption, menulis bahwa video restoran adalah pertemuan keluarga luas, bukan kencan privat.

Tari menatap layar seperti melihat sulap mahal. "Ci, kolom komentar bersih."

"Terlalu bersih," kata Keira.

"Tapi enak dilihat."

Keira tidak membantah.

Sore itu, Rayhan mengajak mereka ke mall mewah di Bali. Keira mengira ia ingin mengalihkan suasana. Ternyata Rayhan hanya melihat Keira berhenti tiga detik di depan butik perhiasan, lalu langsung membeli kalung berlian dengan liontin kecil berbentuk ombak.

"Aku hanya melihat," kata Keira.

"Aku tahu."

"Kamu punya masalah dengan kata melihat."

"Aku sedang terapi informal."

"Dengan membeli berlian?"

"Metodenya mahal."

Tari tertawa sebelum sempat menahan. Rayhan menoleh padanya. "Kamu juga pilih tas."

"Saya?" Tari menunjuk dirinya sendiri.

"Kamu menemani Keira, menjaga dia, dan tidak memukulku saat seharusnya kamu ingin. Pilih tas."

Tari memandang Keira, bingung sekaligus tergoda.

Keira menghela napas. "Pilih yang kamu suka. Jangan yang paling mahal hanya karena ingin membalas dendam."

"Ci, jangan meremehkan kemampuan balas dendamku."

Untuk pertama kali setelah beberapa hari berat, Keira tertawa kecil. Rayhan melihatnya dari samping dan tidak berkata apa pun. Ia belajar bahwa beberapa senyum akan hilang jika langsung disentuh.

Mereka kembali ke Jakarta dua hari kemudian.

Malam pertama di Jakarta, Rayhan membawa Keira ke taman atap sebuah restoran yang menghadap lampu kota. Tidak ada drone. Tidak ada langit yang dibeli. Hanya meja kecil, teh hangat, dan angin yang cukup lembut. Saat mereka turun, seorang perempuan asing yang membawa kamera instan mendekat malu-malu.

"Maaf, tadi saya tidak sengaja foto kalian. Hasilnya bagus sekali. Mau saya kasih?"

Keira baru hendak menolak, tetapi Rayhan sudah melihat foto itu.

Di foto, Keira berdiri sedikit menyamping, rambutnya tertiup angin. Rayhan menatapnya, bukan kamera. Matanya dalam foto itu terlalu jelas, terlalu penuh.

"Boleh saya minta salinannya?" tanya Rayhan.

Perempuan itu tersenyum senang. "Boleh, Pak."

Malam itu, Rayhan mengunggah foto tersebut ke Instagram Story pribadinya.

Tidak ada caption. Hanya foto.

Namun sebelum mengunggah, ia memblokir keluarga Hartono dari daftar penonton. Lilian, beberapa sepupu, bahkan beberapa akun staf rumah lama tidak bisa melihat. Lingkaran sosial luas bisa melihat. Teman bisnis bisa melihat. Vanessa bisa melihat.

Keira melihat Story itu dari ponselnya.

Rayhan menatapnya dengan mata yang hampir berharap dipuji. "Aku tidak menyembunyikanmu."

Keira menatap foto itu. Bagi Rayhan, ini mungkin langkah besar. Pria yang dulu menolak orang melihatnya kini memajang fotonya sendiri. Bagi Keira, yang tahu keluarga Hartono diblokir, foto itu terasa lain.

Bukan pengakuan.

Lebih seperti seseorang membuka tirai sangkar pada tamu tertentu, lalu menutupnya lagi sebelum keluarga melihat.

Ia tidak mengatakan itu.

Ia hanya mengangguk. "Foto bagus."

Rayhan tampak lega.

Keira kembali membuka Story itu ketika sudah sendirian. Komentar masuk lewat tangkapan layar yang dikirim akun gosip, karena Story Rayhan terlalu menarik untuk tidak bocor.

Jadi ini burung kenarinya Bos Besar Hartono?

Keira membaca kalimat itu sekali.

Lalu ia menutup layar HP tanpa ekspresi.

1
kitty ❤
lanjut Thor 😍🔥
kitty ❤
Semangat Thor 😍🔥
kitty ❤
lanjut Thor 🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!