NovelToon NovelToon
PENDEKAR NAGA SAKTI

PENDEKAR NAGA SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:761
Nilai: 5
Nama Author: Adih Supriadi

Kisah perjalanan Pendekar Naga dalam membasmi kejahatan yang di sebabkan oleh Pendekar Aliran Hitam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adih Supriadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 34

KUDA PUTIH

Angin sore berhembus pelan.

Arden  menunggang kuda hitamnya, berdampingan dengan Dewi Tunjang yang duduk anggun di atas kuda putih.

Di depan mereka, Oval dan Apis jalan sambil mengobrol.

Paling depan, rombongan pertama para prajurit membuka jalan dengan tombak teracung.

Jalanannya indah.

Sawah menguning di kiri, sungai jernih di kanan. Burung-burung pulang ke sarang.

Tapi lama-lama langit berubah.

Awan gelap menggulung. Matahari tenggelam lebih cepat.

Oval menoleh ke belakang. "Bro Arden! Sudah mau gelap. Kita bermalam di hutan ini saja!"

"Oke Kak Oval, saat nya istirahat, kasihan Dewi Kunang mungkin sudah lelah juga." ucap Arden.

Arden mengangguk. "Berhenti! Buat perkemahan!"

Para prajurit langsung sigap. _Duk duk duk_...

Tenda-tenda didirikan. Api unggun dinyalakan. Kuda-kuda diikat di pohon.

Arden turun dari kuda. Dia jalan ke Dewi Tunjang dan menuntun kudanya.

"Dewi, silakan istirahat di tenda ini," kata Arden sambil membuka tirai tenda terbaik. Di dalamnya ada kasur jerami dan selimut tebal.

Dewi Tunjang turun. Matanya menatap Arden.

"Tenda Tuan Arden di mana?"

Arden menunjuk ke samping. "Ada di sini. Tenda saya tepat di samping tenda Dewi."

"Jadi jika ada apa-apa, saya bisa langsung menjaga."

"Awas Kak Arden, jaga diri, jangan sampai malam-malam menyelinap masuk ke tenda Dewi Kunang. Hehe..." ucap Apis bercanda.

"Saya tampar kamu Pis.... Ngomong sembarang..." ucap Arden kesal.

Oval tertawa karena Apis berhasil buat Arden marah.

Dewi Tunjang mengangguk pelan. Wajahnya sedikit memerah di bawah cahaya api unggun.

"Baiklah... terima kasih, Pendekar Naga."

Malam turun. Suara jangkrik dan lolongan serigala jauh terdengar dari dalam hutan.

Para prajurit berjaga giliran.

Malam semakin pekat. Hutan jadi sunyi, cuma ada suara api yang _kresek... kresek..._

Di tengah perkemahan, api unggun besar menyala. Cahayanya oranye, mengusir dingin.

Para prajurit sibuk.

Ada yang memasak ayam bakar pakai bambu.

Bumbunya meresap. Baunya bikin perut keroncongan.

Ada juga yang ngupasin pisang dan mangga buat pencuci mulut.

Arden duduk di atas tunggul kayu.

Di sampingnya Dewi Tunjang duduk anggun. Selimut tipis disampirkan di bahu. Dia sesekali menatap api, sesekali melirik Arden.

Di seberang, Apis dan Oval udah mulai bercanda.

Arden membalik ayam bakar. Lemak ayam menetes ke api. _Sssst..._

Dia sobek satu potong, terus nyodorin ke Dewi Tunjang.

"Silakan Dewi. Masih hangat."

Dewi Tunjang menerima dengan dua tangan. "Terima kasih, Tuan Arden."

Dia makan pelan. Pipinya kemerahan kena cahaya api.

"Tambah pisang bakar juga," kata Arden sambil nyodorin pisang yang kulitnya udah gosong manis.

Dewi Tunjang senyum kecil. "Di istana tidak pernah makan seperti ini. Duduk di tanah, makan dari tangan sendiri... rasanya hangat."

Oval dari jauh nyelutuk: "Itu namanya nikmatnya hidup di perjalanan, Dewi!"

Apis nimpalin: "Besok kita cari madu hutan biar makin manis!"

Semua ketawa lagi. Api unggun memantulkan bayangan mereka ke pepohonan.

*PAGI HARI*

Kabut tipis masih menggantung di antara pohon.

Cahaya matahari menembus celah daun, jatuh ke tanah hutan.

_Kuk... kuk..._ Ayam hutan bersahutan.

Para prajurit sudah bangun dari subuh. Tenda digulung, api unggun dipadamkan, kuda diberi makan.

Arden berdiri paling depan. Baju zirahnya berkilau kena sinar pagi. Pedang Naga di pinggang.

Dia menoleh ke belakang. Ratusan prajurit sudah berbaris rapi. Tombak tegak, bendera dikibarkan.

"Berangkat!" suaranya menggema.

Dewi Tunjang keluar dari tendanya. Rambut dikuncir rapi, mengenakan jubah perjalanan warna biru muda.

Arden menuntunkan kudanya. "Pagi, Dewi. Tidur nyenyak?"

Dewi Tunjang mengangguk. "iyaa. Terima kasih sudah menjaga semalaman."

Dia naik ke kuda putihnya.

Arden lalu naik ke kuda hitamnya.

Kini mereka jalan berdampingan lagi.

Di depan, Oval dan Apis memimpin barisan pertama. Sambil jalan mereka masih sempat bercanda.

Di belakang, ratusan prajurit melangkah serempak. Debu tipis mengepul.

Jalanannya mulai naik. Melewati sungai kecil, jembatan kayu, dan bukit berbunga liar.

Burung-burung beterbangan mengantar keberangkatan mereka.

Oval berteriak dari depan: "Tuan Arden! Dua hari lagi kita sampai di perbatasan Kerajaan Kencana."

Arden mengangguk. Matanya menatap jauh ke depan. "Perjalanan masih panjang. Tetap waspada."

Dewi Tunjang menoleh ke Arden. "Anginnya sejuk pagi ini."

Arden tersenyum tipis. "Semoga perjalanan kita juga sejuk... tanpa halangan."

***

Matahari sudah condong ke barat.

Pasukan Kencana berhenti di tepi Sungai Jati. Airnya jernih, dingin.

"Beristirahat! 1 jam!" perintah komandan.

Para prajurit langsung melepas lelah. Ada yang makan, ada yang rebahan di bawah pohon.

Apis menghela tali kekangnya. "Ayo, hitam. Kita minum dulu."

Kudanya yang gagah berwarna hitam legam langsung diajak ke sungai.

Dari belakang, Arden menyusul. Tapi yang dia tuntun bukan kudanya sendiri.

Seekor kuda putih bersih, surainya panjang mengkilat. Itu kuda milik Dewi Kunang.

Apis menoleh. Alisnya naik. "Eh? Bukannya itu kuda Kak Arden dari Padepokan Naga Langit?"

Arden mengangguk sambil menuntun kuda itu masuk ke air. Air ciprat-ciprat mengenai kakinya.

"Betul. Ini kuda aku dulu. Namanya Bajra."

"Loh terus kok sekarang sama Dewi Kunang?" tanya Apis penasaran sambil nyeburin ember.

Arden nyengir, lalu menyikat punggung Bajra pelan-pelan.

"Waktu awal berangkat perang kemarin... aku titipin ke Raja kencana . Soalnya mau perang, takut repot. Eh pas pulang, udah pindah tangan ke Dewi Kunang."

Apis langsung tertawa. _Ha ha ha!_

"Pantesan kemarin Dewi Kunang belain mati-matian pas Bajra hampir kepleset di jurang. Kuda kesayangan ternyata!"

"Ya iyalah," kata Arden sambil mecahin busa di punggung kuda.

"Kunang itu kalau udah sayang sama hewan, setengah mati jaganya. Bajra sekarang gemuk, kinclong. Dulu kurus sama aku."

"Dasar," Apis ketawa lagi sambil nyiram kudanya. "Kuda dititipin, malah naik pangkat jadi kuda dewi."

Bajra meringkik pelan, seakan paham. Ekornya dikibas-kibaskan, nyipratin air ke muka Arden.

Arden cuma geleng-geleng sambil ketawa.

Dari kejauhan, beberapa prajurit lain juga ikut senyum lihat mereka.

Suasana yang tadinya tegang karena habis perang... jadi agak ringan.

Beberapa prajurit ada yang mencari ikan

"Den....!!! Pissss....!!! Ayo berenang di sungai sambil cari ikan untuk makan....." ucap Oval sambil berlari lalu loncat ke tengah sungai.

BYuuuurr.....!!!!

"Wah segar air nya....." uc ap Oval.

"Ayo Apis.... Kita renang...." ucap Arden lalu ikut berenang bersama Oval.

Apis pun tak mau ketinggalan, langsung lari lalu loncat ke tengah sungai.

Dewi kunang yang sedang beristirahat tak jauh dari sungai mendengar para Pendekar Naga sedang bermain air dan berenang sambil mencari ikan.

Penasaran dan ingin ikut.

Namun pengawal memperingati Dewi Kunang agar tidak ikut berenang takut ada buaya.

Namun Dewi kunang tetap santai karena berada bersama dengan para Pendekar Naga sudah yakin jika dirinya akan di jaga dan tetap aman.

"Tak apa pengawal, santai saja, Para Pendekar Naga pastinya akan melindungi saya." ucap Dewi Kunang seraya berjalan menuju sungai.

"Kaaakkkk Arden..... Saya ikut berenang boleh tidak.....!!!" teriak Dewi Kunang ke Arden.

"Ayo Dewi silahkan... Sini saja... Ayoo...." ucap Arden dengan riang gembira.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!