NovelToon NovelToon
DxD : Sebagai Pawn Sona Sitri

DxD : Sebagai Pawn Sona Sitri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyudi0596

Tidak semua bidak catur bermimpi menjadi Raja. Yudi hanya ingin satu hal: bertahan hidup dan membangun wilayah kecilnya sendiri untuk kaum yang terbuang. Menjadi Pawn rendahan bagi Sona Sitri adalah langkah pertamanya. Dengan [Imperial Tiger Mantle] yang terikat di jiwanya, ia menahan auman sang harimau dan mengubahnya menjadi keheningan yang mencekik lawan.

update Harian 1 bab per harinya sambil menunggu keputusan kontrak., semoga berhasil ya, kalau udah fix dapet kontrak akan kembali normal. Kalau kelewat mungkin akan tambah satu bab di besoknya. semoga gak pernah terjadi dan kalian semua bisa terus membaca kisah ini dengan tenang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyudi0596, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19

Gema dari suara bentakan Tsubaki Shinra perlahan-lahan memudar, terserap oleh dinding-dinding kedap suara ruang klub OSIS Akademi Kuoh. Namun, lenyapnya gema tersebut sama sekali tidak membawa ketenangan.

Sebaliknya, udara di dalam ruangan itu terasa semakin padat dan mencekik. Cahaya dari lampu gantung menyorot debu-debu yang masih melayang di atas serpihan kayu kursi yang hancur. Bau ozon bercampur dengan anyir darah segar dari sudut bibir Yudi masih tercium cukup pekat.

Setelah melepaskan seluruh ketegangan di dadanya melalui kalimat-kalimat tajam yang meruntuhkan logika Saji, bahu Tsubaki yang semula tegang perlahan turun. Ia menghembuskan napas panjang, menetralkan ritme pernapasannya yang sempat memburu.

Tanpa membuang waktu sedetik pun untuk menunggu balasan dari Saji, gadis berkacamata itu memutar tubuhnya dengan gerakan presisi.

Tsubaki kembali berlutut di atas lantai kayu, tepat di samping tubuh Yudi yang masih terbaring tak sadarkan diri.

Ia merentangkan telapak tangannya di atas dada pemuda itu. Lingkaran sihir penyembuhan berwarna hijau zamrud, lengkap dengan aksara iblis yang berputar konstan, kembali berpendar terang.

Cahaya hijau itu menyinari luka lebam di sisi wajah Yudi, perlahan-lahan merajut kembali jaringan kulit dan otot yang rusak akibat hantaman brutal berkekuatan naga tersebut.

Tsubaki memusatkan seluruh fokus visualnya pada proses penyembuhan itu, memberikan ruang sepenuhnya bagi sang Ketua OSIS untuk mengambil alih panggung dan menjatuhkan putusan akhir.

Di tengah ruangan, Sona Sitri berdiri mematung. Sepasang mata ungunya yang berkilat dingin menatap lurus ke arah siluet Saji Genshirou. Aura berwarna ungu kehitaman masih mengepul tipis dari sekitar tubuh Sona, menciptakan distorsi visual yang membuat suhu ruangan tetap berada jauh di bawah batas normal.

Saji masih menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tubuhnya kaku, kakinya terpaku di atas lantai. Ujung sepatunya bergetar pelan. Ia tidak berani mendongak, tidak berani membalas tatapan itu, atau lebih tepatnya... otot-otot di lehernya menolak untuk digerakkan.

Ia berdiri di sana layaknya seorang terdakwa di kursi pesakitan, menunggu dengan napas tertahan kalimat apa yang akan diucapkan oleh sosok yang paling ia hormati sekaligus ia takuti tersebut atas tindakan impulsifnya.

Suara ketukan sepatu hak terdengar memecah keheningan.

Tuk... Tuk... Tuk...

Sona mengambil tiga langkah pelan mendekati Saji. Jarak mereka kini hanya tersisa kurang dari dua meter. Sona melipat kedua lengannya di depan dada, posturnya tegak lurus, memancarkan otoritas absolut yang tidak bisa dibantah.

"Kenapa kau memukulnya sekeras itu, Saji?"

Pertanyaan Sona meluncur dengan intonasi yang sangat tenang. Tidak ada nada membentak, tidak ada teriakan. Namun ketenangan itu justru terasa jauh lebih mengerikan daripada ledakan amarah. Nada suaranya setajam pisau bedah yang siap menguliti targetnya secara perlahan.

Sona memiringkan kepalanya sedikit. "Kau memukul anggota baruku, rekrutan yang bahkan belum genap dua puluh empat jam berada di bawah perlindunganku, hingga ia terpental dan menghancurkan pintu masuk ruangan ini. Kau bahkan melapisi kepalan tanganmu dengan memanifestasikan kekuatan Sacred Gear dari Raja Naga Vritra secara penuh. Apa sebegitu kesalnya dirimu, apa sebegitu terlukanya egomu... hanya karena melihat aku bergandengan tangan dengannya pagi ini?"

Tidak ada tanggapan yang keluar dari mulut Saji. Bibir pemuda pirang itu hanya bergetar terbuka dan tertutup tanpa menghasilkan satu suku kata pun. Keringat dingin terus mengucur deras dari pelipisnya, menetes melewati dagu dan jatuh ke atas lantai kayu.

Saji hanya bisa terdiam membisu, mendengarkan Sona menceritakan ulang dan mendeskripsikan betapa brutal dan tidak masuk akalnya tindakan yang baru saja ia lakukan.

Melihat tidak ada respons perlawanan dari pionnya, Sona mengambil satu langkah maju lagi. Aura dingin yang menyelimuti tubuhnya kini langsung menerpa kulit Saji.

"Beberapa menit yang lalu, kau berteriak dengan sangat lantang di ruangan ini," lanjut Sona, matanya menyipit tajam menembus pertahanan mental Saji. "Kau bilang, tindakan brutalmu itu adalah bentuk pembelaan. Kau bilang, itu semua kau lakukan demi menjaga kehormatanku dari tatapan murid-murid laki-laki akademi ini."

Sona menurunkan kedua lengannya ke sisi tubuh. Jari-jarinya mengetuk pelan sisi rok seragamnya. "Kalau memang alasanmu bertindak brutal itu murni demi menjaga kehormatanku... kalau memang bergandengan tangan dengan seorang pion laki-laki di tempat umum adalah sebuah penghinaan besar yang menodai namaku..." Sona memberikan jeda dramatis. "...maka seharusnya, Tsubaki juga melakukan hal yang sama sepertimu hari ini. Tsubaki seharusnya sudah memukul dan menghajarmu habis-habisan saat aku secara terang-terangan menggandeng tanganmu keliling sekolah ketika kau pertama kali resmi menjadi bagian dari keluargaku satu tahun yang lalu."

Mendengar pernyataan itu, bahu Saji tersentak hebat. Kepalanya mendongak dengan cepat, matanya terbelalak lebar menatap Sona. Ingatan satu tahun silam yang sempat terkubur oleh kepanikan kini membanjiri otaknya.

Ia teringat hari di mana Sona menyelamatkannya, hari di mana Sona menarik tangannya dan membawanya berjalan melintasi lorong-lorong akademi tanpa mempedulikan tatapan siapa pun.

"Tapi Tsubaki tidak memukulmu, bukan?" cecar Sona tanpa ampun, suaranya naik setengah oktaf. "Karena Tsubaki tahu dan sangat mengerti. Dan seharusnya, kau yang sudah berada di sisiku selama satu tahun juga jauh lebih mengerti! Kau seharusnya tahu bahwa tindakan menggandeng tangan anggota baru itu bukanlah sebuah tindakan romantis yang aneh-aneh! Itu adalah sebuah manuver politik dasar. Itu adalah sebuah pesan terbuka, sebuah sinyal, dan pertanda khusus yang kutujukan secara spesifik untuk sahabat sekaligus rival utamaku di akademi ini, bahwa aku baru saja mendapatkan sebuah bidak Pawn baru di atas papan caturku."

Sona mencondongkan wajahnya sedikit ke depan. "Kau pasti sudah sangat mengerti siapa sahabat yang kumaksud, bukan? Sang penerus keluarga Gremory."

Saji benar-benar kehilangan kemampuannya untuk berdiri tegak. Kedua lututnya goyah, membentur lantai kayu dengan bunyi bruk yang cukup keras. Ia jatuh berlutut di hadapan Sona. Kedua tangannya bertumpu lemas di atas pahanya. Matanya bergerak liar ke arah lantai, mencerna kebodohannya sendiri.

Ia telah melupakan fakta fundamental tersebut. Rutinitas OSIS yang padat, kebersamaan setiap hari di ruang klub, dan ilusi kedekatan yang ia bangun sendiri di dalam kepalanya telah membuatnya terbuai.

Ia mengira bahwa posisinya di mata Sona telah berevolusi menjadi sesuatu yang spesial dan eksklusif. Hal itulah yang sebenarnya menjadi alasan paling mendasar mengapa Reya Kusaka, Tomoe Meguri, dan Momo Hanakai memandangnya dengan tatapan jijik dan marah besar tadi.

Saji telah dengan sengaja melupakan fakta bahwa apa yang diperbuat Sona terhadap Yudi pagi ini adalah sebuah kebiasaan rutin, sebuah tradisi deklarasi anggota baru yang juga pernah ia alami sendiri, dan sama sekali bukan sebuah tindakan dengan maksud tersembunyi.

1
Bayuon So7
anjirlah, kata garis miring ini kayak sebuah klu atau apa dah kok tetiba gitu ya😄
Bayuon So7
jantungan si Sona cuk🤭
Bayuon So7
ini reaksinya kayaknya lebih natural dari yang sebelumnya, karena gua bacanya juga kagum cuy am kekuatan nih karakter Falbium🤭
Bayuon So7
anjay dipancing
Bayuon So7
mana bisa anjir🤣
Bayuon So7
nah kan, kena Lo. di cibir langsung sam Fuiukaicho sama🤭
Bayuon So7
geli gua dengarnya 🤣
Bayuon So7
Damn, bro beneran gosong parah si Saji di sini brok. Lu bikinnya make sense lagi Thor, gua tadi berpikir lu lagi mau injak karakter ini serampangan tapi lu mendesainnya dengan apik. jadinya gak jadi gua hujat anjirlah 🤣
Bayuon So7
wah keren lu Thor, alih-alih mempermalukan dengan aneh. lu bikin ada reason pada tindakan Sona sebelumnya dan kemarahan dia di sini beneran make sense
Bayuon So7
damn, lu juga pernah dipegang tangannya kan. ah ealah
Bayuon So7
iya, abis chef Tsubaki. sekarang chef Sona. wah beneran dibuat gosong ini sajinya.
Bayuon So7
Thor, lu kayaknya punya dendam pribadi Ama saji deh. kok serem amat penghakimannya cok.
Bayuon So7
Absolute cinema, cukup chef ini sudah gosong jangan dilanjutkan.🤭
Bayuon So7
Weh ada chef yang mau masak, pastikan bikin masakan yang lezat dan bergizi. chef Tsubaki Shinra.
Bayuon So7
ngimpi lu anying gak logis banget dah pikirannya si saji ini ya.
Bayuon So7
gua juga ngedown kalau cewek paling polos tetiba natap dengan tajam gini. artinya lu bikin masalah super serius.
Bayuon So7
oh Ice king ini loh, kalau marah meski gak meluap-luap rasanya bikin berdebar-debar
Bayuon So7
waduh Sona udah mulai kepancing emosi nih
Bayuon So7
Alasannya masuk akal tapi entah kenapa rasanya jadi klise denger omongan lu saji🤭
Bayuon So7
Efek dibuat senyum tadi siang kah, kok tetiba jadi perhatian gini 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!