Tan Keira bukan orang bodoh. Dia tahu dirinya bukan cucu kandung Engkong Budiman -- hasil tes DNA di tangannya sudah membuktikan itu. Dia juga tahu bahwa suatu hari, cucu asli keluarga Tan akan muncul dan merebut segalanya: rumah, warisan, nama keluarga, bahkan kasih sayang satu-satunya orang yang pernah mencintainya.
Tapi Keira tidak akan duduk diam menunggu kehancuran.
Di sebuah lounge mewah di SCBD Jakarta, dia mengeksekusi rencana pertamanya: menjebak Lim Renata -- mantan jenderal, CEO Lim Group, sahabat mendiang papanya, dan satu-satunya pria yang cukup berkuasa untuk melindunginya dari badai yang akan datang.
Renata dingin. Renata menakutkan. Seluruh Jakarta tunduk padanya.
Tapi di depan Keira yang gemetar (pura-pura) dan bermata basah (juga pura-pura), pria itu... lembek.
"Om, saya takut."
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Yang Keira tidak tahu: Renata bukan pria yang bisa dijebak. Dia pria yang *memilih* untuk masuk ke jebakan. Dan alasannya... jauh lebih dalam dari yang Keira bayangkan.
Saat cucu asli keluarga Tan akhirnya muncul, saat kebohongan Keira mulai terbongkar satu per satu, saat seluruh dunianya runtuh -- hanya ada satu pertanyaan yang tersisa:
*Apakah Renata akan tetap memilihnya, setelah tahu semuanya palsu?*
Jawabannya ada di dua kata yang akan menghancurkan dan menyembuhkan Keira sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Tawa Charles terdengar dari ujung sana, rendah dan senang. "Akhirnya."
Keira menyalakan speaker.
Richard berdiri sangat dekat di sampingnya. Senter taktis diletakkan menghadap lantai, membuat cahaya tipis di sekitar kaki mereka. Di luar, hujan memukul kaca. Di dalam, Villa Awan yang biasanya patuh pada satu sentuhan panel berubah menjadi kotak gelap yang dikendalikan pria di balik tahanan.
"Halo, Keira," kata Charles.
"Kamu merusak rumah orang."
"Rumah orang?" Charles tertawa. "Menarik. Aku kira ini rumahmu juga."
Keira tidak menjawab.
Richard mengambil ponsel dari tangan Keira dan mendekatkannya ke mulut. "Charles."
"Pak Lim. Senang akhirnya kita bicara tanpa mobil masuk danau."
"Nikmati sisa waktumu sebelum semua perangkatmu ditemukan."
"Ancaman dari pria kaya selalu terdengar seperti kontrak. Membosankan."
Richard menatap layar tanpa ekspresi. "Kamu ingin apa?"
"Aku sudah tanya. Apa itu cinta?"
Keira mengambil kembali ponsel. Richard membiarkannya, tetapi tangannya turun ke pergelangan Keira lagi. Kali ini genggamannya lebih kuat, seolah ia tidak suka suara Charles menyentuh telinga Keira.
"Kenapa tanya saya?" ujar Keira.
"Karena kamu lucu. Kamu mendorongku ke danau tanpa ragu, tapi bersembunyi di balik pria ini saat gelap. Kamu takut mati, tapi bermain seperti orang yang tidak punya hari esok. Aku ingin tahu perempuan seperti kamu menyebut apa sebagai cinta."
Keira tersenyum tipis meski Charles tidak bisa melihat. "Kamu terlalu banyak menonton drama."
"Jawab."
"Kalau saya jawab, listrik menyala?"
"Mungkin."
"Kalau saya tidak jawab?"
"Mungkin aku kirim rekaman CCTV Villa Awan ke semua kontak kecil yang bisa kutemukan. Tidak sulit. Banyak orang suka cerita tentang gadis keluarga Tan yang tinggal di rumah pria belum menikah."
Richard langsung menarik ponsel.
"Cukup."
"Ah, dia marah." Charles terdengar puas. "Kamu melindunginya karena janji, Pak Lim? Atau karena hal lain yang belum berani kamu sebut?"
Keira merasakan genggaman Richard mengeras.
Ia tahu Charles sedang menusuk tepat ke pusat.
Kalau Richard berbicara sekarang, Charles akan menangkap reaksinya. Maka Keira maju setengah langkah, menempel lebih dekat ke sisi Richard, lalu berkata pelan, "Cinta itu memiliki."
Diam.
Bahkan hujan seperti berhenti mendengar.
Richard menoleh ke Keira.
Dalam gelap, ia tidak bisa melihat seluruh wajahnya, tetapi cukup melihat garis bibir dan mata yang tidak menghindar. Cinta itu memiliki. Kalimat itu keluar dari mulut Keira dengan tenang, bukan seperti definisi romantis, melainkan seperti prinsip perang.
Charles tertawa pelan. "Menarik."
Keira melanjutkan, "Kalau saya mencintai sesuatu, saya tidak membiarkannya diambil orang. Saya menjaga, mengikat, menyembunyikan kalau perlu. Orang yang bilang cinta itu membebaskan biasanya belum pernah kehilangan rumah, nama, dan masa depan sekaligus."
Richard mencengkeram pergelangan tangan Keira.
Bukan untuk menyakiti.
Untuk menahan.
Keira merasakan panas telapak tangannya di kulit. Dalam gelap, batas menjadi kabur. Panggilan Om, usia, janji pada Papa, semua berubah menjadi kain tipis yang bisa robek dengan satu tarikan.
"Jadi kamu ingin memiliki Pak Lim?" tanya Charles.
Keira tersenyum. "Kamu bertanya apa itu cinta, bukan siapa yang saya cintai."
"Pengecut."
"Tahanan."
Charles tertawa lebih keras. "Aku suka kamu."
Richard mengambil ponsel. "Satu kata lagi, aku pastikan kamu tidak menyentuh jaringan apa pun seumur hidupmu."
"Kamu pikir penjara bisa menghentikan rasa penasaran?"
"Tidak. Tapi isolasi bisa."
Suara Charles berhenti sebentar.
Kali ini Richard yang tersenyum tipis, dingin. "Kamu ingin bermain listrik? Bermainlah di ruangan tanpa kabel."
Di ujung telepon, Charles menghela napas seolah terhibur. "Kalian berdua cocok. Sama-sama sakit."
Telepon terputus.
Pada saat yang sama, lampu ruang tengah menyala kembali satu per satu. Router berkedip. Pendingin ruangan hidup. Panel smart home memunculkan notifikasi error yang langsung dikirim ke sistem Jason.
Keira menghembuskan napas.
Richard belum melepaskan pergelangan tangannya.
"Cinta itu memiliki?" katanya.
Keira menelan ludah. "Saya menjawab Charles."
"Aku mendengar."
"Om tidak setuju?"
Richard menatap tangannya yang menggenggam Keira. Perlahan, genggaman itu bergeser. Jari-jarinya menyusup di antara jari Keira, bukan lagi di pergelangan. Sepuluh jari mereka bertautan lebih erat daripada malam listrik sebelumnya.
"Aku tidak bilang tidak setuju."
Keira terdiam.
Di lorong, langkah Jason terdengar cepat, lalu berhenti sebelum masuk. Mungkin ia melihat dari jauh. Mungkin ia melihat tangan mereka. Mungkin ia sekali lagi memilih umur panjang.
Richard menunduk mendekati Keira. "Jangan bicara tentang memiliki di depan pria seperti Charles."
"Kenapa?"
"Karena dia akan mengira punya hak."
"Memangnya siapa yang punya hak?"
Pertanyaan itu keluar tanpa rencana.
Richard menatapnya lama. Tangannya masih menggenggam jari Keira. Cahaya lampu yang baru kembali membuat wajahnya tampak lebih pucat, lebih keras, dan lebih tidak mampu berbohong.
"Bukan dia."
Keira menunggu.
Richard tidak melanjutkan.
Namun bagi Keira, dua kata itu sudah cukup untuk membuat malam terasa lebih berbahaya daripada gelap.
Ponsel Keira bergetar sekali lagi.
Pesan dari nomor Charles masuk sebelum Jason memblokir jalurnya.
Charles: Kalau begitu, aku juga mencintaimu.
Keira menatap layar sampai huruf-huruf itu seperti bergerak.
Richard mengambil ponsel dan memberikannya pada Jason yang akhirnya masuk dengan laptop terbuka. "Blokir semua jalur. Salin pesan. Kirim ke penyidik."
"Baik, Boss."
Jason bekerja di meja ruang tengah, wajahnya lebih serius daripada biasa. Dalam lima menit, ia sudah menghubungkan tim IT, security, dan kontak kepolisian yang menangani Charles. Beberapa staf berdiri jauh di lorong, tidak berani mendekat.
Keira duduk di sofa, masih merasakan bekas genggaman Richard di jari-jarinya.
"Dia sengaja memilih kata itu," katanya.
Richard berdiri di depannya. "Untuk membuatmu takut."
"Untuk membuat Om marah."
"Dia berhasil pada dua-duanya."
Keira mengangkat wajah. "Saya tidak takut dia mencintai saya. Orang seperti Charles tidak tahu cinta."
"Justru itu masalahnya."
Jason mengangkat mata sebentar, lalu kembali ke laptop. "Boss, ada indikasi pesan itu dikirim lewat ponsel selundupan di blok tahanan. Kami sedang minta pemeriksaan sel."
"Minta pindahkan dia ke isolasi komunikasi."
"Saya proses lewat penyidik."
Keira menatap Richard. "Om benar-benar akan melakukannya?"
"Dia mengancam rumahmu."
Rumahmu.
Satu kata itu membuat layar ponsel, pesan Charles, dan gelap tadi mundur sedikit dari kepala Keira. Richard tidak berkata rumahku. Tidak berkata rumah ini. Ia berkata rumahmu, seolah keputusan malam sebelumnya sudah menjadi fakta hukum yang tidak perlu akta.
"Om," katanya pelan, "kalau cinta itu memiliki, apa bedanya dengan obsesi?"
Richard tidak menjawab cepat.
Jason mengetik lebih pelan.
"Batas," kata Richard akhirnya. "Orang yang mencintai tahu kapan harus menahan diri meski ingin memiliki."
"Om tahu?"
Richard menatap jari Keira yang masih sedikit gemetar.
"Aku sedang belajar."
Keira tidak tahu harus menang atau kalah mendengar itu.
Malam itu, security Villa Awan berjaga sampai pagi. Semua kamera diperiksa. Semua panel diganti password dan akses cadangan. Charles dipindahkan ke sel dengan pengawasan komunikasi lebih ketat sebelum subuh.
Namun pesan terakhirnya tetap tinggal di kepala Keira seperti noda tinta.
Kalau begitu, aku juga mencintaimu.