Baca dulu "CALLIE SI BOCAH GENIUS"
Pergerakannya tidak bisa ditebak. Tingkahnya sangat random seperti remaja lainnya. Namun otaknya hampir 24 jam bekerja untuk membuat senjata dan sistem, meretas, dan melakukan eksperimen. Dunia bawah dan laboratorium khusus yang diwariskan padanya dari sang Opa, membuat gadis remaja itu tumbuh menjadi sosok yang cerdik. Dia adalah Callie Noura Eleanor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rapat
"Bos, rapat sebentar lagi akan dimulai. Penampilan dan wajahnya tolong dikondisikan," peringat Reska pada Callie yang sedang sibuk dengan laptopnya.
Bukan tanpa alasan Reska mengingatkan Callie begitu. Pasalnya saat ini Callie hanya memakai celana jeans dan kaos oblong. Penampilannya sama sekali tidak mencerminkan seorang pemimpin perusahaan. Apalagi yang datang kali ini adalah seorang pengusaha dan pebisnis muda sukses dari luar negeri. Tidak mungkin Callie menemui clientnya itu dengan memakai pakaian seperti ini. Sedangkan Callie yang ditegur oleh Reska hanya menatap malas pada asistennya itu.
"Yang penting tuh otak dan etikanya, bukan penampilannya. Percuma tampil anggun tapi tidak memiliki etika, sopan santun, dan otaknya nol." ceplos Callie dengan ucapan pedasnya itu. Reska menghela nafasnya sabar saat mendengar ucapan dari Bosnya itu.
"Bos Callie, setidaknya kamu menghargai tamu dengan penampilan yang rapi. Jadi biar kelihatan paket komplit. Udah cantik, pintar, dan rapi. Client ini juga masih muda, Bos Callie. Siapa tahu jadi jodohmu," ucap Reska sambil menaikturunkan alisnya.
"Ini aku bawakan blazer dan celana formal. Tenang saja, Bos Callie tidak akan kelihatan tua walaupun memakai pakaian ini. Lagi pula ini dari Tante Rachel," lanjutnya saat melihat Callie akan protes.
Namun Reska tahu kalau sudah membawa nama Mamanya Callie, berarti itu seperti perintah mutlak dan wajib dilakukan. Dengan wajah cemberut, Callie mengambil paper bag yang diletakkan Reska di atas meja kerjanya. Callie masuk ke dalam kamar di ruang kerjanya sambil menghentakkan kaki dan menggerutu.
"Padahal yang penting pakai baju sih. Kalau nggak pakai baju, itu baru diomelin. Udah kaya emak-emak rumpi emang itu Kak Reska," gerutu Callie sesaat sebelum masuk ke kamar di ruang kerjanya.
"Buruan, Callie. Keburu clientnya ngantuk," seru Reska meminta agar Callie tak menggerutu terus dan segera berganti pakaian.
"Sabar... Nanti kalau aku minta pakaikan Kak Reska biar cepat selesai, pasti Kakak bakalan kabur. Jadi sabar aja sih," seru Callie dari dalam kamar membuat Reska memelototkan matanya.
"Callie, jangan asal nyeplos kaya gitu ya kalau di depan cowok lain. Bahaya, ntar malah cowok itu memanfaatkanmu." teriak Reska dengan jantung deg-degan. Ada rasa khawatir pada diri Reska tentang Callie yang selalu asal berbicara seperti itu.
Iya,
Reska pun memilih keluar dari ruangan Callie dan menyiapkan beberapa dokumen untuk pertemuan kali ini. Client meminta untuk kerjasama dalam pembuatan dan pemasaran robot cicak yang digagas oleh PT Juchi Tech. Robot tersebut adalah buatan Callie. Bukan sembarang robot, tapi Callie benar-benar membuatnya sebagai senjata terselubung. Di dalamnya sudah terdapat sistem untuk mengeluarkan petasan dan semburan api. Perusahaan milik Opanya itu akan merambah dalam dunia robot senjata dan dipasarkan ke luar negeri. Pasalnya selama ini yang dibuat secara masal, hanya robot dengan sistem CCTV atau peringatan bahaya saja.
"Cantiknya Callie ini. Udah kaya Ibu CEO. Untung bukan CEO yang menyamar," gumam Callie sambil cekikikan. Callie pun segera keluar dari ruangannya dan melihat asistennya sudah siap.
"Kenapa make upnya nggak dip..."
"Kak Reska mau pakai make up? Sebentar... Callie ambilkan. Siapa tahu Kak Reska mau mangkal di gang seb..."
Stoppp...
"Nggak jadi. Ayo buruan kita temui client. Keburu jadi sumala itu client kita," Reska langsung menghentikan ocehan Callie yang semakin tidak masuk akal. Reska segera menarik tangan Callie agar pergi menuju ruang rapat.
***
Permisi...
Dih... Sok lemah lembut,
Reska mencibir suara Callie yang berkata dengan lemah lembut saat menyapa client. Seorang laki-laki muda dengan tatapan tajamnya dan raut wajahnya begitu datar melihat sekilas ke arah Callie. Tidak ada senyum sekali walaupun Callie sudah menampilkan senyuman terbaiknya dan suara lemah lembutnya. Laki-laki itu adalah Endricko Tagara Zadn atau biasa dipanggil Ricko. Di samping Ricko ada asisten sekaligus sekretarisnya Ben Ranumenza.
"Lelet dan tidak menghargai waktu sama sekali," ucap Ricko dengan sindirannya.
"Berapa harga waktu anda, Tuan Ricko? Saya bisa membelinya, sekali pun itu sampai triliunan." ucap Callie dengan nada sombongnya. Berbeda sekali dengan saat tadi menyapa Ricko dan Ben. Callie tidak merasa tersinggung dengan sindiran dari Ricko itu. Callie pun segera duduk di kursi yang disediakannya dengan senyum polos tanpa dosanya.
"Dasar sombong. Menilai segala sesuatu dari uang," ucap Ricko dengan lirikan sinisnya.
"Terimakasih atas pujiannya, Tuan Ricko. Ini bisnis, jadi wajar kalau saya menilai semuanya dari uang. Kecuali kalau saya sedang bersedekah, yang dinilai ikhlas dan ketulusannya." ucap Callie dengan santainya.
Reska sudah memberi kode pada Callie agar tidak meladeni ucapan Ricko. Pasalnya Reska sudah mencari tahu tentang sepak terjang Ricko dalam dunia bisnis. Sikapnya begitu tegas dan mudah tersinggung. Sikap Callie yang asal dan terkesan menantang Ricko ini membuat Reska ketar-ketir. Pasalnya perusahaan Ricko ini bisa jadi batu loncatan demi robot baru buatan Callie. Hanya perusahaan tertentu yang mau menerima robot dengan sistem senjata membahayakan seperti ini. Entah apa alasan Ricko mau menerima kerjasama ini. Reska belum menemukannya.
"Tolong kembali pada topik pembicaraan, Nona. Setelah ini kami masih harus ada acara lagi," ucap Ben menyela agar Callie tidak lagi membahas hal lain.
"Tuan anda itu yang mulai. Jangan salahkan Callie dong," seru Callie membuat Reska menepuk dahinya pelan.
"Jika memang anda tidak serius, kam..."
"Maafkan Nona Callie, Tuan Ben dan Tuan Ricko. Nona Callie ini sedang datang bulan makanya agak sensitif. Kebiasaannya juga sering berdebat dan ingin berantem kalau sedang datang bulan," sela Reska dengan cepat.
Baru pertama kali perusahaan PT Juchi Tech membuat robot dengan sistem senjata seperti ini. Sehingga mereka membutuhkan channel dari perusahaan lain untuk mengenalkannya. Jangan sampai karena Callie yang berdebat dengan Ricko, usahanya meyakinkan client menjadi gagal total. Callie pun langsung duduk dengan mode seriusnya saat melihat tatapan Reska. Kali ini sikap dan tatapan Callie sangat berbeda. Ricko dan asistennya sedikit terkejut dengan perubahan Callie.
"Robot ini saya buat sendiri, terutama sistemnya. Ada petasan dan api yang bisa keluar dari mulut robot cicak ini saat pemiliknya dalam bahaya. Bisa juga nanti ditambahkan peluru untuk..." Callie menjelaskan panjang lebar tentang spesifikasi robot buatannya. Perbedaannya sangat jelas saat Callie dalam mode serius begini. Ricko dan Ben sedikit kagum dengan Callie yang bisa menjelaskan dengan detail. Walaupun Ricko tahu kalau Callie ini hanya memanfaatkan perusahaannya yang punya channel banyak untuk penjualan robot senjata seperti ini.
"Saya bersedia menjalin kerjasama dengan PT Juchi Tech," ucap Ricko tiba-tiba.
Deal...
Deal...
Jangan sampai anda bermain di belakang saya, Tuan Ricko. Saya bisa saja menjadi macan yang siap menerkam anda kalau kalian sampai macam-macam,
Anda tenang saja. Asal anda jujur dan tidak berkhianat, saya pastikan semua berjalan lancar.
Oke,
Onty Callie...