Bagi Adrian, Dira hanyalah seorang gadis jalanan yang pernah ia selamatkan. Namun bagi Dira, Adrian adalah alasan ia bertahan hidup, bangkit dari kemiskinan, dan mengubah takdirnya.
Malam itu, ia bertekad mengubah dirinya bukan sebagai gadis jalanan lagi, melainkan wanita yang siap melakukan apa saja demi memiliki pria yang telah menguasai hatinya.
"Sekecil apapun kesempatan itu, akan ku manfaatkan sebaik mungkin!" (Dira)
#CintaRomantis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Tawa Bastian langsung pecah. "Kalau begitu kita sama, Dira. Akupun begitu. Yang spesial hanya satu, tak ada yang lainnya dan ku pastikan kamu akan ada di posisi itu. Bagaimana? Kamu boleh pikirkan dahulu, kalau sudah ada jawaban, silahkan hubungi aku kapanpun."
Dalam perjalanan pulang, Dira terus memikirkan perkataan Bastian. "Kalau hanya sebatas saling mengenal dulu... Tidak ada yang berbahaya, kan?" Ia memegang kemudi mobil dengan erat.
Dana investasi itu bisa membuat usahanya berkembang beberapa tahun lebih cepat. Dan semakin cepat usahanya berkembang. Semakin cepat pula ia merasa bisa berdiri sejajar dengan Adrian.
Nama itu kembali memenuhi pikirannya. "Mas Adrian... aku harus segera mencapaimu." Namun, jauh di lubuk hatinya, suara Beri kembali terngiang. "Jangan mudah tergoda oleh janji yang terdengar terlalu indah."
Dira menarik napas panjang. Ia belum memberikan jawaban. Tetapi untuk pertama kalinya, ambisinya mulai berbenturan dengan prinsip yang selama ini ia pegang.
***
Keesokan harinya, Dira datang ke sebuah hotel untuk menghadiri forum bisnis yang juga dihadiri para investor. Saat hendak memasuki lobi, langkahnya terhenti. Di sudut ruangan, ia melihat Bastian sedang berbincang akrab dengan seorang perempuan cantik. Keduanya tampak sangat dekat. Sesekali perempuan itu menggandeng lengan Bastian sambil tertawa.
Dira tidak berniat menguping. Namun pemandangan itu sudah cukup membuatnya memahami sesuatu. Di dalam hati, justru muncul rasa lega.."Ini alasanku untuk menolak. Aku tidak perlu menerima tawaran hubungan yang lebih dekat dengannya." Dira juga berhasil mendapatkan informasi dari resepsionis bahwa Bastian sudah menginap semalam dengan perempuan cantik itu.
Tak lama kemudian, Bastian menyadari kehadiran Dira. "Dira?" Ia segera menghampirinya. "Kamu disini."
Dira tersenyum tipis, meski sengaja memasang raut wajah yang sedikit muram. "Tadi... aku melihatmu."
Bastian menoleh ke arah perempuan yang masih berada di lobi. "Oh, dia?"
Dira mengangguk pelan. "Aku pikir... kamu serius ingin mengenalku."
Bastian terkekeh kecil. "Kamu cemburu?"
Dira tidak menjawab. Ia hanya menundukkan pandangan, membiarkan Bastian menafsirkan sendiri sikapnya.
Bastian mendekat sedikit. "Dira, jangan salah paham."
"Lalu perempuan itu siapa?"
"Teman."
"Kelihatannya bukan sekadar teman. Kalian menginap di kamar yang sama semalam, kan? Apa mau lanjut jadi dua, tiga atau berapa malam?"
Bastian mengembuskan napas sambil tersenyum percaya diri. "Masa lalu seseorang seharusnya tidak menentukan masa depannya."
Dira tetap diam.
Bastian menatapnya lekat-lekat. "Kalau kamu memberiku kesempatan..." Ia berhenti sejenak. "...aku akan setia."
Dira mengangkat wajahnya. Tatapan Bastian tampak meyakinkan. Namun entah mengapa, Dira tidak merasakan ketulusan yang sama seperti ketika Bu Emi, Dokter Monik, atau Beri
berbicara kepadanya. Ia hanya tersenyum sopan. "Terima kasih karena sudah jujur."
"Lalu?"
"Aku rasa... sebaiknya hubungan kita tetap sebatas rekan bisnis."
Senyum di wajah Bastian perlahan memudar. "Jadi itu keputusanmu?"
Dira mengangguk.."Aku sedang fokus membangun perusahaan. Untuk saat ini, aku belum ingin menjalin hubungan yang lebih dari itu." Kalimat itu terdengar halus. Namun cukup jelas untuk menolak tanpa mempermalukan siapa pun.
Bastian masih tersenyum, tetapi untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa perempuan di hadapannya tidak semudah yang ia bayangkan.
Sementara Dira melangkah meninggalkan lobi dengan perasaan lega. Kini ia memiliki alasan yang cukup untuk menjaga jarak. Dan yang lebih penting, ia tidak perlu mengorbankan prinsipnya demi mempercepat jalan menuju kesuksesan.
***
Penolakan Dira ternyata tidak membuat Bastian mundur. Justru sebaliknya. Beberapa hari kemudian, karangan bunga mulai berdatangan ke kantor Dira. Lalu undangan makan malam. Kemudian hadiah-hadiah kecil yang selalu disertai kartu bertuliskan kalimat singkat.
"Semoga harimu menyenangkan."
"Jangan terlalu lelah bekerja."
Dira selalu mengembalikannya dengan sopan. Namun Bastian seolah tidak mengenal kata menyerah. Hingga suatu sore, ia kembali datang ke kantor Dira tanpa pemberitahuan. "Boleh kita bicara sebentar?"
Dira mengangguk. Mereka duduk di ruang tamu kantor.
Bastian mengembuskan napas panjang sebelum membuka pembicaraan. "Mengenai kejadian di hotel..." Ia melirik Dira. "...aku mengakui aku salah."
Dira tidak menyela.
"Aku bilang ingin mengenalmu lebih dekat, tapi di saat yang sama aku masih terlihat dekat dengan perempuan lain. Dari sudut pandangmu, wajar kalau kamu kehilangan kepercayaan." Ia tersenyum tipis. "Aku tidak mencari pembenaran." Suasana menjadi hening beberapa saat. Lalu Bastian melanjutkan dengan nada yang lebih serius. "Sejujurnya, ada sesuatu yang ingin kusampaikan."
"Apa?"
"Usiaku sudah lebih dari tiga puluh tahun." Ia menatap Dira lekat-lekat. "Aku mulai memikirkan kehidupan yang lebih serius. Aku ingin membangun rumah tangga."
Dira tetap memasang ekspresi datar.
"Dan setelah mengenalmu, aku yakin..." Bastian berhenti sejenak. "...kamulah perempuan yang paling cocok untuk menjadi pendampingku."
Dira sedikit mengernyit.
"Kita sama-sama membangun bisnis dari nol. Kita sama-sama ambisius. Kita mengerti dunia usaha." Bastian menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Bayangkan kalau kita berjalan bersama." Ia tersenyum penuh keyakinan. "Dua pengusaha muda dengan visi yang sama." "Kalau kita bersatu, kita bisa membangun sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang bisa kita capai sendiri."
Ruangan kembali sunyi. Dira tidak langsung menjawab. Ucapan Bastian terdengar masuk akal jika dilihat dari sisi bisnis. Namun entah mengapa, ia masih teringat peringatan Beri. Reputasi seseorang tidak hanya dibangun oleh kata-kata. Melainkan oleh kebiasaan dan tindakan yang dilakukan berulang kali. Karena itu, Dira memilih tetap tenang. "Terima kasih atas kejujuranmu, Pak Bastian."
"Tidak usah memanggilku 'Pak'."
Dira hanya tersenyum tipis. "Untuk saat ini, aku ingin tetap fokus mengembangkan perusahaan. Soal hubungan pribadi, aku belum ingin mengambil keputusan." Jawaban itu tidak menutup pintu dengan kasar. Namun juga tidak memberi harapan.
Bastian tersenyum tipis. "Baik. Aku bisa menunggu." Meski demikian, di dalam hatinya muncul tekad baru. Ia belum pernah bertemu perempuan yang begitu sulit ditaklukkan. Dan justru karena itulah, ia semakin tertarik pada Dira.
***
Setelah pertemuan itu, Dira mengambil keputusan. Ia tidak lagi mengejar Bastian sebagai calon investor. Baginya, tidak ada satu pun kerja sama yang layak dipertahankan jika sejak awal batas antara urusan bisnis dan urusan pribadi sudah menjadi kabur.
"Kalau memang bukan jalannya, berarti aku harus mencari jalan yang lain," gumamnya.
Dira kembali memperluas jaringan profesionalnya. Ia menghadiri berbagai forum kewirausahaan, seminar, dan pertemuan bisnis seperti biasa. Baginya, kesempatan selalu datang kepada orang yang terus membuka diri untuk belajar dan membangun relasi.
Salah satu relasi yang tetap terjalin baik adalah dengan seorang kepala daerah yang pernah mengundangnya sebagai pembicara dalam seminar kewirausahaan yang diselenggarakan pemerintah daerah.
Saat itu, Dira membagikan kisah perjuangannya membangun usaha dari nol hingga mampu membuka lapangan pekerjaan bagi anak-anak yayasan. Cerita itu meninggalkan kesan mendalam.