Lim Keira pikir dia cuma iseng.
Malam itu di Singapura, di sebuah klub eksklusif yang hanya bisa dimasuki dengan undangan, Keira mengangkat papan tanda dan "membeli" seorang pria tampan yang berdiri di atas panggung. Tinggi 193 cm, rahang tajam, mata sedingin es — dan aroma kayu cendana yang membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
Tiga puluh ribu dolar untuk satu malam.
Keira yakin dia yang berkuasa. Dia yang punya uang. Dia yang menentukan aturan main.
Yang tidak dia tahu: pria yang dia "beli" itu bukan model.
Tan Rayhan. Sang Malaikat Maut. Penguasa dunia bawah tanah yang mengendalikan kasino, senjata, dan ribuan perusahaan di seluruh Asia Tenggara. Pria yang belum pernah disentuh wanita mana pun dalam 25 tahun hidupnya.
Dan Keira baru saja membuatnya... jatuh.
Tapi kehidupan Keira bukan dongeng. Ibu kandungnya sudah meninggal. Ibu tirinya, Yuliana, diam-diam menghancurkan segalanya dari dalam. Adik tirinya, Vanessa, berpura-pura menjadi pewaris sah keluarga Lim dan mencuri apa yang seharusnya milik Keira. Ayahnya? Lebih memilih bisnis daripada putrinya sendiri.
Satu-satunya senjata yang Keira punya: kemampuan yang tidak dimiliki siapa pun di dunia ini — dia bisa melihat setiap kartu di meja judi. Setiap batu permata palsu. Setiap kebohongan yang tersembunyi di balik senyuman.
Dan sekarang, dua dunia bertabrakan.
Dunia gelap Rayhan — di mana taruhan senilai ratusan miliar dilempar seperti uang recehan, di mana satu kesalahan bisa berarti peluru di dada.
Dan dunia Keira — di mana keluarga besar yang seharusnya melindunginya justru menjadi musuh terbesarnya.
Di antara meja judi bernilai triliunan dan pertempuran keluarga konglomerat, satu pertanyaan tetap menggantung:
*Apakah cinta bisa bertahan di dunia yang dibangun di atas kebohongan?*
*Atau justru kebohongan terbesar adalah... bahwa dia tidak pantas dicintai?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Keira menguap, lalu semakin nyaman menyandarkan pipinya di paha Rayhan, sama sekali tidak sadar bahwa seluruh keluarga besarnya sedang menuju pagar vila.
Tablet di tangannya berbunyi tanda kemenangan. Keira mengangkatnya dengan bangga.
"Lihat, aku menang lagi."
Rayhan menunduk. "Bagus."
"Sekarang tulus?"
"Sangat."
"Bohong."
Rayhan meletakkan dokumen di meja, lalu mengambil tablet dari tangan Keira. "Istirahatkan matamu."
"Aku baru main sepuluh menit."
"Empat puluh menit."
Keira duduk, rambutnya sedikit berantakan karena terlalu lama berbaring. Ia hendak protes ketika matanya menangkap daftar belanja di meja. Rayhan menulisnya pagi tadi dengan tulisan rapi. Beberapa bahan sudah dicoret, tetapi buah pir madu dan daun bawang belum ada.
"Aku ke minimarket kompleks sebentar."
Rayhan langsung menatapnya. "Saya pesan saja."
"Dekat sekali. Aku butuh jalan. Kamu terlalu protektif."
"Karena kau terlalu pandai membuat masalah."
Keira tertawa. "Aku cuma beli buah."
Ia mengambil dompet kecil dan kunci mobil. Ponselnya tergeletak mati di meja, tetapi ia tidak menyadarinya. Sebelum keluar, ia berbalik dan menunjuk Rayhan.
"Jangan buang snack-ku lagi."
"Tidak janji."
"Ray!"
Rayhan mengangkat tangan, menyerah tanpa niat. Keira pergi dengan langkah ringan, sama sekali tidak tahu bahwa perjalanan pendek itu akan menjadi jeda paling salah hari itu.
Beberapa menit setelah mobil Keira keluar dari gerbang belakang kompleks, iring-iringan keluarga Lim berhenti di depan pagar vila.
Belasan mobil memenuhi sisi jalan. Satpam kompleks yang berjaga tampak ragu saat melihat Hendrawan turun dari mobil pertama, disusul Yuliana, Vanessa, Brandon, beberapa paman dan bibi, serta dua pengawal keluarga Lim.
"Kami keluarga pemilik rumah," kata Brandon cepat, sebelum satpam bertanya terlalu banyak.
Hendrawan menatap pagar tinggi vila itu dengan wajah semakin gelap. Enam ratus meter persegi, gerbang pribadi, kamera keamanan di setiap sudut. Rumah itu tidak mungkin dibeli dari uang saku biasa.
Putrinya menyembunyikan terlalu banyak hal.
Bel vila ditekan.
Sekali.
Dua kali.
Lalu berkali-kali dengan kasar.
Di dalam, Rayhan baru selesai mengganti air di vas bunga mawar merah muda ketika suara bel berubah tidak sabar. Ia menoleh ke arah interkom. Layar memperlihatkan kerumunan orang di depan pagar.
Wajah Hendrawan.
Yuliana.
Vanessa.
Dan belasan orang lain yang jelas bukan tamu biasa.
Rayhan mematikan kompor kecil di dapur. Saat itu ia hanya memakai kaus rumah warna abu-abu gelap dan celana panjang santai. Rambutnya belum benar-benar rapi setelah Keira beberapa kali menariknya saat bermain tadi. Dari luar, ia memang tampak seperti laki-laki yang tinggal terlalu nyaman di rumah perempuan.
Ia membuka pintu utama, lalu gerbang kecil otomatis terbuka.
Kerumunan itu masuk seperti air bah.
Yuliana adalah orang pertama yang melihatnya dari dekat. Matanya bergerak dari wajah Rayhan ke pakaiannya, lalu ke ruang tamu luas di belakangnya. Sesaat, ia tampak tertegun oleh wajah dan tubuh laki-laki itu. Namun keterkejutan itu segera berubah menjadi senyum tajam.
Beberapa bibi langsung mengeluarkan ponsel. Salah satunya bahkan mengangkat kamera ke arah sofa, menangkap selimut yang masih kusut, tablet Keira di meja, dan cangkir teh yang baru diminum setengah. Semua benda kecil itu, jika masuk ke grup WhatsApp keluarga, bisa berubah menjadi cerita yang jauh lebih kotor daripada kenyataan.
Rayhan melangkah satu langkah ke samping, menutup pandangan ke ruang keluarga.
"Jangan mengambil foto di rumah ini."
Suaranya tidak keras.
Namun dua ponsel langsung turun.
Seorang paman yang perutnya menonjol di balik batik mahal mendengus. "Kamu pikir kamu siapa sampai berani melarang keluarga Lim?"
"Orang yang sedang menjaga rumah Keira."
"Menjaga?" Bibi lain tertawa sinis. "Atau dijaga oleh Keira?"
Rayhan tidak menjawab. Ia hanya mengambil tablet Keira dari meja dan menaruhnya menghadap bawah, lalu memindahkan foto ibu Keira dari kabinet kecil ke sisi yang lebih aman. Gerakan itu sederhana, tetapi membuat Yuliana menyipit. Laki-laki ini tahu letak barang-barang pribadi Keira. Ia tidak sekadar datang semalam.
Kesimpulan itu justru membuatnya semakin yakin bahwa skandal ini harus dipotong hari ini juga.
"Benar kan?" kata salah satu bibi dengan suara tinggi. "Memang ada laki-laki!"
"Astaga, di rumah sendirian."
"Keira benar-benar sudah kelewatan."
"Anak perempuan tinggal dengan laki-laki seperti ini? Mau jadi apa nama Lim?"
Rayhan berdiri di ambang pintu tanpa bergerak.
Ia tidak menyambut. Tidak juga mengusir.
Namun diamnya membuat dua orang paling depan secara naluriah berhenti melangkah. Ada sesuatu pada cara laki-laki itu menatap, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dipergoki.
Hendrawan maju. "Kamu siapa?"
Rayhan menatapnya. Dari wajah dan usia, ia tahu ini ayah Keira. Orang yang suaranya membuat Keira menggigil di telepon. Orang yang hendak menukar masa depan Keira dengan kerja sama bisnis.
Karena itu, Rayhan menjawab lebih sopan daripada yang biasanya ia berikan kepada orang yang menerobos rumah.
"Saya yang tinggal di sini."
Ruang tamu meledak oleh suara.
"Dengar sendiri!"
"Tinggal di sini katanya!"
"Laki-laki tidak tahu malu."
Vanessa berdiri sedikit di belakang Yuliana. Matanya berkedip cepat, seolah takut, tetapi bibirnya hampir tersenyum.
"Papa," katanya pelan, "mungkin Jiejie belum sempat menjelaskan..."
"Diam," potong Hendrawan.
Vanessa langsung menunduk, puas karena sudah mendapat reaksi yang diinginkan.
Yuliana maju satu langkah. "Keira di mana?"
"Keluar sebentar."
"Tentu saja." Yuliana tertawa kecil. "Meninggalkan laki-laki simpanan di rumahnya sendiri. Hebat sekali."
Mata Rayhan bergerak ke arahnya.
Hanya satu pandangan.
Suara Yuliana berhenti sesaat.
Ia tidak tahu kenapa tengkuknya tiba-tiba dingin. Laki-laki di depannya tidak meninggikan suara, tidak mengancam, bahkan belum melangkah. Namun ada tekanan yang membuat kata-kata berikutnya terasa seperti harus dipaksa keluar.
Seorang paman berdeham keras, mencoba menutupi rasa canggung. "Hei, anak muda. Kamu tahu ini rumah siapa?"
"Rumah Keira."
"Keira itu anak keluarga Lim."
"Saya tahu."
"Kalau tahu, kamu masih berani tinggal di sini?"
Rayhan tidak menjawab.
Hendrawan menatap ruang tamu. Ada selimut di sofa. Ada cangkir teh madu. Ada dasi mahal yang tergantung di sandaran kursi. Semua tampak terlalu akrab, terlalu domestik, terlalu nyata untuk dibantah.
Amarahnya naik ke kepala.
"Panggil Keira."
"Ponselnya tertinggal."
"Jadi kamu tahu dia ke mana?"
"Beli bahan makanan."
Salah satu bibi tertawa sinis. "Lihat, seperti suami istri saja."
Yuliana menangkap kata itu. "Jangan samakan dengan suami istri. Tidak ada keluarga baik-baik yang membiarkan anak perempuan belum menikah tinggal serumah dengan laki-laki tidak jelas."
Rayhan akhirnya bergerak. Ia mengambil ponsel dari meja, melihat layar mati milik Keira, lalu meletakkannya kembali.
"Kalau ingin bicara dengan Keira, tunggu dia pulang."
"Kamu menyuruh kami menunggu?" Hendrawan menatapnya tidak percaya.
"Saya meminta kalian tidak membuat keributan di rumahnya."
"Rumahnya?" Hendrawan tertawa dingin. "Semua yang dia punya berasal dari keluarga Lim."
Rayhan menatapnya.
Ia tahu itu tidak benar. Rumah ini, mobil-mobil itu, uang yang Keira gunakan untuk bertahan hidup, semuanya dibangun dari kemampuan dan keberaniannya sendiri. Namun ia tidak punya hak membuka rahasia Keira di depan orang-orang ini.
Jadi ia diam.
Diam itu dianggap pengakuan.
Yuliana segera memanfaatkannya. "Lihat? Tidak bisa jawab. Pasti dia yang menghasut Keira. Sejak ada laki-laki ini, Keira makin berani melawan keluarga."
"Bu Yuliana," Brandon berkata dengan nada seolah bijak, "mungkin lebih baik kita bawa orang ini keluar dulu. Biar Nona Keira bicara dengan keluarga tanpa pengaruh."
Rayhan meliriknya.
Brandon langsung menegang. Ia pernah melihat laki-laki arogan, preman, pengawal, bahkan orang Tio Group yang punya reputasi keras. Namun tatapan Rayhan berbeda. Tidak berisik. Tidak kasar. Justru karena terlalu kosong, Brandon merasa seperti sedang berdiri di tepi lubang yang tidak terlihat dasarnya.
Yuliana menunjuk Rayhan. "Kalian dengar? Bawa dia keluar."
Dua pengawal keluarga Lim maju.
Rayhan tetap di tempat.
Hendrawan tidak menghentikan.
Vanessa menggenggam tangan ibunya, matanya berbinar tertahan.
"Kalau dia melawan," kata Yuliana, suaranya semakin tajam, "patahkan saja kakinya. Laki-laki simpanan seperti ini harus tahu diri."
Udara di ruang tamu mendadak membeku.
Salah satu pengawal yang sudah hampir menyentuh bahu Rayhan tiba-tiba berhenti. Ia sendiri tidak tahu kenapa. Yang ia lihat hanya mata laki-laki itu berubah. Tidak merah, tidak liar, tetapi dingin sampai membuat otot tangannya kaku.
Rayhan bisa merobohkan mereka dalam hitungan detik.
Ia tahu itu.
Tubuhnya mengingat jarak, napas, titik lemah, sudut serangan. Dua orang di depan. Tiga di samping. Brandon di belakang, bukan ancaman. Hendrawan terlindung kerumunan. Yuliana terlalu dekat dengan meja kaca. Semua bisa selesai sebelum Keira kembali.
Namun mereka keluarga Keira.
Orang-orang yang, seburuk apa pun, masih terikat pada luka yang belum siap Keira putuskan.
Rayhan menurunkan tangan yang sempat mengepal.
"Saya tidak akan memukul kalian," katanya pelan.
Yuliana salah mengira itu sebagai takut.
"Pegang dia!"
Pengawal pertama meraih kerah kaus Rayhan.
Pengawal kedua mengangkat tangan, tinjunya mengarah ke wajah Rayhan.
Rayhan tidak bergerak.
Di luar pagar, suara ban mendadak menjerit di atas aspal.
Semua orang menoleh.
Sebuah mobil berhenti mendadak di depan vila. Pintu pengemudi terbuka keras, menghantam udara dengan suara tajam.
Langkah cepat berlari mendekat.
Lalu suara Keira merobek seluruh ruang tamu.
"SIAPA YANG BERANI SENTUH DIA?!"