Aura Luminar bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Bangkit dari kematian akibat pengkhianatan tunangan nya dan selingkuhannya, dia datang dengan jiwa yang baru, membawa dendam untuk menghancurkan orang-orang yang sudah membunuhnya.
Kaisar Zane Caliber, dingin, dominan, dan tidak tersentuh. Pria kejam yang tidak pernah memberi ampun pada musuhnya, gila kerja, dan tidak pernah tertarik dengan wanita mana pun, membuat takhta Permaisuri kosong tanpa pendamping.
Sebuah permainan berbahaya dimulai saat Aura sengaja memancing perhatian sang Kaisar, untuk belas dendam dengan mantan tunangan nya, sang Pangeran yang telah mencampakkan nya.
Akankah Zane tetap berdiri kokoh sebagai penguasa yang tak tersentuh, atau justru terjerat dalam pesona dan perangkap yang diciptakan Aura?
_____________
"Lahirkan keturunan untuk ku, akan kuberikan kekuasaan di bawah kaki mu."~ Kaisar Zane Caliber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SANGAT BERANI
Sora yang berdiri di belakang bahkan lngsung menutupi mulutnya sendiri dengan kedua tangan karena saking syoknya.
Nico mengusap tengkuknya yang terasa dingin, pria kepercayaan Kaisar itu benar-benar kehabisan kata-kata menghadapi keangkuhan calon ibu negara kekaisaran ini.
"L-Lady Aura... Anda yakin ingin saya menyampaikan kalimat kasar itu pada Yang Mulia Kaisar?" tanya Nico memastikan dengan wajah meringis.
"Tentu saja," jawab Aura santai.
"Sampaikan tanpa ada satu kata pun yang dikurangi, kalau perlu, tambahkan bahwa saya sangat membenci pria yang sok berkuasa seperti dia," lanjut Aura tersenyum dingin.
Nico menghela napas pasrah, akhirnya membungkuk hormat, pria itu sadar bahwa tidak ada gunanya berdebat dengan gadis berkepala batu ini.
"Baik, Lady Aura. Perintah Anda akan saya sampaikan," ucap Nico pasrah.
Nico lalu berbalik menatap para prajurit pengawal yang berdiri di belakangnya.
"Tutup kembali semua petinya dan angkut ke dalam kereta!" perintah Nico tegas.
"Baik, Tuan!" jawab para prajurit cepat-cepat menutup peti kayu berukir emas itu dan membawanya keluar dari kediaman Duke Luminar.
Setelah para pengawal istana menghilang dari pintu utama, suasana di ruang tamu mendadak sepi.
Duke Daren langsung menghampiri putrinya dengan raut wajah sangat cemas.
"Aura, kamu benar-benar nekat, Nak!" bisik Duke Daren tegang.
"Bagaimana kalau Kaisar Zane emosi lalu mengirim pasukan untuk menyerang kediaman kita?" tanya Duke Daren khawatir.
Aura menyandarkan tubuhnya santai pada pinggiran sofa, menyunggingkan senyum tipis nya, penuh percaya diri.
"Ayah tenang saja," jawab Aura santai.
"Pria tua kaku itu tidak akan marah cuma karena ditolak, justru semakin kita menantangnya, dia akan semakin penasaran," lanjut Aura dengan kilatan cerdik di matanya.
Duchess Clara mengelus dadanya yang terasa naik turun menahan rasa kaget.
"Aura... kamu ini sebenarnya punya rencana apa?" tanya ibunya bingung.
Aura menoleh pada ibunya, tersenyum manis tanpa dosa.
"Aku tidak punya rencana apa-apa, Ibu," jawab Aura tersenyum licik.
"Aku cuma tidak suka ada pria yang bertindak seolah-olah bisa membeli ku, mau dia Kaisar atau dewa sekalipun, aku tidak peduli," lanjut Aura penuh harga diri.
Sora mendekat pelan, berbisik di samping telinga majikannya.
"Nona... tapi kalau boleh jujur, Kaisar Zane itu sangat tampan lho. Hadiahnya juga tidak tanggung-tanggung, sayang sekali Anda menolak nya," goda Sora polos.
Aura langsung melayangkan tatapan tajam pada pelayannya itu.
"Sora, kamu mau saya suruh menyapu gedung tua belakang bersama Rian?" ancam Aura halus.
Sora langsung membungkam mulutnya rapat-rapat dan menggelengkan kepala secepat kilat.
"T-tidak, Nona! Saya bercanda!" cicit Sora takut.
Aura mendengus pelan, merapikan gaun birunya yang tampak berkibar anggun.
"Ayah, Ibu, aku mau balik ke kamar dulu. Kepala ku agak pusing melayani kelakuan orang-orang gila hari ini," pamit Aura melangkah kembali menuju tangga utama.
"I-iya, Nak, istirahatlah," jawab Duchess Clara memandangi punggung putrinya yang makin menjauh dengan rasa heran sekaligus bangga.
Aura berjalan menuju kamarnya, sementara Sora masih setia mengekor tepat di belakangnya dengan langkah tergesa-gesa.
Begitu pintu kamar tertutup rapat, Sora langsung bersandar di balik pintu sambil menghela napas panjang penuh kelegaan.
"Fiuh... jantungku hampir copot tadi, Nona," ucap Sora memegangi dadanya yang masih berdegup kencang.
Aura mendengus pelan, melepas sarung tangan kainnya satu per satu lalu melemparnya sembarangan ke atas meja rias.
"Kenapa harus copot? Memangnya Tuan Nico mau memakan mu?" sindir Aura santai, berjalan menuju sofa di sudut kamar.
"Bukannya begitu, Nona! Tapi itu tadi utusan khusus Kaisar! Kalau tadi Kaisar mendadak berubah pikiran lalu mengirim pasukan pembunuh bayaran ke rumah ini bagaimana?" ucap Sora, cemas.
Aura duduk dengan anggun, menyilangkan kaki kanannya ke atas kaki kiri.
"Kalau dia mau mengirim pembunuh bayaran, dia tidak akan repot-repot mengirim tiga peti harta, lebih dulu, Sora," jawab Aura tenang.
Sora menggeleng-gelengkan kepalanya tidak habis pikir melihat ketenangan luar biasa di wajah sang majikan.
"Tapi, Nona... kata-kata Anda tadi ke Tuan Nico itu benar-benar kejam sekali," ucap Sora dengan nada berbisik.
"Menyuruh Kaisar mencari wanita lain karena Anda bukan barang yang bisa dibeli... wah, berani sekali mulut itu berkata seperti itu," puji Sora kagum sekaligus ngeri.
Aura mendengus angkuh, menopang dagunya dengan sebelah tangan.
"Kenapa harus takut? Memangnya kenyataannya begitu, kan?" ucap Aura tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Aku bukan gadis naif yang gampang luluh cuma karena di kasih harta melimpah oleh pria berkuasa, apa lagi setelah apa yang ku lalui selama ini," lanjut Aura dengan sorot mata yang mendadak mendingin.
Sora mengangguk-angguk kecil membenarkan perkataan majikannya.
"Benar juga, sih, setelah disakiti dan di khianati oleh Pangeran Luis, wajar kalau Anda jadi tidak percaya lagi pada pria di istana," ucap Sora prihatin.
Aura memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap langit sore yang mulai berubah warna menjadi kemerahan, bukan karena sedih dengan ucapan Sora, justru dia sedang mengutuk Aura asli yang dulu sangat mencintai pria seperti Luis.
"Luis dan Kaisar Zane itu beda tipis, Sora," gumam Aura pelan, suaranya terdengar sangat serius.
"Sama-sama merasa diri mereka adalah pusat dunia dan bisa mempermainkan orang lain sesuka hati," lanjut Aura tajam.
Sora yang mendengar nada suara majikannya mulai berubah serius langsung terdiam, tidak berani lagi mengeluarkan komentar sembarangan.
"Tapi tenang saja..." ucap Aura tiba-tiba kembali tersenyum miring.
"Permainan baru saja dimulai, dan aku tidak punya niat sedikit pun untuk kalah dari mereka," lanjut Aura penuh percaya diri.
Tok
Tok
Tok
Tiba-tiba suara ketukan pintu kembali terdengar dari luar kamar, membuat Sora tersentak kaget untuk kedua kalinya hari ini.
"Aduh... siapa lagi itu?!" gerutu Sora cemas, melangkah pelan mendekati pintu.
Sora menarik napas dalam-dalam sebelum perlahan-lahan memutar gagang pintu dan membukanya sedikit.
Seorang pelayan senior kediaman Duke Luminar berdiri di luar dengan postur tubuh membungkuk hormat.
"Ada apa? Jangan bilang ada utusan istana datang lagi!" tanya Sora, panik.
Pelayan paruh baya itu menggeleng cepat, lalu menunjuk ke arah ujung koridor dengan ekspresi canggung.
"B-bukan, Sora, ini bukan dari istana, tapi... di ruang tamu ada seseorang yang ingin menemui Lady Aura," jawab pelayan itu gugup.
Aura yang mendengar percakapan itu dari dalam sofa langsung mengangkat sebelah alisnya.
"Siapa yang datang sore-sore begini, Sora?" tanya Aura bersuara cukup keras, melipat kedua tangannya di dada.
Pelayan itu bergegas masuk beberapa langkah ke dalam kamar, lalu membungkuk hormat ke arah Aura.
"Maaf mengganggu waktu istirahat Anda, Lady Aura, tapi tamu di bawah ini mengaku sebagai kenalan lama Anda," lapor pelayan senior, sopan.
effort nya ga main-main loo
🥰🥰🥰
good luck kaisar💪
Coba ajak makan, klo jawabannya terserah, brati tambah runyam urusan menahklukan hatinya 😛