NovelToon NovelToon
Sujud Terakhir Sang Pemikat

Sujud Terakhir Sang Pemikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Kutukan
Popularitas:985
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Nyai Seruni, seorang dukun yang menghabiskan masa mudanya menghancurkan kebahagiaan orang lain lewat racun petunduk karena rasa iri, kini terjebak dalam tubuh yang membusuk namun menolak mati. Di ambang sakaratul maut yang abadi, ia harus menyeret tubuhnya yang lumpuh untuk bersujud di kaki para korbannya—orang-orang yang hidupnya ia curi—hanya demi satu hal : izin untuk meninggal dunia.

Assalamualaikum semua, aku datang dengan tulisanku.
Bantu ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan jika suka.
Insya Allah besok pagi jika banyak peminat, 😉
Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat, 🙏

#cerbung
#cerpen
#ceritahoror
#hobimenulis
Cerita Hantu
Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 : Runtuhnya Celah Karang dan Jalan Keluar Bawah Air

Asap hitam tebal bercampur debu kapur memenuhi seisi ruangan telaga bawah tanah. Ledakan mesiu yang dipicu oleh Ki Ranajaya memicu runtuhnya langit-langit goa bagian depan, menciptakan suara bergemuruh dahsyat yang memetakkan telinga. Puluhan ton batu karang raksasa jatuh bertumpuk, menyumbat total lorong keluar satu-satunya menuju pantai.

Ki Ranajaya dan sisa anak buahnya terhempas oleh gelombang kejut ledakan yang mereka buat sendiri. Beberapa di antaranya tertimbun runtuhan batu kecil, sementara sang mantan empu merangkak panik di balik asap, menyadari bahwa keputusannya meledakkan mesiu telah mengurung dirinya sendiri dalam cengkeraman maut Gua Karang Berbisik.

"Kepung! Lorongnya tertutup total!" jerit seorang perompak dengan suara gemetar ketakutan.

Di sisi lain telaga, Marno pasang badan melindungi Sari dan Si Mbah dari jatuhan serpihan batu kapur. Dengan ketangguhan fisiknya, ia mengayunkan martil besinya ke udara, menangkis dua bongkahan batu karang sebesar kepala manusia yang hampir menimpa bahu Sari.

CRANG! CRANG!

Batu-batu itu hancur menjadi serpihan halus ketika bertabrakan dengan kepala martil Marno. Setelah debu ledakan perlahan terurai, suasana di dalam telaga mendadak menjadi sunyi ganti mencekam. Satu-satunya jalan darat untuk kembali ke kapal Bahari Perkasa kini telah berubah menjadi dinding batu mati yang tak mungkin ditembus hanya dengan tenaga manusia.

"Marno... jalan keluarnya tertutup rapat," bisik Sari seraya merapatkan bumbung bambu berisi Bunga Teratai Hitam ke dadanya. Tangannya sedikit gemetar, namun matanya tetap memancarkan keberanian. "Air telaga ini juga mulai naik akibat getaran ledakan tadi."

Marno mengedarkan pandangan ke sekeliling telaga bawah tanah yang kian menyempit. Benar saja, guncangan hebat dari ledakan mesiu telah meretakkan dinding-dinding dasar telaga. Air tawar jernih yang tadinya tenang kini bergolak deras, perlahan menenggelamkan bukit karang tempat Bunga Teratai Hitam tadi dipetik.

Si Mbah melompat gelisah di atas bahu Marno, menunjuk-nunjuk ke arah sudut telaga yang paling dalam dengan erangan berulang-ulang.

Uuk! Uuk-uuk!

"Ada apa, Mbah?" Marno memperhatikan arah tunjukan kera kecil itu.

Di dasar telaga yang kian dalam, di balik bongkahan batu besar tempat Gurita Karang Purba tadi tertidur, terlihat pusaran air kecil yang menyedot serpihan lumut dan dedaunan. Pusaran itu memancarkan rona cahaya kebiruan yang redup—tanda adanya celah aliran air subterranean yang terhubung langsung dengan lautan lepas di luar tebing!

"Ada sungai bawah tanah di dasar telaga ini!" seru Marno menunjuk ke arah pusaran. "Arusnya mengalir menuju luar tebing karang. Itu satu-satunya jalan keluar kita!"

"Tapi Marno, kita tidak bisa bernapas di dalam air sedalam dan sejauh itu," sahut Sari bijak. "Jika celah bawah air itu terlalu panjang, kita akan kehabisan udara sebelum mencapai permukaan laut."

Sari tidak kehilangan akal. Dengan cekatan, ia membuka tas kulitnya dan mengambil beberapa bumbung Akar Kelor Laut dan Daun Gelinggang. Ia menumbuknya kasar menggunakan batu karang, lalu mencampurkannya dengan getah pohon cemara yang dibawanya dari perbukitan Karang Tumpuk.

"Ini racikan Napas Gelombang," kata Sari seraya membagikan gumpalan racikan beraroma segar menyerupai mint itu kepada Marno dan meletakkan sedikit di hidung Si Mbah. "Kunyah dan tahan di bawah lidah. Racikan ini akan memperlambat denyut jantung dan menghemat penggunaan oksigen dalam darah kita selama beberapa menit di dalam air."

Sementara Marno dan Sari bersiap, Ki Ranajaya yang merangkak ketakutan melihat mereka hendak melompat ke dalam telaga. Dengan wajah pucat dan tubuh memar, sang mantan empu menyeret tubuhnya mendekati Marno, memohon tanpa sisa kesombongan yang tadi ia pamerkan.

"Pande Marno... tolong aku!" ratap Ki Ranajaya pilu, air matanya bercampur dengan debu hitam mesiu. "Jangan tinggalkan aku mati membusuk di dalam goa gelap ini! Aku janji akan membubarkan kelompok bajak lautku dan menyerahkan seluruh hartaku pada Kedatuan!"

Marno menatap Ki Ranajaya dengan pandangan dingin namun penuh rasa kemanusiaan. Baginya, pembalasan dendam tidak ada gunanya jika hanya membiarkan seseorang mati konyol.

"Jika kau ingin selamat, buang pisaumu dan ikuti kami melompat ke dalam pusaran air," tegas Marno. "Tapi ingat, di luar sana, kau harus mempertanggungjawabkan semua kejahatanmu di hadapan hukum Kedatuan Pantai Selatan."

Tanpa berpikir dua kali, Ki Ranajaya melemparkan sisa senjatanya dan mengangguk pasrah. Anak buahnya yang masih hidup pun ikut merangkak mendekati tepi telaga dengan tubuh gemetar.

"Siap, Sari? Si Mbah?" tanya Marno menatap dua sahabatnya.

Si Mbah memeluk leher Marno erat-erat, sementara Sari mengangguk mantap sambil mengikatkan bumbung Teratai Hitam ke dadanya dengan kain tebal agar tidak terlepas di terjang arus.

"Hitungan ketiga! Satu... dua... TIGA!"

BYURRR!

Marno, Sari, Si Mbah, serta Ki Ranajaya dan sisa anak buahnya melompat bersamaan ke dalam dinginnya telaga bawah tanah. Air yang pekat dan dingin langsung membalut tubuh mereka saat mereka tertarik masuk ke dalam celah pusaran dasar goa.

Di dalam lorong air subterranean yang gelap gulita, arus bawah laut menghempas tubuh mereka dengan sangat kuat. Marno menggunakan satu tangannya untuk menggandeng Sari, sementara tangan satunya memeluk Si Mbah yang bertahan erat di dadanya. Efek racikan Napas Gelombang milik Sari bekerja sempurna—paru-paru mereka terasa tenang dan tak bergejolak meski harus menahan napas di tengah himpitan air laut yang pekat.

Mereka meluncur melintasi terowongan karang bawah laut sepanjang puluhan meter, meliuk-liuk mengikuti arus alami samudra yang membelah tebing mati Gua Karang Berbisik.

BWOOOOSH!

Tiba-tiba, kegelapan bawah air terpecah oleh siluet sinar matahari sore yang menembus permukaan laut! Dengan satu dorongan arus terakhir yang kuat, tubuh Marno, Sari, dan Ki Ranajaya mencuat keluar dari dasar laut, muncul tepat di permukaan air Selat Lintah Laut yang terbuka!

Crrhh haahh!

Mereka menderu menghirup udara segar sore hari yang dipenuhi aroma garam. Di hadapan mereka, kapal perang Bahari Perkasa sedang memutar haluan, dan Kapten Wardana yang berada di atas geladak langsung berteriak gembira melihat mereka muncul dari balik buih gelombang.

"Mereka selamat! Turunkan sekoci! Lempar tali penyelamat sekarang!" perintah Kapten Wardana bergema nyaring di atas angin laut.

Satu per satu dari mereka berhasil ditarik naik ke atas geladak kapal. Marno duduk bersandar di papan kapal, menyapu air laut dari matanya sambil menepuk-nepuk punggung Si Mbah yang terbatuk kecil namun segera melompat gembira.

Sari dengan penuh kehati-hatian membuka wadah bambu di dadanya. Bunga Teratai Hitam itu masih utuh, mekar cantik dengan kilau keemasan yang tak tergores sedikit pun oleh ganasnya arus bawah laut.

"Bunga ini selamat, Marno," bisik Sari dengan ukiran senyum lega di wajahnya yang basah. "Laksamana Reksapati bisa disembuhkan."

Di sudut geladak lain, Kapten Wardana langsung memasang rantai besi pada kedua tangan Ki Ranajaya yang terduduk pasrah tanpa perlawanan lagi. Penguasa jahat Selat Lintah Laut itu telah ditundukkan, bukan hanya oleh kekuatan martil tempa, tetapi juga oleh keagungan alam dan keberanian hati para musafir gunung.

Layar Bahari Perkasa kembali dikembangkan. Kapal itu berputar arah, membelah ombak sore menuju ke barat, membawa penawar racun dan kemenangan kembali ke Pelabuhan Bandan.

1
MARQUES
coba bikin novel yang MC nya cewe KK pasti bagus dengan genre horor🙏
Selie Noris: Terima kasih masukannya ya kak, 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!