Ning terbangun di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang bukan miliknya.
Perutnya rata. Bayinya hilang. Dan tahun di kalender menunjukkan angka yang mustahil — enam belas tahun telah berlalu sejak malam kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Tapi anaknya masih hidup.
Kian Nie, 16 tahun. Pewaris tunggal Semesta Group. Remaja berambut perak dengan tatapan sedingin es — yang langsung mengusirnya begitu mendengar namanya.
Karena nama Ning... adalah nama mendiang ibunya.
Ning tahu ia tidak bisa mengaku. Tidak kepada Kian yang masih memendam luka ditinggal ibunya. Tidak kepada Kevin Nie — suami lamanya yang kini menjadi CEO paling berkuasa di Jakarta, yang masih memakai cincin pernikahan mereka setelah enam belas tahun, yang masih menonton video terakhirnya setiap malam sebelum tidur.
Yang tidak Ning tahu: Kevin sudah mengenalinya. Matanya, caranya tertawa, kebiasaannya yang tak mungkin dipelajari orang lain.
Dan ia akan melakukan apapun untuk tidak kehilangan Ning — untuk kedua kalinya.
Pernikahan kilat. Identitas yang tersembunyi. Seorang anak yang diam-diam memanggil "Mama" saat mengira ia tidur. Dan satu keluarga yang bersekongkol menjaga rahasia terbesar mereka — bahwa ibu tiri baru Kian... bukan ibu tiri biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34: Jiwa yang Pergi
Udara pagi langsung membeku.
Ning menurunkan tangan dari pergelangan yang sudah bersih tanpa bekas luka.
"Bawa aku ke bawah," katanya.
Kevin menatapnya. "Kamu tidak perlu menemui mereka."
"Aku perlu."
Kian berdiri di belakang kursi roda, wajahnya sudah gelap. "Aku ikut."
"Kian."
"Aku ikut, Mama."
Nada itu tidak bisa dibantah.
Kevin akhirnya mengangguk pada Bi Ruan. "Minta security tahan mereka di luar gerbang. Jangan biarkan masuk."
"Baik, Tuan."
Di depan gerbang Menteng Enclave, Hartono Tju sudah membuat keributan.
Kemejanya kusut, bau alkoholnya bahkan terasa sebelum gerbang dibuka sedikit. Di belakangnya, Mei berdiri dengan tubuh menciut. Ada lebam baru di dekat tulang pipinya, ditutup bedak terlalu tebal. Yuan Tju, yang tubuhnya lebih besar daripada terakhir kali Ning lihat, berdiri sambil memainkan ponsel dan menatap rumah besar itu dengan mata serakah.
"Ning!" Hartono berteriak. "Keluar kamu! Sudah jadi istri orang kaya, lupa keluarga?"
Beberapa satpam komplek dan tetangga yang lewat mulai melambatkan langkah. Sopir-sopir pribadi pura-pura sibuk dekat mobil, tetapi mata mereka jelas mengarah ke gerbang Nie.
Konflik itu sudah cukup publik.
Hartono jelas tahu itu.
Ia sengaja meninggikan suara, sengaja berdiri dekat kamera gerbang, sengaja mendorong Mei setengah langkah ke depan agar lebam di wajah perempuan itu terlihat menyedihkan. Di tangan Yuan, ponsel sudah mengarah ke rumah seperti siap merekam.
"Lihat!" Hartono berteriak pada siapa pun yang mau mendengar. "Anak perempuan masuk rumah orang kaya, orang tua sendiri dibiarkan susah. Begini cara keluarga Nie memperlakukan besan miskin?"
Security komplek saling pandang.
Kevin melihat ponsel Yuan.
"Rekam terus," katanya datar. "Supaya pengacara saya tidak perlu meminta ulang bukti pemerasan."
Tangan Yuan langsung turun sedikit.
Kevin mendorong kursi roda Ning sampai tepat di balik gerbang. Kian berdiri di sampingnya, tubuh sedikit maju, seperti pagar hidup.
Hartono melihat wajah Ning.
Ia terdiam sesaat.
Mei juga.
Yuan mengerutkan kening. "Kok mukanya beda?"
Hartono cepat sadar dan menunjuk Ning. "Jangan sok tidak kenal! Mau mukamu berubah jadi apa pun, kamu tetap anak yang kami besarkan!"
"Saya sudah memberi batas terakhir kali," kata Ning tenang.
"Batas?" Hartono tertawa keras. "Kamu tinggal di rumah sebesar ini, suamimu konglomerat, tapi ibu dan adikmu hidup susah di Bandung. Itu namanya durhaka!"
Mei maju setengah langkah. "Ning, bantu sedikit saja. Hartono... dia sedang banyak utang."
Ning memandang lebam di wajah Mei.
"Dia memukulmu lagi?"
Mei langsung menunduk. "Tidak. Aku jatuh."
Kian mengepalkan tangan.
Yuan mendengus. "Drama banget. Ibu cuma minta uang, kamu malah bahas luka. Dasar perempuan lupa diri. Kalau bukan keluarga kami, kamu sudah mati di jalan."
Pukulan itu datang sebelum siapa pun sempat menahan.
Kian maju dan menghantam wajah Yuan.
Yuan jatuh ke belakang, ponselnya terpental ke aspal.
Mei menjerit. Hartono memaki. Satpam langsung bergerak, tetapi Kevin mengangkat tangan agar mereka berhenti tepat sebelum menyentuh Kian.
"Kian," suara Kevin rendah.
Kian berdiri dengan napas keras. Buku jarinya memerah.
"Dia menghina Mama."
"Cukup satu kali."
Kian menoleh pada Kevin. Untuk sesaat, kemarahan di wajahnya bertemu dengan ketegasan Kevin.
Lalu Kian mundur setengah langkah.
Ia masih marah, tetapi ia mendengar.
Kevin menatap buku jari Kian yang memerah.
"Nanti kompres."
Kian berkedip, seolah tidak menyangka kalimat pertama yang datang bukan bentakan panjang.
"Aku tidak minta maaf."
"Aku tidak menyuruhmu minta maaf pada orang yang menghina ibumu." Suara Kevin tetap rendah. "Tapi mulai sekarang, kalau kamu memukul, kamu harus siap dengan akibatnya. Aku bisa melindungimu dari orang jahat. Aku tidak akan melindungimu dari tanggung jawab."
Kian menelan ludah.
"Aku tahu."
"Bagus."
Ning mendengar semuanya. Di antara panas amarah dan dingin aneh di dadanya, ia sempat berpikir bahwa ini mungkin pertama kalinya Kevin terdengar benar-benar seperti orang tua Kian, bukan hanya laki-laki yang membayar semua masalah setelah selesai.
Yuan bangkit sambil memegang bibirnya yang berdarah. "Anak kurang ajar! Lo tahu gue siapa?"
"Orang yang baru dipukul," jawab Kian dingin.
Ning seharusnya menegur Kian.
Namun sebelum ia bisa bicara, rasa dingin tiba-tiba naik dari pergelangan tangannya yang sudah tak bernoda. Bukan sakit. Bukan panik. Lebih seperti seseorang mengetuk dari dalam dada.
Matanya tertuju pada Mei.
Perempuan itu menangis, tetapi tangannya justru menarik Yuan ke belakang tubuhnya, melindungi anak laki-laki itu dari Kian.
Sama seperti dulu.
Selalu melindungi Hartono.
Selalu melindungi Yuan.
Tidak pernah melindungi anak perempuan yang berdiri sendirian di sudut rumah.
Ning merasakan bibirnya terbuka, tetapi suara yang keluar bukan sepenuhnya miliknya.
"Mei."
Semua orang terdiam.
Nada itu lebih kasar. Lebih rendah. Ada logat Bandung tipis yang selama ini tidak pernah dipakai Ning sekarang.
Mei mengangkat wajah.
Warna darahnya hilang.
"Kamu ibu kandungku," suara itu berkata. "Waktu dia memukulku, kamu di mana?"
Ning bisa mendengar.
Tetapi tubuhnya seperti dipinjam sesaat oleh luka yang sudah terlalu lama menunggu jawaban.
"Waktu aku pulang kerja dengan kaki gemetar, kamu di mana?"
Mei mundur satu langkah.
"Ning..."
"Waktu aku minta kamu pergi bersamaku, kamu bilang tunggu Yuan lulus. Yuan tidak pernah lulus. Dia cuma minta uang. Kamu tetap tinggal."
Suara itu makin serak.
"Waktu aku demam dan tetap disuruh kerja, kamu bilang sabar. Waktu uang gajiku diambil untuk bayar utang judi, kamu bilang keluarga harus saling bantu. Waktu aku bilang aku capek hidup, kamu menangis, tapi besoknya kamu tetap memasak untuk dia."
Mei menutup mulutnya.
"Aku pernah berharap kamu sekali saja berdiri di depanku," suara itu bergetar. "Sekali saja. Tidak perlu menang. Tidak perlu kuat. Cukup bilang, jangan pukul anakku."
Mei terisak.
"Tapi kamu tidak pernah bilang."
Hartono yang tadinya memaki ikut membeku.
Suara itu.
Cara menyebut nama Yuan.
Tatapan putus asa yang bukan milik Ning yang sekarang.
Mei menangis makin keras. "Ibu tidak punya pilihan."
"Kamu punya." Suara Ning bergetar. "Kamu hanya tidak pernah memilih aku."
Untuk sesaat, Mei tampak seperti akan roboh. Ia menatap wajah Ning yang kini bukan lagi wajah anak perempuan yang dulu ia kenal, tetapi suara itu membuat semua kebohongan runtuh.
Hartono menggertak, "Sudah cukup! Jangan kurang ajar sama ibumu!"
Mei langsung memegang lengan Hartono, seperti takut laki-laki itu maju.
Lalu ia melakukan hal yang sama lagi.
Ia berdiri di depan Hartono dan Yuan.
Bukan di depan Ning.
"Ning," katanya sambil menangis, "bagaimanapun, dia yang membesarkanmu. Yuan masih adikmu. Jangan hancurkan mereka. Ibu mohon."
Hening.
Sangat hening.
Di dalam tubuh Ning, sesuatu yang tipis akhirnya patah.
Rasa sakit itu bukan milik Ning, tetapi air mata tetap jatuh dari matanya.
Suara itu tertawa pelan.
Tidak bahagia.
Hanya lelah.
"Sampai akhir pun... bukan aku."
Angin pagi lewat di antara gerbang.
Ning merasakan kesedihan itu melewati tubuhnya seperti hujan terakhir. Tidak tajam lagi. Tidak mencakar. Hanya sangat dingin, sangat tua, sangat lelah.
Ia ingin berkata pada suara itu bahwa ia sudah cukup kuat. Bahwa tidak apa-apa pergi. Bahwa tubuh ini tidak akan dibawa kembali ke rumah penuh teriakan itu.
Tetapi ia tidak bisa menggerakkan bibir.
Maka Ning menjawab dari dalam hati.
Aku akan menjaganya.
Aku akan hidup baik-baik.
Ning merasakan kehangatan lembut di belakang telinganya, seperti seseorang berdiri sangat dekat lalu berbisik hanya untuknya.
Terima kasih.
Gantilah aku hidup dengan baik.
Sesudah itu, rasa dingin di dadanya menghilang.
Benar-benar hilang.
Ning mencoba menarik napas, tetapi tubuhnya mendadak kosong. Suara Kevin memanggil namanya terdengar jauh.
"Ning!"
Ia jatuh ke samping.
Kevin menangkapnya sebelum tubuhnya tergelincir dari kursi roda. Kian berteriak memanggil Mama, wajahnya pucat seketika.
"Dokter!" suara Kevin menghantam udara. "Panggil dokter rumah. Sekarang!"
Hartono memanfaatkan kekacauan itu untuk berteriak lagi. "Lihat? Dia memang sakit! Keluarga kami harus diberi kompensasi!"
Kevin mengangkat wajah.
Tatapan itu membuat Hartono mundur tanpa sadar.
"Jovi."
Jovi yang sejak tadi berdiri di belakang security langsung maju. "Siap, Pak."
"Siapkan uang tunai secukupnya untuk menutup utang yang bisa diverifikasi. Bukan satu rupiah lebih."
Hartono membuka mulut, wajahnya langsung berubah tamak.
Jovi sudah membuka ponsel, mengirim pesan ke tim legal dan kepala keamanan komplek. Rekaman gerbang diamankan, daftar saksi dicatat, dan nomor plat mobil yang akan membawa Hartono pulang dimasukkan ke laporan.
Kali ini, semua berjalan tertib.
Tidak ada ruang untuk Hartono memutar cerita.
Kevin melanjutkan dengan suara datar, "Setelah itu, kirim mereka kembali ke Bandung dengan mobil. Sertakan surat dari pengacara. Jika mereka mendekati Ning, Kian, rumah ini, kantor, sekolah, atau rumah sakit sekali lagi, proses pidana dan perdata jalan bersamaan."
Mei menangis, "Ning anakku..."
Kevin memeluk Ning yang pingsan lebih erat.
"Hari ini, kalian berhenti menggunakan kata itu untuk menyakitinya."
Kian berdiri di samping Kevin. Tangannya masih gemetar karena pukulan tadi, tetapi ia tidak menyesal.
Yuan ingin memaki lagi, tetapi melihat mata Kian, ia menutup mulut.
Security menutup gerbang.
Di balik pagar besi, Hartono masih berteriak. Namun suaranya makin jauh saat Kevin mengangkat Ning ke dalam rumah, seolah dunia yang lama akhirnya tertinggal di luar.
Di luar, para sopir dan satpam yang tadi menonton mulai menunduk, pura-pura kembali bekerja. Tetapi rekaman CCTV, suara Hartono, dan wajah Yuan yang bengkak sudah cukup menjadi saksi.
Kali ini, cerita tidak akan ditulis oleh Hartono.
Cerita itu sudah berpindah tangan.
Dan pintunya sudah tertutup.
Sungguh.
dan sekarang kata-kata itu dipakai si Abang kalau antar aku ketemu bestieku... buah jatoh sepohon-pohonnya