NovelToon NovelToon
Diceraikan Dunia, Dicintai Empat Pewaris

Diceraikan Dunia, Dicintai Empat Pewaris

Status: tamat
Genre:Asmara / CEO / Anak Genius / Pengasuh / Tamat
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Keira Lo bukan siapa-siapa.
Yatim piatu, lulusan SMA, hidup dari upah serabutan di desa kecil Jawa Tengah. Satu-satunya alasan dia masih bertahan: Kiara — kembaran-nya yang mengalami kerusakan otak setelah diserang tiga tahun lalu. Keira butuh uang. Banyak. Dan satu-satunya jalan adalah menjadi pengasuh bayi di kediaman keluarga Ciu — konglomerat terkaya di Jakarta yang terkenal kejam.
Dia datang dengan koper lusuh dan tangan penuh luka. Mereka menatapnya seperti debu yang tersasar ke istana marmer.
Tapi ketika bayi keluarga Ciu nyaris meninggal di tangan pengasuh berpengalaman — dan Keira yang menyelamatkannya dengan tangan gemetar — segalanya berubah.
Empat pewaris. Empat hati yang berbeda. Semua jatuh pada gadis yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5: Napas Terakhir

Keesokan paginya, Kediaman Ciu tampak terlalu tenang untuk rumah yang menyimpan begitu banyak retak.

Keira belum tidur lebih dari empat jam. Semalam, setelah Steph akhirnya membiarkannya mengganti kain bayi dan merapikan pecahan botol di lantai, ia kembali ke kamar pengasuh dengan kepala penuh nama: Gilbert Kang, Chenny Tio, Keluarga Kang, citra, kamera, pintu yang tidak pernah dibuka.

Ia belum menemukan strategi sempurna.

Tapi pagi tidak menunggu siapa pun siap.

Bi Sari mengetuk pintu kamarnya setelah sarapan staf. "Suster Keira, Nyonya Besar meminta semua pengasuh bayi berkumpul di aula. Ada pemeriksaan rutin."

Keira langsung berdiri. "Bayi Nyonya Stephanie?"

"Dibawa turun sebentar. Dokter keluarga datang."

Kata sebentar membuat Keira tidak tenang.

Di keluarga biasa, pemeriksaan bayi dilakukan di kamar dengan tenang. Di Keluarga Ciu, bahkan pemeriksaan rutin bisa berubah menjadi panggung yang penuh mata.

Aula utama sudah ramai ketika Keira tiba.

Vivienne duduk di sofa panjang dengan wajah lebih pucat dari kemarin, tetapi tetap tegak. Ethan berdiri di dekat jendela, jasnya gelap, ponsel di tangan, seolah keberadaannya di sana hanya kebetulan yang tidak bisa diganggu siapa pun.

Di sisi lain, beberapa pengasuh berdiri berjajar. Salah satunya perempuan berusia sekitar lima puluh, rambut disanggul ketat, seragamnya paling rapi. Keira mengenal namanya dari bisik staf dapur pagi tadi.

Mbak Ratih.

Dua puluh tahun pengalaman. Pernah merawat bayi dari tiga keluarga konglomerat. Orang yang bahkan Bi Sari perlakukan dengan nada lebih hati-hati.

Bayi Steph berada di ranjang dorong kecil, diselimuti kain lembut warna krem. Wajahnya tenang. Terlalu tenang untuk aula sebesar itu.

Keira berdiri di barisan belakang.

"Dokter sebentar lagi turun dari ruang obat," kata Bi Sari kepada Vivienne. "Mbak Ratih sudah memeriksa suhu. Normal."

Mbak Ratih mengangguk penuh keyakinan. "Tadi hanya rewel sedikit, Nyonya Besar. Bayi seusia ini memang sering begitu."

Vivienne menatap cucunya. "Stephanie?"

"Masih tidur setelah minum obat penenang ringan dari dokter tadi subuh," jawab Bi Sari pelan.

Keira menahan diri untuk tidak bereaksi.

Obat penenang.

Ia tidak tahu dosisnya, tidak tahu indikasinya, tidak tahu apakah Steph benar-benar setuju. Tapi ia tahu satu hal: seorang ibu yang semalam takut menghilang tidak boleh hanya ditidurkan lalu dianggap selesai.

Tiba-tiba bayi itu batuk.

Suaranya kecil. Sekali.

Mbak Ratih langsung mendekat. "Tidak apa-apa. Mungkin sisa susu."

Bayi itu batuk lagi.

Kali ini lebih pendek, seperti ada sesuatu yang tersangkut.

Keira mengangkat kepala.

Tangis tidak keluar. Hanya suara napas yang berubah kasar.

"Mbak Ratih," kata Keira, "boleh saya lihat?"

Beberapa kepala menoleh. Mbak Ratih memandangnya dari ujung mata.

"Anak baru, berdiri saja di tempatmu. Jangan membuat panik."

"Napasnya berubah."

"Bayi memang begitu."

Bayi itu membuka mulut. Tidak ada suara. Wajahnya yang tadi merah muda mulai memucat di sekitar bibir.

Jantung Keira menghantam dadanya.

"Itu bukan rewel," ucapnya lebih tegas. "Ada sumbatan."

Mbak Ratih mengambil botol kecil berisi air hangat dari meja. "Kalau tenggorokannya tidak nyaman, diberi sedikit air hangat."

"Jangan."

Kata itu keluar lebih keras dari yang Keira rencanakan.

Aula langsung diam.

Mbak Ratih membeku, botol masih di tangan. "Apa katamu?"

Keira maju dua langkah. "Jangan beri air. Bayi baru lahir tidak boleh diberi air putih, hanya ASI atau susu formula sesuai instruksi. Kalau ada benda asing, air bisa memperburuk sumbatan."

Salah satu pengasuh lain mendengus. "Baru kemarin diterima, sudah berani mengajari Mbak Ratih?"

"Saya melihat tanda sumbatan."

"Kau melihat dari belakang?" Mbak Ratih tertawa pendek. "Saya sudah dua puluh tahun memegang bayi, Nak."

Keira tidak peduli pada nada itu. Matanya hanya pada bayi.

Dada kecil itu bergerak cepat, tetapi udara seperti tidak masuk. Tangannya mengepal, lalu melemah. Bibirnya semakin pucat.

Vivienne berdiri. "Apa yang terjadi?"

"Tidak apa-apa, Nyonya Besar," jawab Mbak Ratih cepat. "Hanya tersedak sedikit. Saya tangani."

"Itu bukan sedikit." Keira melangkah maju lagi.

Bi Sari menahan lengannya. "Suster Keira."

Keira menoleh. "Bi, kalau kita menunggu dokter, waktunya bisa habis."

Kalimat itu membuat wajah Vivienne berubah.

Ethan akhirnya mengangkat mata dari ponselnya. Tatapannya jatuh ke Keira, dingin dan tajam.

"Kau yakin?"

Pertanyaan itu bukan dukungan. Itu pisau.

Kalau ia salah, tiga hari masa percobaan akan berakhir hari ini. Mungkin bukan hanya pekerjaan. Mungkin hidupnya ikut hancur oleh keluarga yang bisa membeli hukum lebih mudah daripada Keira membeli obat Kiara.

Bayi itu mengeluarkan suara seperti udara terputus.

Keira tidak punya waktu untuk takut.

"Saya yakin."

Ia melepaskan tangan dari pegangan Bi Sari dan langsung mengambil bayi itu dari ranjang dorong.

"Hei!" Mbak Ratih berseru.

Beberapa pengasuh bergerak panik. Vivienne menjerit, "Hati-hati!"

Keira memosisikan bayi telungkup di sepanjang lengannya, kepala lebih rendah dari dada, rahang kecil ditopang jari. Ia menepuk punggung bayi dengan tumit telapak tangan, tegas tapi terukur.

Itu teknik pertolongan tersedak bayi yang ia pelajari berkali-kali di kelas dan pernah ia pakai sekali di klinik kecil Klaten. Bukan mengguncang. Bukan menjejalkan jari ke mulut. Kepala harus lebih rendah, jalan napas harus dijaga, dan setiap tepukan harus punya tujuan.

Sekali.

Dua kali.

Tidak ada yang keluar.

"Apa yang kau lakukan?" Mbak Ratih berusaha mendekat. "Kau bisa menyakiti tulangnya!"

"Mundur," kata Keira tanpa melihat.

Suara itu tidak keras. Tapi untuk pertama kalinya pagi itu, ia terdengar seperti orang yang memegang nyawa, bukan orang yang meminta izin.

Ethan memberi isyarat kecil kepada satpam. Dua pria berseragam mendekat, ragu antara perintah dan ketakutan melihat bayi yang makin pucat.

"Ko Ethan!" Vivienne mencengkeram lengan putranya. "Lakukan sesuatu!"

Ethan menatap bayi itu, lalu Keira. Rahangnya mengeras.

"Panggil dokter sekarang," perintahnya kepada Bi Sari. Lalu kepada satpam, "Siap tahan dia kalau makin buruk."

Ia menoleh kepada staf lain. "Catat waktunya. Kalau terjadi sesuatu, panggil tim hukum."

Kalimat itu membuat beberapa pengasuh langsung menjauh dari Keira, seolah jarak satu langkah bisa menyelamatkan mereka dari tanggung jawab. Hanya Bi Sari yang masih berdiri di tempat, wajahnya pucat tetapi matanya tidak lepas dari tangan Keira.

Mbak Ratih menggenggam ujung seragamnya sendiri. "Saya tidak pernah salah menangani bayi tersedak. Dia yang membuat semuanya kacau."

Keira mendengar tuduhan itu.

Ia juga mendengar napas bayi yang makin tipis.

Maka ia memilih suara bayi.

Keira mendengar semuanya, tetapi tangannya tetap bekerja.

Tiga kali.

Empat kali.

Bayi itu masih tidak menangis.

Seluruh aula seperti kehilangan udara.

Mbak Ratih mulai gemetar. "Tidak mungkin... tadi dia baik-baik saja..."

"Selimutnya berbulu," kata Keira cepat, lebih kepada dirinya sendiri daripada orang lain. "Ada serat di sekitar bibirnya tadi."

Ia membalik bayi dengan hati-hati, memeriksa mulut tanpa memasukkan jari sembarangan. Tidak terlihat jelas. Ia kembali memosisikan bayi, menepuk lagi.

Lima kali.

Tubuh kecil itu tersentak.

Suara yang keluar hanya desis lemah.

Vivienne menutup mulutnya. Matanya membesar penuh horor. "Cucuku..."

Keira merasakan keringat turun di punggungnya.

Dalam sekejap, ia melihat Kiara di IGD, melihat lampu putih, melihat tubuh yang tidak boleh ia lepaskan. Ia pernah belajar bahwa panik bisa membunuh lebih cepat daripada luka. Maka ia mengunci semua ketakutan di satu tempat kecil dalam dada.

Sekarang bukan tentang dirinya.

Bukan tentang masa percobaan.

Bukan tentang Ethan.

Ini tentang bayi yang belum tahu bagaimana meminta tolong selain dengan napas yang hilang.

"Ayo," bisik Keira. "Sedikit lagi."

Ia menepuk lagi, ritmenya tetap. Tidak kasar. Tidak putus asa.

Tiba-tiba bayi itu batuk tanpa suara.

Sesuatu putih muncul di sudut bibirnya, basah dan menggumpal.

"Kain kasa," seru salah satu pengasuh.

"Bukan." Keira memiringkan tubuh bayi sedikit. "Serat bulu."

Gumpalan kecil itu keluar, menempel di kain alas yang tergantung di lengan Keira. Putih, lembut, hampir tidak terlihat kalau tidak diperhatikan. Seperti serpihan dari selimut mahal yang terlalu sering dianggap aman hanya karena mahal.

Untuk satu detik, tidak terjadi apa pun.

Lalu bayi itu menangis.

Tangisnya pecah keras, marah, hidup.

Vivienne terhuyung. Bi Sari cepat memegang sikunya. Beberapa pengasuh menutup mulut. Ada yang menangis lega, ada yang mundur seolah baru sadar mereka hampir menyaksikan kematian di aula yang sempurna itu.

Keira membalik bayi ke dadanya, memastikan jalan napasnya terbuka, menenangkan tangisnya tanpa langsung membungkamnya.

"Menangislah," bisiknya. "Bagus. Nangis yang kuat."

Dokter keluarga datang berlari dari koridor, tas medis di tangan. "Apa yang terjadi?"

Tidak ada yang langsung menjawab.

Semua mata tertuju pada Keira.

Mbak Ratih berdiri kaku, wajahnya putih. Botol kecil berisi air hangat yang tadi ia pegang sudah jatuh di karpet, menggelinding pelan hingga berhenti di dekat kaki Ethan.

Ethan menatap botol itu, lalu gumpalan serat putih di kain, lalu bayi yang menangis di pelukan Keira.

Untuk pertama kalinya sejak Keira mengenalnya, wajah dingin pria itu menunjukkan sesuatu yang hampir seperti retak.

Bibinya, Vivienne, berusaha mendekat dengan tangan gemetar. "Cucuku..."

Keira menyerahkan bayi itu hanya setelah dokter memastikan posisinya aman. Namun saat Vivienne menyentuh selimut kecil itu, bayi tersebut justru menggenggam ujung seragam Keira dengan jari mungilnya.

Gerakan kecil itu membuat aula kembali sunyi.

Keira menunduk. Tangannya baru mulai gemetar sekarang, setelah semuanya lewat. Getaran itu merambat dari pergelangan sampai siku, tetapi ia tetap menopang bayi dengan hati-hati.

Ethan masih berdiri di tempatnya.

Bibirnya bergerak sedikit, seolah ada kata yang hampir keluar tetapi tertahan oleh harga diri.

Keira mengangkat kepala.

Di antara bau antiseptik dari tas dokter, parfum mahal, dan tangis bayi yang masih tersisa, ia menatap langsung ke mata Ko Ethan.

1
!m_mah
maaf kk thor, kno JD "Lo gue" 🙄
sunaryati jarum
Langsung 200 bab dan end, langsung delete
sunaryati jarum
Ko Kevin sepertinya tertarik pada Keira Lo
sunaryati jarum
Suami istri ko seperti orang asing,pada sudah melahirkan
sunaryati jarum
Semoga kakakmu sembuh,Keira
sunaryati jarum
Ko Ethan kaku tapi teliti
sunaryati jarum
Baru mampir, penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!