"Seiman, aku ingin seperti Mama yang cium tangan Papa di sepertiga malam sambil pakai mukena ... belajar ngaji selepas Isya dan berdiri berdampingan di Jabal Rahmah." - Zavia
Menjadi pasangan seorang Azkayra Zavia Qirany adalah impian seorang Renaga Anderson. Namun di sisi lain, sepasang mata yang selalu menatapnya penuh cinta justru menjadikan Renaga sebagai cita-cita, Giska Anamary.
Mampukah mereka merajut benang kusut itu? Hati mana yang harus berkorban? Dongeng siapa yang akan menjadi kenyataan? Giska yang terang-terangan atau Zavia yang mencintai dalam diam.
Follow ig : Desh_puspita
Plagiat dan pencotek jauh-jauh!! Ingat Azab, terutama konten penulis gamau mikir dan kreator YouTube yang gamodal (Maling naskah, dikasih suara lalu up seolah ini karyanya)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 - Firasat Seorang Papa
"Zavia, dari mana saja?"
Suara Evan menghentikan langkah pemilik manik indah itu. Tidak biasanya Evan bertanya seakan hendak mengulitinya seperti ini. Pulang malam adalah hal yang tidak bisa lepas dari Zavia, kesibukan dan tanggung jawabnya membuat wanita itu ada di rumah beberapa jam saja.
Namun, untuk malam ini berbeda. Bukan hanya tidak ada pelukan hangat untuk menyambut putrinya, tapi senyum sekalipun tidak ada. Zavia menelan salivanya pahit sembari mengingat apa mungkin dia telah membuat kesalahan.
"Papa? Ma-mau Via buatkan kopi atau susu ... Papa belum tidur dari tadi, kan?"
Dia tengah mencoba merayu, biasanya Evan akan melupakan kemarahannya jika sudah mengeluarkan jurus itu. Akan tetapi, tampaknya tidak mempan dan dia masih terus menatap tajam Zavia hingga wanita itu berniat untuk tidur di kediaman kakeknya saja.
"Kalau ditanya itu dijawab, bukan balik tanya."
"Papa kenapa sih? Ja-jangan serem gitu dong ... aku dari rumah sakit, dijemput sama kak Aga terus di jalan ketemu sama Giska jadi kita balik dulu ke rumah om Keny baru pulang kemari."
Zavia menjelaskan sebagaimana mestinya, tidak ada yang salah dan dia juga sudah berusaha sangat jujur. Sayangnya, hal itu justru membuat Evan semakin geram saja. Sebagai pria yang mengenal Justin sejak remaja, jelas dia memiliki sedikit ketakutan terhadap putra sahabatnya itu.
"Kamu tahu jam berapa sekarang? Perjalanan dari rumah sakit ke rumah kita itu tidak sampai dua puluh menit ... sementara kamu hampir satu jam. Jawab jujur Zavia, kalian dari mana?"
"Astaga, tidak dari mana-mana, Pa."
"Sekali lagi Papa ingatkan, jaga diri dan jangan pernah termakan rayuan laki-laki, paham?"
Rayuan apa? Zavia mengerutkan dahi dan bingung sendiri kenapa Evan justru kembali menasihatinya semacam ini. Seingat dia hanya sempat bicara bersama Renaga, itupun tidak lama. Sama sekali tidak ada kontak fisik seperti malam pertama mereka bertemu, lantas kenapa Evan justru lebih marah kali ini.
"Iya, Pa."
Zavia tidak ingin memperpanjang masalah, dia sangat tahu Evan adalah pria yang tidak suka ditentang. Terlebih lagi, jika perihal sesuatu yang dilarang.
"Masuklah, mandi, makan kemudian istirahat ... peri kecil Papa terlalu lelah akhir-akhir ini sepertinya."
Meski Evan menunjukkan kemarahannya malam ini, zavia tetap di antar sampai pintu kamar. Kebiasaan itu mungkin tidak akan pernah lepas dari Evan, di matanya Zavia tetap gadis kecil yang selalu menjadikan dirinya sebagai cinta pertama.
Selang beberapa lama, pintu kamar Zavia kini tertutup. Evan masih tetap berada di sana setelah beberapa menit, dia mengepalkan tangan seraya memejamkan matanya perlahan.
Belum apa-apa, hati pria itu sudah khawatir Zavia pergi dari kehidupannya. Dia tidak buta, dan juga pernah muda. Sudah dua kali dia lihat dengan jelas bagaimana Renaga mulai berani pada putrinya.
"Renaga."
Zavia yang dicium, tapi Papanya yang resah. Pria itu berpikir jauh dan Seketika Keny muncul di dalam pikirannya. Mereka memang sempat bersaing, tapi itu dulu sekali sewaktu Renaga baru bersama Justin.
"Ck, Justin putramu benar-benar meresahkan."
Hari sudah terlampau larut, dan dia tidak berpikir untuk kembali ke kamar. Kepalanya mendadak panas dan ingin sekali menghajar Renaga, entah kenapa dia benar-benar tidak rela.
Karma atau bukan, tapi yang jelas kehadiran Renaga membuat seorang Keyvan Wilantara ketar-ketir. Walau memang tidak semua anak mengikuti jejak orang tuanya, ketakutan itu tidak dapat dia tepis dan berpikir akan lebih baik jika dia turun tangan dalam masalah mereka.
"Apa begini perasaan Papa dulu ya?" Evan bermonolog sembari menatap pintu kamar Zavia yang kini sudah benar-benar terkunci.
Adanya Keny yang selalu memproklamirkan Renaga sebagai menantu dan Justin sebagai besannya juga memenuhi otak Keyvan. Dia tengah berpikir keras, apa mungkin hal ini yang membuat putrinya sampai sakit malam itu.
"Ini yang kutakutkan sejak lama, tapi maaf, Keny ... putra Justin yang memulainya."
.
.
- To Be Continue -