Follow fb : mumuyaa
ig : @tulisanmumu
Zaidan tidak tahu, apakah ini cinta pada pandangan pertama, atau hanya rasa kasihan hingga rasa ingin melindungi saja karena dirinya yang merupakan seorang polisi. Namun yang ia tahu, ia ingin melindungi wanita itu.
“Saya berjanji. Saya akan pastikan pria bajingan ini pasti akan menerima hukuman yang berat. Dia tidak akan pernah lolos, tidak akan pernah merasakan dunia luar lagi. Jadi… jangan buat hati ibumu patah lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PPPL 26
“Lho… kok Mas Zaidan di sini?”
Zaidan yang sedang memegang sebotol air mineral berdiri tak jauh dari mulut gang rumah Zahra. Ia tersenyum santai, seolah kehadirannya di sana adalah hal paling wajar di dunia, sementara Zahra masih menatapnya dengan wajah penuh tanda tanya.
Pandangan Zahra turun-naik meneliti penampilan pria itu. Kaos olahraga abu-abu, celana training panjang, sepatu lari yang tampak sering dipakai. Rambutnya sedikit basah oleh keringat. Pagi-pagi begini, penampilannya benar-benar seperti orang yang habis olahraga.
Tin… tin…
Suara klakson dari belakang membuat Zahra tersentak. Motornya berhenti tepat di mulut gang, menghalangi jalan.
“Pindah ke sini dulu,” ujar Zaidan sambil memberi isyarat ke pinggir.
Zahra memajukan motornya sedikit mendekat ke arah Zaidan. Pria tua berjaket ojek online yang tadi membunyikan klakson melintas sambil mengangguk kecil.
“Maaf, Pak,” ucap Zahra sopan.
“Bapak ngapain di sini?” tanya Zahra yang kini pandangannya kembali tertuju pada Zaidan.
“Sudah berapa kali saya katakan kalau saya bukan bapak kamu!”
Zahra menutup matanya, dan menarik napas dalam. Masih pagi tapi ia sudah harus bertemu dan berdebat dengan Zaidan hanya karena sepele.
“Mas ngapain di sini pagi-pagi?” tanyanya ulang dengan nada pelan dan senyum yang dipaksakan.
Zaidan menyeringai. “Akhirnya, panggilannya bener.”
Zahra menghela napas pelan, menahan kesal. “Mas Zaidan, kenapa ada di depan gang rumah saya?” tanyanya lagi sebab Zaidan tak kunjung menjawab pertanyaannya.
Zaidan meneguk air mineralnya sedikit, lalu menatap Zahra dengan ekspresi santai tapi serius. “Nungguin kamu.”
“Nungguin saya?” Zahra mengernyit. “Ngapain?”
“Mau nganterin kamu kerja.” Ia menyodorkan botol air itu. “Minum dulu. Pagi-pagi jangan dehidrasi.”
Zahra refleks menerimanya, meski kebingungan jelas terpampang di wajahnya. “Mas… saya bisa berangkat sendiri.”
“Saya tahu,” jawab Zaidan tenang. “Tapi hari ini saya mau nganterin.”
Zahra hendak membuka mulut lagi, tapi Zaidan sudah lebih dulu berkata, “Mundur.”
“Mundur ke mana?” Zahra spontan melirik ke belakang. Parit kecil menanti di sana.
Melihat Zahra tak bergerak, Zaidan mendekat. Tangannya dengan sigap memegang stang motor. Dalam satu gerakan cepat, ia sudah berada di depan, duduk di jok pengemudi dan membuat Zahra refleks mundur ke jok belakang.
“Mas!” serunya kaget.
“Makanya tadi saya bilang geser,” ujar Zaidan santai, seolah baru saja memindahkan kursi, bukan mengambil alih motor orang. “Pegangan yang kuat.”
“Pak!”
Tanpa memberi waktu Zahra membantah, Zaidan menarik gas perlahan. Motor itu melaju keluar gang menuju jalan utama.
“Bapak mau ngapain sih?”
Zaidan hanya diam dan terus saja melanjutkan perjalanannya.
“Pak?!” Kali ini Zahra memanggilnya dengan sedikit berteriak.
“Tidak akan saya jawab selama kamu masih panggil saya dengan sebutan bapak!”
Zahra mulai kesal. Ia bahkan mengepalkan tangannya, dan mengarahkannya tepat di bagian belakang kepala Zaidan.
“Kalau kamu pukul saya, saya bisa melaporkan kamu, Zahra karena telah memukul polisi,” ancam Zaidan yang semakin membuat Zahra geram.
Zahra kembali menarik napasnya, mencoba menenangkan diri sebelum kembali berbicara dengan pria keras kepala yang ada di depannya ini.
“Mas Zaidan!” Zahra hampir berteriak. “Mas ngapain sih!”
“Nggak usah teriak. Majuan dikit biar saya bisa dengar. Malu tahu dilihat orang teriak-teriak gitu.”
“Mimpi aku tadi malam sih,” gerutu Zahra dalam hati.
Ia maju sedikit ke depan, namun tidak terlalu menempel pada punggung Zaidan. Ia majukan sedikit kepalanya agar Zaidan bisa mendengarkan suaranya.
“Mas Zaidan kenapa berdiri di sana tadi?”
Zaidan tetap fokus ke jalan sambil menjawab pertanyaan Zahra. “Saya antar kamu kerja.”
“Tapi—”
“Saya nggak tahu jadwal kerja kamu hari ini,” potong Zaidan. “Makanya saya nekat.”
Zahra terdiam sesaat. “Maksudnya nekat?”
Zaidan tersenyum tipis. “Habis subuh saya lari pagi seperti biasanya. Saya sengaja ambil arah ke sini. Saya pikir… kalau beruntung, saya ketemu kamu.”
Zahra tercekat. Tangannya yang semula siap dan yakin akan memukul punggung Zaidan kini justru mengendur.
“Kalau nggak ketemu?” tanyanya pelan.
“Ya berarti saya cuma olahraga lebih jauh dari biasanya,” jawab Zaidan ringan. “Tapi ternyata saya beruntung.”
Zahra menelan ludah. “Mas ngapain sejauh ini cuma buat nganterin saya?”
Karena posisi Zahra kini, ia tidak bisa melihat ekspresi Zaidan sepenuhnya. Tapi suaranya terdengar mantap ketika ia menjawab, “Karena saya bilang kemarin, saya serius. Dan saya nggak cuma mau ngomong aja.”
Motor melaju stabil di antara lalu lintas pagi. Angin pagi menyapu wajah Zahra, membawa pikirannya ke mana-mana.
“Zahra,” lanjut Zaidan, “kamu pantas diperjuangkan. Saya tahu kamu masih menolak, dan juga masih takut. Tapi izinkan saya setidaknya membuktikan niat saya.”
Kepala yang semula ia majukan kini mulai ia tarik kembali ke belakang. Zahra menggenggam ujung jaketnya sendiri. Dadanya terasa hangat sekaligus sesak.
Tak lama kemudian, papan bertuliskan Happy Mart terlihat di depan. Zaidan memperlambat laju motor dan memarkirkannya dengan rapi di area parkir.
“Sampai,” katanya.
Zahra turun pelan, dan masih sedikit linglung. “Mas… saya—”
“Nggak usah jawab apa-apa dulu,” potong Zaidan lembut. “Kerja yang baik. Jangan lupa makan. Dan jangan mikir yang berat-berat.”
Ia mengambil kembali botol minum yang sebelumnya dipegang oleh Zahra.
Zahra mengangguk kecil. “Terima kasih, Mas Zaidan.”
Zaidan tersenyum. “Sama-sama. Besok-besok, kalau kamu mau diantar lagi, bilang. Kalau nggak mau pun… saya tetap bakal berusaha. Nanti pulang kerja saya jemput kamu.”
Tanpa menunggu jawaban Zahra, Zaidan langsung pergi meninggalkan Zahra yang masih berusaha mencerna ucapan demi ucapan yang diucapkan oleh Zaidan tadi.
Zahra membalikkan tubuhnya, menatap punggung Zaidan yang sudah berjalan menjauh, meninggalkannya dengan perasaan yang mulai goyah dan jauh dari kata biasa.
“Apa yang harus ku lakukan?”
...****************...
Author udah double up, nih. Like nya jangan kendor dong 😢😢
ngeriiii euy... 🤣🤣🤣🤣