NovelToon NovelToon
What We Were Never Given

What We Were Never Given

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Oryelle

Nareya, anak sulung bermimpi meniti karir di dunia fashion, harus merelakannya demi menjadi tulang punggung keluarga. Terlahir untuk berjuang sejak dini membuat dia tidak tertarik soal pernikahan.

Tidak menikah, berkecukupan, dan bisa membahagiakan keluarganya adalah keinginan sederhana Nareya. Tapi siapa sangka, dia justru menyetujui perjanjian pernikahan dengan mantan Bosnya?

Kala terlahir berdarah campuran membuatnya dicap sebagai noda. Demi pengakuan para tetua, dia menyeret Nareya dalam sebuah perjanjian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oryelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Malam Pertama? Eh, Pagi

Kala terbangun tepat jam lima, tanpa alarm. Sepertinya karena kebiasaan yang dibangun selama bertahun-tahun tubuhnya otomatis terbangun di jam yang sama setiap hari. Sudah ingin segera mandi tapi ternyata bunyi gemericik air membuatnya berhenti di depan pintu. Akhirnya Kala membuka laptopnya mengecek email yang masuk.

Kala menoleh saat pintu kamar mandi akhirnya terbuka. Nareya tampak mengeratkan handuk yang melilit tubuhnya. Rambutnya terikat tinggi dengan pundak terbuka, terlihat ragu saat melangkah, tapi saat tahu Kala melihatnya dia langsung berjalan dengan sangat percaya diri menuju kamarnya.

“Pindahkan saja bajumu di kamarku sekalian supaya tidak perlu bolak-balik” ucap Kala. Nareya langsung menoleh, menatapnya, mengernyit karena ekspresi Kala tidak menyiratkan dia tergoda dengan tubuhnya sama sekali.

“Iya nanti aku pindah, mau sarapan apa hari ini?” tanya Nareya. Sengaja sedikit memposisikan tubuhnya dengan cara yang pas, sehingga tampak lekuknya.

“Apapun yang simpel.”jawab Kala sambil melangkah pelan menuju kamar mandi.

‘Bodyku kurang bagus apa coba? Apa sebenarnya pernikahan dengan Sabreena batal karena dia gay?’

Nareya kembali memutar otak untuk mendapatkan jawaban yang dia inginkan. Akhirnya dia bersiap super cepat dengan pakaian yang sederhana saja. Kemudian segera membuka sosial media mencari akun Sabreena. Tapi yang dia dapatkan justru akun palsu postingan yang tersemat adalah foto Kala dan Sabreena berpelukan dan beberapa meme soal dirinya. Nareya tidak peduli lagi, foto meme tentang dirinya memang sudah menjamur sedari hari pertama pernikahan. Tapi foto mereka berpelukan terlihat sangat asli dan itu di taman rumah utama keluarga Atmasena.

“Argh aku lupa harus membuat sarapan.” Nareya setengah berteriak. Dia segera berjalan ke dapur, namun Kala sudah di sana.

“Saya saja yang buatkan sarapan, kamu terlalu lama.” ucap Kala tanpa menoleh.

Nareya tetap mendekat, “Aku mau bantu.”

“Tidak perlu, sudah selesai ini.”

Nareya mengambil satu sendok lalu mengambil make and cheese di wajan,”Bantu mencicipi, tes rasa dulu.”

“Bagaimana?” tanya Kala.

“Uhh sudah pas, enak sekali. Sejak kapan kamu bisa masak?”

“Sejak kuliah, sandwich yang kamu buat sebelumnya juga enak.” ucap Kala. Segera mematikan kompornya setelah matang.

“Aku suka masak tapi selalu dilarang mama, jadi skill masaku kurang. Terakhir kali masak setiap hari cuma pas pertukaran pelajar ke Amerika.” Nareya langsung membantu menuang ke piring.

“Lain kali kita masak bersama, sekalian membawakan makanan untuk mommy dan Kirana.”

“Ayok kapan? Diantara semua keluarga kamu aku paling sreg sama Kirana dan mommy kamu aja.”

“Iya. Kamu itu suka sekali sambil bicara kalau lagi makan.”

“Kebiasaan di rumah. Bedanya kalau di rumah makan sambil ribut.”

“Tidak bagus, khawatir tersedak. Paling tidak kamu telan dulu baru bicara!” tegur Kala.

Nareya mengerutkan bibirnya,“Ya ya ya”

“Hem, kamu lulusan mana sih? Siapa tau aku ada kenal teman–teman kamu.” Nareya kembali memecah keheningan. Rasanya kalau makan tidak sambil bicara itu bukan Nareya namanya.

“Tidak mungkin sepertinya, Harvard.”

“Kurangajar remehin gue banget.”ceplos Nareya, langsung menutup mulutnya.

“Nareya!” tegur Kala.

“Ya kamu itu! Aku meskipun miskin juga bisa dapat beasiswa dan dua kali pertukaran pelajar ke luar negeri, termasuk ke Hardvard.” gerutu Nareya. “Eh, sama-sama pernah di Harvard dong. Masa iya gak ketemu, kamu ansos kayaknya deh makanya gak ketemu bareng di perkumpulan mahasiswa.”

“Kita selisih lima angkatan, tetap tidak ketemu.”jelas Kala membuat Nareya seketika membulat matanya.”Kenapa melotot kamu?”

“Hah, beda usia kita sejauh itu?” Nareya sampai setengah teriak. “Gue nikah sama om om dong” ringis Nareya.

“Tidak jauh. Lima tahun.” jawab Kala.

“Hhh lagian sebentar lagi juga bakal cerai. But, anyway kamu punya mantan selama kuliah?”

“Punya.”

Nareya mengernyitkan dahi lalu matanya menyipit,“Co—wo? Atau cewe?” tanya Nareya.

“Maksud kamu?”

“Ya maaf maaf nih, kamu mulai jadi gay dari kapan? Kamu gagal sama Sabreena karena itu? Kan kamu minta nikah kontrak juga cuma kepentingan jabatan di perusahaan keluarga”

Kala melihat jam tanganya,“Jam delapan, saya sudah telat. Kita tidak usah berangkat ke kantor.” ucap Kala, lalu menatap Nareya dengan tajam. “Hari ini biar saya jelaskan supaya tidak ada kesalah pahaman.”

“Aku tetap berangkat ke butik. Kamu mau bolos kerja ya silahkan, kan suka-suka bos.” ceplos Nareya.

Ah, Nareya sepertinya harus berhati-hati lain kali. Kala sudah menyiratkan wajah yang berbeda. Tapi Nareya sungguh tidak menyadarinya. Wajar saja, karena memang Nareya lah yang sama sekali minim pengalaman.

“Kamu harus tau saya tidak pernah menyalahi jam kerja saya sebelumnya. Tidur, mandi, jam kerja saya selalu tepat di waktu yang saya tentukan. Tapi kamu! Ikut saya mari saya jelaskan.”

“Kan kamu yang minta cerainya nunggu enam bulan lagi, kalo aku si setidaknya aman karena ternyata menikahi om-om gay.”

“Jaga ucapan kamu!” sentak Kala. Seringai tajam tampak di wajahnya “Sekarang saya jelaskan dengan bukti saja. Kamu bilang punya skill berarti kamu berpengalaman. Jadi kamu bisa menilai kemapuan saya seperti apa.”

“Apa maksudnya.” Nareya mulai ketakutan.

Kala kali ini dengan kelembutan meraih tangan Nareya, mengulang kembali dengan perlahan. Anehnya Nareya justru memejamkan mata, seperti menikmati kelembutan bibir Kala. Waktu terasa sangat singkat, karena semua terjadi tanpa jeda.

Fakta baru saja terukir. Nareya benar–benar di klaim sebagai istri Kala. Bukan di malam temaram tapi pagi dengan sinar matahari mulai menembus setiap sisi apartemen. Nareya yang tidak menginginkan pernikahan resmi sudah tidak gadis. Dan pelakunya hanyalah orang yang memanfaatkan dia hanya untuk kepentingan bisnis?

“Kamu benar-benar! Kenapa lakukan ini?”

“Saya izin berkali-kali kan tadi, kamu mengangguk bukan?” tanya Kala dengan kelembutan. Mengelus kepala Nareya,”Saya tahu persis ini kali pertama kamu, bahkan saat kamu menyiratkan sudah berpengalaman. Saya di sini, tidak kemana-mana. Tidak perlu khawatir.”

Setelah menangis menyesali gestur refleknya atau memang karena menginginkannya juga, Nareya tertidur pulas. Wajahnya tampak damai, meski sedikit sembab. Pakaianya sudah berganti baju tidur. Di kamar Kala, dengan tubuh yang sudah bersih. Sedangkan Kala membereskan kekacauan di dapur juga ruang tengah dan membersihkan sofa. Semua tampak kembali seperti semua, senyum lebar terukir di wajahnya.

Jam di atas televisi menunjukan pukul empat sore. Kala memutuskan untuk kembali kekamar dan mulai membuka laptopnya. Menyelesaikan semua yang tertunda. Membalas Ardito yang sampai meluncurkan makian kepadanya, karena melewatkan beberapa pertemuan penting. Tak lupa, Ardito selalu akan memerasnya setelah ini. Jeda kerja yang terbayar mahal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!