NovelToon NovelToon
Rasa Yang Tertelan Jalan Terjal

Rasa Yang Tertelan Jalan Terjal

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Wanita Karir / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:38
Nilai: 5
Nama Author: Icha cicha

Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan gelap tanpa bintang, hidup Murni melintasi jurang kebingungan saat jalan kuliahnya tiba-tiba terputus seperti tali yang dipotong kasar. Dunia yang dulu dihiasi dengan impian lembaran kertas putih bersih kini berubah menjadi hamparan jalan terjal yang penuh batu tajam dan genangan lumpur. Tanpa ragu, dia memilih merangkul dunia pabrik yang keras – tangan yang dulu memegang pena dengan lembut kini memegang alat berat dan bahan baku kasar, setiap tetes keringatnya menorehkan cerita perjuangan yang tak pernah terucapkan. Hidupnya seperti lautan yang terus bergelombang, menghantam pantai harapan dengan ombak rasa yang tertelan dalam diam.

Di tengah hiruk-pikuk mesin pabrik yang tak pernah berhenti berputar, cinta datang seperti embun pagi yang menyentuh dedaunan kering.

Akankah cinta yang tulus benar-benar ada di jalan yang penuh duri ini, atau hanya ilusi yang akan sirna seperti kabut pagi saat matahari muncul?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha cicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BUNGA YANG TUMBUH DARI LUKA

Matahari sudah tiga kali menyapa langit kota sejak hari itu, namun bagi Murni, waktu seolah berhenti berjalan. Setiap pagi, dia terbangun dengan rasa berat yang seperti batu besar menekan dadanya—bantal yang dulu lembut kini terasa seperti hamparan kerikil kasar, dan sinar matahari yang masuk melalui jendela hanya membuatnya ingin menarik tirai hingga kamar kembali gelap seperti malam yang tak berujung.

Dia sudah tiga hari tidak datang ke pabrik makanan ringan. Rekan kerja telah beberapa kali menghubunginya, tapi ponselnya tetap mati di dalam laci meja, seperti sebuah benda yang sudah tidak punya makna lagi. Di atas meja, foto dia dan Khem masih terpajang—wajah mereka yang tertawa kini terlihat seperti lelucon yang menyakitkan. Murni sering menatapnya dengan mata kosong, bertanya pada diri sendiri: “Berapa lama aku sudah hidup dalam kebohongan? Apakah setiap senyumnya, setiap kata cinta yang dia ucapkan, hanya sekadar bagian dari permainan yang sudah direncanakan?”

Sore itu, suara ketukan lembut terdengar di pintu kamar. “Murn… aku bisa masuk ya?” Suara Ibu Yati, adik pemilik kos yang sudah seperti keluarga bagi dia, terdengar lembut dari luar. Murni tidak menjawab, tapi suara peluit pintu yang berderit menunjukkan bahwa Ibu Yati sudah masuk dengan hati-hati.

Ibu Yati membawa baskom berisi bubur ayam hangat, aromanya menyebar ke seluruh kamar yang selama ini hanya penuh dengan bau stagnan. Dia meletakkan baskom di atas meja, lalu duduk perlahan di ujung kasur. “Aku tahu kamu sedang sakit hati, nak,” ucapnya dengan suara yang penuh kasih, tangannya meraba kepala Murni yang tertutup selimut. “Hati yang terluka seperti tanah yang terkena longsor—semua yang ada di atasnya akan hancur dan terbawa pergi. Tapi kamu tahu tidak? Dari dalam lubuk yang dalam itu, nantinya akan tumbuh kembali tanaman yang lebih kuat.”

Murni hanya menggeleng pelan, suara tangis yang teredam terdengar dari balik selimut. “Aku merasa seperti orang yang telah tersesat di hutan malam, Bu,” bisiknya dengan suara serak. “Setiap jalan yang aku tempuh ternyata hanya buntu, dan semua yang aku percayai hanyalah ilusi yang dibuat oleh bayangan sendiri.”

Ibu Yati mengambil tangan Murni dengan lembut, kulitnya yang kasar akibat bekerja keras sehari-hari memberikan rasa hangat yang jarang dia rasakan belakangan ini. “Coba kamu lihat ke luar jendela, nak,” ujarnya perlahan. Murni menuruti permintaannya, mengangkat kepala dan melihat ke arah halaman belakang kos tempat dia tinggal. Di sana, di tengah hamparan rumput liar di mana dia melemparkan gelang anyaman bambu, tumbuh sebuah bunga anggrek liar dengan warna ungu muda yang mencolok di antara dedaunan kering.

“Itu bunga tumbuh dari tanah yang tidak pernah dirawat,” kata Ibu Yati sambil menatapnya juga. “Dia harus bertarung melawan panas matahari, hujan yang deras, dan rumput liar yang ingin menutupinya. Tapi dia tetap tumbuh, bahkan lebih cantik karena perjuangannya sendiri.”

Kata-kata itu seperti embun pagi yang menyiram bumi yang kering. Murni melihat kembali bunga itu—batangnya tegak lurus, mahkotanya terbuka lebar seolah sedang menyapa dunia dengan penuh keberanian. Ia mengingat bagaimana dulu dia suka menanam bunga di taman kecil belakang pabrik, bagaimana setiap tunas yang muncul membuatnya merasa penuh harapan. Kapan waktu itu dia lupa bahwa dirinya sendiri juga seperti bunga itu—memiliki kekuatan untuk tumbuh kembali meskipun telah mengalami badai yang dahsyat?

Hari berikutnya, Murni bangun lebih awal dari biasanya. Dia membuka tirai kamar dengan hati yang sedikit terasa ringan, menyambut sinar matahari yang hangat menyapa wajahnya. Dia mandi dengan air yang segar, mengenakan baju kerja yang sudah beberapa hari tidak dipakai, dan mengambil ponselnya dari laci meja. Layarnya menyala kembali, menampilkan puluhan pesan dari rekan kerja dan beberapa pesan dari Khem yang penuh dengan penyesalan. Tapi kali ini, Murni tidak merasakan rasa sakit seperti sebelumnya—hanya rasa tenang yang datang seperti ombak yang menyapu pasir pantai.

Dia pergi ke pabrik makanan ringan dengan langkah yang semakin mantap. Rekan kerja segera menghampirinya dengan senyum khawatir tapi penuh kasih. “Kamu sudah baik-baik saja kan, Murn?” tanya Anti, teman kerja yang selalu bekerja bersamanya di bagian pengemasan. Murni mengangguk dengan senyum yang lembut tapi tulus. “Aku akan baik-baik saja,” jawabnya. “Cukup butuh waktu saja untuk menemukan jalan kembali.”

Di tengah kebisingan mesin yang berputar dan aroma tepung gandum yang khas, Murni mulai bekerja dengan fokus yang belum pernah ada sebelumnya. Ia melihat bagaimana setiap bungkus makanan ringan yang ia kemas dengan hati-hati akan sampai ke tangan banyak orang, memberikan rasa senang dan kepuasan kecil. Ia mulai menyadari bahwa makna hidupnya tidak hanya terletak pada cinta yang diberikan orang lain—melainkan juga pada apa yang bisa dia berikan untuk dunia di sekelilingnya.

Beberapa minggu kemudian, Murni mendaftar ke kursus pelatihan keterampilan membuat makanan penutup yang diadakan oleh pemerintah kota tersebut. Setiap sore setelah kerja, dia pergi ke tempat kursus dengan penuh semangat, belajar dari instruktur yang ahli tentang cara membuat kue, roti, dan makanan penutup lainnya dengan sentuhan kreatif sendiri. Tangannya yang dulu hanya terbiasa dengan mesin pengemasan kini terampil menggulung lumpia atau menghias kue dengan bunga gula yang indah.

Saat malam tiba, Murni sering duduk di teras kos, melihat ke arah langit yang penuh bintang. Dia membawa buku catatan kecil yang baru dia beli, di mana dia menulis semua impian baru yang muncul di dalam hatinya: “Saya ingin membuka warung makanan kecil yang menjual makanan rumahan dengan rasa cinta.” “Saya ingin mengajari anak-anak di sekitar kos untuk membuat kue agar mereka punya keterampilan yang berguna.” “Saya ingin membangun taman bunga kecil di belakang pabrik agar rekan kerja punya tempat untuk bersantai.”

Suatu hari, saat dia sedang merawat tanaman bunga yang baru dia tanam di belakang pabrik, dia melihat sosok lelaki yang sedang berdiri di pagar pemisah dengan pabrik besi dan baja. Itu adalah orang yang mirip Khem—wajahnya tampak kurus dan lelah, matanya penuh dengan penyesalan. Murni berhenti sejenak, tapi kemudian melanjutkan pekerjaannya tanpa menghiraukannya. Orang itu berdiri di sana selama beberapa menit, lalu akhirnya berbalik dan pergi dengan langkah yang lamban.

Murni menatap belakangnya yang semakin jauh, lalu melihat kembali tanaman bunga yang sedang tumbuh subur di sekitarnya. Ia menyadari bahwa rasa sakit yang dulu ia alami bukanlah akhir dari segalanya—melainkan awal dari perjalanan baru yang lebih indah. Hati yang terluka memang butuh waktu untuk menyembuhkan, tapi seperti tanah yang terkena hujan deras, ia akan menjadi lebih subur dan siap untuk menumbuhkan kehidupan baru yang lebih baik.

Di langit yang mulai gelap, bulan muncul dengan bentuk yang penuh, menerangi jalan yang ada di depannya. Murni tersenyum perlahan, merasakan bagaimana hati yang dulu penuh dengan luka kini mulai terbuka kembali—siap untuk menerima semua kebaikan yang masih ada di dunia ini…

 

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Setiap langkah Murni kini seperti menari dengan irama yang baru—kadang lambat dan penuh refleksi, kadang cepat dan penuh semangat. Setelah menyelesaikan kursus pelatihan makanan penutup, dia mulai menghabiskan waktu luangnya dengan mengunjungi pasar tradisional dekat pabrik, di mana dia bisa bertemu dengan para pedagang yang menjual bahan-bahan segar dari desa-desa sekitar. Udara pasar yang penuh dengan suara tawar-menawar dan aroma berbagai rempah membuatnya merasa hidup kembali, seperti menemukan irama yang hilang dalam dirinya.

“Bu, boleh saya beli satu kilogram kelapa muda saja ya?” ucap Murni dengan senyum pada pedagang kelapa yang sudah mengenalnya sejak lama. Wanita itu dengan senyum lebar mengambil kelapa muda yang masih segar, membelahnya dengan pisau yang tajam hingga keluar airnya yang bening seperti kristal. “Kamu tampak lebih baik ya, Murn,” kata pedagang itu sambil memberikan kelapa muda dalam plastik. “Dulu kamu selalu datang dengan wajah yang penuh dengan cinta muda, sekarang… kamu tampak seperti bunga yang baru mekar setelah musim kemarau panjang.”

Murni tersenyum sambil menerima plastiknya. Kata-kata itu seperti musik yang lembut menyentuh hatinya. Dia berjalan melalui lorong pasar, melihat bagaimana setiap pedagang memiliki cerita sendiri—ada yang berjualan sambil merawat anaknya yang kecil, ada yang menyanyi pelan sambil mengatur barang dagangannya, ada yang berbagi makanan dengan tetangganya yang sedang kesusahan. Semua itu menjadi pengingat bahwa hidup bukan hanya tentang cinta yang hilang, tapi juga tentang hubungan yang tumbuh di antara orang-orang di sekitar kita.

Sore itu, Murni mengajak beberapa rekan kerja dari pabrik untuk berkumpul di rumah kosnya. Dia membawa bahan-bahan yang baru saja dibeli dari pasar dan mulai menunjukkan cara membuat klepon dengan isian gula merah yang meleleh dan kelapa parut yang harum. Tangan-tangan mereka yang terbiasa dengan mesin pabrik kini dengan cermat membentuk adonan ketan menjadi bulatan kecil yang lembut. Suara tawa dan candaan kembali mengisi kamar yang dulu sepi dan sunyi.

“Murn, kue yang kamu buat rasanya seperti cinta yang tulus ya!” teriak Eni sambil menggigit klepon yang masih hangat, gula merah mengalir ke bawah dagunya. Murni tertawa lepas, merasakan bagaimana kebahagiaan yang dulu hanya dia rasakan bersama Khem kini bisa dia bagikan dengan banyak orang. Ia melihat ke arah jendela, di mana bunga anggrek liar yang tumbuh di halaman belakang kini sudah memiliki tunas baru yang siap mekar.

Beberapa minggu kemudian, Murni mendapat kabar bahwa pabrik makanan ringan akan berkolaborasi dengan pabrik besi dan baja , melakukan renovasi besar-besaran, dan mereka akan membuka taman kecil untuk para pekerja sebagai tempat istirahat. Tanpa ragu, Murni mengajukan diri untuk membantu merancang dan merawat taman itu. Dia menghubungi beberapa teman dari komunitas pecinta tanaman di kota ini, dan bersama-sama mereka mulai merawat tanah yang tandus di belakang pabrik, menanam berbagai jenis bunga dan tanaman buah yang bisa memberikan manfaat bagi para pekerja.

Pada hari pembukaan taman, Murni berdiri di tengah hamparan bunga yang berwarna-warni—mawar merah, melati putih, bunga matahari yang tinggi menjulang ke arah langit, dan tentu saja, bunga anggrek liar yang dia pindahkan dari halaman kosnya. Suara musik rakyat yang dimainkan oleh kelompok musik lokal mengisi udara, dan wajah-wajah para pekerja yang biasanya penuh dengan lelah kini bersinar dengan senyum.

Saat acara berjalan, Murni merasakan ada seseorang yang sedang melihatnya dari kejauhan. Dia menoleh dan melihat sosok yang mirip dengan Khem berdiri di sudut taman, bersama dengan beberapa rekan kerja lama dari pabrik besi dan baja. Orang itu tidak mendekatinya, hanya menatapnya dengan mata yang penuh dengan tanda tanya.Murni memberikan senyum yang lembut tapi tegas—suatu senyum yang tidak membawa dendam, tapi juga tidak membawa harapan untuk kembali ke masa lalu.

Setelah acara berakhir, Murni tinggal sendirian di taman untuk menyiram tanaman-tanamannya. Matahari mulai meremang di ufuk barat, memberikan warna jingga dan merah pada langit yang cerah. Dia menyentuh daun bunga yang segar, merasakan kelembaban dan kehidupan yang mengalir di dalamnya. Ia mulai menulis catatan baru di buku hariannya:

“Hari ini aku menyadari bahwa hati yang terluka tidak perlu disembunyikan atau dilupakan. Ia hanya perlu diberi waktu untuk menyembuhkan, diberi cinta dari orang-orang di sekitarnya, dan diberi makna baru yang membuatnya bisa terus berdetak. Aku tidak pernah menyalahkan orang itu atas apa yang terjadi—karena setiap pengalaman dalam hidup, baik yang menyakitkan maupun yang indah, adalah bagian dari perjalanan yang membuat aku menjadi diri aku sekarang. Dan aku siap untuk melangkah maju, membawa semua pelajaran yang kudapat dan harapan yang baru tumbuh di dalam hatiku…”

Di kejauhan, suara mesin pabrik yang sedang beroperasi terdengar seperti irama yang stabil, menyatu dengan suara cicak yang berkumandang dan angin yang menggoyangkan daun-daun pohon. Murni berdiri tegak, menatap ke arah langit yang mulai dipenuhi dengan bintang-bintang kecil yang muncul satu per satu. Ia merasakan bagaimana jiwanya yang dulu seperti sungai yang tergenang kini mulai mengalir kembali dengan lancar, membawa harapan dan kebaikan ke setiap sudut yang dilaluinya.

Hidup memang tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Ada saatnya kita harus melepaskan hal-hal yang kita cintai untuk menemukan makna yang lebih dalam, ada saatnya kita harus merasakan rasa sakit untuk bisa menghargai kebahagiaan yang sesungguhnya. Dan bagi Murni, perjalanan pemulihan ini bukan hanya tentang menemukan kembali dirinya sendiri—melainkan juga tentang menjadi sumber kebaikan bagi orang-orang di sekitarnya, seperti bunga yang tidak hanya indah dilihat, tapi juga memberikan aroma yang harum bagi dunia…

 

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Bulan telah lima kali berubah bentuk sejak taman pabrik resmi dibuka. Kegiatan Murni kembali berjalan dengan ritme yang teratur—setiap pagi bekerja di pabrik makanan ringan, siang mengurus taman bersama teman-teman komunitas, sore belajar membuat hidangan baru di kursus, dan malam menghabiskan waktu dengan membaca buku atau menulis catatan di hariannya. Semua terlihat normal dari luar, seperti permukaan danau yang tenang padahal di bawahnya arus masih mengalir dengan deras.

Rasa sakit hati memang sudah tidak lagi membuatnya terbaring tidak berdaya, tapi seperti bekas luka yang mengeras di kulit, ia tetap ada—tersembunyi di dalam hati, muncul setiap kali ada sesuatu yang mengingatkannya pada Khem.

Suatu hari, Murni pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan untuk membuat kue tart yang akan dia berikan sebagai hadiah ulang tahun Ibu Yati. Saat ia sedang memilih buah persik di kios yang biasa dia kunjungi, sosok seorang pria yang sedang berdiri di sebelahnya membuat hatinya berhenti sejenak. Pria itu memiliki rambut hitam yang sedikit berantakan, tinggi badan yang hampir sama, dan bahkan cara dia menyentuh buah untuk memeriksa kesegarannya juga sangat mirip dengan Sidak.

Murni merasa darahnya menjadi dingin seketika. Tangan yang sedang mengambil persik mulai gemetar, dan aroma buah yang segar tiba-tiba terasa menyengat di hidungnya. Dia berusaha untuk berpaling, tapi mata nya tidak bisa tidak melihat bayangan pria itu yang sedang berbicara dengan pedagang dengan suara yang sedikit dalam—suara yang juga mengingatkannya pada orang yang dulu selalu menyapa dia dengan lembut setiap pagi.

“Pak, boleh saya beli tiga kilogram saja ya?” suara pria itu terdengar jelas. Murni menutup matanya sejenak, mencoba untuk menghilangkan gambar Sidak yang muncul di dalam pikirannya. Namun saat dia membuka mata kembali, pria itu sedang melihatnya dengan tatapan yang penuh dengan keheranan—seolah merasa ada hubungan yang tidak bisa dijelaskan antara mereka berdua.

Tanpa berpikir panjang, Murni meninggalkan tas buahnya di atas kios dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu. Kakinya merasa lemah, dan napasnya menjadi tidak teratur. Dia berlari melalui lorong-lorong pasar yang sesak, menghindari pandangan orang-orang yang melihatnya dengan wajah heran. Hingga akhirnya dia sampai di tepi jalan yang sunyi, menunduk dan menahan napas yang terengah-engah.

“Mengapa… mengapa wajah yang mirip saja bisa membuatku merasa seperti ini?” bisiknya dengan suara yang penuh dengan kemarahan dan kesedihan. Dia membenci perasaannya yang masih mudah terganggu, membenci bagaimana bayangan Sidak masih bisa menguasai dirinya dengan begitu mudah, dan bahkan membenci orang yang tidak bersalah hanya karena memiliki kemiripan dengan orang yang pernah menyakitinya.

Saat dia sedang duduk di tepi jalan, merenung dengan hati yang penuh dengan kekacauan, tangan yang hangat menyentuh bahunya. Dia melihat ke atas dan menemukan wajah pedagang kelapa muda yang sudah mengenalnya. “Kamu tidak baik-baik saja kan, Murn?” ujarnya dengan suara yang lembut, membawa segelas air kelapa muda yang segar. “Aku melihatmu berlari dari pasar seperti sedang dikejar oleh sesuatu.”

Murni menerima gelasnya dengan tangan yang masih gemetar, minum perlahan dan merasakan kesegaran yang mengalir ke dalam tubuhnya. “Aku melihat seseorang yang sangat mirip dengan dia, Bu,” ucapnya dengan suara yang serak. “Dan aku merasa marah—marah pada diriku sendiri yang masih bisa terpengaruh, marah pada orang itu yang tidak bersalah, dan marah pada semua yang pernah terjadi.”

Pedagang itu duduk di sebelahnya, menatap jalan yang ramai dengan lalu lintas. “Kemarahan itu seperti bara yang menyala dalam hati kita,” ujarnya perlahan. “Jika kita tidak mengelolanya dengan baik, ia akan membakar segala sesuatu yang baik di sekitar kita. Tapi kamu tahu tidak? Bara itu juga bisa digunakan untuk membakar jerami yang kering, agar tanah bisa menjadi subur lagi untuk menanam sesuatu yang baru.”

Dia mengambil tangannya dengan lembut. “Kamu tidak perlu membenci dirimu karena masih merasakan sakit itu, nak. Dan kamu juga tidak perlu membenci orang yang tidak bersalah hanya karena dia mirip dengan orang yang menyakitimu. Rasa sakit itu adalah bagian dari kamu, tapi bukan seluruhnya dari kamu. Kamu adalah seseorang yang kuat, yang mampu tumbuh kembali dari luka. Dan satu hari nanti, ketika kamu melihat wajah yang mirip lagi, kamu tidak akan merasakan kemarahan—melainkan rasa tenang, karena kamu tahu bahwa kamu sudah kuat untuk menghadapinya.”

Kata-kata itu seperti hujan gerimis yang menyiram bara api yang menyala dalam hati Murni. Dia melihat ke arah langit yang mulai mendung, merasakan bagaimana rasa kemarahan yang dulu begitu kuat mulai perlahan mereda, digantikan oleh rasa pemahaman yang mendalam. Ia mengingat semua yang telah dia alami—perjuangan untuk bangkit kembali, kebaikan yang diberikan oleh orang-orang di sekitarnya, dan impian-impian baru yang sedang dia wujudkan.

Murni berdiri perlahan, memberikan senyum pada pedagang kelapa muda. “Terima kasih, Bu,” ucapnya dengan suara yang sudah lebih tenang. “Aku tahu apa yang harus kulakukan.”

Dia kembali ke pasar dengan langkah yang semakin mantap. Pria yang mirip Sidak masih ada di kios buah, sedang membayar barangnya. Murni mendekatinya dengan hati yang sudah tenang, mengambil tas buah yang dia tinggalkan tadi. “Maaf tadi ya, Pak,” ucapnya dengan senyum yang lembut. “Aku tiba-tiba merasa tidak enak badan.”

Pria itu mengangguk dengan senyum ramah. “Tidak apa-apa, Bu. Semoga kamu cepat baik-baik saja ya.”

Saat Murni berjalan meninggalkan pasar, dia tidak lagi merasa ingin berlari atau bersembunyi. Dia melihat ke belakang dan melihat pria itu sedang berbicara dengan istrinya yang baru datang, wajahnya penuh dengan senyum yang hangat dan cinta yang tulus. Murni tersenyum perlahan, merasakan bagaimana rasa benci yang dulu mengikat hatinya mulai terlepas satu per satu.

Di jalan pulang, matahari mulai meremang, memberikan warna keemasan pada langit yang mendung. Murni membawa tas buahnya dengan hati yang lebih ringan, merasakan bahwa meskipun rasa sakit hati masih ada sebagai bagian dari dirinya, ia tidak lagi memiliki kekuatan untuk menguasainya. Ia adalah seseorang yang telah melalui badai besar, dan kini siap untuk menghadapi setiap hari dengan hati yang lebih kuat dan penuh dengan harapan…

 

...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!