NovelToon NovelToon
SUKSES BERKAT DUKUNGAN ANAK ANAK

SUKSES BERKAT DUKUNGAN ANAK ANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Duda
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Ketika dunia seolah runtuh di sekelilingnya, hanya cinta anak-anak yang bisa membangunnya kembali.

Rian baru saja di-PHK ketika rumah tangganya yang sudah berjalan 7 tahun hancur berkeping-keping. Dituduh selingkuh oleh istri, Novi, dan dipermalukan oleh keluarga besarnya, ia tidak punya pilihan selain kembali ke kampung halaman dengan membawa dua anaknya – Hadian dan Alea. Kedua anak itu dengan tegas memilih mengikuti ayahnya, bahkan menolak untuk bertemu dengan ibunda kandung mereka yang kini sudah hidup dengan orang lain.

Di rumah panggung peninggalan orangtuanya, Rian memulai dari nol. Dengan tangan yang terlatih bekerja keras dan dukungan tak lekang dari kedua anaknya, ia mengolah lahan pertanian, membuka peternakan, hingga akhirnya mendirikan perusahaan dan restoran yang sukses.

Setiap langkah kemajuan yang diraihnya tak pernah lepas dari kehadiran Hadian dan Alea. Ketika pertemuan tak terduga dengan Novi dan keluarga barunya terjadi berkali-kali, anak-anak itu tetap berdir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. PERTENGKARAN HEBAT

Suasana yang baru saja mulai mereda kembali menjadi sangat tegang bahkan lebih parah dari sebelumnya. Rian berdiri dengan wajah yang memerah karena kemarahan, melihat Novi yang masih berdiri dengan tatapan mata yang penuh dengan kemarahan dan rasa tidak puas.

“Jadi kamu sudah sering bertemu dengannya tanpa memberitahuku?” tanya Rian dengan suara yang rendah namun penuh dengan emosi yang membara. “Kamu bilang itu hanya untuk membicarakan pekerjaan, tapi mengapa kamu harus menyembunyikannya dariku dan bahkan membuat Hadian melihatmu bersama dia dengan cara yang salah?”

“Aku sudah bilang kan aku khawatir kamu akan marah!” balik Novi dengan suara yang semakin tinggi, tangannya mulai menggenggam kepalanya akibat frustrasi yang luar biasa. “Aku tidak ingin membuatmu semakin tertekan dengan masalah baru! Tapi kamu malah menyalahkanku seperti aku telah melakukan kesalahan yang tidak bisa dimaafkan!”

“Kamu menyembunyikan sesuatu dariku, Novi! Itu sudah menjadi kesalahan sendiri!” teriak Rian dengan suara yang menggema di dalam rumah. Dia merasa semua rasa sakit, kesusahan, dan tekanan yang dia pikul selama ini tiba-tiba meledak keluar dalam bentuk kemarahan yang sulit dikontrol. “Aku sudah melakukan yang terbaik untuk keluarga kita, tapi kamu malah menyembunyikan hubunganmu dengan pria lain padaku!”

“Aku tidak punya hubungan apa-apa dengannya!” teriak Novi dengan menangis deras. “Aku hanya ingin membantu keluarga kita! Tapi kamu selalu tidak mengerti dan hanya bisa menyalahkanku atas segala sesuatu yang salah!”

Kemarahan mereka semakin memuncak dengan cepat. Rian mengambil sebuah cangkir dari atas meja makan dan melemparkannya ke arah tembok dengan keras, membuat cangkir itu pecah berkeping-keping di lantai. Alea yang sedang berada di pelukan Hadian langsung menangis lebih keras, menyembunyikan wajahnya di dada kakaknya yang juga sudah mulai menangis dengan takut.

“Kamu tidak pernah menghargai semua yang kulakukan untukmu!” teriak Rian lagi, menginjak-injak puing-puing cangkir dengan kaki yang gemetar. “Aku bekerja seperti orang gila mencari pekerjaan harian, mengirimkan puluhan surat lamaran, hanya untuk bisa memberikan makanan di meja makan kita! Tapi kamu malah berpikir aku tidak melakukan apa-apa!”

“Dan kamu tidak pernah menghargai semua yang KULAKUKAN!” balik Novi dengan semakin marah, mengambil sebuah mangkuk dari dapur dan melemparkannya ke arah meja makan, membuat beberapa piring yang ada di atasnya terjatuh dan pecah. “Aku bekerja sambilan sampai larut malam, mengorbankan waktu bersama anak-anak, hanya untuk mendapatkan uang tambahan! Tapi kamu malah menyalahkanku karena aku tidak ada di rumah ketika anak-anak membutuhkanku!”

Pertengkaran mereka semakin liar. Barang-barang rumah tangga seperti buku, alat tulis, bahkan sebuah vas bunga yang sudah lama ada di rumah terlempar ke segala arah. Suara pecahan barang, teriakan, dan tangisan anak-anak memenuhi setiap sudut rumah yang kecil itu, membuat suasana menjadi sangat menyakitkan hati.

Hadian mencoba untuk membujuk orang tuanya dengan suara yang bergetar, tapi kedua orang tuanya seolah tidak bisa mendengarnya lagi karena sudah terlalu terpaku pada kemarahan masing-masing. “Tolong berhentilah Papa, Bu Mama!” teriak Hadian dengan suara yang penuh dengan kesusahan dan ketakutan. “Jangan bertengkar lagi! Aku takut!”

Namun kata-kata putranya tidak mampu menghentikan kemarahan yang meledak di dalam diri Rian dan Novi. Mereka terus saling menyerang dengan kata-kata yang tajam dan menyakitkan hati, masing-masing mencoba untuk menyalahkan satu sama lain atas semua kesulitan yang mereka alami selama ini.

“Kalau kamu benar-benar mencintai keluarga kita, kamu tidak akan pernah menyembunyikan sesuatu dariku seperti ini!” teriak Rian, mengambil sebuah bantal dari sofa dan melemparkannya ke arah Novi.

“Dan kalau kamu benar-benar mencintai aku, kamu akan lebih percaya padaku dan tidak akan menyalahkanku tanpa bukti!” balik Novi dengan menangis, mengambil sebuah bantal lain dan melemparkannya kembali ke arah suaminya.

Pada saat yang paling tidak terduga, Rian mengambil tas kerja yang berisi surat lamaran untuk perusahaan konstruksi besar – satu-satunya harapan mereka untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik – dan hampir melemparkannya sebelum akhirnya berhenti dengan melihat wajah Hadian dan Alea yang sedang menangis dengan sangat takut di sudut ruangan.

Wajah putra dan putrinya yang penuh dengan ketakutan membuat semua kemarahan yang ada di dalam dirinya tiba-tiba sirna. Dia melihat Novi yang juga sudah mulai menyadari bahwa mereka telah terlalu jauh dalam pertengkaran ini, dengan wajah yang penuh dengan kesedihan dan rasa bersalah melihat anak-anak mereka yang sedang menangis takut.

Rian menjatuhkan tasnya ke lantai dan segera mendekat ke arah anak-anak, membungkus mereka dengan pelukan yang erat dan penuh kasih. “Maafkan Papa ya Nak,” ujarnya dengan suara yang bergetar dan penuh dengan kesedihan. “Papa tidak seharusnya melakukan ini. Papa tidak sengaja membuat kamu berdua takut.”

Novi juga menangis lebih deras dan mendekat ke arah mereka, membungkus anak-anak dan suaminya dengan pelukan yang erat. “Maafkan Mama juga ya Nak,” ujarnya dengan suara yang lembut dan penuh rasa bersalah. “Mama dan Papa sudah tidak akan pernah lagi bertengkar seperti ini. Kami tidak akan pernah lagi membuat kamu berdua merasa takut seperti ini.”

Mereka semua saling memeluk erat di sudut ruangan, menangis bersama-sama sambil menyadari bahwa mereka telah melakukan kesalahan yang sangat besar. Pertengkaran yang mereka lakukan tidak hanya menyakiti satu sama lain, tapi juga memberikan dampak buruk pada anak-anak mereka yang masih sangat kecil dan rentan.

Setelah beberapa saat, suasana mulai mereda. Rian berdiri dan mulai membersihkan puing-puing barang yang pecah di lantai dengan hati-hati, sementara Novi membawa anak-anak ke kamar untuk membersihkan diri dan menenangkan mereka. Ketika semua sudah bersih dan anak-anak sudah mulai tenang kembali, mereka semua berkumpul lagi di ruang tamu dengan suasana yang jauh lebih tenang dan penuh dengan rasa bersalah.

“Kita tidak boleh pernah lagi melakukan hal seperti ini,” ujar Rian dengan suara yang lembut namun tegas, melihat wajah istri dan anak-anaknya yang masih merah akibat menangis. “Kita adalah keluarga, dan keluarga harus saling mendukung dan mengerti satu sama lain, bukan saling menyakiti dengan pertengkaran yang liar seperti ini.”

Novi mengangguk dengan penuh rasa bersalah dan mengambil tangan suaminya dengan lembut. “Aku benar-benar menyesal, Sayang,” ujarnya dengan suara yang bergetar. “Aku tidak seharusnya membiarkan emosiku menguasai diriku seperti itu. Kita harus menemukan cara untuk berkomunikasi dengan baik dan menyelesaikan masalah dengan damai.”

Mereka semua menyadari bahwa mereka telah belajar pelajaran yang sangat berharga dari pertengkaran hebat ini. Komunikasi yang baik, rasa saling menghargai, dan kemampuan untuk mengendalikan emosi adalah hal yang paling penting dalam menjaga keharmonisan keluarga. Mereka berjanji bahwa mereka akan selalu berusaha untuk tidak pernah lagi sampai pada titik di mana mereka harus bertengkar dengan cara yang menyakitkan seperti ini.

Di malam hari itu, setelah anak-anak tertidur pulas dengan rasa aman kembali di pangkuan orang tuanya, Rian dan Novi duduk bersama di teras depan rumah melihat langit yang penuh dengan bintang-bintang. Mereka tidak banyak berbicara, hanya saling memegang tangan dan merenungkan segala sesuatu yang telah terjadi. Mereka tahu bahwa masih ada banyak pekerjaan rumah yang harus mereka lakukan untuk memperbaiki hubungan mereka dan membangun kepercayaan yang lebih kuat satu sama lain. Namun mereka juga merasa bahwa dengan cinta dan komitmen yang mereka miliki satu sama lain, mereka pasti akan bisa mengatasi segala rintangan yang ada dan membangun kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan serta kedamaian bagi keluarga mereka yang sangat dicintai.

1
Dewiendahsetiowati
ada typo Thor Budi yang harusnya kakak jadi ayah
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!