Darrel melepaskan gemerlap kemewahan keluarganya dan memilih hidup sederhana demi wanita yang mencintainya. Namun, pengorbanannya berbuah pahit: sang istri justru meninggalkannya, karena tak tahan dengan kerasnya kehidupan pasca kemewahan.
Terpuruk dan seorang diri, Darrel harus menghadapi kenyataan pahit membesarkan kedua anak kembarnya. Akankah dia menyerah pada keadaan dan kembali pada kehidupan lamanya yang penuh kemudahan? Atau justru bangkit, menemukan kekuatan tersembunyi dalam dirinya, dan membuktikan bahwa dia mampu bangkit dan menemukan cinta sejati?
Kisah perjuangan seorang ayah yang terkhianati, demi masa depan kedua buah hatinya.
Temukan kisah mereka hanya di sini:
"Sang Pewaris Tersembunyi" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22.
Aplikasi KopiKeliling Darrel mulai meraih popularitas di kalangan pengguna. Pikiran untuk mencari investor guna mengembangkan bisnisnya semakin menguat di benaknya.
"Sepertinya aku harus segera mencari investor untuk membawa bisnis ini ke level selanjutnya," pikirnya serius.
"Apa sebaiknya aku manfaatkan saja dividen milikku?" gumamnya sambil memikirkan berbagai kemungkinan.
Tanpa berlama-lama, Darrel meraih ponselnya dan mulai mencari informasi tentang cara mendapatkan investor untuk startup aplikasi. Dia membaca artikel berbagai sumber dan menonton video edukasi tentang teknik pitching, proses valuasi perusahaan, serta pembagian saham yang adil.
"Sepertinya aku harus menyusun proposal bisnis yang menarik dan komprehensif," gumamnya sambil mencatat poin-poin penting di buku catatannya. "Valuasi yang tepat juga harus aku tentukan dengan cermat – tidak boleh terlalu rendah hingga merugikan diri sendiri, tapi juga tidak boleh terlalu tinggi hingga membuat investor enggan." Insting bisnis yang dimilikinya selama ini tetap terasah dengan baik.
Sepanjang pagi hari Darrel habiskan untuk menyusun proposal bisnis dengan sebaik mungkin. Merangkum visi, misi, potensi keuntungan pasar, dan rencana pengembangan aplikasi KopiKeliling secara jelas dan terstruktur. Tak hanya itu, dia juga menyusun presentasi singkat dan menarik yang dirancang untuk meyakinkan para investor. Pengalamannya sebagai wakil CEO di perusahaan keluarganya membuatnya terbiasa dengan hal-hal seperti ini.
"Oke, saatnya mencari tahu perusahaan investasi mana saja yang memiliki minat pada startup seperti ini," ucapnya sambil kembali menjelajahi informasi di internet.
Setelah melakukan seleksi cermat, Darrel menemukan beberapa perusahaan investasi yang tampak menjanjikan dan sesuai dengan arah bisnisnya. Dia segera mengirimkan email berisi proposal bisnisnya ke perusahaan-perusahaan tersebut, dengan harapan ada yang tertarik dan menghubunginya kembali.
Sore harinya, saat Darrel sedang menemani Zayn dan Zoey bermain, ponselnya tiba-tiba berdering dengan nomor yang tidak dikenal.
"Halo?" jawab Darrel dengan ramah.
"Selamat sore, Pak Darrel," suara wanita terdengar profesional di ujung telepon. "Saya perwakilan dari PT FYP Investama. Kami telah membaca proposal bisnis aplikasi KopiKeliling yang Anda kirimkan dan sangat tertarik."
Jantung Darrel berdegup kencang seketika. Dia berusaha tetap tenang, menyembunyikan kegembiraannya yang luar biasa. "Benarkah? Saya sangat senang mendengarnya," jawab Darrel dengan sikap profesional.
"Kami ingin mengundang Anda untuk datang ke kantor kami besok pagi guna melakukan presentasi lebih lanjut dan membahas poin-poin pentingnya," lanjut sang perwakilan. "Apakah Anda bersedia hadir?"
"Tentu saja, saya sangat bersedia," jawab Darrel dengan antusias tetapi terkendali."
"Baiklah, Pak Darrel. Kami tunggu besok pukul sepuluh pagi tepat waktu, di kantor PT FYP Investama," ucap wanita tersebut. "Sampai jumpa besok."
"Sampai jumpa besok. Terima kasih banyak atas kesempatan ini," tutur Darrel sebelum menutup telepon.
Setelah itu, Darrel menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa dan menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.
"Papa kenapa?" tanya Zoey dengan wajah polos yang penuh rasa ingin tahu.
Darrel mengangkat Zoey ke pangkuannya dan tersenyum lebar. "Papa tidak apa-apa sayang. Papa hanya sedang senang. Besok papa akan bertemu dengan orang-orang yang bisa membantu mewujudkan impian papa. Doakan saja ya, agar mereka mau membantu mengembangkan bisnis yang papa rintis," ujarnya lembut.
"Aamiin! Semoga berhasil ya, Pa!" sahut Zoey sambil mencium pipi Darrel.
Zayn yang sedang bermain di sisi mereka juga menyambung, "Semoga berhasil Papa! Nanti kalau sudah besar, Zayn mau bantu Papa!"
Darrel tersenyum hangat melihat kedua anaknya yang suportif.
.
.
.
Keesokan harinya, tepat pukul delapan pagi, Darrel sudah siap berangkat. Dia mengenakan jas warna biru dongker dengan kemeja putih yang rapi – penampilan yang profesional tetapi tidak terlalu formal. "Papa tidak bisa mengajak kalian kali ini, jadi papa akan menitipkan kalian pada Bu Murni."
"Iya, Pa." Zayn dan Zoey mengangguk. Lalu Darrel mengajak keduanya ke rumah Bu Murni.
"Bu Murni, hari ini saya ada urusan sebentar. Saya nitip anak-anak ya, Bu," ucap Darrel sambil memberikan kotak bekal makan siang yang sudah dia persiapkan.
"Oh, boleh banget, Mas. Saya akan jaga mereka dengan baik," jawab Bu Murni dengan senyum hangat. "Semoga urusannya dimudahkan."
"Terima kasih banyak, Bu Murni. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi saya, ya," ujar Darrel lalu mencium Zayn dan Zoey penuh kasih sayang, kemudian berangkat karena dia tidak ingin terlambat.
.
Setelah berkendara sekitar empat puluh lima menit, menghadapi kemacetan Jakarta pagi hari, Darrel akhirnya tiba di gedung perkantoran PT FYP Investama. Gedung bertingkat tinggi dengan fasad kaca yang modern langsung menyambutnya. Setelah melalui proses registrasi di resepsionis, dia diantar ke ruang pertemuan lantai lima belas.
Di dalam ruangan, seorang wanita dengan jas warna abu-abu muda sudah menunggunya, disertai seorang pria yang tampak lebih muda menghadap laptop. Darrel tertegun sejenak melihat wanita yang ditemuinya.
Begitu pun dengan wanita itu, tetapi dia berusaha untuk tetap profesional. "Selamat pagi, Pak Darrel. Saya Vira, Associate dari PT FYP Investama. Ini adalah teman saya, Rio, yang bertugas sebagai analis bisnis kami," ujar Vira tersenyum canggung dengan tangan terbentang untuk berjabat tangan.
"Selamat pagi, Bu Vira, Pak Rio. Terima kasih sudah memberi kesempatan hari ini," jawab Darrel sambil menjabat tangan mereka satu per satu dengan canggung pula.
Setelah mereka duduk, Vira membuka pembicaraan. "Kami sudah membaca proposal bisnis Anda secara menyeluruh. Konsep aplikasi KopiKeliling yang menghubungkan pedagang kopi keliling dengan konsumen memang sangat menarik dan memiliki potensi besar di pasar tanah air. Namun, kami memiliki beberapa pertanyaan dan juga ingin melihat presentasi yang Anda siapkan."
Tanpa ragu, Darrel menghubungkan laptopnya ke proyektor dan mulai memaparkan presentasinya. Dia menjelaskan tentang potensi pasar kopi di tanah air yang terus tumbuh, bagaimana aplikasi KopiKeliling dapat memecahkan masalah yang dihadapi baik pedagang maupun konsumen, serta rencana skalabilitas bisnisnya hingga lima tahun ke depan.
Selama presentasi, Rio sesekali mengajukan pertanyaan teknis tentang sistem aplikasi dan keamanan data pengguna, sementara Vira lebih fokus pada aspek keuangan dan strategi pemasaran. Darrel menjawab setiap pertanyaan dengan jelas dan percaya diri, berdasarkan data dan riset yang telah dia lakukan sebelumnya.
Setelah presentasi selesai, Vira memberikan tanggapan mereka. "Kami sangat terkesan dengan presentasi Anda, Pak Darrel. Tim kami akan melakukan evaluasi lebih lanjut dalam beberapa hari ke depan. Namun, kami ingin tahu – apakah Anda bersedia dengan kemungkinan kerja sama tidak hanya dalam bentuk pendanaan, tapi juga dukungan manajemen dan akses ke jaringan bisnis kami?"
"Saya bersedia, Bu Vira. Saya menyadari bahwa selain modal, pengalaman, dan jaringan dari investor juga sangat berharga untuk perkembangan startup ini," jawab Darrel dengan tulus.
"Baiklah, Pak Darrel. Kami akan menghubungi Anda paling lambat dua hari ke depan untuk memberikan keputusan dan rincian yang lebih jelas jika kami sepakat untuk berinvestasi," ujar Vira dengan senyum. "Sekali lagi, terima kasih atas waktu dan presentasinya yang luar biasa."
Setelah menyelesaikan pertemuan, Darrel keluar dari gedung dengan perasaan lega dan juga penuh harapan. Namun, tiba-tiba muncul panggilan masuk dari nomor tak dikenal.
Darrel sedikit bingung tetapi dia langsung menjawab, "Halo?"