Jika biasanya istri yang dikhianati suaminya, maka yang terjadi pada Rohan tidak demikian. Dia lah yang dikhianati oleh sang istri.
Pernikahan yang dibangun oleh cinta nyatanya tak selalu manis. Rohan harus menerima kenyataan pahit istrinya berselingkuh.
Perceraian pun tak terelakkan. Ia mendapatkan hak asuh putra putrinya yang baru berusia 5 dan 3 tahun.
Tak ingin berlarut dan mengingat sakit hatinya, Rohan menjual semua asetnya di kota dan berpindah ke desa.
Namun siapa sangka, di sana dia malah menjadi primadona.
"Om Dud, mau dibantuin nggak jemur bajunya? Selain jago dalam pekerjaan rumah, aku juga jago dalam hal lain lho."
Entah sejak kapan itu terjadi tapi yang jelas, gadis itu, gadis yang dijuluki Kembang Desa tersebut mulai mengusik kehidupan dan hati Rohan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu? 24
Eughhh
Rohan menggeliat, dia lupa jam berapa semalam dirinya tidur. Tapi yang pasti pria itu merasa sangat nyenyak tidurnya hingga sama sekali tidak terbangun di tenga malam.
Padahal sebelum-sebelumnya, Rohan akan tidur sedikit larut dan di pertengahan waktu tidurnya dia akan terbangun. Tapi sudah dua hari ini dia merasa sangat nyenyak tidur. Tidur di jam awal dan bangun juga tidak terlalu pagi. Pukul 05.00, Rohan baru membuka matanya dimana itu baru dua hari ini terjadi.
"Ya kali karena aku minum kopi tidurku jadi lebih nyenyak,"ucap Rohan lirih. Dia beranjak secara perlahan dari ranjang agar tidak membangunkan anak-anaknya.
Duda satu ini memang agak lain. Jika biasanya orang akan susah tidur setelah minum kopi, maka Rohan tidak demikian. Dia mau minum kopi seberapa banyak pun tetap akan tidur pada akhirnya.
"Hmmm masak apa ya hari ini,"ucapnya setelah mencuci muka. Kini dirinya tengah berdiri di depan kulkas dan berpikir makanan apa yang ingin dibuatnya.
Karena masih bingung, alhasil Rohan memilih untuk duduk sejenak dan membuka ponselnya. Ia mengerutkan alis dan kening ketika melihat nama Ista ada di layar ponsel.
"Ista nelpon?"
Rohan melihat ada setidaknya tiga kali panggilan tidak terjawab dari mantan istrinya itu. Bukan hanya itu, ada pesan juga darinya.
Rohan membuka pesan dari Ista, dia membacanya perlahan. Ada satu hal yang baru disadarinya bahwa ia lupa untuk menanyakan kepada Rishi dan Riesha tentang keinginan ibu mereka untuk bertemu.
"Aku beneran lupa,"ucapnya lirih sambil mengusap wajahnya kasar.
Rohan juga mengisap lehernya yang tiba-tiba terasa kaku.
"Kopi, aku butuh kopi. Haah."
Rohan mengeluh, suasana pagi yang awalnya menyenangkan itu tiba-tiba terasa tidak enak bahkan muram. Semangat paginya yang tadi membara seketika lenyap.
Tapi sesuai dulu janjinya di pengadilan, bahwa tak akan menghalangi Ista untuk bertemu anak-anak, maka ia pun akan menepatinya.
Mau tidak mau, suka tidak suka, Ista adalah ibu mereka dan memiliki hak untuk bertemu. Akan tetapi, Rohan merasa tidak iklas jika Ista mengetahui tempat tinggalnya yang sekarang. Rumah dengan kedamaian ini, dia tidak ingin suatu hari mejadi tidak menyenangkan.
"Kalau dia ingin ketemu, ya kita bisa buat janji aja buat ketemu di luar. Nggak perlu di rumah ini kan?" ucapnya lirih. Rohan tersenyum lebar.
Dia memiliki pemikiran sepeti itu bukan karena membenci Ista yang ingin bertemu dengan Rishi dan Riesha. Dia hanya tidak ingin ketenangannya di rumah baru ini kembali terusik.
Tidak ada yang tahu bukan apa yang akan dilakukan wanita itu kedepannya. Ya Rohan merasa trust issue terhadap kelakuan Ista yang sungguh di luar nalar.
Bahkan belum lama ini dia mendapat cerita juga dari kenalannya, bahwa Ista berada di club dan minum-minum sampai tengah malam. Dan bahkan sampai diantar oleh orang karena saking mabuknya.
"Jangan sampai anak-anak tahu,"ucapnya lirih.
"Yah, Ayah!"
"Oh iya Bang, kenapa? Abang mau mandi?"
Rohan terjingkat ketika mendengar panggilan Rishi. Dia langsung berdiri dan menghampiri putra sulungnya itu.
"Kok udah bangun, Nak. Masih pagi, dingin pula."
"Iya, udah. Katanya hari ini mau ke sekolah buat nyobain. Kata Kak Bestari, aku boleh nyoba. Terus kalau cocok, bisa langsung sekolah."
Aaah
Kemarin dia tidak terllau fokus saat dijelaskan oleh guru yang bersangkutan karena sembari mengawasi Riesha. Rohan juga tidak mendengar Bestari bicara demikian karena sampai rumah langsung menidurkan Riesha.
"Oke kalau gitu, Abang mandi dulu, sendiri bisa? Ayah mau nyiapin sarapan."
Eung
Rishi langsung pergi untuk mengambil handuk lalu menuju ke kamar mandi. Anak sulung Rohan itu memang mandiri namun setelah mereka pindah ke desa ini, Rishi semakin terlihat mandiri. Tidak banyak menuntut dan tidak juga mengeluh. Dia bahkan juga tidak merengek seperti anak lainnya.
Jujur, Rohan menjadi sedikit khawatir sebenarnya. Dia takut Rishi memendam semua yang dirasakannya sendiri.
"Kira-kira gimana tanggapan dia kalau aku bilang ibunya ingin ketemu?"
Ini juga yang Rohan khawatirkan. Bukan Riesha tapi Rishi, karena Rishi agaknya sudah mengerti dengan kondisi kedua orangtuanya yang tak lagi tinggal bersama dalam satu rumah.
"Sudah, Bang?"
"Brrrr, sudah. Dingin, Yah."
Rohan tersenyum simpul. Mau pakai water heater juga tetap terasa dingin setelah selesai mandi. Rohan segera memakaikan baju. Tak lupa sweater tebal ia pakaian supaya rasa dingin bisa terasa samar.
"Nah minum dulu susu panasnya ya. Tunggu biar nggak terlalu panas banget baru diminum. Pegang aja gini biar tangannya hangat juga."
"Makasih Ayah."
Rohan kembali melanjutkan pekerjaannya. Kali ini dia tidak memasak nasi melainkan membuat roti sourdough. Selama dia membuat itu, Rohan malah seperti mendapat ide.
"Apa aku bikin mini toko roti aja kali ya. Di jalan bawah bukan di sini. Sewa ruko lalu dibikin toko desert gitu. Bener jug, kenapa nggak kepikiran buat bikin itu aja," ucapnya lirih.
Senyuman pria itu mengembang dengan begitu lebarnya. Dia lupa bahwa dirinya punya kemampuan untuk membuat kue, roti dan sejenisnya.
Dulu di warung kopinya, dia sendiri yang membuat menu makanannya. Selain roti, kue, dan sejenisnya, Rohan juga membuat menu makanan berat seperti pettucini, spaghetti, nasi goreng dan lain-lain.
"Iya bener, bikin itu aja. Kalau gitu nanti habis anter Rishi ke sekolah aku bisa belanja alat lain yang belum ada sama bahan-bahannya juga. Tunggu, apa lagi-lagi aku harus ngakak Bestari? Duuuh kok jadi apa-apa harus selalu ganggu gadis itu sih? Tapi kalau aku pergi sendiri, aku juga nggak bisa karena belum banyak tahu tentang daerah sini. Elaaah bener-bener deh."
Rohan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya dia merasa tidak nyaman jika terus melibatkan Bestari. Apalagi memang Bestari asli orang sini, jadi pasti lebih banyak tahu wilayah sekitar ketimbang dirinya.
Tok tok tok
"Abang, tolong lihatin siapa yang datang?"
"Oke Ayah!"
Setelah beberapa menit berlalu, Rohan merasa aneh karena tak ada suara siapa-siapa. Dan yang lebih membuatnya merasa heran adalah Rishi datang menghampirinya dengan terburu-buru.
"Yah, sini Yah. Cepet! Itu ada tamu!"
"Eh, siapa emangnya, Bang?"
Rohan kira itu adalah Bestari karena selama ini yang datang pagi-pagi begini hanyalah Bestari.
"Nggak tahu, Abang nggak kenal," sahut Rishi.
Rohan semakin penasaran. Jika putranya berkata demikian, itu berarti tamu tersebut benar-benar bukan salah satu warga sini.
Rohan mencuci tangannya dan bergegas menuju ke pintu. Pintu yang sudah dibuka itu langsung menunjukkan sosok si tamu. Akan tetapi Rohan tak bisa mengenalinya karena si tamu masih berdiri membelakanginya
"Maaf cari siapa? Kamu??"
TBC