Arunika hanyalah seorang mahasiswi biasa yang dunianya seketika runtuh saat kedua orang tuanya menjodohkannya dengan seorang dosen di kampusnya. Abimana Permana—pria dengan tatapan sedingin es dan sikap datar yang selama ini begitu ia segani.
Sebuah perjodohan paksa mengharuskan Arunika terikat dalam belenggu pernikahan dengan pria itu. Alih-alih menemukan kebahagiaan, ia justru terjebak dalam teka-teki hati sang suami yang sulit ditembus. Akankah kehidupan Arunika membaik setelah menyandang status sebagai istri, ataukah pernikahan ini justru menjadi luka baru yang tak berkesudahan?
Ikuti kisah perjuangan hati dan martabat dalam... "Aku Istrimu, Bukan Dia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Setibanya di butik, aroma wangi bunga segar menyambut mereka, namun suasana di antara Abimana dan Arunika tetap sedingin es. Arunika mencoba bersikap kooperatif, ia meraih salah satu gaun dan menunjukkannya pada pria yang masih sibuk dengan dunianya sendiri.
"Mas, bagaimana menurutmu kalau yang ini?" tanya Arunika, mencoba mencari pendapat.
Abimana bahkan tidak mengangkat wajah dari layar ponselnya. Jempolnya bergerak lincah, entah sedang membalas pesan Claudia atau mengurus jadwal kuliah. "Terserah. Pilih saja mana yang kamu suka." jawabnya datar, seolah sedang membicarakan menu makan siang yang membosankan.
Arunika hanya bisa menghela napas panjang. Hatinya harus sekuat baja, batinnya. Ia memilih untuk tidak mendebat dan melangkah masuk ke ruang ganti membawa gaun berwarna putih dengan belahan di samping pilihannya.
Beberapa menit berlalu. Tirai beludru besar itu tersingkap perlahan.
"Mbak, bisa bantu pasangkan kancing belakangnya sebentar?" suara Arunika terdengar lembut namun tegas, memecah keheningan butik.
Awalnya, Abimana tetap tak berniat mendongak. Namun, reaksi para pegawai butik yang mendadak diam dan terpaku menatap ke arah ruang ganti membuatnya refleks mengangkat wajah.
Abimana tertegun. Untuk beberapa detik, otaknya berhenti berfungsi. Sosok di depannya bukan lagi mahasiswi "pendiam" yang ia remehkan, melainkan seorang wanita yang kecantikannya mampu membungkam ruangan.
"Mas?" panggil Arunika, menyadari tatapan kosong Abimana. "Kenapa? Apa gaun ini juga 'terserah' bagi Mas?"
Di sana, Arunika berdiri dengan sangat anggun. Gaun berwarna putih lembut itu membalut tubuhnya dengan sempurna, mengikuti lekuk tubuhnya tanpa terlihat berlebihan. Warna itu sangat kontras dengan kulit putihnya yang bersih, membuatnya tampak bersinar di bawah pendar lampu butik yang mewah. Rambutnya yang tadi terikat rapi kini ia biarkan terurai indah, membingkai wajahnya yang kini tampil berani tanpa kacamata.
Abimana berdehem keras, mencoba mengembalikan wibawanya yang runtuh. Ia segera memalingkan wajah kembali ke ponsel, meski kini tangannya sedikit gemetar.
"Biasa saja. Kalau kamu suka, ambil itu." jawabnya dengan suara yang diusahakan sedatar mungkin, padahal jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.
Arunika tersenyum getir di balik cermin. Ia tahu Abimana sedang berbohong. Ia bisa melihat kilatan kekaguman yang sempat muncul di mata pria itu sebelum ditutupi oleh ego.
"Baiklah, Mbak. Saya ambil yang ini." ucap Arunika pada pelayan butik. Ia kemudian melirik Abimana melalui pantulan cermin. "Setidaknya, saat di pelaminan nanti, Mas Abi tidak akan terlalu malu berdiri di samping 'status' yang secantik ini."
Abimana hanya diam, rahangnya mengeras. Ia merasa frustrasi karena menyadari satu hal: ia mulai sulit membedakan antara benci dan rasa tertarik yang mulai tumbuh secara terpaksa.
Setelah menyelesaikan administrasi, mereka berdua keluar dari butik. Arunika berjalan lebih dulu dengan langkah mantap, sementara Abimana mengekor di belakang sambil membawa tas besar berisi gaun tersebut.
Baru saja mereka sampai di depan mobil, sebuah suara memanggil dengan nada antusias.
"Loh, Pak Abimana?"
Abimana menoleh. Itu adalah Pak Rendy, rekan sesama dosen di fakultasnya yang kebetulan sedang melintas bersama istrinya.
"Eh, Pak Rendy." jawab Abimana, berusaha mengubah ekspresi wajahnya menjadi lebih ramah.
Pandangan Pak Rendy beralih ke samping Abimana, dan matanya seketika membelalak. "Wah, siapa ini, Pak? Mahasiswi bimbingan atau... calon istri yang sering dibicarakan itu?"
Abimana sempat ragu sesaat, namun ia tidak bisa mengelak di depan rekan kerjanya. "Iya, ini Arunika. Calon istri saya."
Pak Rendy menggeleng-gelengkan kepala dengan kagum. "Luar biasa, Pak Abi! Ternyata rumor itu salah. Pak Abi pintar sekali menyembunyikan 'permata' secantik ini. Arunika, kamu benar-benar terlihat bersinar. Beruntung sekali Pak Abi mendapatkanmu."
Arunika tersenyum sangat manis—jenis senyum yang tidak pernah ia berikan pada Abimana secara pribadi. "Terima kasih banyak, Pak Rendy. Mas Abi memang sering memuji saya di rumah." sahut Arunika dengan nada manja yang dibuat-buat, sengaja ingin melihat reaksi Abimana.
Abimana merasa wajahnya memanas. Pujian dari rekannya terasa seperti tamparan karena kenyataannya ia justru sering menghina Arunika.
Setelah Pak Rendy pergi, suasana kembali mencekam. Abimana membukakan pintu mobil dengan kasar. "Masuk." perintahnya singkat.
Begitu mereka berdua di dalam mobil, Abimana tidak langsung menjalankan mesinnya. Ia memukul kemudi sekali. "Bisa tidak, kamu tidak usah berlebihan di depan orang lain? 'Memuji di rumah'? Jangan mengarang cerita!"
Arunika memasang sabuk pengamannya dengan tenang. "Saya hanya membantu menjaga wibawa Bapak di depan rekan kerja. Bayangkan kalau saya bilang yang sejujurnya; bahwa calon suaminya bahkan tidak sudi melihat wajahnya saat fitting baju. Apa kata dunia?"
"Cukup, Arunika!"
"Belum cukup, Mas." potong Arunika, menatap Abimana dengan tajam. "Jika Mas terus bersikap seperti ini, jangan salahkan saya jika nanti malam di depan orang tua kita, saya akan jauh lebih 'berlebihan' lagi."
Abimana terdiam. Ia merasa kekuatannya sebagai laki-laki dan dosen seolah luruh setiap kali berhadapan dengan lidah tajam Arunika. Ia pun menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi, mencoba melarikan diri dari rasa frustrasi yang kian menghimpit.
Sepanjang perjalanan, Arunika membuang muka ke arah jendela, menatap deretan toko yang berlari cepat di luar sana. Namun, pikirannya jauh lebih riuh daripada jalanan kota.
Lihat saja, Mas Abi. Sampai kapan kamu bisa terus mengabaikan aku? batin Arunika sembari mengepalkan tangannya di pangkuan.
Ia melirik sekilas ke arah Abimana yang masih mencengkeram kemudi dengan rahang yang kaku. Arunika tahu, pria di sampingnya ini sedang berperang dengan egonya sendiri.
Aku tidak akan melangkah setengah hati. Jika kamu tetap memilih untuk melangsungkan pernikahan ini, maka kamu harus bisa menerima aku tanpa aku harus menjadi bayangan siapa pun. Bukan bayangan mahasiswamu yang pendiam, dan yang pasti, bukan bayangan dari wanita bernama Claudia itu.
"Berhenti di depan sana." ucap Arunika tiba-tiba, suaranya kini kembali dingin dan datar.
Abimana mengerutkan kening. "Rumahmu masih jauh."
"Saya tahu. Saya ingin turun di kedai kopi itu. Ada janji dengan Risa." bohong Arunika. Ia sebenarnya hanya ingin segera keluar dari ruang sempit yang dipenuhi aroma parfum Abimana yang menyesakkan hatinya.
Abimana mengarahkan mobilnya ke tepi jalan dengan sentakan kasar. Begitu mobil berhenti, ia menoleh ke arah Arunika. "Jangan lupa, besok adalah acara pengajian di rumahmu. Jangan terlambat dan jangan membuat malu."
Arunika membuka pintu mobil, lalu berhenti sejenak. Ia menatap Abimana tepat di manik matanya, memberikan senyum yang paling tipis namun paling tajam yang pernah ia miliki.
"Jangan khawatir, Mas. Menjadi wanita yang sempurna di depan orang lain adalah keahlianku. Mas justru harus mengkhawatirkan diri sendiri." ucap Arunika pelan. "Pastikan saat akad nanti, nama yang keluar dari mulutmu adalah namaku, bukan nama kekasihmu. Karena jika itu terjadi... bukan hanya aku yang hancur, tapi seluruh kehormatan keluarga Permana yang kamu banggakan itu."
Blam!
Arunika menutup pintu mobil dengan mantap tanpa menunggu jawaban dari Abimana. Ia melangkah pergi dengan punggung yang tegak, meninggalkan Abimana yang kini terpaku di balik kemudi dengan napas yang memburu.
Kata-kata Arunika barusan adalah sebuah peringatan keras. Abimana tersadar, gadis yang akan ia nikahi minggu ini bukanlah "korban" perjodohan, melainkan "pemain" yang siap menghancurkan bidak caturnya jika ia berani melangkah salah.
Semangaaaaaat.... 💪💪💪